Gerhana Bulan adalah peristiwa ketika cahaya Matahari ke Bulan terhalang oleh Bumi sehingga tidak seluruh sinarnya sampai ke permukaan Bulan. Peristiwa ini terjadi akibat dinamika pergerakan Matahari, Bumi, dan Bulan, dan hanya dapat berlangsung saat fase purnama. Karena pergerakannya dapat dihitung secara astronomis, gerhana bulan bisa diprediksi jauh hari sebelumnya. Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Pada saat puncak gerhana, Bulan akan tampak berwarna merah jika langit cerah. Warna merah ini disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi: cahaya Matahari yang melewati atmosfer akan terhambur, cahaya berpanjang gelombang pendek seperti biru tersebar lebih banyak, sedangkan cahaya berpanjang gelombang panjang seperti merah tetap lolos dan mencapai permukaan Bulan, sehingga Bulan tampak kemerahan dan sering disebut sebagai “bulan darah”.
Gerhana Bulan Total yang akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, diperkirakan mencapai puncaknya sekitar pukul 18.33 WIB (waktu dapat sedikit berbeda tergantung sumber perhitungan astronomi dan lokasi pengamatan). Peristiwa ini dapat diamati dari berbagai wilayah, termasuk Indonesia, serta sebagian wilayah Asia, Australia, Pasifik, dan Amerika, meskipun tingkat keterlihatannya bergantung pada posisi Bulan saat terbit atau terbenam di masing-masing kawasan. Beberapa laporan astronomi internasional juga menyebutkan bahwa gerhana ini akan terlihat jelas di Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Setelah peristiwa ini, gerhana bulan total berikutnya yang menonjol secara global diperkirakan terjadi kembali menjelang pergantian tahun 2028–2029.
Dalam perspektif Islam, gerhana bulan dipandang sebagai tanda kebesaran Allah. Al-Qur’an menyebut fenomena bulan dan perubahannya sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, antara lain dalam Surah Al-Qur’an Surah Al-Qiyamah ayat 6–9. Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, gerhana juga dijelaskan sebagai peristiwa alam yang menjadi pengingat bagi manusia untuk meningkatkan ketakwaan, bukan sebagai pertanda kematian atau kelahiran seseorang.
Tahun 2026 sendiri dipandang istimewa oleh sebagian kalangan. Secara astronomi, periode ini memang berada di sekitar fase maksimum siklus Matahari (solar maximum), yaitu masa meningkatnya aktivitas bintik Matahari dalam siklus sekitar 11 tahunan—bukan siklus terpanjang dalam sejarah manusia, melainkan siklus yang terus berulang. Sementara itu, pandangan astrologi menyebutkan bahwa posisi planet-planet luar seperti Uranus, Neptunus, dan Pluto dianggap memiliki pengaruh dominan terhadap kehidupan kolektif maupun individu, meskipun hal ini merupakan kepercayaan astrologi dan bukan kesimpulan ilmiah.
Gerhana bulan purnama di bulan Maret kerap dijuluki “Bulan Cacing” (Worm Moon) dalam tradisi Amerika Utara karena pada masa itu tanah mulai mencair setelah musim dingin sehingga cacing tanah kembali muncul ke permukaan. Nama lain yang pernah digunakan dalam berbagai tradisi antara lain Bulan Angin dan Bulan Bajak dalam budaya Celtic, serta sebutan Bulan Suci atau Bulan Kematian dalam bahasa Inggris Kuno yang merujuk pada peralihan menuju musim semi, bukan bermakna mistis tentang kematian.
Dalam ranah astrologi Barat, ada pandangan bahwa tahun 2026 membawa keberuntungan bagi beberapa zodiak tertentu, seperti Cancer, Aquarius, dan Pisces, terutama karena posisi Jupiter yang dianggap menguntungkan. Namun, ini merupakan interpretasi astrologi dan tidak memiliki dasar ilmiah. Demikian pula dalam astrologi Tiongkok, tahun 2026 adalah Tahun Kuda Api dalam siklus kalender Imlek (tahun 2577 Kongzili). Kuda dilambangkan sebagai energi, kebebasan, dan gerak cepat. Shio Naga sering dianggap sebagai simbol kekuatan dan keberuntungan, sementara Shio Macan kerap digambarkan bersemangat dan dominan, dengan stereotip tertentu mengenai sikap mereka terhadap keuangan—semua ini merupakan bagian dari kepercayaan budaya, bukan fakta ilmiah tentang kepribadian.
Ada pula konsep numerologi yang menyebut 2026 sebagai “Tahun Universal 1”, yang dimaknai sebagai awal siklus baru, keberanian mengambil langkah baru, dan transformasi hidup. Istilah “angka malaikat 2026” juga beredar dalam kepercayaan spiritual modern, yang menekankan tanggung jawab, keseimbangan antara materi dan kesehatan, serta pertumbuhan batin. Pandangan lain menyebut 2026 sebagai tahun dengan “energi pengaturan ulang” yang mendorong pelepasan ketakutan lama dan pembaruan kehidupan secara emosional maupun finansial. Semua ini berada dalam ranah keyakinan spiritual dan numerologi.
Secara simbolik, cacing dalam berbagai kepercayaan spiritual sering dimaknai sebagai lambang pertumbuhan dan transformasi karena perannya dalam proses pembusukan dan regenerasi tanah. Namun, dalam konteks nyata, kemunculan cacing di dalam rumah biasanya berkaitan dengan kelembapan tinggi, adanya bahan organik yang membusuk, atau masalah sanitasi tertentu. Cacing jarang masuk ke rumah kecuali terdapat kondisi lingkungan yang mendukung kelangsungan hidupnya, sehingga bisa menjadi tanda perlunya pengecekan kebersihan dan kelembapan rumah.
Dalam tafsir mimpi, sebagian ulama menafsirkan mimpi melihat banyak cacing sebagai pertanda datangnya rezeki, yang tidak selalu berupa materi, tetapi juga bisa berbentuk kesehatan, ketenangan hati, atau ilmu yang bermanfaat. Namun, sebagaimana tafsir mimpi pada umumnya, maknanya sangat bergantung pada konteks dan keyakinan masing-masing individu.
Dengan demikian, gerhana bulan total 3 Maret 2026 merupakan peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan secara ilmiah sekaligus dimaknai secara spiritual dan budaya oleh berbagai tradisi. Fenomena ini menunjukkan bagaimana satu peristiwa langit yang sama dapat dipahami melalui pendekatan sains, agama, budaya, hingga astrologi dan numerologi—masing-masing dengan kerangka penafsirannya sendiri.
Gerhana bulan atau samagaha bulan dalam filosofi Sunda
Dalam filosofi dan budaya Sunda, gerhana bulan—yang dikenal dengan istilah samagaha bulan—tidak dipandang semata-mata sebagai peristiwa astronomi, melainkan sebagai simbol ketidakseimbangan kosmos yang menuntut kesadaran dan respons manusia. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari terhalang dan Bulan tampak gelap atau kemerahan. Namun dalam pandangan tradisional Sunda, peristiwa ini dimaknai lebih dalam sebagai tanda bahwa harmoni antara manusia dan alam sedang terganggu.
Secara mitologis, masyarakat Sunda mengenal kisah Naga Ra’u, makhluk raksasa yang dipercaya “memakan” bulan saat gerhana terjadi. Kepercayaan tentang makhluk yang menelan bulan sebenarnya juga ditemukan di berbagai budaya Nusantara dan Asia, sehingga narasi ini merupakan bagian dari warisan mitologi, bukan penjelasan ilmiah. Dalam konteks budaya Sunda, kisah tersebut menggambarkan situasi darurat kosmis: sumber cahaya dan kehidupan sedang terancam oleh kekuatan gelap.
Sebagai respons terhadap situasi tersebut, masyarakat Sunda secara tradisional melakukan aksi kolektif yang disebut nabeuh tatabeuhan, yaitu memukul benda-benda yang menghasilkan bunyi nyaring seperti lesung, bambu, atau alat rumah tangga lainnya. Tradisi ini memang tercatat dalam praktik budaya masyarakat agraris Sunda tempo dulu. Secara simbolis, bunyi gaduh itu dimaksudkan untuk “mengusir” atau membuat Naga Ra’u memuntahkan kembali bulan. Di balik simbol tersebut tersimpan pesan penting tentang gotong royong: ketika terjadi gangguan, masyarakat harus bersatu untuk memulihkan keseimbangan.
Selain itu, samagaha juga sering dikaitkan dengan ritual tolak bala. Pandangan ini mencerminkan keyakinan bahwa gerhana adalah isyarat alam yang menuntut kewaspadaan. Dalam kosmologi Sunda dikenal konsep jagat leutik (manusia) dan jagat gede (alam semesta), yang harus selalu berada dalam keadaan harmonis. Gerhana menjadi pengingat agar manusia tidak merusak keseimbangan tersebut dan tetap menjaga hubungan selaras dengan alam.
Seiring perkembangan zaman dan pengaruh agama, terutama Islam di Tatar Sunda, makna samagaha juga berkembang menjadi pengingat spiritual tentang kebesaran Sang Pencipta. Dalam ajaran Islam sendiri, gerhana dipahami sebagai tanda kekuasaan Tuhan dan dianjurkan untuk direspons dengan doa serta refleksi diri, bukan dengan ketakutan mistis. Nilai ini kemudian berpadu dengan kearifan lokal Sunda yang menekankan ketenangan, kewaspadaan, dan solidaritas sosial.
Dalam tafsir simboliknya, samagaha dimaknai sebagai perumpamaan kegalauan rasa manusia. Ketika cahaya bulan tertutup bayangan, hal itu dianalogikan sebagai kondisi batin yang sedang diliputi kebingungan atau kegelapan. Karena itu, gerhana dipandang sebagai waktu untuk menenangkan diri, tidak panik, dan tidak melakukan aktivitas berlebihan. Terdapat pula kepercayaan lama bahwa ibu hamil sebaiknya berlindung atau mengurangi aktivitas saat gerhana. Secara historis, kepercayaan ini merupakan bentuk kearifan lokal yang bertujuan melindungi ibu hamil dari rasa takut atau stres, meskipun secara medis tidak ada bukti ilmiah bahwa gerhana berdampak langsung pada kehamilan.
Samagaha juga menjadi bagian dari astronomi tradisional Sunda. Pengamatan terhadap pergerakan bulan telah lama dilakukan masyarakat agraris untuk menentukan waktu tanam dan panen. Dalam khazanah cerita rakyat, fenomena bulan juga dikaitkan dengan tokoh seperti Nini Anteh, figur mitologis yang dipercaya tinggal di bulan. Kisah ini memperkaya dimensi budaya sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki tradisi pengamatan langit yang kuat meski dibalut narasi simbolik.
Pandangan serupa juga ditemukan pada masyarakat Kanekes atau Baduy di wilayah Banten, yang secara budaya masih berakar pada tradisi Sunda dan memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan. Bagi masyarakat Baduy, gerhana bukan sekadar peristiwa langit, melainkan tanda peringatan tentang keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang mereka sebut Nu Kawasa. Secara kosmologis, gerhana dianggap sebagai momen ketika alam sedang mengalami gangguan atau “sakit”, sering kali dijelaskan melalui mitos makhluk yang menelan bulan.
Gerhana bagi masyarakat Baduy juga menjadi momen ngaji diri atau mawas diri. Ketika langit menggelap secara tidak biasa, mereka berhenti sejenak dari aktivitas dan melakukan refleksi batin. Rasa takut yang muncul dipahami bukan sebagai ketakutan klenik, melainkan sebagai bentuk hormat terhadap kekuasaan Tuhan dan alam. Gerhana bahkan dapat dimaknai sebagai pengingat agar manusia tidak melanggar pikukuh—aturan adat—atau merusak lingkungan.
Dalam praktiknya, masyarakat Baduy Luar dikenal lebih ekspresif dengan membunyikan lesung atau kohkol (kentongan bambu) saat gerhana berlangsung, mirip dengan tradisi Sunda pada umumnya. Sementara itu, Baduy Dalam cenderung bersikap lebih tenang dengan memperbanyak doa dan menjaga kesunyian. Perbedaan ini tercatat dalam berbagai kajian antropologi tentang struktur sosial Baduy, meskipun inti filosofinya tetap sama: menjaga keseimbangan dan kepatuhan pada adat.
Karena kehidupan masyarakat Baduy sangat bergantung pada siklus bulan untuk pertanian, gerhana juga dipandang sebagai gangguan terhadap “kalender alam”. Keyakinan bahwa gerhana dapat memengaruhi hasil panen merupakan bagian dari sistem kepercayaan tradisional agraris. Secara ilmiah, gerhana tidak memengaruhi kesuburan tanaman, tetapi dalam kerangka budaya, kepercayaan tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa manusia tidak boleh sombong terhadap alam.
Dalam tradisi Kanekes, respons terhadap gerhana tidak berbentuk doa tertulis seperti dalam agama formal. Doa biasanya disampaikan secara lisan dalam bentuk kidung atau ungkapan adat, dan kepemimpinan spiritual berada di tangan Puun sebagai pemimpin tertinggi adat. Selama gerhana, masyarakat lebih menekankan sikap prihatin, menghentikan pekerjaan berat, dan menjaga kesucian batin sebagai bentuk penghormatan terhadap fenomena alam.
Dengan demikian, baik dalam budaya Sunda secara umum maupun pada masyarakat Baduy, samagaha bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan simbol mendalam tentang keseimbangan hidup. Ia mengajarkan bahwa manusia adalah bagian kecil dari jagat raya, dan bahwa cahaya serta kegelapan akan selalu berdampingan. Tugas manusia, menurut kearifan ini, adalah menjaga harmoni antara diri, alam, dan Sang Pencipta.
Gerhana bulan atau samagaha bulan dalam filosofi masyarakat Bali
Dalam filosofi masyarakat Bali, gerhana bulan—yang dalam istilah Sanskerta dikenal sebagai Candra Grahana—bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan peristiwa spiritual yang sarat makna mitologis dan berkaitan dengan keseimbangan kosmis. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari ke Bulan terhalang. Namun dalam tradisi Bali yang berakar pada ajaran Hindu, peristiwa ini dipahami melalui kisah suci yang diwariskan turun-temurun.
Kepercayaan tersebut berpusat pada mitologi Kala Rau dan Dewi Ratih. Dalam kisah ini, Kala Rau adalah raksasa yang ingin memperoleh Tirta Amerta, yaitu air keabadian. Ia menyamar agar dapat meminum air suci tersebut, tetapi penyamarannya diketahui oleh Dewi Ratih, yang dalam tradisi Bali dipandang sebagai Dewi Bulan. Sebelum Tirta Amerta sampai ke seluruh tubuhnya, Dewa Wisnu memotong leher Kala Rau dengan senjata Cakra. Karena kepalanya telah terkena air keabadian, bagian kepala Kala Rau tetap hidup sementara tubuhnya mati. Sejak saat itu, kepala Kala Rau dipercaya menyimpan dendam dan berusaha menelan Dewi Ratih. Gerhana bulan pun dimaknai sebagai momen ketika Kala Rau berhasil “menelan” sang Dewi, meskipun akhirnya bulan muncul kembali karena tubuh Kala Rau tidak lagi utuh. Kisah ini memang dikenal dalam tradisi Hindu Bali dan memiliki kemiripan dengan mitologi Rahu dalam teks-teks Hindu India.
Secara simbolis, gerhana dipandang sebagai periode kegelapan sementara yang tidak suci. Dalam konsep keseimbangan Rwa Bhineda—ajaran tentang dua hal yang berlawanan namun saling melengkapi—gerhana melambangkan pertarungan antara terang (Dewi Ratih) dan gelap (Kala Rau). Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan selalu berada dalam dinamika antara cahaya dan kegelapan, dan manusia perlu menjaga keseimbangan batin. Gerhana juga dimaknai sebagai ajakan untuk waspada terhadap “raksasa” dalam diri, seperti hawa nafsu dan pikiran negatif.
Karena dianggap membawa aura gelap atau kekotoran sementara, masyarakat Bali secara tradisional melakukan berbagai tindakan simbolis saat gerhana terjadi. Salah satunya adalah membuat suara gaduh dengan memukul kentongan, lesung, atau alat musik tertentu secara bersama-sama. Secara filosofis, bunyi tersebut dimaksudkan untuk mengusir atau membuat Kala Rau melepaskan kembali bulan. Tradisi ini memang tercatat dalam praktik budaya Bali pada masa lalu dan memiliki kesamaan dengan tradisi di daerah lain di Nusantara.
Selain itu, gerhana juga dipandang sebagai momen untuk melakukan penyucian diri. Setelah gerhana berakhir, masyarakat dianjurkan melakukan melukat, yaitu ritual pembersihan diri secara lahir dan batin, guna menghilangkan pengaruh negatif selama masa gerhana. Berbeda dengan perayaan purnama biasa yang sering dilakukan di pura, saat gerhana upacara biasanya dilakukan di lingkungan rumah masing-masing sebagai bentuk peningkatan kesucian pribadi dan keluarga. Secara tradisional pula, masyarakat dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas penting di luar rumah selama gerhana berlangsung sebagai bentuk kehati-hatian spiritual.
Kisah ini juga dikenal dalam folklor Bali, salah satunya dalam cerita tentang Detya Kala Rau yang berkaitan dengan peristiwa Candra Kepangan (bulan “tergigit”). Walaupun kini penjelasan ilmiah tentang gerhana bulan sudah dipahami luas, mitologi dan tradisi tersebut tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya dan kepercayaan masyarakat Bali. Dengan demikian, gerhana bulan dalam pandangan Bali bukan hanya fenomena langit, tetapi juga simbol penting tentang keseimbangan, kesadaran diri, dan hubungan manusia dengan alam serta kekuatan ilahi.
Gerhana bulan dalam filosofi masyarakat kejawen
Dalam filosofi masyarakat Kejawen kuno, gerhana bulan atau gerhana rembulan tidak dipandang sekadar sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai fenomena spiritual yang sarat makna tentang keseimbangan antara Jagad Gede (alam semesta) dan Jagad Cilik (diri manusia). Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari terhalang dan Bulan tampak gelap atau kemerahan. Namun dalam pandangan Kejawen, peristiwa ini dimaknai sebagai tanda terganggunya keseimbangan kosmis yang juga dapat berpengaruh pada kehidupan manusia.
Dalam mitologi Jawa, gerhana sering dikaitkan dengan tokoh Batara Kala, sosok raksasa yang dipercaya menelan bulan. Kepercayaan ini memang hidup dalam tradisi Jawa dan tercatat dalam berbagai cerita wayang serta primbon. Secara simbolis, Batara Kala melambangkan energi gelap, nafsu, keserakahan, atau kekuatan destruktif yang dapat menutupi cahaya kebenaran dan kesadaran manusia. Dengan demikian, gerhana dimaknai bukan hanya sebagai peristiwa langit, tetapi juga sebagai gambaran kondisi batin ketika manusia dikuasai oleh sisi gelap dalam dirinya.
Sebagai respons terhadap peristiwa tersebut, masyarakat Jawa kuno memiliki tradisi membunyikan lesung, kentongan, atau alat dapur lainnya secara bersama-sama. Tradisi ini dikenal dalam berbagai daerah sebagai gejog lesung. Tujuannya secara simbolis adalah untuk menimbulkan kebisingan agar Batara Kala melepaskan kembali bulan yang ditelannya. Secara filosofis, bunyi tersebut dimaknai sebagai upaya kolektif untuk mengusir kegelapan dan memulihkan cahaya. Tradisi membunyikan lesung saat gerhana memang tercatat dalam praktik budaya masyarakat Jawa di masa lalu, meskipun kini sudah jarang dilakukan.
Selain itu, terdapat pula kepercayaan bahwa gerhana membawa energi yang kuat dan berpotensi berdampak pada makhluk yang dianggap rentan, terutama ibu hamil dan anak-anak. Karena itu muncul tradisi perlindungan seperti liwetan (selamatan dengan memasak nasi bersama) serta tindakan simbolis seperti mengusap atau mengoleskan abu dapur ke perut ibu hamil sebagai doa perlindungan agar janin tetap selamat. Secara medis dan ilmiah, tidak ada bukti bahwa gerhana memengaruhi kehamilan, tetapi dalam kerangka budaya, praktik ini dipahami sebagai bentuk doa dan ikhtiar perlindungan.
Dalam primbon Jawa, gerhana juga sering disebut sebagai sasmita atau pertanda akan adanya perubahan besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Keyakinan ini mendorong masyarakat untuk bersikap eling lan waspada, yaitu selalu ingat kepada Tuhan dan berhati-hati dalam bertindak. Gerhana menjadi momen untuk memperbanyak doa, meditasi, atau laku batin sebagai cara menjaga keselamatan diri dan keluarga.
Bulan dalam tradisi Jawa juga sering diidentikkan dengan Dewi Ratih, sosok yang melambangkan kelembutan, cinta, dan kesuburan. Ketika bulan menghilang saat gerhana, hal itu dipandang sebagai hilangnya sementara sumber energi kehidupan. Oleh karena itu, ritual komunitas dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan usaha simbolis untuk memulihkan kembali keseimbangan tersebut.
Secara keseluruhan, dalam pandangan Kejawen kuno, gerhana bulan adalah peristiwa mistis yang melambangkan gangguan keseimbangan kosmis akibat kekuatan gelap yang diwakili Batara Kala. Respons masyarakat berupa bunyi-bunyian, ritual perlindungan bagi ibu hamil, serta doa dan refleksi diri mencerminkan usaha menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan kekuatan gaib. Walaupun kini penjelasan ilmiah tentang gerhana telah dipahami luas, nilai-nilai tersebut tetap menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang menekankan pentingnya harmoni dan keseimbangan hidup.
Gerhana bulan dalam filosofi masyarakat dayak borneo
Bagi masyarakat Dayak di Borneo (Kalimantan), gerhana bulan tidak dipandang sekadar sebagai peristiwa astronomi, melainkan sebagai momen kosmik yang sakral dan penuh makna. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Matahari terhalang dan Bulan tampak gelap atau kemerahan. Namun dalam pandangan tradisional Dayak, peristiwa ini sering dianggap sebagai situasi “darurat” kosmis yang memerlukan tindakan bersama dari warga kampung. Filosofi ini berakar pada keyakinan tentang keseimbangan alam dan hubungan antara dunia manusia dengan makhluk gaib.
Salah satu kepercayaan yang cukup umum di berbagai sub-suku Dayak—seperti Dayak Ngaju, Ma’anyan, dan Kenyah—adalah mitos bahwa gerhana terjadi karena bulan sedang ditelan oleh raksasa, naga, atau makhluk halus tertentu. Nama tokohnya bisa berbeda-beda di tiap wilayah; ada yang menyebut naga atau makhluk gaib setempat. Secara simbolis, kegelapan saat gerhana dimaknai sebagai ancaman terhadap sumber cahaya dan kehidupan. Bulan dipandang sebagai pelindung malam, sehingga ketika ia “hilang”, keseimbangan dunia dianggap sedang terganggu.
Sebagai tanggapan, masyarakat Dayak secara tradisional akan keluar rumah dan memukul benda-benda yang menghasilkan suara keras, seperti gong, lesung kayu, panci, atau kuali. Di kalangan Dayak Ma’anyan, bunyi-bunyian ini dikenal dengan sebutan tertentu, termasuk istilah teteh untuk praktik membuat suara gaduh. Tujuannya adalah untuk mengejutkan atau menakut-nakuti makhluk yang diyakini sedang memakan bulan agar memuntahkannya kembali. Tradisi kebisingan ini memang tercatat dalam berbagai budaya Nusantara, termasuk pada sejumlah komunitas Dayak. Secara sosial dan budaya, tindakan tersebut melambangkan solidaritas dan kebersamaan: ketika alam terganggu, masyarakat harus bersatu untuk memulihkan harmoni.
Karena masyarakat Dayak sangat bergantung pada alam untuk berladang, gerhana bulan juga sering dikaitkan dengan pertanda bagi kehidupan pertanian. Jika bulan kembali utuh dengan cepat, hal itu bisa dianggap sebagai tanda baik bagi hasil panen. Sebaliknya, saat gerhana berlangsung, di beberapa sub-suku terdapat pantangan untuk tidak melakukan pekerjaan berat atau memulai kegiatan baru di ladang, karena alam diyakini sedang dalam keadaan tidak stabil atau “sakit”. Keyakinan ini merupakan bagian dari sistem pengetahuan tradisional agraris yang menghubungkan fenomena langit dengan kehidupan sehari-hari.
Gerhana juga dipercaya sebagai waktu yang berisiko bagi ibu hamil. Dalam beberapa tradisi Dayak, ibu hamil dianjurkan melakukan ritual kecil sebagai bentuk perlindungan, seperti membawa benda tajam kecil (pisau atau silet) di selipan kain, atau mengoleskan abu tungku atau tanda tertentu di perut. Secara filosofis, tindakan ini dimaksudkan untuk melindungi bayi dari pengaruh kegelapan atau gangguan roh jahat yang diyakini aktif saat gerhana. Secara medis, tidak ada bukti bahwa gerhana menyebabkan cacat fisik atau gangguan pada janin, tetapi dalam konteks budaya, praktik tersebut dipahami sebagai bentuk doa dan perlindungan simbolis.
Pada komunitas tertentu, seperti Dayak Wehea di Kalimantan Timur, terdapat legenda tentang Dea Pey dan Weluen Long yang melambangkan matahari dan bulan. Gerhana dikaitkan dengan kisah hubungan atau konflik di antara keduanya, yang kemudian dimaknai sebagai cerminan dinamika kehidupan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa gerhana tidak hanya dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai simbol pelajaran moral dan sosial.
Secara lebih mendalam, gerhana dipahami sebagai momen transisi dan pembersihan. Kegelapan yang hanya berlangsung sementara mengajarkan bahwa setiap cobaan akan berlalu dan cahaya akan kembali. Karena itu, gerhana menjadi waktu untuk merenung dan menghormati kekuatan yang lebih besar dari manusia.
Perlu dicatat bahwa suku Dayak terdiri dari ratusan sub-suku—seperti Iban, Ngaju, Ma’anyan, Kenyah, Wehea, dan lainnya—dengan variasi ritual dan nama tokoh mitologi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Namun, esensi tentang “penyelamatan bulan” melalui kebersamaan masyarakat hampir selalu ditemukan. Saat ini, tradisi membunyikan alat-alat rumah tangga saat gerhana masih dijumpai terutama pada generasi tua di wilayah perdesaan, meskipun mulai berkurang di kalangan masyarakat perkotaan.
Dengan demikian, walaupun sains modern menjelaskan gerhana bulan sebagai akibat posisi sejajar antara Bumi, Matahari, dan Bulan, bagi masyarakat Dayak peristiwa ini tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya dan kearifan lokal yang menegaskan hubungan erat antara manusia, alam, dan kosmos.
Sekian Terimakasih
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa…
Bandung, 02.Maret.2026









