Tembang Jawa
Pohon randu tumbuh dipinggir sungai
Di bukit kecil warisan leluhur
Pohon randu ratu
Pohon besar warisan
Mbah Seto Kapuk Kapas perlahan menembus langit
Ranting-ranting menjadi cabang
Berdaun lebat dan berbunga indah
Bertumbuh jadi buah
Buah randu
Hijau menua menjadi hitam
Merekah berkapuk putih
Bijinya terbawa angin
Untuk benih baru
Jadilah seperti biji randu
Bermanfaat bagi orang banyak
Bahasa Jawa terjemahan
Wit randu thukul
Ing pinggir kali
Ing gunung kecil pusaka
Kang piye
Wit ratu randu
Wit agung warisan
Mbah Seto kapuk kapas
Alon-alon liwat langit
Cabang-cabang cabang
Godhong sing padket lan
Kembang sing apik
Tumbuh dadi wah randu
Menua ijo dadi irung
Padhka putih
Wiji dibawa angin
Kanggo wiji anyar
Dadi kowe wiji randu
Panggunaon kanggo wong akeh
(Muncul Siti Wiji sambil menembang dan membawa satu mug besar, minum perlahan duduk di kursi kotak dan kemudian bicara pada penonton)
Saudaraku selamat malam, malam ini aku Siti Wiji ingin mendongeng tentang pohon randu ratu warisan Mbah kami yang ternyata membawa rejeki padaku dan mungkin keturunan kami nanti. (Minum) Ini teh lagi kentel, gulanya gula watu. Dijual dipasar senenan, yang jualnya Mbah Masturoh teman bermain Mbahku sewaktu kampung kami masih bernama kampung randu sewu yang artinya randu seribu. Tapi itu dulu, sekarang hanya tersisa beberapa saja, itupun di pertahankan oleh keluargaku. Keturunan Mbah Kapuk Kapas yang nama aslinya Mutmainah, di panggilnya Mbah Mut. Hingga usaha kapuk kapas kami bermerek Mbah Mut. (Minum) oh ya, Aku di dampingi suamiku Kang Selo, si tangan dingin. Maksudnya segala sesuatu yang ditanam olehnya jadi, tumbuh subur. Kebetulan kami mewarisi sebuah bukit kecil, bukit randu ratu.
Kang Selo lah yang mengurusnya. Kang Selo juga berkebun palawija yang dijual sebagian ke pasar, juga dibagikan ke tetangga. Sayangnya kami belum dikaruniai anak, tapi setelah Mbah Masturah memberi saran, supaya aku mungut anak sebagai pancingan katanya. Aku atas persetujuan Kang Selo memungut anak perempuan bayi kerabat Mbak Masturah yang ditinggal mati ibunya. Kami berinama bayi itu Seto artinya putih seperti kapas. (Turun Ayunan tradisional) Seto kuayun dengan ayunan warisan, ku tembangkan tembang dari Mbah Kapuk
Menembang
Jadilah seperti biji randu
Berguna bagi sesama
Ketika ditiup angin
Kembar
Kemanak kembar
Bertalu lamat-lamat
Menambah semangat dan niat
Nanti pohon randu akan berbuah lampu.
Terjemahan
Dadi kaya wiji kapas
Migunani kanggo wong liya
Nalika ana angin
Kembar suwara
Alon-alon mengko wit kapuk padhang
Sekarang Serto sudah sekolah madrasah
Aku akhirnya hamil
9 bulan mengandung
Lahirlah bayi lanang
Kami berinama Teji yang artinya keras kemauannya.
Teji memang pemberani
Dia sernak beladiri berguru pada Mbah Jampe di perguruan Silat Kahmasada
Aku sangat bahagia ketika Seto khatam Qur’an dan Teji jadi pemain jaran kepang yang terkenal
Tapi aku kehilangan Kang Selo akibat tak mau diajak bisnis kotor oleh Samedot, memasukkan narkoba di bantal-bantal yang kami jual. Kang Selo ditembak, dadanya robek.
(Sedih, minum)
Dia dikuburkan di bukit Kapukan
Samedot ditangkap dan dipenjara. Kami sekarang hidup bertiga
Membesarkan kapuk Mbah Mut.
(Perlahan lampu redup)
Tamat
16 Agustus 2023








