TUMPUL PENA
Seharusnya aku tulis perjalan jauh menembus hutan rimba, atau pengembaraan melintasi samudra, bahkan sepinya biru langit di sertakan pula.
Tapi pena kosong tinta untuk sekadar ceritera, habis di coretan kertas kosong, tidak ada makna untuk dibaca sebagai bahan renungan di kala sunyi menyelami bumi.
Atau setidaknya ada satu kalimat saja untuk cikal bakal menyelam kedalaman. Tidak ! Aku tidak menemukan itu, yang ditemukan jenuh di lokan lokan.
Bagaimana aku bisa hidup dengan tinta yang kosong, kertas penuh dengan coretan yang kering warna dan rupa. Sebagai jalan cerita kala ada, atau kala tiada.
Bandung, 6122017

PUISI Bening Kusumaningtyas Az-Zahra
PERMAINAN DIBALIK PANGGUNG
Semakin jauh kita dari istimewa sebagai manusia
Karena identitas tidak imbang
Bahkan tidak seimbang jadi yang seharusnya
Bentukan dari luar mengikat erat sampai tulang belakang
Ucap dan lampah karat tebal dari bentukan sekitar
Ini tidak diajarkan bagaimana pengetahuan dan identitas tumbuh
Semakin memperparah keberadaan jatuh
Istana pasir wajar kalau runtuh
Tanpa menyadari yang bernama identitas terbentuk dari bangunan luar
Materi materinya kedok kedok yang dipakai semakin menebal pada diri
Yang dipercayai seluruhnya ternyata tidak semua benar
Lalu siapa aku yang jauh lebih dalam
Yang membungkus berlapis lapis
Bukan identitas yang datang dari material
Lalu ada apa gerangan
Yang datang lebih halus dari dalam
Pengetahuan ini tidak terpangpang di deretan perpustakaan
Tidak tercatat di tabel tabel jurnal
Namun bisikan bisikan pikiran kerap berbicara pada lapisan dalam
Dirimu bukan yang kamu kira
Tumbuh dalam materi ilusi
Layu di kemerdekaan yang melapisi kehidupan
Berperan dengan permainan panggung
Dibalik layar bukanlah permainan lagi
Melainkan penampakan lapisan lapisan dalam
Rak rak berkitab kitab
Bandung, 2842026

SAJAK Juniarso Ridwan
JEJAK SUNYI
Membuka file dan membacanya
Arus air mata deras membawanya ke muara sunyi
Padahal baru kemarin di lewatinya
Begitu jauh tertinggal meninggalkan tanggal
Tenggelam dan timbul jadi cerita yang pernah diperankan
Hari ini masih cerita belum jadi
Belum menemukan ” titik “
Alur simpang siur dalam bentuk pencarian
Dan waktu sunyi di langit
Bandung, 2642018

PUISI Ayie S Bukhary
HINGGA KEPOMPONG
Seperti tubuh berakhir dengan pola kematangan dari infrastruktur bawaan program asal
Berlanjut kematian tubuh membuka kehidupan baru dan jenis baru
Sebagaimana kepompong melahirkan jenis lain
Pesona makhluk baru bersayap indah
Kepakan kemerdekaan sebelumnya terbatas
Keberlanjutan hidup tersirat jelas dari ayat alam
Hukum Evolusi berjalan dari sel tunggal
Dari lautan luas membeku lalu mencair
Sel membelah dan membelah lebih banyak
Renik renik cikal bakal makhluk membentuk tulang belakang
Di Lautan berinsang
Di daratan mulai amfibi lalu berparu
Di udara lepas bersayap
Adaptasi dari masing masing uji
Sampai pada kelayakan bernama
Hingga kemana dan jadi bukan lagi ranah uji
Bandung, 2642026

PUISI Rachman Sabur
TANGGA KE DIMENSI
Seraut wajah karakter juang
Tajam sorot laut gelombang
Dalam lubuk tenang pasang
Diameter berlingkar usia kayu jati
Perjalanan terasah tajam belati
Taman nabi harum bunga melati
Gurat tanah janji pasti
Tidak pernah diingkari
Bertahan dari uji gusti
Seratus bilangan keringat tetes mutiara
Geraham kuat otot tangan menebar pelihara
Cerdas membaca cakrawala bicara
Lindap terang kembali mengkaji langit bumi
Mengukur kontur lanskap teliti sekali
Mata terpejam tenang malam tanpa mimpi
Sejuk pagi embun terurai matahari
Kembali lengan baju dilipat siap menyelusuri
Langkah pasti jejak bernyanyi harmoni
Berkali titah dijelajah
Jadi bertubuh dalam tuah
Hidup semata menebar berkah
Bandung 8122024

PUISI Rachman Sabur
KELUAR DARI PRAHARA
Bagaimana engkau bisa melepas keterkurungan diri
Bila kehendak terbelenggu kuat dari pengaruh luar tidak dilepas
Melilit leher dengan kawat berduri
Dari ujung kepala bermahkota kepatuhan dangkal
Ujung kaki beralas kepatuhan pada berbagai pendapat dari ketakutan hidup
Wajar saja kalau disebut mayat berjalan
Keberanian tidak datang dari jiwa penakut
Bukan dunia yang mengasingkan engkau
Diri sendirilah yang terbawa arus
Terbawa segala sampah dan limbah sampai ke ulu
Semua yang datang dari ilir meninggalkan jejak dangkal
Dan engkau tidak akan mengenal ngarai
Engkau harus keluar dari lumpur untuk menemukan tanah luas
Sekalipun tanah lapang panas membakar
Api tidak akan memakan api
Api akan menghanguskan benda yang kering
Sekuat baja pun meleleh karenanya
Itu kehendak yang harus diraih
Engkau bukan mainan
Engkau pemain yang merdeka
Pilihan penuh daya
Jangan serahkan jiwa pada penakut cahaya
Panaskan jiwa pada bahaya
Engkau adalah si kuasa jiwa
Bandung, 8122025

PUISI Sosiawan Leak
GEMBOK BATOK
Gembok kepala kita sudah karatan dan belum kerosi
Sampai membukanya pun sangat sulit sekali
Dari masih bayi disuguhi cerita setiap hari
Hingga menembus alam mimpi
Lalu diucapkan sebagai doa jadi resonansi
Cerita berulang ulang telah membentuk pribadi
Mata hati mati dan tidak lepas di luar kendali
Karena cerita telah jadi suci
Kematian berlanjut sampai usia hidup
Atau waktu tidak mengenal kuncup
Kebodohan pun merebut langkah mengurai kabut
Seharusnya kertas putih tidak kusut
Bisa ditulis sendiri tidak terikat terbatas lanjut
Kita telah terjebak permainan spekulasi
Sampai kekonyolan makan durasi
Manusia memang gemar menutupi ilusi
Kapan bisa tidak peduli pada situasi
Gawat gairah diri mati di meja judi
Modal inti tertutupi di kuras batas
Kosong modal energi terkuras
Hidup lepas bebas tergembok
Mengunci rapat ruang mabok
Ucapkan selamat atas matinya batok
Bandung, 7122025

PUISI Lintang Ismaya
SEBUAH JALAN SEMESTINYA
Puisi itu hal yang rumit
Sependek kata yang melilit
Membuka akal dan renung
Dikepulkan dari dupa ruang tenung
Hembusannya menusuk sampai tulang sumsum
Membuka gembok akal dan hati yang telah dirangkum
Bahkan membatalkan pola pola yang sudah mengakar turun temurun
Membongkar kerusakan kerusakan yang sudah jadi daging pelantun
Puisi itu penelanjangan gaun hasil kalang kabutnya pemaksaan patuh tanpa reserve
Dari kaburnya pengetahuan, agama, budaya, seni, sampai moral bermassa masive
Puisi memerdekakan diri dari jahatnya paham
Yang sudah menabur kekacauan dunia dalam
Maka puisi asal jadi memperparah fitnahnya perenungan
Menggali asal muasal keruh kubangan
Membersihkan dari segala waham penggembokan najis prasangka
Darah daging dikembalikan pada tempat tidak berjangka
Puisi adalah kembalinya pada kosong
Menerjang segala yang bolong
Bandung, 7122025









