PERSAINGAN

persaingan

– kepada Mas Arifin C. Noer(Source: kosapoin.com/persaingan)

TIBA-TIBA semua orang berdatangan, berkerumun di depan sebuah gedung, entah apa yang mereka lihat. Lama-kelamaan orang-orang makin banyak ingin melihat apa yang ada di depan sana, tujuan mereka sama yaitu ada sesuatu yang ingin diketahui tapi orang semakin banyak sehingga perlu taktik untuk sampai ke depan. Orang-orang dari segala sudut, dan daerah bergegas gabung jadi sekumpulan manusia yang terperangkap pada rasa ingin tahunya. Setiap orang ingin cepat sampai di ujung kerumunan dengan segala usaha yang ada, maka berpuluh-puluh orangpun punya usaha yang sama, lalu gerakan ini jadi tak beraturan; goyang kiri-goyang kanan, tiba- tiba bergerak ke belakang lalu ke depan dengan mendadak, or- ang-orang di tengah pun terhimpit, berdesak timbul tenggelam bagai sampan dimainkan gelombang laut.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Matahari sudah naik di atas kepala, orang-orang makin banyak bermunculan, sudah bukan puluhan lagi tapi ratusan manusia. Keherananku makin menjadi ketika gerakan manusia sudah tak beraturan: Ayun kiri dorong depan. Ayun kanan balik belakang, persis seperti mainan gasing, oleng irama keseluruhannya. Kelihatannya semua orang tak ada yang mau mengalah masing-masing ingin sampai ditujuan, berlomba dan rebut!.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Aku jadi semakin penasaran. Kenapa sih orang-orang itu begitu bernafsu ingin melihat di ujung sana? Ada keinginan untuk bertanya pada orang yang sudah sampai di depan tapi ke mana jalan yang harus dilalui dan lewat mana pula orang itu perginya? Tiba-tiba aku ingin iseng memasuki kerumunan itu, tapi terpikir lagi; buat apa ikut-ikut kalau tidak tahu apa yang mesti jadi tujuan. Lantas aku menjauh dari keingintahuan namun secara mendadak berpuluh-puluh orang menyeretku dari segala sudut hingga jadi terkurung diantara mereka. “Hei, tolong beri jalan!” Semua orang sibuk dengan pikiran dan keinginannya sendiri, maka aku jadi terseret ke sana kemari. “Permisi mas, maaf bang, boleh kasih jalan dikit?” Sepertinya semua tak mendengar permohonanku malah semakin terbawa arus manusia. Geser kiri, dorong depan, geser kanan, dorong belakang. Wah, makin sesak saja keadaannya.(Source: kosapoin.com/persaingan)

“Hei, jangan menarikku dong! Maaf mas, tolong kasih jalan mau keluar. Hei, hei!” Mereka tak menjawab, sebagai jawabannya; mendorongku dari segala sudut hingga terdesak makin jauh, ke tengah. Teriak-teriak sebisaku sudah tak kuat lagi, akhirnya kecapaian sendiri, kemudian aku membiarkan diri diseret-seret keadaan yang sudah kacau ini.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Diam.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Kecapaian. Hanya ini saja yang dapat kulakukan, mengikuti irama gerak manusia tak beraturan, sepertinya bertumpuk saja, pergeseran pun terjadi di sana-sini. Seperti kerumunan belatung menggerogoti bangkai tikus. Beratus-ratus belatung bergerak saling tumpang tindih untuk melahap bagiannya. Pergeseran-pergeseran seperti inilah yang terjadi disekelilingku; ingin tahu. Apa betul ingin tahu? Menurutku memang dasarnya itu. Karena terjebak terlalu jauh pada hal yang menjadi dasar itu maka bukan ingin tahu lagi tapi ingin. Kalau rasa ingin tahu itu wajar sebagai sifatnya orang kreatif jatuhnya posistif tapi kalau tidak, jadi liar. Sampai sejauh ini aku tak berbuat apa-apa, mencoba bertahan pada kedudukan yang aman, sementara irama sudah semakin kasar. Kebingungan adalah paling tepat untukku saat ini. Apa yang mesti dilakukan? Tak tahu.(Source: kosapoin.com/persaingan)

“Ah, lagi-lagi aku terjebak pada sebuah keadaan, di mana keadaan ini sudah tak bisa diajak kompromi lagi, sialan!”, umpatku. “Tapi apakah aku akan terus diam mengikuti irama keadaan ini? Tidak! Tentu saja aku mesti melakukan sesuatu, tapi apa yang mesti kulakukan pertamakali, sementara ruang gerak begitu sempit, namun aku sendiri tak mau mati konyol di sini tanpa berbuat sesuatu. Ya! Bertindak dari pada diam.”(Source: kosapoin.com/persaingan)

Puncak dari sebuah keadaan adalah nekad. Begitu pula yang kulakukan sekarang, kepalang tanggung lebih baik menerobos ke depan, melihat kenyataan yang ada di sana.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Mulailah menerobos, maju pelan-pelan. Taktik dorong sana-sini sudah biasa lagi, dimana ada celah sedikit, cepat kumasuki dengan menarik orang yang ada di depan. Pelan-pelan aku mulai merayap, geser sana, geser sini. Lama-lama permainan ini jadi semakin mengasyikan, dan semakin liar. Ahai, ternyata aku lebih liar dari pada orang kebanyakan. Dan orang kebanyakan pun mulai terusik untuk berlaku lebih kasar, akhirnya iramanya jadi semakin cepat dan kacau. Tarik kiri, geser kanan; kiri-kanan, kiri-kanan. Geser depan belakang maka peralihan depan belakang pun jadi semakin kasar dan halal berbuat apa yang disebut curang, bukan lagi mainan baru.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Iseng aku menengok ke belakang. Astaga! Di sana bukan puluhan dan ratusan tapi sudah ribuan manusia bergerak dengan desakan yang cenderung stacatto. Wajah mereka begitu dingin tak berekspresi persis zombie-zombie bergerak menekan, mendesak, dan yang lebih sopan adalah menggeser; mengerikan. “Aaaaaaakh…!”, tiba-tiba di samping kanan belakangku terdengar jeritan panjang dari sebuah kesakitan yang sangat. Tampak seorang perempuan terhimpit dengan kasar dari segala sudut oleh keliaran dari manusia-manusia zombie, lalu mati lemas dan jatuh. Buru-buru aku pejamkan mata tak tahan dengan kejadian selanjutnya, tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanku melihat peristiwa ini, hanya telingaku saja yang menangkap sebuah lolongan panjang yang membuat bulu kuduk meremang. Selesai satu jeritan muncul teriakan lain dari sudut yang berbeda maka dari beberapa sudut pun muncul jeritan- jeritan mengerikan, untuk beberapa menit suara kesakitan ini menjadi sebuah paduan suara yang mengerikan dari sebuah raungan manusia yang minta pertolongan. Tapi siapa yang mau menjadi pahlawan pada saat keadaan seperti ini?, orang akan berpikir 13 kali. Lalu aku cepat bergerak makin liar karena tak mau jadi korban keadaan, entah setan mana yang menuntunku untuk berbuat brutal. Kini apa yang dapat ditarik maka itulah yang menjadi pegangan untuk maju.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Dengan kelelahan dan ketakutan yang tersisa, akhirnya usahaku ada hasilnya; sudah sampai barisan depan, tinggal beberapa meter lagi. Di sini orang-orang sudah setengah terbuka. Ada yang telanjang dada, ada yang bersinglet dan pakaian mereka entah tercecer di mana. Bajuku pun sudah sobek di sana-sini,tapi sudah tak mau peduli dengan keadaanku ini, hanya satu tujuan; sampai dengan segala cara.(Source: kosapoin.com/persaingan)

“Ah, setengah terbuka. Aku jadi ingat sebuah kata yang tepat yaitu: Norak! Dimana-mana yang setengah-setengah selalu kelihatan norak dan primitif”.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Nah, kini bukan hanya baju atau tangan saja yang ditarik, tapi kalau perlu kepala pun jadi sasaran. Entah sudah berapa puluh kepala yang kusingkirkan dan beratus entah lainnya yang kusikut. Di mana ada gerak yang sedikit lemah maka di situlah ada gerakan yang lebih kuat dan cepat untuk menyusup.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Kerumunan ini sudah menjadi lautan manusia yang bergerak bukan lagi dengan irama stacatto tapi dengan naluri- naluri liar warisan nenek moyang; purba. Mendesak adalah jalan terbaik, kelengahan adalah resiko sebuah kekonyolan.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Lautan manusia bergerak tak kenal kompromi dengan apa yang disebut mengalah. Mengalah berarti membiarkan orang menginjak kita. Lautan manusia terjebak pada sebuah keadaan. Di sinilah keadaan menjadi problema manusia yang jadi ingin. Tak bisa mengontrol dari keadaan, ujungnya adalah; liar. Kalau sudah begini tak jelas menarik garis perbedaan antara manusia dan binatang. Sebuah keadaan mendadak sekali datangnya, bila lengah dia akan menembak tepat pada sasarannya: Dor! Nurani terluka, manusia hanya tinggal sosoknya saja yang berjalan. Mengerti akan keadaan ini saja aku sudah tak menghiraukan, apalagi tidak. Entah bagaimana bentuknya.(Source: kosapoin.com/persaingan)

“Ah, aku jadi hilang rasa, gara-gara ini. Dingin” tapi kepenasarananku makin menjadi ketika kulihat hanya tinggal dua meter ini, persaingannya makin keras. Di sini bukan lagi main tarik tapi kaki juga sudah ikut bicara. Dimana kaki ada kesempatan untuk menendang di situ pula dia beraksi. Wah, melihat keadaan demikian aku jadi agak keder, tapi itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba ada sebuah kaki nyasar ke dada. Bagai disulut api tentu saja akupun bergerak cepat, bertahan dan mendadak kakiku mulai ikut-ikutan beraksi. He he he.. Ya, maklumlah keadaan yang mengajarkan.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Ternyata permainan baru ini jadi semakin mengasyikan. Ada kesempatan untuk kaki; tendang. Ada kesempatan untuk tangan; tarik. Ada kesempatan untuk kaki dan tangan; tarik lalu injak. Asoy, menyenangkan sekali.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Semeter lagi aku akan sampai di depan, kini tinggal usaha terakhir yaitu pakai taktik dorong dan tarik. Dorong dulu begitu lengah langsung tarik sekaligus, tugas selanjutnya adalah bagian kaki untuk melemparnya ke belakang. Taktik ini kucoba harus dengan penuh kesabaran layaknya pemancing ikan, kalau tidak punya kesabaran pasti aku sendiri yang terinjak.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Sekaranglah saatnya untuk bertindak. Aku mulai mendorong orang-orang di depan. Dorongan ini kucoba dengan sentakan-sentakan keras, lambat laun berubah jadi perlahan, doronganpun jadi cenderung sebuah ayunan. Beberapa menit ayunan menjadi menina bobokan. Setelah kelihatan terlena maka secara mendadak orang-orang ini kutarik sekaligus: Hap! Hap! Secepat itu pula aku sudah menyusup ke depan dan kakiku mendorongnya dengan manis, selintas aku teringat bagaimana Marco Van Basten membuat tendangan ke gawang Rusia dengan sangat indah. Lalu sempat kulihat bagaimana korban-korban kakiku jatuh ke belakang dan samping. Senyum mengantar semuanya. Hup! Aku meloncat.(Source: kosapoin.com/persaingan)

“Hei, aku sampai!” Teriakku.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Tentu saja orang-orang tak menghiraukan. Mereka sibuk dengan pikiran dan keinginannya sendiri. Kini aku sampai tapi sudah tak menyerupai diriku lagi karena sebuah persaingan ala purba.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Dengan sisa tenaga yang ada, kucari apa yang menjadi sebab semua ini. Ternyata di sini hanya ada selembar kertas berukuran 21,5 X 28 cm yang tertempel. Rasa ingin tahu menyuruhku untuk membaca, lalu kubaca: “Dibutuhkan 100 tenaga yang berpe………” Aku tak bisa melanjutkan karena tiba- tiba semua jadi serba hitam, lambat laun tulisan pun kabur.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Sementara lautan manusia bergerak dengan pikiran dan keinginannya sendiri, mengikuti irama purba yang tak disadarinya. Lautan manusia purba kembali bergerak dengan irama stacatto mendekati tubuhku yang telah hilang rasa, maka seluruh lautan manusia purba menari dengan irama stacatto menginjak-nginjak pikiran dan perasaanku lalu melayang dan menguap ditelan udara.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Hening.(Source: kosapoin.com/persaingan)

Bandung-Jakarta, Lab.Teater Ketjil, 2026 (1991)(Source: kosapoin.com/persaingan)

MELUKIS TAKDIR
Baca Tulisan Lain

MELUKIS TAKDIR

Agus Safari

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *