DIALOG PUITIS RASA KESADARAN DI TANAH NUSANTARA

dialog puitis

DIALOG PUITIS
RASA KESADARAN DI TANAH NUSANTARA

Antara Rakean Sancang Sunda dan Raja Parhobhu Batak Toba
Tema: Kemiskinan, Kejujuran, Moralitas, dan Keberanian Menjadi Apa Adanya dalam Filsafat Paramalenyep Sunda
(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

PROLOG
Di suatu ruang yang tidak mengenal batas waktu, angin dari Parahyangan bergerak perlahan menuju utara. Dari kejauhan terdengar bunyi air, seperti suara sungai yang sedang mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti.
Di satu sisi duduk Rakean Sancang, membawa keheningan tanah Sunda. Di sisi lain duduk Raja Parhobhu, membawa ingatan panjang tanah Batak Toba. Mereka tidak sedang berdebat untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan bertanya: Mengapa manusia yang hidup dalam negeri yang kaya masih dapat merasa miskin? Dan lebih jauh, mengapa manusia yang miskin secara materi kadang justru kaya dalam rasa, harga diri, dan kejujuran?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Rakean… Aku ingin bertanya sesuatu yang sederhana, tetapi mungkin jawabannya tidak sederhana. Apa arti kemiskinan absolut? Dan apa pula yang disebut kemiskinan struktural? Apakah kemiskinan hanya tentang tidak punya uang, tidak punya rumah, tidak punya tanah, tidak punya pekerjaan? Ataukah kemiskinan mempunyai wajah lain yang tidak terlihat oleh mata?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Raja… Kemiskinan tidak selalu berarti kekurangan benda. Ada manusia yang rumahnya megah, tetapi jiwanya sempit; rekeningnya penuh, tetapi rasa syukurnya kosong; kekuasaannya besar, tetapi kehilangan keberanian untuk berkata benar. Sebaliknya, ada manusia yang makan, tinggal, dan berpakaian secara sederhana, tetapi ketika malam tiba, hatinya dapat tidur dengan tenang.
Maka bagiku, kemiskinan pertama-tama adalah persoalan keseimbangan. Tidak semua kekurangan adalah kesalahan, dan tidak semua kesederhanaan adalah kehinaan. Alam sendiri mengajarkan keseimbangan: hujan tidak turun selamanya, kemarau tidak berlangsung selamanya, sungai tidak meminta menjadi gunung, dan gunung tidak memaksa menjadi laut. Yang ada hanyalah menjalankan keberadaannya. Itulah rasa.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Jadi kemiskinan tidak boleh langsung dianggap sebagai kegagalan manusia?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Benar. Tetapi kita harus berhati-hati, sebab ada kemiskinan yang lahir dari keadaan alamiah kehidupan, dan ada kemiskinan yang diciptakan oleh struktur kehidupan. Di situlah persoalannya menjadi lebih dalam.
Kemiskinan struktural terjadi ketika sistem sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan membuat manusia sulit keluar dari keterbatasannya—bukan karena ia malas, bodoh, atau tidak mau berusaha, tetapi karena pintu kesempatan memang tidak dibuka secara adil.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Berarti ada manusia yang sejak lahir sudah berdiri di depan pintu yang tertutup?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Ya. Dan yang lebih menyedihkan, kadang-kadang manusia itu kemudian disalahkan karena tidak mampu masuk. Itulah paradoks zaman: yang menguasai pintu berbicara tentang kerja keras, yang memiliki tangga berbicara tentang perjuangan, dan yang duduk di atas berbicara tentang kesabaran kepada mereka yang berada di bawah. Padahal, keadilan bukan sekadar menyuruh manusia berjuang, melainkan memastikan bahwa perjuangan itu mempunyai ruang untuk berhasil.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Aku semakin memahami. Tetapi ada satu hal lagi. Jika struktur yang tidak adil menjadi masalah, mengapa sebagian manusia yang diberi kesempatan justru kehilangan moralitasnya?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Nah! Di sinilah kita memasuki wilayah yang lebih dalam daripada ekonomi. Kemiskinan struktural dapat diperbaiki dengan perubahan struktur, tetapi jika mentalitas dan moralitas ikut hilang, perubahan struktur saja belum cukup. Sebab manusia dapat mengganti sistem, tetapi membawa keserakahan lama ke dalam sistem yang baru.
Dulu ia ditindas; setelah memperoleh kekuasaan, ia justru menindas. Dulu ia mengkritik korupsi; setelah memperoleh jabatan, ia belajar menyembunyikan korupsi. Dulu ia berbicara tentang keadilan; setelah menjadi penguasa, ia membuat keadilan menjadi miliknya sendiri. Itulah mengapa kemiskinan struktural bukan hanya persoalan hilangnya akses ekonomi, tetapi dapat pula menjadi persoalan hilangnya mentalitas dan moralitas.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Berarti manusia bisa kaya secara ekonomi, tetapi miskin secara moral?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Bukan hanya bisa. Itu adalah salah satu penyakit zaman. Kita menyaksikan manusia berlomba mengumpulkan angka, tetapi lupa menghitung berapa banyak rasa yang hilang, berapa banyak orang lain yang dikorbankan, berapa banyak hutan yang musnah, dan berapa banyak manusia yang tersingkir dari tanah kelahirannya.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Lalu apa hubungannya dengan Paramalenyep?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Paramalenyep bukan sekadar kata yang harus dipajang sebagai simbol kebudayaan; ia harus menjadi rasa kesadaran. Manusia harus mampu melihat dirinya bukan sebagai pusat alam, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan kehidupan: manusia, alam, leluhur, generasi yang belum lahir, ruang hidup, dan tanggung jawab.
Jika semua itu dipisahkan, manusia menjadi serakah. Namun, jika semua itu dirasakan sebagai satu kesatuan, manusia mulai mengerti arti cukup. Dan manusia yang mengerti arti cukup tidak mudah menjadi budak keserakahan.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Jadi, cukup bukan berarti tidak boleh maju?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Tidak. Cukup bukan kemunduran; cukup adalah kesadaran batas. Air diperlukan untuk hidup, tetapi jika sungai dikuasai seluruhnya oleh satu tangan, air berubah dari anugerah menjadi alat kekuasaan. Tanah diperlukan untuk hidup, tetapi jika seluruh tanah hanya menjadi komoditas, manusia akhirnya menjadi tamu di rumahnya sendiri.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Aku teringat satu hal. Semut. Menurutmu, semut itu apa maknanya?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Semut? Lihatlah semut. Ia kecil, tidak mempunyai istana, tidak memakai mahkota, tidak berpidato tentang gotong royong, dan tidak memasang semboyan di atas tubuhnya. Tetapi lihatlah cara ia bekerja: ia melakukan, berjalan, mencari, membawa, berbagi, dan bekerja bersama tanpa sibuk menjelaskan bahwa dirinya pekerja keras.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Jadi semut mengajarkan bahwa tindakan lebih penting daripada semboyan?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Persis. Kita terlalu banyak membuat slogan tentang kejujuran, keadilan, kemanusiaan, gotong royong, persatuan, dan kesejahteraan. Tetapi pertanyaan terpenting adalah: apakah kita benar-benar melakukannya? Sebab semboyan tanpa tindakan hanyalah suara, dan suara tanpa kesadaran hanyalah kebisingan.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Kalau begitu, apa yang harus dilakukan manusia di zaman seperti sekarang?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Mulailah dari hal yang paling sederhana: berani jujur.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Berani jujur?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Ya. Tetapi bukan sekadar mengucapkan “Berani jujur itu hebat!” Jangan hanya menjadi slogan. Pertanyaannya: beranikah kita jujur ketika kejujuran membuat kita kehilangan keuntungan? Beranikah kita berkata benar ketika kebohongan justru membuat kita naik jabatan? Beranikah kita mengatakan “saya tidak tahu” ketika semua orang berharap kita terlihat pintar? Beranikah kita mengakui kesalahan ketika menyalahkan orang lain lebih mudah dilakukan? Beranikah kita mengatakan, “Saya memang seperti ini. Saya belum sempurna. Saya masih belajar”? Itulah keberanian.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Berarti, “berani apa adanya” bukan berarti membenarkan kelemahan?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Tidak. Apa adanya bukan berarti berhenti memperbaiki diri, melainkan tidak memalsukan diri. Jika salah, katakan salah. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu. Jika gagal, akui gagal. Jika berhasil, jangan sombong. Jika memiliki, berbagi. Jika tidak memiliki, jangan malu. Sebab harga manusia tidak ditentukan semata-mata oleh jumlah benda yang dimilikinya.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Rakean… Kalau seluruh manusia mempunyai kesadaran seperti itu, mungkin negeri ini tidak membutuhkan terlalu banyak slogan.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Benar. Sebab masyarakat yang sadar tidak perlu setiap saat diingatkan untuk menjadi manusia. Mereka akan bergerak karena kesadaran dari dalam—seperti semut, seperti air, seperti akar—tidak banyak bicara, tetapi bekerja.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Aku setuju. Cocok! Bagus, Rakean. Engkau orang yang berprinsip. Tetapi aku ingin bertanya satu hal terakhir. Di negeri yang sering disebut seperti “Konoha” ini, ketika masyarakat melihat ketimpangan, kebohongan, kemiskinan, korupsi, keserakahan, dan permainan kepentingan, apakah kita harus melawan?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Lawan. Tetapi pertama-tama, lawanlah kebohongan di dalam diri sendiri. Jangan sampai kita marah melihat korupsi, tetapi ketika mendapat kesempatan kecil kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Jangan mengutuk penguasa karena haus kekuasaan, tetapi di rumah sendiri kita tidak mau mendengar pendapat orang lain. Jangan berbicara tentang keadilan kalau kita hanya adil kepada kelompok kita sendiri. Perubahan besar selalu mempunyai akar kecil, dan akar itu adalah diri manusia.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Jadi perjuangan yang paling revolusioner adalah menjaga kejujuran ketika dunia mengajarkan kompromi?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Ya. Dan keberanian paling besar bukan selalu berdiri di atas panggung. Kadang keberanian terbesar adalah ketika kita sendirian, tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada penghargaan, tetapi kita tetap berkata, “Tidak. Itu bukan hak saya.” Itulah manusia yang masih mempunyai rasa.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Amin. Cocok! Bagus, Rakean. Engkau orang berprinsip. Hebat, Rakean! Maju terus. Pantang mundur. Panjang umur. Sehat-sehat. Murah rezeki. Semoga langkahmu selalu mendapatkan jalan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Terima kasih, Raja. Tetapi jangan hanya mendoakan saya. Doakan juga negeri ini. Doakan manusia-manusianya, mereka yang sedang lapar, yang kehilangan tanah, yang kehilangan pekerjaan, yang kehilangan harapan. Dan terutama, doakan mereka yang sudah terlalu lama hidup dalam kebohongan hingga tidak lagi mengenal wajah dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Lalu siapa yang akan memperbaikinya?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Kita. Bukan “mereka”. Bukan “nanti”. Bukan “pemerintah saja”, bukan “orang kaya saja”, bukan “orang pintar saja”. Tetapi manusia, dimulai dari dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Dan siapa yang akan mengawasi manusia?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Kesadaran. Karena hukum dapat mengawasi ketika manusia terlihat, tetapi kesadaran bekerja ketika manusia sendirian. Itulah mengapa moralitas tidak boleh mati.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Aku mulai mengerti. Jadi kemiskinan yang paling berbahaya bukan ketika manusia tidak mempunyai uang.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Benar. Kemiskinan paling berbahaya adalah ketika manusia kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah, hak dan bukan hak, cukup dan serakah, malu dan tidak tahu malu, serta jujur dan tipu daya. Ketika itu hilang, manusia boleh mempunyai kekayaan, tetapi sesungguhnya ia sedang mengalami kemiskinan yang jauh lebih dalam.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Dan jika moralitas itu kembali?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Maka manusia akan menemukan kembali jalan pulang kepada rasa—bukan pulang ke masa lalu, tetapi pulang kepada kesadaran. Sebab tradisi bukan sekadar mengingat masa lampau, melainkan kemampuan mengambil kebijaksanaan masa lalu untuk menjawab persoalan masa kini.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Maka Paramalenyep bukan museum?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Bukan. Ia harus menjadi laku hidup. Prinsip pertamanya adalah cara kita memperlakukan diri sendiri. Ia harus hidup dalam cara kita memperlakukan tanah, air, api, udara, orang miskin, orang kecil, kekuasaan, cara berbicara, cara bekerja, dan terutama dalam cara kita memperlakukan kebenaran.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Rakean… Mungkin inilah yang sering dilupakan manusia: mereka ingin mengubah dunia, tetapi tidak ingin mengubah dirinya.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Ya. Mereka ingin membangun negara, tetapi lupa membangun manusia. Mereka ingin membangun ekonomi, tetapi lupa membangun moral. Mereka ingin membangun teknologi, tetapi lupa membangun kebijaksanaan. Mereka ingin menjadi modern, tetapi kehilangan akar. Padahal pohon yang kehilangan akar mungkin masih tampak berdiri, tetapi sedikit demi sedikit ia akan kehilangan kehidupan.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Kalau begitu, apa pesanmu kepada generasi muda?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Jangan takut menjadi sederhana, berkata benar, mengakui kesalahan, malu belajar, mabuk oleh jabatan, mengukur harga manusia hanya dari kekayaan, atau menjadikan tradisi sebagai hiasan. Dan jangan pula menjadikan agama, ideologi, pendidikan, kebudayaan, atau ilmu pengetahuan sebagai alasan untuk merasa paling benar.
Jadilah manusia yang mempunyai rasa. Karena ilmu tanpa rasa dapat menjadi kesombongan; kekuasaan tanpa rasa dapat menjadi penindasan; kekayaan tanpa rasa dapat menjadi keserakahan; tradisi tanpa rasa dapat menjadi simbol kosong; dan agama tanpa rasa dapat kehilangan kemanusiaannya.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Aku setuju. Semut sudah mengajarkan kita: tidak perlu banyak semboyan, lakukan saja.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Ya. Jangan terus bertanya, “Siapa yang harus memulai?” Mulailah. Jangan terus berkata, “Kalau saya jujur, bagaimana nasib saya?” Jawabannya: kejujuran memang tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi membuat hidup mempunyai martabat.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Dan jika kita kalah?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Kalah dalam mempertahankan kebenaran tidak selalu berarti kalah dalam kehidupan. Kadang manusia kalah secara materi, tetapi menang dalam martabat. Kadang manusia tidak mendapatkan jabatan, tetapi mendapatkan ketenangan. Kadang manusia tidak mendapatkan tepuk tangan, tetapi mendapatkan penghormatan dari hati nuraninya sendiri.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Panjang umur prinsip!(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Panjang umur rasa.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Panjang umur kejujuran!(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Panjang umur kesadaran!(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Panjang umur manusia yang berani menjadi dirinya sendiri!(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Dan panjang umur Nusantara yang tidak kehilangan akarnya.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

EPILOG
Malam mulai turun. Raja Parhobhu berdiri. Rakean Sancang memandang ke arah pepohonan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada kamera, tidak ada panggung. Hanya angin yang bergerak melewati daun-daun. Seekor semut berjalan membawa sesuatu yang lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Raja memperhatikannya, kemudian tersenyum.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Rakean… Semut itu ternyata tidak pernah berpidato.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Karena ia tahu, kehidupan tidak membutuhkan terlalu banyak slogan. Yang dibutuhkan adalah tindakan.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAJA PARHOBHU:
Lalu apa kalimat terakhir yang harus kita bawa pulang?(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

RAKEAN SANCANG:
Ini: “Berani jujur itu hebat.” Tetapi jangan berhenti di sana; naikkan satu tingkat menjadi “Berani apa adanya itu bermartabat.” Dan naikkan lagi: “Berani melakukan kebenaran ketika tidak ada yang melihat, itulah kesadaran.”
Mereka berjalan beriringan. Tidak sebagai orang Sunda, tidak sebagai orang Batak, tidak sebagai penguasa, tidak sebagai rakyat. Tetapi sebagai manusia.
Sebab pada akhirnya, tanah boleh berbeda, bahasa boleh berbeda, adat boleh berbeda, leluhur boleh berbeda, cara menyebut Tuhan boleh berbeda, tetapi rasa kemanusiaan tidak seharusnya kehilangan rumahnya.
Dan mungkin, itulah makna terdalam dari Nusantara: berbeda dalam akar, bertemu dalam rasa, dan bersama-sama menjaga kehidupan. Paramalenyep bukan sekadar kata. Ia adalah keberanian untuk kembali kepada keseimbangan, kembali kepada kejujuran, kembali kepada kesadaran, dan kembali menjadi manusia.(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

Pun.
Tabe.
Rahayu.
Salam untuk semua yang masih berani mengatakan benar sebagai benar, dan salah sebagai salah.
Bandung, 15 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)

Dody Satya Ekagustdiman

(Source: kosapoin.com/dialog-puitisrasa-kesadaran-di-tanah-nusantara)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *