PUISI Yusef Muldiyana

puisi kemerdekaan

Puisi-Puisi Kemerdekaan karya Yusef Muldiyana.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

1.
MERAH PUTIH DI TENGAH MUSIM BEGAL

(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di bulan Agustus, langit dihias merah dan putih, bendera berkibar di depan rumah, anak-anak berlari mengejar kemenangan, lomba makan kerupuk, panjat pinang,tawa pecah di antara peluh dan harapan.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Kita meneriakkan,“Merdeka!”dengan dada membusung,seolah penjajahan telah benar-benar pergi,seolah jalan-jalan telah aman,seolah malam tak lagi menyimpan ketakutan.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Namun ketika matahari tenggelam,ketika lampu-lampu gang mulai redup, ada suara mesin meraung dari kejauhan, bukan suara pawai, bukan suara takbir kemenangan, melainkan deru kendaraanyang membuat pintu-pintu rumah segera dikunci.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Ironis negeri ini,pagi kita mengibarkan bendera,malam kita mengibarkan kewaspadaan.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di tiang-tiang kampung, Merah Putih berkibar gagah. Di ujung jalan, seorang ibu menunggu anaknya pulangdengan doa yang tak putus-putus.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Katanya kita sudah merdeka.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Tapi mengapa masih adaorang yang takut berjalan sendirian? Mengapa jalan raya menjadi medan kecemasan? Mengapa sebagian anak mudalebih akrab dengan geng dan senjatadaripada buku dan cita-cita?(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Mungkin kemerdekaanbukan sekadar bebas dari penjajah.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Kemerdekaan adalah ketika seorang anak bisa pulang sekolah tanpa takut, seorang pekerja pulang larut tanpa cemas,seorang ibu tak perlu menunggu di terasdengan jantung berdebar setiap malam.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Kemerdekaan adalah ketika tangan yang menggenggam senjata berubah menjadi tangan yang menggenggam buku, ketika keberanian tidak digunakan untuk merampas, tetapi untuk membangun.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Maka, wahai negeri, di antara umbul-umbul dan sirene, di antara lomba dan berita kriminal, jangan biarkan Merah Putihhanya menjadi kain yang berkibar.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Biarkan ia menjadi keberanianuntuk menjaga sesama.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Biarkan putihnyamenjadi nurani.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Biarkan merahnyamenjadi keberanian melawan kejahatan.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Sebab apa arti kemerdekaanjika jalan masih menjadi tempat berburu ketakutan?(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Apa arti tujuh belas Agustusjika malam harirakyat sendiri takut keluar rumah?(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Mari kita akhiri musim begal, bukan dengan kebencian, bukan dengan main hakim sendiri, tetapi dengan pendidikan, keadilan, ketegasan, dan keberanian untuk memperbaiki negeri.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Agar suatu hari nanti,ketika Merah Putih kembali berkibar, tak ada lagi anak yang bertanya:(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

“Ayah, kita sudah merdeka?”(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Dan sang ayah menjawab:(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

“Iya, Nak.Kali ini bukan hanya benderanya yang merdeka, tetapi juga jalan-jalan, kampung-kampung, dan hati manusia di dalamnya.”(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Bandung 10 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

PUISI Doni Muhamad Nur
Baca Tulisan Lain

PUISI Doni Muhamad Nur

2.
Antara Merah Putih dan Bayang-Bayang

(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di hari bendera berkibar gagah
Lagu kemerdekaan bergema megah
Satu bangsa bersatu berpeluk bahagia
Tujuh belas Agustus, hari merdeka(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Namun di sudut jalan yang sepi sunyi
Ada bayang-bayang bergerak melintas
Musim begal katanya sedang merajalela
Bukan merdeka, justru ketakutan menyapa(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Satu sisi: kemerdekaan, kebebasan, harapan
Sisi lain: ancaman, ketakutan, keprihatinan
Kita merayakan kebebasan yang diraih darah
Tapi di jalanan, rasa aman terasa habis(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Apakah ini kemerdekaan yang sesungguhnya?
Saat rakyat tak tenang melangkah pergi?
Merah putih berkibar di langit tinggi
Tapi hati rakyat belum sepenuhnya merdeka(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Merdeka itu bukan sekadar upacara dan nyanyian
Merdeka itu saat rakyat aman dan tenang
Semoga kemerdekaan sungguh terasa nyata
Musim begal segera berlalu, diganti damai sejahtera(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Bandung 10 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

PUISI Mudjiono Emje
Baca Tulisan Lain

PUISI Mudjiono Emje

3
ANTARA MERAH PUTIH DAN MATA PISAU

(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di antara tiang bambu yang memanggul merah putih,
yang berkibar getir menantang langit Agustus,
di gang yang sama, ada motor tanpa plat melintas,
membawa cemas yang lebih cepat dari angin.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di balai RW, ibu-ibu menjahit umbul-umbul,
menjahit harap agar anak pulang lomba bawa piala,
di tikungan yang gelap, seseorang menjahit luka,
dari celurit yang tak pernah ikut upacara.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Kita merayakan merdeka dengan gapura dicat baru,
lampu kelap-kelip, karaoke hingga larut,
tapi merdeka macam apa yang bisa kita rayakan,
jika pulang kerja pun harus menoleh dua kali ke belakang?(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Mereka bilang, ini bulan pesta rakyat,
panjat pinang, balap karung, tawa pecah di lapangan.
Namun di jalan pulang, rakyat lain memanjat trotoar,
merebut paksa, merdeka yang bukan haknya.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Wahai, Agustus…
Benderamu berkibar di atas kepala begal,
sama merahnya dengan darah yang tumpah di aspal,
sama putihnya dengan tulang ngilu yang ditinggalkan.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di satu sisi, kita teriak “Merdeka!”
Di sisi lain, kita berbisik, “Hati-hati di jalan, ya.”(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Kapan kiranya kemerdekaan itu benar-benar pulang,
tidak hanya singgah di gapura,
tapi juga menjaga di setiap persimpangan?(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Bandung 10 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar

4
AGUSTUSAN DI MUSIM BEGAL
(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di bulan merah putih berkibar gagah,
Angin kemerdekaan seolah tak lagi ramah.
Bukan penjajah bersenjata lengkap yang datang,
Melainkan bayang-bayang serakah di tikungan jalan pulang.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Dulu kita berebut bendera di tiang tinggi,
Kini berebut selamat di jalanan sepi.
Merdeka bukan hanya soal usir asing dari bumi,
Tapi juga rasa aman saat malam tiba menyelimuti.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Panitia lomba panjat pinang masih berdiri tegak,
Meski hati waswas setiap langkah tetap bergerak.
Karung goni pembungkus badan para juara,
Kini mirip selubung wajah para pencabut nyawa.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Api abadi di monumen tetap menyala terang,
Namun lampu jalan sering mati, mengundang gelap dan remang.
Perjuangan belum tuntas, wahai anak bangsa,
Merdeka sejati ialah ketika rakyat tidur tanpa cemas dan duka.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Jangan biarkan semangat ’45 pudar ditelan takut,
Lawan ketidakadilan dengan keberanian yang utuh dan kuat.
Karena kemerdekaan bukan hadiah yang sekali jadi,
Ia adalah nafas yang harus dijaga, setiap detik, setiap hari.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Bandung 10 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

PUISI Lintang Ismaya
Baca Tulisan Lain

PUISI Lintang Ismaya

5
REPUBLIK BEGAL

(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di negeri yang katanya merdeka,
bendera merah putih berkibar gagah,
tujuh belas Agustus dirayakan meriah,
anak-anak berlari membawa tawa,
orang-orang meneriakkan:
“Merdeka!”
Tetapi di balik riuh perayaan,
di ujung jalan yang mulai gelap,
ada suara mesin meraung,
ada bayang-bayang melintas cepat,
dan rakyat kembali bertanya:
“Malam ini siapa yang menjadi korban?”
Selamat datang
di Republik Begal,
negeri yang jalan rayanya
kadang lebih menegangkan
daripada jalan menuju medan perang.
Di sini,
sebagian orang mengejar cita-cita,
sebagian mengejar rezeki,
dan sebagian lagi
mengejar orang yang sedang membawa motor.
Di sini,
helm bukan hanya pelindung kepala,
tetapi kadang menjadi saksi ketakutan.
Kunci kendaraan digenggam erat,
dompet disimpan dalam-dalam,
telepon genggam disembunyikan,
dan ketika suara motor mendekat dari belakang,
jantung mendadak
ikut balapan.
Aneh negeri ini.
Pagi hari kita bicara
tentang pembangunan bangsa.
Siang hari kita bicara
tentang masa depan generasi muda.
Malam hari kita bicara
tentang siapa yang kehilangan motor.
Lalu kita bertanya:
“Di mana kemerdekaan?”
Kemerdekaan bukan sekadar
bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan bukan hanya
upacara, pidato, dan lomba panjat pinang.
Kemerdekaan adalah
ketika seorang ibu
tidak perlu menelepon anaknya berkali-kali
hanya karena anaknya belum pulang.
Kemerdekaan adalah
ketika seorang buruh
bisa pulang malam
tanpa takut motornya dirampas.
Kemerdekaan adalah
ketika jalanan menjadi milik rakyat,
bukan milik ketakutan.
Namun lihatlah…
Kita terlalu sibuk
mencari siapa yang salah,
sementara anak-anak tumbuh
di antara kemiskinan, kekerasan,
pergaulan yang salah,
dan masa depan yang terasa buntu.
Lalu lahirlah
generasi yang kehilangan arah.
Tangannya seharusnya memegang buku,
tetapi menggenggam senjata.
Kakinya seharusnya berlari
mengejar cita-cita,
tetapi mengejar korban.
Mulutnya seharusnya berkata,
“Saya ingin menjadi orang hebat.”
Namun yang keluar:
“Serahkan motormu!”
Ironi negeri.
Yang satu merampas kendaraan,
yang lain merampas harapan.
Yang satu menghadang di jalan,
yang lain menghadang masa depan.
Dan rakyat?
Rakyat hanya ingin hidup tenang.
Ingin bekerja.
Ingin pulang.
Ingin tidur.
Ingin bangun pagi
tanpa membaca berita
tentang darah di jalanan.
Maka jangan bangga
hanya karena kita mampu
menangkap begal.
Tanyakan pula:
Mengapa begal terus lahir?
Sebab jika kita hanya menangkap
tanpa menyembuhkan akar persoalan,
maka besok akan tumbuh lagi
nama baru, wajah baru,
dan korban baru.
Republik ini
tidak boleh menjadi republik
yang hanya pandai menghitung korban.
Kita membutuhkan sekolah
yang menyalakan harapan.
Kita membutuhkan keluarga
yang tidak kehilangan arah.
Kita membutuhkan hukum
yang tegas tetapi adil.
Kita membutuhkan masyarakat
yang berani menjaga,
bukan menghakimi.
Dan kita membutuhkan generasi muda
yang memahami satu hal:
Keberanian bukan tentang
seberapa tajam senjatamu.
Keberanian adalah
seberapa kuat kau menolak
menjadi penjahat
ketika hidup memberimu seribu alasan
untuk menyerah.
Jadi, wahai Republik…
Jangan biarkan
Merah Putih berkibar
di atas negeri
yang rakyatnya masih takut berjalan.
Jangan biarkan
kata MERDEKA
hanya menjadi suara
yang diteriakkan setiap Agustus.
Sebab negeri yang benar-benar merdeka
adalah negeri
di mana anak muda memilih berkarya
daripada membegal,
memilih belajar
daripada tawuran,
memilih bekerja
daripada merampas,
dan memilih menjadi manusia
daripada menjadi monster jalanan.
Kalau hari ini
kita masih menyebut negeri ini
REPUBLIK BEGAL,
maka tugas kita bukan
mengganti nama republik.
Tugas kita adalah
mengubah kenyataan.
Agar suatu hari nanti
ketika Merah Putih berkibar,
tidak ada lagi rakyat
yang mempercepat langkah ketika malam tiba.
Tidak ada lagi ibu
yang menunggu di balik pintu.
Tidak ada lagi anak muda
yang kehilangan masa depan.
Dan tidak ada lagi jalan
yang lebih dikenal
karena begalnya
daripada karena orang-orang
yang sedang mengejar impian.
Karena Indonesia
bukan republik begal.
Indonesia adalah republik
yang sedang berjuang
merebut kembali
jalan-jalannya,
masa depannya,
dan martabat manusianya.
Merdeka!
Bukan hanya dari penjajah.
Merdeka dari ketakutan.
Merdeka dari kekerasan.
Merdeka dari kebodohan.
Merdeka dari keputusasaan.
Dan terutama…
Merdeka dari menjadi
Republik Begal.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Bandung 10 November 2026(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

SAJAK-SAJAK Husni Hamisi
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Husni Hamisi

6
Merdeka di Panggung Negeri
(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Merah berkibar di langit Bandung, gagah dan berani
Putih suci mengalir di dada, janji yang tak terganti
Tujuh puluh tahun lebih cerita ini kita ukir
Dari darah pejuang, kita belajar arti hadir(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Di bambu runcing ada doa ibu yang tak padam
Di tanah sawah ada peluh bapak yang tetap ditanam
Kita bukan hanya mewarisi bendera yang berkibar
Tapi juga keberanian untuk terus bersabar dan tegar(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Merdeka bukan sekadar bebas dari belenggu penjajah
Merdeka adalah berani bersuara, berkarya, tanpa resah
Di atas panggung, di kelas, di jalan, kita semua aktornya
Menjaga Indonesia tetap hidup dengan cinta dan karyanya(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Maka angkatlah wajahmu, anak negeri, tataplah esok
Jangan biarkan merah pudar, jangan biarkan putih robek
Selama kita masih satu dalam bahasa dan cita
Selama itu pula Indonesia akan selamanya merdeka.(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

Yusef Muldiyana 2026(Source: kosapoin.com/puisi-yusef-muldiyana-3)

PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI Rachman Sabur

Yusef Muldiyana

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *