Seni Tidak Menunggu Gedung

SENI TIDAK MENUNGGU GEDUNG

Ada saat ketika sebuah gedung harus berganti fungsi, sementara kehidupan yang tumbuh di dalamnya belum tahu ke mana harus berpindah. Pemerintah melihat bangunan sebagai aset yang perlu ditata dan dimanfaatkan. Orang-orang yang berkegiatan di dalamnya melihat sesuatu yang lebih dari dinding dan atap: tempat bertemu, belajar, berlatih, mempertunjukkan karya, dan membangun hubungan. Dua pandangan itu bertemu dalam satu persoalan yang kini mengemuka di Tasikmalaya.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya merencanakan penataan kompleks bekas Sekretariat Daerah di Jalan Pemuda, wilayah Kota Tasikmalaya. Sepuluh bangunan masuk dalam rencana pembongkaran, sementara lahan yang dibuka diarahkan menjadi area parkir. Pemerintah menyampaikan alasan berupa kondisi bangunan yang memprihatinkan, kebutuhan parkir di sekitar Jalan HZ Mustofa, dan keinginan mengoptimalkan aset daerah agar memberi manfaat ekonomi.¹(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Alasan tersebut tidak serta-merta keliru. Aset pemerintah bukan benda yang boleh dibiarkan terbengkalai hanya karena pernah memiliki fungsi tertentu. Ada tanggung jawab pemeliharaan, keamanan, ketertiban, dan pelayanan publik yang harus dijalankan. Kebutuhan parkir pun bukan perkara remeh ketika pusat kegiatan perdagangan dan lalu lintas berhadapan dengan keterbatasan lahan. Pemerintah berhak meninjau kembali pemanfaatan asetnya, sepanjang keputusan dan pelaksanaannya mengikuti ketentuan yang berlaku.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Namun sebuah kawasan tidak hanya berisi bangunan yang bisa dihitung, dibersihkan, atau diratakan. Di kompleks bekas Setda itu, sebagian ruang telah dimanfaatkan komunitas seni dan literasi. Setelah ditata dan dikelola Komunitas Cermin Tasikmalaya, salah satu tempat tersebut dikenal sebagai Buleud Gallery and Art Space. Kegiatannya mencakup latihan, diskusi, pameran, pertunjukan, dan pertemuan komunitas. Bagi para pelakunya, tempat itu bukan sekadar alamat sekretariat. Ada proses dan jejaring yang tumbuh dari penggunaan ruang secara berulang.³ ⁴(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Pengalaman tersebut patut diperhitungkan, tetapi perlu ditempatkan secara jernih. Penggunaan dan perawatan sebuah gedung tidak otomatis memberikan hak kepemilikan atau hak menempati selamanya. Pemerintah tetap memiliki kewenangan dan tanggung jawab atas asetnya. Sebaliknya, kewenangan itu juga tidak berarti pengalaman orang-orang yang telah menghidupkan ruang tersebut boleh diabaikan. Keputusan mengenai aset publik semestinya tidak hanya melihat apa yang akan dibangun, tetapi juga memperhitungkan kehidupan sosial yang mungkin terputus ketika fungsi lama dihentikan.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Di sinilah persoalannya menjadi lebih luas daripada urusan mempertahankan sebuah gedung. Lahan parkir dapat menjawab kebutuhan warga dan memberi pemasukan bagi daerah. Ruang kebudayaan juga menghasilkan manfaat, meskipun tidak selalu masuk sebagai pendapatan langsung ke kas pemerintah. Anak-anak yang belajar, komunitas yang bertukar pengetahuan, seniman yang berkolaborasi, dan warga yang menikmati pertunjukan merupakan bagian dari kehidupan kota. Nilai semacam itu tidak mudah dimasukkan ke dalam hitungan ekonomi, tetapi bukan berarti tidak ada.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Kita juga perlu menghindari anggapan bahwa salah satu kepentingan harus selalu menang. Pemerintah tidak bisa dituduh keliru hanya karena ingin menata aset. Seniman pun tidak bisa dianggap sekadar mempertahankan kenyamanan hanya karena meminta ruang berkegiatan. Justru yang perlu diuji ialah bagaimana kebutuhan penataan kawasan dapat berjalan tanpa memutus kegiatan kebudayaan, atau setidaknya bagaimana dampak perubahan fungsi dapat ditangani dengan layak.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Pada 2 November 2026, puluhan seniman dan pegiat budaya Tasikmalaya Raya menggelar aksi teatrikal di kawasan Taman Kota dan sekitar Jalan HZ Mustofa. Mereka menghadirkan pertunjukan, perkusi, lukisan, hingga kegiatan memasak di ruang terbuka. Aksi tersebut menjadi cara menyampaikan keberatan sekaligus meminta pemerintah membuka ruang dialog.⁵ Ada hal menarik dari peristiwa itu: ketika ruang berkesenian terancam, para seniman justru membawa ekspresi mereka ke ruang publik. Jalan yang biasanya menjadi jalur kendaraan berubah menjadi tempat pertunjukan dan perjumpaan.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Peristiwa itu mengingatkan kita pada longser, teater rakyat Sunda yang tidak harus menunggu gedung pertunjukan untuk hidup. Halaman rumah dan lapangan terbuka dapat menjadi tempat pementasan. Perlengkapannya sederhana; penonton berkumpul, pemain memainkan cerita, dan pertunjukan berlangsung di tengah masyarakat. Longser memperlihatkan bahwa seni dapat tumbuh dari kelenturan, kedekatan dengan penonton, dan kemampuan membaca keadaan.⁷(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Namun, jangan sampai kelenturan itu dipakai untuk membenarkan ketiadaan fasilitas. Seni memang dapat berpindah panggung, tetapi proses berkesenian tidak seluruhnya bisa dibawa ke jalan. Latihan membutuhkan tempat dan jadwal yang memungkinkan. Peralatan perlu disimpan. Pameran membutuhkan ruang, pertunjukan membutuhkan persiapan, dan komunitas membutuhkan tempat untuk merawat kerja bersama. Longser mengajarkan daya hidup seni, bukan mengajarkan seniman agar terus-menerus bekerja tanpa dukungan.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Maka, ketika pemerintah menyebut sejumlah lokasi sebagai kemungkinan ruang alternatif, pertanyaan berikutnya bukan sekadar di mana tempatnya. Apakah komunitas dapat mengaksesnya tanpa beban biaya yang sulit dijangkau? Apakah jadwalnya bisa dipakai secara rutin? Bagaimana dengan penyimpanan perlengkapan, penggunaan ruang latihan, perizinan, dan tanggung jawab pengelolaan? Gedung yang tersedia belum tentu menjadi ruang kebudayaan yang benar-benar dapat digunakan.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Pada 6 November 2026, Wali Kota Tasikmalaya menyampaikan bahwa Pemkot dan Pemkab telah membahas penyediaan ruang ekspresi bagi seniman dan budayawan. Kawasan Gunung Pompok disebut sebagai salah satu opsi yang sedang ditinjau bersama perwakilan komunitas. Sejumlah fasilitas lain, seperti Gedung Kesenian, Gedung Creative Center, Alun-alun, GOR Sukapura, dan GOR Susi Susanti, juga disebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif. Pernyataan ini membuka kemungkinan penyelesaian, tetapi kecocokan, akses, dan mekanisme penggunaannya tetap perlu diperjelas.⁶(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Pemerintah dapat memulai dengan menjelaskan pilihan ruang yang tersedia beserta kondisi dan aturan pemakaiannya. Komunitas kemudian memeriksa apakah tempat tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing bidang. Kelompok teater, misalnya, memiliki kebutuhan yang tidak selalu sama dengan komunitas sastra atau seni rupa. Jika satu gedung tidak bisa menampung semuanya, penggunaan beberapa lokasi dengan jadwal dan pengelolaan yang jelas dapat menjadi pilihan. Akan tetapi, yang penting, ruang pengganti itu tidak berhenti sebagai nama dalam pernyataan, melainkan benar-benar dapat digunakan.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Di pihak seniman, persoalan ini juga meminta lebih dari sekadar keberatan terhadap perubahan fungsi gedung. Komunitas perlu mengenali kekuatan dan kebutuhannya sendiri. Siapa saja kelompok yang aktif? Kegiatan apa yang berjalan? Perlengkapan apa yang diperlukan? Berapa kali ruang digunakan? Bentuk kerja sama apa yang dapat dibangun? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk mengubah kesenian menjadi urusan administrasi, melainkan agar tuntutan mereka memiliki pijakan yang jelas ketika berhadapan dengan pemerintah.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Konsolidasi juga perlu terlihat dalam kegiatan. Pertunjukan bersama, pameran bergilir, latihan terbuka, dokumentasi karya, dan kerja lintas komunitas dapat memperluas hubungan seniman dengan masyarakat. Dengan jaringan yang hidup, kegiatan seni tidak bergantung pada satu alamat. Jika satu tempat tidak lagi tersedia, komunitas memiliki kemungkinan untuk bergerak dan bekerja sama dengan ruang lain. Kemandirian semacam ini bukan berarti pemerintah boleh lepas tangan. Justru, komunitas yang aktif dan terorganisasi akan lebih mudah diajak menyusun dukungan yang sesuai kebutuhan.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Penyelesaian yang sehat tidak harus selalu berarti mempertahankan seluruh bangunan atau membongkar semuanya. Ada kemungkinan penggunaan bersama, pemanfaatan sebagian ruang, penyediaan tempat pengganti, atau masa peralihan sebelum kegiatan dihentikan. Pilihan mana yang paling mungkin tentu bergantung pada kondisi fisik bangunan, status aset, rencana penataan, dan kebutuhan masyarakat. Hal-hal itu perlu dibuka dan dibicarakan secara terang. Seniman tidak harus memperoleh semua yang diminta, tetapi mereka berhak mendapatkan proses yang masuk akal dan kesempatan menyampaikan kepentingannya.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Pemerintah pun tidak perlu memandang keberadaan seniman sebagai hambatan bagi penataan kawasan. Di kota yang hidup, ruang ekonomi dan ruang kebudayaan semestinya dapat saling melengkapi. Parkir yang tertata memberi kemudahan bagi warga. Ruang seni memberi kesempatan bagi warga untuk belajar, berekspresi, dan bertemu. Keduanya memang memiliki cara kerja berbeda, tetapi sama-sama berhubungan dengan kualitas kehidupan kota.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Longser tidak menunggu gedung untuk memulai pertunjukan. Ia mencari halaman, lapangan, dan kerumunan orang yang bersedia menjadi penonton. Akan tetapi di balik pertunjukan yang tampak sederhana, tetap ada pemain yang berlatih, perlengkapan yang disiapkan, dan kelompok yang menjaga keberlangsungannya. Kelenturan panggung tidak menghapus kebutuhan akan kerja bersama.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Gedung dapat berubah fungsi. Seniman dapat berpindah tempat. Kota pun akan terus bergerak mengikuti kebutuhan warganya. Satu hal yang perlu dijaga ialah agar perpindahan itu tidak membuat kehidupan kebudayaan selalu harus memulai dari nol. Seni tidak menunggu gedung untuk hidup, tetapi kota yang ingin tumbuh tidak seharusnya membiarkan seninya kehilangan tempat untuk berproses. [](Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Catatan Kaki dan Sumber(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

1. Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tasikmalaya, “Optimalisasi Aset Daerah, Pemkab Tasikmalaya Akan Bongkar 10 Bangunan Eks Setda Lama Awal November 2026,” 28 Oktober 2026. Memuat rencana pembongkaran, alasan penataan, dan keterangan Kepala Bidang Aset serta Bupati. Baca sumber resmi Pemkab.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

2. NewsTasikmalaya, “Pemkab Tasikmalaya Bakal Ratakan Bangunan Eks Setda, Disiapkan Jadi Lahan Parkir untuk Tambah PAD,” 29 Oktober 2026. Memuat pernyataan Bupati tentang dua bangunan yang direncanakan tersisa. Baca berita.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

3. Kabar Priangan, “Seniman Tasikmalaya Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Buka Ruang Kebudayaan,” 2 November 2026. Memuat informasi surat pengosongan tertanggal 22 Oktober 2026 dan identifikasi Buleud Gallery and Art Space. Baca berita.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

4. Radar Tasikmalaya, “Keberatan Eks Setda Dibongkar, Seniman dan Budayawan Tasikmalaya Minta Pemkab Buka Ruang Dialog,” 28 Oktober 2026; dan NewsTasikmalaya, “Seniman Tasikmalaya Gelar Aksi Teatrikal di Jalan HZ Mustofa, Protes Rencana Pembongkaran Eks Setda Kabupaten,” 2 November 2026. Keduanya memuat keterangan komunitas mengenai kegiatan seni di kompleks tersebut. Radar Tasikmalaya · NewsTasikmalaya.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

5. NewsTasikmalaya, “Seniman Tasikmalaya Gelar Aksi Teatrikal di Jalan HZ Mustofa, Protes Rencana Pembongkaran Eks Setda Kabupaten,” 2 November 2026; dan Kabar Priangan, “Seniman Tasikmalaya Turun ke Jalan, Desak Pemerintah Buka Ruang Kebudayaan,” 2 November 2026. Sumber untuk tanggal, lokasi, bentuk aksi, dan tuntutan dialog. Lihat sumber pada catatan kaki 3 dan 4.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

6. Inilah Koran, “Pemkot dan Pemkab Tasikmalaya Siapkan Aset untuk Ruang Ekspresi Seniman dan Budayawan,” 6 November 2026. Memuat pernyataan Wali Kota Viman Alfarizi mengenai Gunung Pompok dan fasilitas alternatif. Baca berita.(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Seni Budaya: Seni Teater SMP, materi tentang longser. Sumber menjelaskan sifat kerakyatan longser dan kemungkinan pementasannya di halaman rumah maupun lapangan terbuka dengan perlengkapan sederhana. Baca dokumen(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)

Cahya Munggaran

(Source: kosapoin.com/seni-tidak-menunggu-gedung)


Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.2
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *