DI BUMI AKU BERMIMPI SETINGGI LANGIT

di bumi aku bermimpi setinggi langit

“Aku juga ingin menjadi bintang yang bersinar di keluargaku.”(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Kalimat itu kutemukan dalam buku motivasi Islam berjudul *Di Balik Keindahan Langit-Nya*. Aku terenyuh membaca kisah penulisnya yang berusaha mewujudkan cita-cita melalui prestasi akademis hingga memperoleh beasiswa selama kuliah. Masyaallah, pikirku. Ada seseorang yang berhasil melangkah menuju impiannya melalui jalan yang selama ini juga ingin kutempuh.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Namun, setelah menutup halaman buku itu, sebuah pertanyaan justru tertinggal di kepalaku.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

“Kok aku enggak bisa menjadi sosok pintar seperti di buku itu, ya?”(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku bertanya kepada diri sendiri. Apakah karena aku malas belajar dan tidak pernah sungguh-sungguh mengejar apa yang kuinginkan? Sejak kecil, aku jarang mendapat pendampingan belajar dari orang tua. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena kesibukan mencari nafkah menyita waktu dan tenaga mereka. Pekerjaan sehari-hari membuat mereka harus lebih dahulu memikirkan bagaimana kebutuhan keluarga bisa terpenuhi.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku memahami keadaan itu. Meski begitu, terkadang aku tetap bertanya-tanya, seandainya dulu aku lebih tekun belajar, apakah hidupku akan berjalan berbeda?(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku juga ingin menjadi seseorang yang memiliki kemampuan dan bisa dibanggakan keluarga. Aku ingin membuktikan bahwa keterbatasan keadaan tidak serta-merta menentukan sejauh mana seseorang dapat melangkah. Akan tetapi, keinginan itu sering berbenturan dengan keraguanku sendiri. Aku telanjur melihat prestasi akademis sebagai ukuran kepintaran, lalu membandingkan diriku dengan orang-orang yang kisahnya kubaca.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Setelah lulus sekolah menengah kejuruan, aku berharap bisa melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di daerah tempat tinggalku. Aku sempat berusaha mendaftarkan diri, tetapi keinginan itu tidak sampai membawaku ke bangku kuliah. Biaya menjadi salah satu kendala. Aku juga tidak lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku masih ingat perkataan Bapak ketika menjelaskan keadaan kami.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

“Bukan Bapak enggak mau lihat anaknya kuliah. Bapak enggak sanggup. Bapak enggak mau nyusahin kamu kalau nanti kesulitan bayar biaya kuliah. Usaha jualan kerupuk punya orang sekarang sepi. Terminal juga sudah kosong, enggak ada pembeli.”(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku terdiam di kamar. Tidak ada yang bisa kubantah dari perkataan itu. Aku tahu Bapak bukan sedang mematahkan impianku. Ia hanya sedang mengatakan sesuatu yang mungkin paling berat baginya: keinginan untuk menyekolahkan anaknya tidak selalu diikuti kemampuan untuk membiayainya.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku mengiyakan perkataan Bapak. Namun, setelah itu, tangisku pecah dalam kamar yang gelap. Aku berusaha menerima keadaan, meskipun ada bagian dari diriku yang belum siap melepaskan keinginan untuk kuliah. Saat itu, rasanya aku harus memilih antara mempertahankan impian dan memahami keadaan keluarga.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Setahun kemudian, aku memutuskan bekerja. Kesempatan mengikuti program kuliah karyawan akhirnya datang. Setelah mempertimbangkan keputusan itu dan memperoleh persetujuan orang tua, aku mulai menjalani dua tanggung jawab sekaligus: bekerja dan berkuliah.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Awalnya, aku ingin percaya bahwa selama ada kemauan, aku akan menemukan jalan. Aku berusaha menjalani keduanya, membagi waktu di antara pekerjaan dan tugas-tugas kuliah. Namun, keinginan saja ternyata tidak selalu cukup untuk membuat semuanya berjalan sesuai rencana.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Dua tahun kemudian, tepatnya ketika memasuki semester empat, aku mulai kewalahan. Jam kerja di kantor tidak menentu, bahkan bisa berlangsung hingga larut malam. Di sisi lain, tugas kuliah terus berjalan. Waktu dan tenagaku semakin terbatas. Aku berusaha bertahan, tetapi pekerjaan dan perkuliahan perlahan menjadi beban yang sulit kutanggung bersamaan.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Kondisiku memburuk hingga aku merasa mengalami kelelahan yang berat. Hampir satu bulan aku tidak masuk kerja. Pada masa itu, aku juga mengalami kesulitan ketika membutuhkan penanganan medis.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku masih teringat percakapan tentang infus dan rujukan ke fasilitas kesehatan lain. Dalam keadaan sakit dan lemah, aku mendengar penjelasan bahwa aku tidak bisa mendapatkan infus di tempat itu dan rujukan hanya bisa diberikan jika kondisiku sangat parah. Aku terisak. Saat itu, aku bukan hanya sedang berusaha memulihkan tubuh, tetapi juga berhadapan dengan keadaan yang terasa semakin sulit.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Akhirnya, aku mengundurkan diri dari pekerjaan. Keputusan itu tidak mudah karena aku masih membutuhkan penghasilan untuk membiayai kuliah. Setelah berhenti bekerja, aku kembali mencari pekerjaan ke sana kemari. Aku ingin kuliahku tetap berjalan, tetapi aku juga tahu bahwa aku tidak bisa terus memaksakan diri dengan keadaan seperti sebelumnya.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Dalam perjalanan mencari pekerjaan, aku bertemu dengan seorang teman senasib bernama Amrun. Kami berbincang tentang keadaan masing-masing, tentang keinginan untuk terus melangkah dan berbagai kendala yang menghadang.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

“Susah banget mau terbang, tapi terkendala secara finansial,” ucap Kak Amrun sambil memandangi jalanan yang ramai.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Kalimat itu terasa dekat dengan apa yang sedang kuhadapi. Jalan di hadapan kami tampak terbuka, orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukannya, tetapi kami masih harus mencari cara agar bisa melanjutkan perjalanan sendiri. Kami punya keinginan, tetapi keinginan itu selalu berhadapan dengan kebutuhan yang harus dipenuhi.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Lima bulan kemudian, aku mendapatkan pekerjaan baru. Aku kembali memiliki kesempatan untuk bekerja sambil melanjutkan kuliah. Aku tahu perjalanan ini belum tentu mudah. Pengalaman sebelumnya telah memperlihatkan bahwa keinginan untuk bertahan harus disertai kemampuan mengenali batas diri. Aku ingin tetap mengejar cita-cita, tetapi aku juga tidak ingin kembali mengabaikan keadaan tubuh dan kemampuanku sendiri.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku kembali teringat pada buku *Di Balik Keindahan Langit-Nya*. Ada satu kutipan yang membuatku berhenti cukup lama ketika membacanya.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

“Manusia itu terbatas bukan hanya dari penglihatan, tapi semua.”(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku meresapi kalimat itu. Selama ini, aku sering memandang keterbatasan sebagai sesuatu yang membuatku tertinggal. Aku membandingkan diriku dengan orang-orang yang mampu meraih prestasi akademis, memperoleh beasiswa, atau melanjutkan pendidikan tanpa harus menghadapi persoalan yang sama denganku. Tanpa kusadari, perbandingan itu membuatku memandang diriku sendiri hanya dari hal-hal yang belum berhasil kucapai.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku memang tidak memiliki perjalanan pendidikan seperti tokoh dalam buku yang kubaca. Aku harus bekerja untuk membiayai kuliah. Aku pernah berhenti, menangis, merasa gagal, lalu mencoba kembali. Semua itu tidak serta-merta menjadikanku lebih hebat daripada orang lain. Namun, aku juga mulai memahami bahwa perjalananku tidak harus sama dengan perjalanan mereka.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Barangkali selama ini aku terlalu sibuk mempertanyakan mengapa diriku tidak bisa seperti orang lain, sampai lupa melihat apa yang sebenarnya sedang kuusahakan. Aku belum memiliki prestasi akademis yang bisa kubanggakan. Aku juga belum tahu akan sampai di mana langkahku nanti. Yang kutahu, aku masih ingin belajar dan masih berusaha menyelesaikan pendidikan yang pernah kukira harus kulepaskan.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku ingin bermimpi setinggi langit, tetapi kini aku mulai memahami bahwa untuk mencapainya, aku harus berdamai dengan bumi tempatku berpijak. Ada kebutuhan yang mesti dipenuhi, ada tenaga yang perlu dijaga, dan ada keadaan yang tidak bisa kuubah hanya dengan keinginan. Menerima semua itu bukan berarti berhenti bermimpi. Setidaknya, aku sedang belajar mencari jalan yang sanggup kutempuh.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Aku percaya setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku pun ingin belajar mensyukuri apa yang kumiliki, tanpa harus menyangkal kesulitan yang sedang kuhadapi. Menerima ketentuan Allah bukan berarti aku tidak boleh merasa sedih atau kecewa. Aku hanya ingin terus berusaha sembari belajar memahami bahwa hidup tidak selalu memberikan jalan yang sama kepada setiap orang.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Hari ini, aku masih seorang mahasiswa yang bekerja untuk membiayai pendidikanku sendiri. Perjalananku belum selesai. Aku belum tahu apakah kelak aku akan menjadi bintang yang bersinar di keluargaku seperti yang pernah kubayangkan. Namun, aku ingin tetap memberi diriku kesempatan untuk tumbuh, tanpa terus-menerus mengukur nilai diri melalui keberhasilan orang lain.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Mungkin, untuk saat ini, mimpiku tidak harus segera menjadi kenyataan. Aku hanya perlu terus merawatnya, selangkah demi selangkah, dengan segala kemampuan yang kupunya.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Sebab, meskipun aku berpijak di bumi dengan segala keterbatasan, aku masih ingin menengadah ke langit.(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)

Pipit Pitriani

(Source: kosapoin.com/di-bumi-aku-bermimpi-setinggi-langit)


Apakah artikel ini membantu?
IP: 46.248.173.153
Negara: Unknown (Unknown)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *