TALQIN DZIKIR
Suluk Cahaya dalam Lakon Wayang Ajen
Di titik awal perjalanan,
ketika suara dunia memudar,
datanglah talqin dzikir
bukan sebagai bunyi,
melainkan sentuhan cahaya
yang membangunkan jiwa.
Talqin dzikir
nafas pertama
bagi hati lama mati;
ia menyirami tanah batin
yang retak oleh lalai,
hingga benih iman
kembali berdenyut.
Membangunkan hati
tertidur dalam panjangnya waktu,
mengguncang kesadaran
dari mimpi-mimpi dunia,
agar jiwa ingat
bahwa hidup bukan sekadar berjalan,
melainkan pulang.
Dalam talqin,
jiwa disambungkan
pada silsilah cahaya
rantai ruhani
mengalir dari hati ke hati,
dari guru ke murid,
hingga sampai pada sumber
segala bimbingan.
Bukan untuk mengikat,
melainkan menuntun;
bukan untuk menutup akal,
melainkan membuka rasa;
agar dzikir yang terucap
tak liar di padang ego,
tetapi dibimbing
oleh tangan kasih
seorang Syaikh Mursyid.
Talqin menjadikan dzikir
tak putus oleh waktu:
di siang riuh,
di malam sunyi,
di langkah kaki,
di degup jantung,
hingga diri perlahan
melebur bersama Dzikrullāh.
Di situlah Wayang Ajen
menemukan ruhnya:
panggung bukan sekadar tontonan,
tetapi tapak suluk;
lakon bukan sekadar cerita,
tetapi cermin kesadaran.
Ki Dalang Kandabuana
tak lagi hanya menggerakkan wayang,
ia digerakkan oleh dzikir;
tangannya adalah perintah,
suaranya adalah doa,
dan lakonnya menjadi
perjalanan jiwa manusia
menuju asal cahaya.
Talqin dzikir
pintu peradaban batin:
menghidupkan hati,
membangunkan kesadaran,
menyambungkan garis ruhani,
mendawamkan ingat
hingga dunia pun
menjadi ayat.
Maka menerima talqin,
ia menerima amanah:
menjaga dzikir tetap hidup,
menjaga hati tetap jernih,
hingga pada akhirnya
yang tersisa bukan aku,
melainkan Dia
Yang Maha Mengingat
hamba-Nya.
Villa Wayang Ajen Subang
Minggu, 04.01.2026
WGA

