PERSIK VS PERSIB: Ketika Kendali tak Pernah Utuh

persik vs persib 1

Persik VS Persib (05 Januari 2026). foto tangkapan layar.

Sembilan puluh menit, ditambah durasi enam menit perpanjangan, cukup untuk mengingatkan, bahwa waktu tidak pernah tunduk. Pada malam 5 Januari 2026, ketika jam hendak merapat ke pukul delapan malam, di atas lapangan Brawijaya-Malang, waktu berjalan dengan caranya sendiri—tak peduli pada rencana, tak tergesa oleh ambisi. Ia hanya menunggu siapa yang paling sabar menghadapinya: dengan lapang, atau dengan luka.

Orang Jawa sejak lama paham satu hal: yang paling berbahaya dari kekuasaan bukanlah kekalahan, melainkan keyakinan bahwa segalanya sudah berada dalam genggaman. Nduweni rasa kuwasa sering datang lebih cepat daripada kebijaksanaan. Sepak bola, seperti hidup, hanya menyediakan cermin. Dan malam itu di Stadion Brawijaya-Malang, cermin dipasang tanpa belas kasihan.

Persib Bandung datang dengan tatanan. Di tengah lapangan, Luciano Guaycochea dan Thom Haye bekerja seperti penjaga irama—menyaring chaos, mengatur jeda, memastikan permainan tetap berada di jalur yang mereka kehendaki. Bola diputar rapi, jarak dijaga, tempo dirawat agar tidak liar. Dalam banyak fase, lapangan seolah tunduk pada skema. Seperti kepemimpinan yang percaya bahwa keteraturan adalah bukti kendali, Persib mengelola permainan dengan keyakinan penuh: selama irama dijaga, segalanya akan aman.

Namun sepak bola, sebagaimana hidup, tidak selalu patuh pada yang paling teratur. Di luar poros tengah yang dikuasai Persib, Persik hidup di tepi. Serangan mereka tidak lahir dari pusat, melainkan dari sayap—dari lari-lari panjang yang memotong sunyi. Bola dialirkan cepat ke sisi, menghindari keramaian, mencari ruang di pinggir yang sering diremehkan. Dari sanalah ancaman disiapkan. Seperti sejarah yang kerap bergerak dari desa ke kota, perubahan tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan, tetapi dari tepi yang sabar menunggu retak.

Meski babak pertama berjalan dalam kebuntuan yang nyaris senyap. Nol-nol bukan angka kosong, melainkan ruang menunggu. Peluang hadir dan lenyap tanpa suara ledakan. Kiper bekerja, lini belakang menutup celah, dan waktu seperti sengaja menahan diri. Skor imbang itu bukan tanda kehati-hatian semata, melainkan isyarat: bahwa pertandingan ini tidak akan tunduk pada siapa pun yang terburu-buru ingin menutup cerita lebih awal.

Persik Kediri membaca isyarat itu dengan tenang. Mereka memilih jalan sunyi. Tidak melawan irama secara frontal, tidak pula larut di dalamnya. Dalam laku Jawa, diam bukan kekosongan; ia sarat perhitungan. Menunggu bukan tanda kalah; ia cara lain membaca waktu. Persik seperti tanah ladang yang dibiarkan menyimpan air—tidak panik, tidak tergesa, percaya bahwa musim punya logikanya sendiri.

Babak demi babak berjalan dengan ketegangan yang tertahan. Peluang datang seperti desir angin di pematang—terasa, tapi tak memaksa. Para penjaga gawang jatuh dan bangkit tanpa drama. Gesekan tak terelakkan. Kartu kuning keluar untuk kedua belah pihak bisa dikata seimbang seperti kegelisahan yang tak berpihak. Disiplin dan kecemasan duduk di bangku yang sama, menunggu siapa yang lebih dulu kehilangan sabar.

Gol Persib pada menit ke-68 hadir sebagai penegasan rencana. Saddil Ramdani memecah kebuntuan, seperti hujan singkat yang membuat tanah percaya musim telah berpihak. Keunggulan itu terasa sah. Terlalu sah. Dalam banyak kisah kekuasaan, justru di titik inilah rasa aman berubah menjadi lengah: ketika kendali dianggap cukup untuk mengunci masa depan.

Padahal waktu tidak pernah mau dikunci. Sebagaimana yang terjadi di menit ke-81 menjadi patahan. Kartu kuning kedua untuk Saddil memaksa Persib bertahan dengan sepuluh pemain. Bukan hanya jumlah yang berkurang, tetapi keyakinan ikut tergerus. Skema masih ada, irama masih dicoba dijaga, tetapi daya tahannya diuji. Seperti kepemimpinan yang rapi di atas kertas, namun rapuh ketika satu penyangga dicabut.

Saya menyaksikan perubahan itu bukan dari tribun stadion, melainkan dari warung kaki lima di Simpang Lima Kota Tasikmalaya. Televisi kecil menggantung miring, kopi tinggal ampas, suara kendaraan mengalir tanpa peduli skor. Tak ada sorak berlebihan, tak ada umpatan. Hanya jeda panjang yang tak perlu dijelaskan. Di ruang seperti itu, orang belajar, bahwa yang genting sering datang tanpa aba-aba.

Persik membaca kegamangan itu dengan kesabaran bak orang desa yang membaca langit sebelum hujan. Mereka menekan tanpa tergesa, seperti menimba air dari sumur lama—satu tarikan, satu keyakinan. Penalti sempat dijanjikan, lalu ditarik kembali oleh VAR. Waktu seperti mengejek, lalu memberi harapan. Enam menit tambahan muncul di papan—enam menit yang dalam hidup sering menentukan apakah sesuatu bertahan atau runtuh.

Dan di menit ke-90+5 dan atau tepatnya kurang dari lima detik, kesabaran menemukan bentuknya. Bola jatuh ke kepala Muhamad Firly. Tidak megah, tidak dirayakan dengan koreografi. Cukup menarik kedua tangan ke dada. Sundulan itu menutup semua ilusi tentang kendali. Gol tersebut bukan ledakan, melainkan pernyataan sunyi: bahwa yang bertahan paling lama sering kali bukan yang paling kuat, tetapi yang paling percaya pada waktu.

Peluit akhir berbunyi. Persib pulang membawa satu poin yang terasa ganjil—bukan karena kurang usaha, melainkan karena terlalu percaya bahwa mengatur sama dengan memiliki. Persik bertahan dengan satu poin yang terasa utuh—hasil dari kesabaran yang tidak panik, tidak mencari pujian. Sementara, di luar sepak bola, pelajarannya kerap sama: Kekuasaan disangka kepemilikan. Kepemimpinan disangka kendali. Padahal hidup hanya memberi kita hak menata irama, bukan menentukan akhir. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *