KRITIS

kritis

Hari-hari menyala dari layar. Jutaan cahaya bergerak tanpa henti, membawa kabar yang datang hampir bersamaan, saling mendahului, saling menimpa. Jari ikut bergerak, mengetuk, menggulir, berpindah dari satu halaman ke halaman lain sebelum sempat tinggal pada salah satunya. Mata menerima begitu banyak kilatan sampai beberapa di antaranya lewat tanpa sempat dikenali. Di tengah gerak yang demikian cepat, sesuatu di dalam dada tiba-tiba berhenti. Bukan karena telah menemukan jawaban, melainkan karena untuk sesaat ia tidak sanggup lagi ikut berlari.(Source: kosapoin.com/kritis)

Dari jeda kecil itu, permukaan yang semula tampak rata mulai memperlihatkan garis-garis halus. Sebuah peristiwa tidak lagi berdiri sebagai satu kejadian; ada sudut yang luput, latar yang belum terlihat, dan bagian kecil yang mengubah keseluruhan bentuk ketika diperhatikan lebih lama. Mata tidak menjadi lebih tajam. Ia hanya bersedia tinggal. Sebuah gambar yang sekilas tampak utuh dapat menyimpan bagian yang terpotong. Sebuah kalimat yang terasa sederhana dapat membawa sesuatu yang baru terbaca setelah dibaca kembali. Yang berubah bukan benda di hadapan mata, melainkan cara mata berada di hadapannya.(Source: kosapoin.com/kritis)

Lalu ukuran yang biasa dipakai untuk mengenali sesuatu mulai terasa sempit. Sebuah keputusan dapat menyimpan alasan yang tidak terlihat dari hasilnya. Sebuah kesalahan dapat tumbuh dari tempat yang tidak pernah diperiksa. Bahkan apa yang tampak paling terang kadang menyisakan bagian yang berada di luar cahaya. Pikiran mulai memeriksa batas-batas yang selama ini diterimanya begitu saja, ingin tahu dari mana batas itu bermula dan mengapa ia pernah terasa cukup. Ada yang tetap tinggal setelah diperiksa. Ada yang bergeser ketika dilihat dari jarak berbeda. Ada pula yang kehilangan kepastian tanpa segera berubah menjadi sesuatu yang lain.(Source: kosapoin.com/kritis)

Malam kembali seperti biasa. Layar-layar masih menyala. Cahaya berganti dari satu kabar ke kabar berikutnya. Kali ini, sebuah pilihan tidak segera disentuh. Ada sesuatu yang menahannya sejenak. Yang belum selesai dibiarkan tetap berada di sana, tanpa dipaksa menjadi apa-apa. Sesudahnya, tangan boleh bergerak. Atau tidak. Di luar, cahaya terus berpindah dari satu layar ke layar lain. Di dalam, yang belum selesai itu tetap tinggal. (Source: kosapoin.com/kritis)

YANG TIRIS(Source: kosapoin.com/kritis)

kau kira cermin mengenal wajah
dan bunyi menyimpan gema panjang
warisan akan tetap dikenang
suara silam menuntun ke arah(Source: kosapoin.com/kritis)

kau kira langkah milik sendiri
jejak terdahulu belum hilang
yang diyakini pun kini hengkang
masih engkau bawa dalam diri(Source: kosapoin.com/kritis)

baru kausadar, ada yang tiris
yang lampau masih terasa dekat
merdeka tumbuh dengan perlahan(Source: kosapoin.com/kritis)

yang asing masih tinggal di giris
tanpa mengusir yang masih lekat
bukan berarti tanpa kenangan(Source: kosapoin.com/kritis)

2015(Source: kosapoin.com/kritis)

Kontu Wuna dari Maginti
Baca Tulisan Lain

Kontu Wuna dari Maginti

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *