Langit di atas NGAOSart hari ini agak mendung dan angin bertiup lumayan kencang, menemani kesibukan yang mulai terasa di sudut-sudut ruang kreatif ini. Di bawah payung langit yang tak menentu itulah, orang-orang di sana sibuk mondar-mandir menata panggung, menjajal kabel, meraba bunyi, dan menyiapkan pertunjukan intim untuk merayakan International Music Day tanggal 19 Juni nanti. Ada denyut yang terasa sangat hidup—sebuah ketegangan akrab yang menjanjikan lahirnya sesuatu yang jujur.
Perayaan ini seolah melempar ingatan kita balik ke tahun 1982 di Prancis. Waktu itu, Jack Lang dan Maurice Fleuret bikin gerakan membebaskan musik ke jalanan dan ruang terbuka agar bisa dinikmati siapa saja tanpa sekat modal atau kelas sosial. Semangat merayakan bunyi secara merdeka dan apa adanya itulah yang hari ini menemukan ruangnya yang paling pas di Tasikmalaya, tepat di halaman NGAOSart, di mana musik dikembalikan lagi sebagai penyambung lidah kegelisahan manusia.
Di tengah persiapan yang serba organik ini, tiga musisi bersiap menumpahkan apa yang mengganjal di kepala mereka. Alfin, Idan, dan Kumis seolah berangkat dari kegelisahan yang sama, tetapi dari luka yang berbeda. Mereka membaca negeri ini dengan cara masing-masing. Tentang pemimpin yang gemar berpidato, tentang rakyat yang semakin pandai menahan kecewa, dan tentang zaman yang terlalu bising untuk sekadar didengar.
Di tangan mereka, kecapi, piano, gendang, dan violin bukan lagi sekadar alat musik. Semuanya menjadi ruang dialog. Tradisi dan modernitas duduk semeja tanpa saling mengusir. Bunyi-bunyian itu tidak sedang berlomba menjadi yang paling keras, melainkan mencari arah yang paling jujur. Obrolan antara instrumen barat dan timur ini tidak terdengar seperti tempelan biar keren, melainkan murni sebuah percakapan batin yang mendalam.
Yang menarik, mereka tampaknya sudah memahami batas. Mereka tidak terjebak pada romantisme tradisi, tetapi juga tidak mabuk oleh kebaruan. Mereka berjalan mengikuti kompas yang berputar di dalam hati, bukan kompas pasar, bukan pula kompas kekuasaan. Cara pandang berkesenian inilah yang menjaga karya mereka tetap membumi dan tidak gampang didekte oleh selera industri.
Apa yang coba dirajut oleh Alfin, Idan, dan Kumis ini untungnya tumbuh di atas tanah yang subur. Seperti yang ditegaskan oleh Ab Asmanrandana sebagai pendiri NGAOSart: “NGAOSart bukan hanya ruang produksi karya, tetapi juga ruang pembelajaran, perenungan, dan perjumpaan. Sebuah laboratorium kebudayaan yang mengingatkan bahwa kesenian lahir bukan dari kepastian, melainkan dari keberanian untuk terus bertanya, mencari, dan mengalami. Di situlah proses kreatif menemukan maknanya yang paling hidup.”
Membaca catatan kebudayaan ini, apa yang bakal disuguhkan pada 19 Juni nanti bukan hanya sekadar tontonan hiburan pelepas penat selepas minum kopi. Acara ini adalah undangan terbuka buat kita semua untuk masuk ke ruang obrolan yang jujur. Lewat jemari Alfin, Idan, dan Kumis, kita diajak mengerem sebentar dari berisiknya dunia luar, lalu belajar mendengarkan lagi sebuah sunyi yang penuh dengan pertanyaan.
Sebab, musik mereka menuju sunyi, tetapi bukan sepi. Sebab di dalam sunyi itu masih ada denyut manusia, masih ada pertanyaan tentang negeri, tentang diri sendiri, dan tentang masa depan yang belum selesai ditulis. Barangkali di situlah musik kontemporer menemukan maknanya: bukan sekadar menciptakan bunyi yang baru, melainkan menemukan cara baru untuk mendengarkan kegelisahan yang sudah lama hidup di sekitar kita. Nanti, begitu lampu panggung NGAOSart dinyalakan, pada tanggal 19 Juni 2026, bersiaplah untuk tidak sekadar menonton musik, tapi ikut mengalami dan merenungkannya langsung. []
Sumber Informasi: Ab Asmarandana
Pengunggah: Redaksi









