Drama Empat Bagian
Karya; Tatang R. Macan(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
Pertunjukan Nata Sukma Complex#, karya ini diangkat dari latar belakang masa “tanam paksa” kopi di tanah Priangan (Preanger Stelsel), pada tahun 1833 di bawah kekuasaan kolonialisme Belanda di tanah Sunda. Gagasan dan kandungan peristiwa cerita, mengangkat pikiran-pikiran kolektif masyarakat agraris, yang mengalami kontaminasi kolonial dan dekolonialisasi hidup dari zaman – ke zaman hingga kini. Karya ini ditampilkan dalam kontek kekinian sebagai respons penulis terhadap kondisi kontaminasi industri pada masyarakat urban. Bentuk pertunjukan diwujudkan sebagai kredo karya “seni pernyataan”. Karya ini dipersembahkan sebagai suatu upaya “menata tatanan masyarakat yang setara, inklusif, dan selaras” dalam meraih ruang hidup harmonis di Indonesia bahkan dunia.(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
Nata Sukma Complex#, Sebagai Tafsir yang Tak Pernah Selesai:(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
Cerita ini milik banyak orang: milik para petani yang tanahnya terus dirampas, milik buruh yang keringatnya tak pernah dihargai dengan layak, serta milik mereka yang suaranya selalu menjadi latar bagi sejarah besar yang ditulis orang lain. Pementasan yang akan kita saksikan kali ini berjudul Nata Sukma Complex. Hasil kerja Produksi Studio Teater Program Studi Seni Teater FSP ISI Padangpanjang tahun 2026. Pementasan Nata Sukma Complex merupakan pengembangan dari karya yang sebelumnya telah beberapa kali dipentaskan, dari arahan Tatang R. Macan sebagai bagian proses pembelajaran sekaligus ekspresi artistik. Seluruh pemain dari pertunjukan ini adalah mahasiswa dan alumni Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang. Mereka adalah generasi yang telah berlatih dengan disiplin, mencurahkan waktu dan tenaga untuk menghadirkan karya ini ke hadapan publik. Mereka tidak sekadar berakting; mereka menghidupkan kembali sejarah dan menyuarakan mereka yang pernah dibungkam.(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)

Karya Nata Sukma Complex# terinspirasi dari naskah kuno berjudul “Wawacan Nata Sukma,” yang ditulis secara anonim pada tahun 1833 di Pangalengan, Kabupaten Bandung, dalam aksara Pegon berbahasa Sunda. Naskah ini lahir pada masa tanam paksa kopi (preanger stelsel) di bawah kolonialisme Belanda. Kisahnya sederhana: kehidupan seorang petani miskin bernama Nata Sukma yang tumbuh dalam tekanan kolonial. Tak ada pahlawan besar atau bangsawan di dalamnya, hanya tanah, padi, dan orang-orang yang menggenggam cangkul karena tak punya pilihan lain. Pada 1983, Drs. Pepen MEZ menyalin naskah ini dari aksara Arab ke aksara Latin.(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
Berdasarkan itu, penulis menjadikan teks ini bahan penelitian, seminar, dan simposium nasional maupun internasional, termasuk Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa Indonesia) di FIB UI, FIB UGM, dan BRIN pada 2022, 2023, dan 2025. Penulis menghabiskan waktu bertahun-tahun menelusuri naskah ini, karena melihat sesuatu yang masih hidup di dalamnya: peristiwa yang belum selesai. Saya Tatang R. Macan mengadaptasi teks ini menjadi naskah drama kontemporer, berjudul Nata Sukma (2024–2025), yang kemudian berkembang menjadi Nata Sukma Complex#(2026). Karya ini tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga kondisi modern: kontaminasi industri, ketidakadilan sosial, dan perjuangan rakyat kecil di era sekarang. Karya ini adalah “wujud peristiwa perjuangan anak manusia yang berusaha merebut hak hidup merdeka, hak hidup harmonis dari tekanan kolonialisme dari zaman ke zaman.” Sebagai pengarang teks lakon ini, dengan tegas mengingatkan, bahwa: “Kolonialisme sesungguhnya tidak pernah berhenti.” Ia hanya berubah bentuk, menjelma menjadi kapitalisme, imperialisme ekonomi, dan penindasan struktural yang terus membelenggu rakyat kecil.(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
Kami, mempersembahkan pementasan Nata Sukma Complex# ini karena cerita tentang tanah, kerja paksa, dan ketimpangan tidak mengenal batas negara dan batas masa. Penderitaan petani di Priangan abad ke-19 memiliki gema yang sama dengan penderitaan nelayan di perairan Selat Malaka atau buruh perkebunan di Sabah. Jeritan yang sama juga terdengar kini di perkebunan sawit Kalimantan, di tambang emas tanpa izin di Sumatra, Penyerobotan tanah di Rempang, dan di pabrik-pabrik tekstil yang buruhnya bekerja tanpa jaminan. Sejarah kolonial mungkin telah usai secara formal, tetapi strukturnya tetap hidup: berganti nama, berganti wajah, berganti bahasa, namun tetap memakan mereka yang tak punya kuasa. Namun, kami tidak datang untuk menggurui, tetapi untuk berbagi kegelisahan yang sama.(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
Hasil kerja penelitian, kemudian dipublikasikan pada Book Chapter; Buku Kajian Naskah Nusantara Artefaktualitas dan Kontekstualitas oleh Manassa Yogyakarta dan Oceania Press, 2024; Technium Social Sciences Journal, Vol. 54, 276-291, February, 2024; dan Jurnal Ilmiah Mudra ISI Denpasar tahun 2018. Dalam kerja bertumbuh, wawacan tersebut telah diadaptasi oleh penulis menjadi naskah drama dengan bentuk sastra kontemporer berjudul; Nata Sukma (2024-2025), selanjutnya kembali bertumbuh menjadi; Nata Sukma Complex# (2026). Penulisan dan pertunjukan naskah drama ini, ditujukan sebagai “wujud perjuangan anak manusia yang berusaha merebut hak hidup merdeka, hak hidup harmonis dari tekanan kolonialisme dari zaman ke zaman”. Kolonialisme sesungguhnya tidak pernah benar-benar berhenti dalam realitas kehidupan manusia. [](Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)
- #Nata Sukma Complex
- #Tatang R. macan
- #Prodi Seni Teater FSP ISI Padang Panjang
- #Studio Teater Prodi Seni Teater FSP ISI Padang panjang
- #Dekan Fakulti Seni Muzik dan Seni Persembahan UPSI Malaysia
- #Jurusan Seni Persembahan UPSI Malaysia
- #Teater Kontemporer
- #Teater Pernyataan
- #Teater Indonesia
Sumber Informasi: Tatang R. Macan
Pengunggah: Redaksi(Source: kosapoin.com/pertunjukan-nata-sukma-complex)









