GOBLOK

gobok

Ada kata yang bentuknya pendek sekali, tetapi pemakaiannya bisa merembet ke mana-mana. Salah satunya adalah kata “goblok”.(Source: kosapoin.com/goblok)

“Goblok!”(Source: kosapoin.com/goblok)

Kadang saja begitu. Seseorang lupa membawa dompet, salah belok di persimpangan, salah kirim pesan, atau membeli barang diskon yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan, lalu kata itu meluncur begitu saja. Bukan kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri: “Goblok juga gue.” Anehnya, dalam situasi seperti itu, kita tidak sedang benar-benar menghina diri sendiri. Kita hanya sedang kesal karena tahu persis bahwa ada hal yang sebenarnya bisa dikerjakan dengan jauh lebih becus.(Source: kosapoin.com/goblok)

Suasananya tentu langsung berubah di antara teman-teman yang sudah karib. “Goblok lu,” ucap seseorang sambil terbahak. Yang disebati malah ikut nyengir dan ketawa. Namun, bayangkan jika kata itu diucapkan oleh orang asing di jalanan. Suhu udaranya langsung berbeda. Rupanya, “goblok” bukanlah kata yang memiliki arti tetap dan kaku. Ia sangat bergantung pada siapa yang mengucapkannya, kepada siapa ia diarahkan, dalam keadaan apa ia terlontar, dan dengan nada suara seperti apa ia disampaikan.(Source: kosapoin.com/goblok)

Bahasa memang sering kali bersikap begitu. Di dalam kamus, makna sebuah kata kelihatan rapi dan jelas. Namun, begitu ia keluar dari buku dan masuk ke kehidupan sehari-hari, perilakunya bisa berubah-ubah. “Goblok” bisa menjadi makian, gurauan, pengakuan, atau sekadar bunyi spontan ketika kita baru sadar bahwa keputusan yang lima menit lalu terasa jenius ternyata adalah sebuah kekeliruan total.(Source: kosapoin.com/goblok)

Hal yang paling menarik justru terjadi ketika kata itu berpindah sasaran kepada orang lain.(Source: kosapoin.com/goblok)

Kalau saya sendiri yang berbuat salah, kepala ini punya berjuta alasan untuk membela diri. Tadi sedang terburu-buru. Kurang tidur. Tidak membaca pesan sampai tuntas. Salah dengar. Salah duga. Sedang memikirkan cicilan lain. Kita memang sangat pandai merangkai latar belakang agar kesalahan kita terlihat masuk akal.(Source: kosapoin.com/goblok)

Tetapi, ketika orang lain yang melakukan kesalahan, latar belakang itu mendadak lenyap dalam sekejap.(Source: kosapoin.com/goblok)

“Goblok.” Titik.(Source: kosapoin.com/goblok)

Mungkin karena kita mengamati kejadian orang lain dari luar. Kita tidak ikut menanggung isi kepalanya, keruwetan rumah tangganya, kecemasan harian yang ia pendam, atau alasan-alasan tersembunyi yang tidak kita ketahui. Yang sampai ke hadapan kita hanyalah satu peristiwa mentah. Dan dari satu peristiwa tunggal itu, kita sering merasa sudah cukup punya bahan untuk menghakimi seluruh kepribadian seseorang.(Source: kosapoin.com/goblok)

Padahal, tentu saja, ada kalanya sebuah keputusan memang benar-benar bodoh. Tidak semua kesalahan perlu dibela setengah mati. Ada orang yang memang sedang ceroboh. Ada orang yang malas berpikir panjang. Ada keputusan-keputusan yang setelah dijalankan membuat kita mengelus dada dan bertanya-tanya, “Kok bisa-bisanya sampai begini?”(Source: kosapoin.com/goblok)

Namun, keputusan yang bodoh tidak selalu membutuhkan orang yang bodoh pula untuk menciptakannya.(Source: kosapoin.com/goblok)

Kita sendiri adalah saksi hidup dari kenyataan itu. Berapa banyak keputusan dalam hidup yang jika diputar kembali membuat kita ingin menariknya detik itu juga? Berapa banyak pesan yang seharusnya tidak perlu dikirim, kalimat tajam yang seharusnya ditahan di ujung lidah, barang impulsif yang seharusnya tidak dibeli, atau orang keliru yang telanjur dipercaya? Kalau setiap keputusan buruk otomatis melabeli pelakunya sebagai orang goblok, mungkin kita semua sudah lama kesulitan mencari sebutan yang pantas untuk diri sendiri.(Source: kosapoin.com/goblok)

Untungnya, hidup tidak berjalan sekaku itu. Kita melakukan kesalahan, menepuk jidat, lalu hari terus bergulir. Kadang kita belajar dari kejadian, kadang pula kita mengulanginya lagi di lain kesempatan. Manusia memang tidak pernah tumbuh dengan garis lurus yang rapi. Ada pelajaran hidup yang baru masuk akal setelah peristiwanya lewat bertahun-tahun. Ada pula pelajaran yang sampai tua pun tetap gagal kita pahami.(Source: kosapoin.com/goblok)

Itulah sebabnya saya tidak pernah terlalu risih dengan kata goblok itu sendiri. Yang membuat saya tertegun justru ketika kata tersebut dipakai sebagai alamat tetap bagi seseorang. Seolah-olah satu kecerobohan sudah cukup untuk menentukan siapa dirinya.(Source: kosapoin.com/goblok)

Lagipula, orang yang hari ini kita anggap goblok bisa jadi besok justru menyelamatkan kita dari ketidaktahuan. Bahkan, seseorang yang melakukan kesalahan besar hari ini tetap memiliki peluang untuk bertumbuh dan tidak mengulanginya esok hari.(Source: kosapoin.com/goblok)

Mungkin karena itulah saya lebih menyukai momen ketika kata goblok itu ditarik pulang oleh pemilik mulutnya sendiri: “Waduh, goblok juga saya.”(Source: kosapoin.com/goblok)

Ada sisi yang manusiawi sekaligus lucu di situ. Kita tidak sedang merendahkan martabat diri, melainkan sedang beristirahat sejenak dari kebiasaan merasa paling benar. Kita mengakui bahwa kepala kita yang penuh pertimbangan ini pun terkadang bisa memproduksi keputusan-keputusan konyol yang membuat kita geleng-geleng kepala sendiri.(Source: kosapoin.com/goblok)

Jadi, kalau suatu hari nanti kita mendengar seseorang berseru, “Goblok!”, mungkin kita tidak perlu buru-buru menebak siapa yang sedang disasar. Bisa jadi ia sedang gemas pada temannya. Bisa jadi sedang bercanda gurau. Bisa jadi sedang menyesali keputusannya sendiri. Atau, bisa jadi ia baru sadar kalau kunci motornya sejak tadi terselip di tangannya sendiri.(Source: kosapoin.com/goblok)

Sebab kadang memang orangnya yang bermasalah. Kadang hanya keputusannya yang keliru. Kadang situasinya yang memang menjebak. Dan cukup sering, setelah direnungkan kembali, ya kita sendiri pelakunya.(Source: kosapoin.com/goblok)

“Goblok juga gue.”(Source: kosapoin.com/goblok)

Lalu setelah itu? Ketawa kecil. Besok, kita jalani lagi hidup seperti biasa. [](Source: kosapoin.com/goblok)

Cahya Munggaran

Apakah artikel ini membantu?
IP: 209.59.230.138
Negara: Poland (Mazovia)
Device: Desktop
OS: macOS, Browser: Chrome

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *