Di teras rumah Dullah yang tak berpagar, persis di perempatan salah satu kampung baru yang diberi nama Perumahan oleh Pemerintah Newsantara, langit sore mulai meremang jingga. Terlihat duduk bersila temannya, yaitu Kosim, yang sudah menunggu sambil berharap Dullah datang dengan membawa segelas kopi pahit. Aroma kopi yang baru diseduh menguap dari gelas beling usang, beradu dengan wangi tanah lembap setelah dipeluk hujan tadi siang. Kopi itu akan dinikmati bertemankan kepulan asap yang akan mengurai kegelisahan dan mewarnai kegembiraan mereka. Dullah bergegas keluar dari ruang tamu menuju teras sambil berkata ke istrinya, “Tolong Misaaaay, buatkan kopi pahit dua, ya!”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Sambil mengikat rambutnya yang panjang, Kosim bertanya, “Dul, menurutmu Em Be Ge gimana?”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Dullah menjawab dengan penuh semangat, matanya berbinar menatap hamparan sawah di kejauhan, “Em Be Ge untuk anak sekolah yang rentan aku setuju, Em Be Ge untuk Stunting aku sangat setuju, Em Be Ge untuk Ibu hamil dan pasca melahirkan, apalagi Manula yang musti diperhatikan juga makanan sehatnya!”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
“Kenapa kamu setuju, Dul?” seloroh Kosim sembari mengusir lalat yang hinggap di lututnya.(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Lantang penuh keyakinan, Dullah menjawab dengan nada bergetar, “Newsantara kita itu kaya raya, sumber daya alamnya melimpah ruah. Kamu tahu nggak, Sim? Serpihan surga pernah jatuh dan jatuhnya itu ke tanah Newsantara, lho! Peradaban dan budaya leluhur luar biasa tua terjaga, kebinekaannya terawat melekat. Tambah lagi, orang Newsantara itu terkenal dengan adabnya yang someah, sopan, santun, sumeleh, silih asah-asih-asuh, dan daya survival-nya di atas rata-rata manusia. Apalagi kreativitasnya melebihi makhluk serupa atau sejenis yang pernah diciptakan Tuhan. Belum lagi mayoritas itu Muslim, lho, Sim. Jadi pasti akan sangat mudah dan enteng kalau hanya sekadar program Em Be Ge.”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Kosim spontan menggeser duduknya ketika melihat istri Dullah mengantarkan kopi. Ia menyamankan punggung ke tembok yang terasa dingin sambil meraih bungkus rokok bertuliskan angka 234 dan menyalakannya. Dullah merespon dengan menggeserkan tubuhnya lebih dekat ke Kosim sambil menatap matanya, “Jadi itu pasti, Sim. Seluruh rakyat Newsantara akan mendapatkan makan lezat bergizi gratis, plus minuman racikan nenek moyang yang berkhasiat tanpa kecuali dan sesuai request. Uenak, too! Asal pengen makan, tinggal chat saja petugas dan itu diantar, lho, Sim!”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Sambil menghisap rokok, Kosim menghela napas berat, matanya menerawang ke arah jalanan kampung yang lengang, seraya berkata, “Kalau Ka De eM Pe gimana, Dul?”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Dullah meraih gelas berisi kopi hitam. Seteguk ia nikmati rasa pahitnya, membiarkan cairan pekat itu membasahi kerongkongannya, seraya memaksa lidahnya untuk merespon rasa pahit itu menjadi rasa yang manis.(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Tambah semangat, Dullah menjawabnya, “Wah, apalagi itu! Program yang sangat brilian dan logis. Bermodal rakyat Newsantara kita yang sudah ber-DNA gotong royong, pasti itu akan mampu membangkitkan ekonomi kerakyatan, bahkan bisa mengantarkan ekonomi kita jadi paling top sedunia. Yang mengurusi beliau-beliau itu manusia pinilih, pintar-pintar dan sangat ekspert di bidangnya, jujur-jujur, tur amanah.”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Dullah spontan menoleh dan mengarahkan pandangannya ke Gunung Galunggung karya Sang Maha Agung itu dengan lebih bersemangat lagi. Ia berkata setengah lantang, “Di lereng gunung itu sawah nan indah buanyak terhampar, perkebunan luasnya na’udzubillah, air melimpah. Di daerah lain, sumber energi tinggal keruk; batu bara, nikel, emas, uranium, minyak, dan gas tinggal suntik cusss! Hayooo, kurang opo? Belum lagi kekayaan lautnya.”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Dullah memegang pundak Kosim seraya berkata dengan penuh keyakinan, “Jadi, Ka De eM Pe itu dibangun untuk tempat menyimpan semua kebutuhan masyarakat desa yang nantinya akan dibagikan gratis tanpa syarat sesuai kebutuhannya masing-masing. Syaratnya cuma satu: setor doa supaya Presiden kita panjang umurnya dan husnul khotimah!”(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
Kosim menggeliat. Tulang belakangnya berbunyi ‘krek’. Sambil menguap, ia berucap lantang, “Oke! Aku setuju sekali dan sepakat denganmu, Dul. Untuk itu, aku minta tolong ambilkan bantal dan aku akan melanjutkan omonganmu itu. Mumpung cuaca dingin dan silir-silir angin juga mendukung sekali ini, mataku sudah berat dan nggak sabar melanjutkan ceritamu.” Oh, rupanya Kosim tahu kalau Dullah baru bangun tidur siang.(Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)
“Lanjutkan, Kawan! Dan jangan lupa sambil setel musik di gawaimu lagu ‘Wakafa’ Kiai Kanjeng feat Cak Nun, ya,” seloroh Dullah sambil beranjak ke samping rumah melaksanakan ritual sore harinya, menyapa dan menyirami beberapa saudara tuanya, yaitu tanaman wisa, kelor, kemangi, panglay, cabai, tomat, kangkung, serta bunga kesayangan Dullah, Sang Wijaya Kusuma, yang kini mulai membuka kelopak dengan anggun di antara dedaunan yang rimbun. [](Source: kosapoin.com/newsantara-wijaya-kusuma)

BISMILLAH
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








