Pemerintah Spanyol di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Pedro Sánchez secara resmi telah melarang Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di wilayahnya untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Keputusan tegas ini berdampak langsung pada operasional pangkalan militer Rota dan Morón di Spanyol selatan yang selama ini dioperasikan bersama. Madrid melakukan penolakan tersebut karena Spanyol menilai serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai tindakan “unilateral” yang melanggar hukum internasional serta Piagam PBB. Menteri Luar Negeri José Manuel Albares menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan tersebut tidak akan pernah digunakan untuk operasi militer yang berada di luar koridor perjanjian bilateral.
Kebijakan ini memberikan dampak militer yang signifikan di mana sebanyak 15 pesawat militer AS, termasuk pesawat pengisi bahan bakar Boeing KC-135, harus meninggalkan pangkalan di Spanyol. Pesawat-pesawat tersebut kini telah pindah ke lokasi lain seperti Pangkalan Udara Ramstein di Jerman dan beberapa pangkalan di Prancis. Menanggapi hal itu, Presiden Donald Trump memberikan reaksi keras dengan ancaman untuk memutus seluruh hubungan dagang dengan Spanyol. Namun, Uni Eropa segera menyatakan solidaritas penuh terhadap Spanyol dan mereka siap melindungi kepentingan anggotanya dari segala bentuk ancaman perdagangan tersebut. Perdana Menteri Sánchez merangkum posisi pemerintahnya dengan sikap “No to War” (Tidak pada perang) guna menekankan komitmen Spanyol terhadap perdamaian dan legalitas internasional.
Secara operasional, penarikan 15 pesawat AS dari Rota dan Morón membuktikan bahwa Spanyol tidak ingin pangkalan bersamanya menjadi titik tolak serangan atau dukungan logistik bagi konflik di Iran. Madrid menegaskan bahwa setiap operasi harus sesuai dengan hukum internasional demi mencegah keterlibatan langsung dalam perang besar di Timur Tengah. PM Pedro Sánchez mengecam agresi AS-Israel sebagai intervensi yang “tidak dapat dibenarkan” karena hal itu berisiko menciptakan ketidakpastian global. Sikap Spanyol ini memang terlihat sangat berbeda dengan beberapa negara Eropa lainnya, seperti Inggris, yang tetap mengizinkan pangkalannya digunakan untuk pertahanan diri secara kolektif. Keputusan berani ini diambil setelah agresi AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari 2026 yang memicu kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan tersebut.
5 Kelemahan AS yang Disampaikan Pentagon kepada Trump ketika Menyerang Iran
WASHINGTON – Saat pemerintahan Donald Trump sedang memperdebatkan peluncuran operasi militer terhadap Iran, perwira militer tertinggi Amerika telah memberikan peringatan serius. Pentagon melaporkan bahwa persediaan senjata yang menipis dan terbatasnya dukungan sekutu dapat meningkatkan risiko bagi kampanye militer berkelanjutan. Berikut adalah lima kelemahan utama yang disampaikan Pentagon kepada Trump:
- AS Kekurangan Amunisi: Jenderal Dan Caine selaku Ketua Kepala Staf Gabungan memperingatkan Presiden Trump bahwa kekurangan amunisi penting dapat mempersulit perencanaan militer. Laporan Washington Post menyebutkan bahwa konsumsi besar sistem rudal canggih untuk membela Israel dan membantu Ukraina telah memberikan tekanan luar biasa pada persediaan senjata presisi AS. Meskipun Trump mengeklaim konfrontasi ini akan “mudah dimenangkan”, para analis pertahanan tetap merasa resah dengan skala kompleksitas kampanye terhadap Iran.
- Iran Memiliki Kemampuan Rudal yang Kuat: Jenderal Caine menekankan bahwa geografi Iran yang luas dan infrastruktur militer yang kuat akan menghadirkan tantangan operasional yang sangat berat. Serangan terhadap program rudal Teheran memerlukan penghancuran ratusan target yang tersebar luas, mulai dari peluncur bergerak hingga sistem pertahanan udara. Upaya destabilisasi rezim bahkan berpotensi menuntut operasi yang berkepanjangan selama berbulan-bulan di ribuan lokasi berbeda.
- Negara-negara Arab Menolak Izin Wilayah Udara: Beberapa negara Teluk secara pribadi telah mengisyaratkan keengganan mereka untuk mengizinkan wilayah udara mereka digunakan dalam operasi ofensif terhadap Iran. Pembatasan ini mempersulit logistik serta rute pengisian bahan bakar yang sangat krusial bagi efektivitas kampanye udara skala besar. Iran juga telah memperingatkan bahwa negara mana pun yang memfasilitasi serangan akan menghadapi pembalasan militer yang setimpal.
- Sistem Pertahanan Rudal AS Lemah: Tekanan pada sistem pertahanan rudal seperti THAAD dan Patriot menjadi sorotan utama karena sistem ini telah digunakan secara luas dalam berbagai operasi baru-baru ini. Sayangnya, siklus produksi untuk senjata kompleks tersebut tetap lambat dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pengisian kembali. Pentagon mengakui bahwa tidak ada satu komando pun yang memiliki sumber daya lengkap untuk menghadapi konflik intensitas tinggi secara simultan di berbagai belahan dunia.
- Kewalahan Menghadapi Serangan Balasan: Para pejabat militer merasa khawatir bahwa serangan terbatas sekalipun dapat memicu siklus pembalasan yang tidak terduga dari pasukan rudal Iran dan milisi sekutunya. Meskipun saluran diplomatik di Jenewa tetap aktif, perbedaan pendapat mengenai pengayaan uranium masih menjadi ganjalan besar. Laporan ini menggambarkan bahwa peperangan modern saat ini lebih banyak dibentuk oleh kekuatan rantai pasokan dan aliansi daripada sekadar perhitungan di medan perang.
Dalam konteks aliansi global, hubungan Inggris dan Iran tetap ditandai oleh permusuhan akibat sanksi dan isu penahanan warga negara. Sebaliknya, Inggris dan AS tetap menjadi mitra solid yang saling bergantung, terutama dalam aliansi perdagangan yang menciptakan jutaan lapangan kerja. Konflik Iran dan Israel sendiri dipicu oleh serangan mendadak Israel yang menewaskan elit Garda Revolusi serta ilmuwan Iran. Di sisi lain, data Global Firepower 2026 menunjukkan peningkatan kapasitas pertahanan Indonesia yang kini posisinya berada di atas Israel. Sementara itu, Islandia, Irlandia, dan Selandia Baru tetap dinobatkan sebagai negara teraman di dunia yang menawarkan tingkat kedamaian tertinggi bagi para pengunjung.
Sekian Terimakasih
Bandung, 04 Maret 2026









