Ada hal yang menarik sekaligus problematis dalam sebagian cara pandang sejarah musik Nusantara. Ketika alat musik gesek tradisional seperti tarawangsa, ngekngek, atau kacapi jentreng menggunakan dawai dari serat alam—misalnya serat daun nanas, ijuk, atau bahan organik lainnya—sebagian sarjana etnomusikologi menganggap lalu menyimpulkan bahwa leluhur Nusantara itu belum mampu membuat kawat logam untuk kebutuhan musikal.
Padahal kesimpulan yang seperti itu tidak selalu logis secara historis maupun teknologis. Sebab pada masa berkembangnya kebudayaan Sunda lama dan Nusantara klasik, masyarakat telah mengenal; teknik peleburan logam, penempaan besi, pembuatan perhiasan, senjata tajam, gamelan perunggu, hingga berbagai bentuk kawat dan ornamen logam.
Bahkan dalam era: Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan Galuh, teknologi metalurgi Nusantara telah berkembang cukup maju. Makanya secara logika, masyarakat yang mampu; membuat kujang, menempa pedang, mencetak gong, dan menghasilkan gamelan, tidak mungkin sama sekali tidak memahami teknik dasar membuat kawat logam.
Persoalannya di sini mungkin bukan karena “tidak mampu”, melainkan “memilih material tertentu” berdasarkan; karakter bunyi, fungsi ritual, filosofi, ketersediaan bahan, dan estetika lokal. Dalam banyak tradisi musik dunia, pilihan material dawai memang sangat menentukan warna suara. Dawai dari serat alam menghasilkan bunyi yang lebih lembut, resonan, meditatif, dan organik.
Karakter ini sangat sesuai dengan tradisi musikal tarawangsa yang erat dengan; ritual padi, spiritualitas agraris, penghormatan terhadap Dewi Sri, dan suasana musikal yang trance, hening, serta kontemplatif. Karena itu, penggunaan serat nanas atau ijuk tidak otomatis menandakan keterbelakangan teknologi. Bisa jadi justru merupakan pilihan estetik dan kosmologis yang sadar.
Cara pandang kolonial lama sering mengukur kemajuan hanya dari dominasi logam dan industri material keras. Akibatnya, teknologi organik Nusantara dianggap “primitif”, padahal banyak masyarakat tradisional justru memiliki pengetahuan material yang sangat halus dan spesifik.
Masyarakat Sunda lama memahami bahwa setiap bahan memiliki; ruh bunyi, watak resonansi, energi alam, dan fungsi sosial spiritual tertentu. Dengan demikian, tarawangsa bukanlah hanya sekadar alat musik sederhana, melainkan ini hasil dari perpaduan; teknologi, akustika tradisional, spiritualitas, dan pengetahuan ekologis masyarakat Sunda Nusantara.
Sekian Terimakasih
Bandung, 27.Mei.2026









