Seni Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

Seni Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

“Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.” Jhon Dewey (1859–1952)

Selama ini kita mengenal kata “pendidikan” sejak kecil. Contohnya pendidikan anak, pendidikan karakter, pendidikan formal, pendidikan moral, pendidikan nasional. Kata tersebut begitu akrab, sehingga seolah tidak lagi memerlukan penjelasan. Namun justru karena terlalu akrab, kita sering lupa akan makna yang tersembunyi di baliknya.

Secara umum, pendidikan dipahami sebagai proses membimbing, mengajar, atau mengembangkan potensi manusia. Definisi tersebut terdengar baik. Akan tetapi, jika direnungkan lebih dalam, kata pendidikan sering membawa konotasi yang tanpa sadar bersifat satu arah. Ada pihak yang mendidik dan pihak yang dididik. Selanjutnya, ada yang dianggap tahu dan yang dianggap belum tahu. Kemudian, yang merasa memiliki pengetahuan, sementara yang lain diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi.

Tentu tidak semua pendidikan bersifat demikian. Namun pada kenyataannya, cara berpikir tersebut sering melahirkan arogansi yang halus. Arogansi yang tidak selalu tampak dalam nada suara, tetapi hidup dalam cara pandang.

Seorang guru merasa memiliki seluruh jawaban. Orang tua, merasa paling memahami kebutuhan anak. Institusi merasa paling tahu arah masa depan peserta didik. Akibatnya, proses pendidikan sering berubah menjadi proses penyeragaman. Anak tidak lagi diajak menemukan dirinya, melainkan diarahkan menjadi versi yang sudah ditentukan sebelumnya. Pada titik ini, pendidikan kehilangan sifat kemanusiaannya.

Padahal manusia bukan wadah kosong yang harus diisi. Manusia adalah makhluk yang sejak lahir membawa rasa ingin tahu, imajinasi, pengalaman, dan potensi yang unik. Ketika pendidikan hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan satu arah, maka yang tumbuh bukan manusia merdeka, melainkan manusia yang terbiasa menerima tanpa bertanya.

Pendapat J.J. Rousseau (1712 – 1778), dalam bukunya berjudul Emile menyatakan bahwa, Rousseau meyakini bahwa fondasi utama pendidikan semestinya berpijak pada karakteristik unik serta kebutuhan personal setiap anak. Menurutnya, fitrah dan dorongan alami anak tidak boleh dikekang secara paksa. Ia berargumen bahwa anak-anak pada hakikatnya terlahir membawa benih kebaikan; sisi buruk baru akan muncul ketika mereka terkontaminasi oleh kekeliruan cara didik orang dewasa, terutama melalui penerapan disiplin yang kaku serta pemberian keteladanan yang keliru.

Mungkin karena itulah kita perlu mulai memikirkan sebuah istilah yang lebih lembut, lebih manusiawi, dan lebih menghargai proses pertumbuhan manusia. Tidak menempatkan seseorang, sebagai pemilik kebenaran mutlak. Salah satu kemungkinan menarik adalah dengan menambahkan satu kata sederhana di depannya, yaitu seni. Bukan sekadar pendidikan, melainkan seni pendidikan. Pertanyaannya, mengapa selalu kata seni?

Karena seni selalu berangkat dari kesadaran bahwa manusia bukan mesin. Seni memahami bahwa setiap individu memiliki ritme, pengalaman, dan cara belajar yang berbeda. Dalam seni, tidak ada satu jalan yang berlaku untuk semua orang. Ada ruang untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan makna. Ada banyak jalan menuju Roma. Seni tidak memaksa bunga mawar menjadi anggrek. Seni, membantu setiap bunga tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Ketika kata “seni” diletakkan di depan kata “pendidikan”, orientasinya berubah. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai tindakan mengisi, melainkan menemani. Tidak lagi berpusat pada instruksi, melainkan pada perjumpaan. Tidak lagi sibuk membentuk manusia sesuai cetakan tertentu, melainkan membantu manusia menemukan bentuk terbaik dirinya.

Perubahan cara pandang ini mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Kita dapat merasakannya dari hal yang sederhana, seperti memasak dan seni memasak. Memasak adalah kegiatan mengolah bahan makanan. Namun ketika kita menyebutnya seni memasak, maknanya berubah. Tidak lagi tentang sekadar mencampur bahan, tetapi tentang rasa, intuisi, kreativitas, pengalaman, dan sentuhan manusia yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh rumus.

Begitu pula dengan perang, yang identik dengan konflik dan kekerasan. Namun istilah seni perang tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, melainkan strategi, kebijaksanaan membaca situasi, kemampuan memahami lawan, dan kecermatan mengambil keputusan.

Kata seni membuat sebuah aktivitas menjadi lebih hidup, manusiawi, dan lebih bernuansa. Demikian pula dengan pendidikan, saat berbicara tentang seni pendidikan, fokusnya bukan lagi pada bagaimana seseorang mengisi orang lain dengan pengetahuan. Namun fokusnya bergeser, menjadi bagaimana manusia membantu manusia lain bertumbuh.

Dalam seni pendidikan, seorang guru bukan pusat semesta, namun menjadi pendamping perjalanan. Ia bukan pemilik kebenaran mutlak, melainkan sesama pencari makna yang kebetulan berjalan sedikit lebih dahulu.  Keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai ujian, namun juga diukur dari tumbuhnya rasa ingin tahu, keberanian bertanya, kemampuan berempati, dan kemerdekaan berpikir. Sejatinya manusia tidak dapat dibentuk seperti mesin, namun hanya dapat disentuh.

Pertanyaan berikutnya, mungkin terdengar sok tau, tentang meninjau kembali kata “belajar” yang selama ini begitu akrab digunakan. Dalam keseharian, kata belajar sering kali dipahami sebagai kewajiban menguasai sesuatu. Misalnya, anak harus belajar matematika, harus belajar membaca, harus belajar disiplin, dan lainnya. Kata “harus” kemudian mendominasi pengalaman belajar. Padahal, sebelum belajar, ada proses yang lebih mendasar, yaitu mengenal.

Seperti dalam percintaan, seorang pria tidak mungkin mencintai seorang wanita yang belum dikenalnya. Begitupun dalam belajar, anak tidak mungkin tertarik pada matematika, jika sejak awal ia hanya dikenalkan pada kumpulan rumus yang menakutkan. Tidak mungkin mencintai membaca, jika buku hadir hanya sebagai beban. Maka, kata “mengenalkan” terasa jauh lebih manusiawi, ada pengakuan bahwa kita semua masih terus belajar. Dibandingkan kata “mengajarkan”, yang kental dengan arogansi, bahwa kita sudah tahu segalanya.

Sehingga, seorang guru tidak sedang mengajarkan seni kepada anak, namun mengenalkan dunia seni kepada anak. Orang tua tidak sedang mengajarkan alam kepada anak, namun sedang mengenalkan keajaiban alam kepada anak. Kita tidak mengajarkan makna kehidupan hanya melalui teori, namun mengenalkannya melalui pengalaman hidup sehari-hari. Perbedaannya tampak sederhana, namun dampaknya sangat besar.

Dalam dunia yang cepat berubah, kesadaran ini menjadi sangat penting. Hingga tidak ada lagi satu kelompok manusia, yang dapat mengklaim memahami seluruh kebenaran. Pengetahuan berkembang setiap hari, teknologi berubah setiap saat. Hingga tantangan sosial-pun semakin kompleks. Bahkan, banyak profesi yang akan dijalani anak-anak di masa depan-pun, belum ada hari ini. Lalu atas dasar apa kita bisa merasa paling tahu?

Barangkali tugas guru bukan menjadi orang yang paling tahu. Tugas guru adalah menjadi orang yang paling siap menemani pencarian makna. Sementara, orang tua bukan bertugas menentukan seluruh jalan hidup anak. Tugas orang tua adalah membantu anak mengenali dirinya sendiri.

Di sinilah Seni Pendidikan menemukan hubungannya. Seni Pendidikan tidak menghilangkan disiplin. Tidak menghapus ilmu pengetahuan. Tidak menolak pentingnya membaca, berhitung, atau berpikir logis. Namun Seni Pendidikan menempatkan semua itu dalam kerangka yang lebih besar, yaitu proses memanusiakan manusia. Manusia yang bijaksana, yang memiliki empati, yang mampu mendengarkan, yang memahami dirinya sekaligus menghormati orang lain.

Sudah saatnya kita menggeser cara pandang kita. Dari pendidikan yang terlalu sibuk mengisi, menuju Seni Pendidikan yang berusaha menemani. Dari mengajarkan, menuju mengenalkan. Dari merasa paling tahu, menuju kesediaan untuk terus belajar bersama. Sebab, proses menjadi manusia bukanlah proyek yang dapat diselesaikan oleh satu pihak terhadap pihak lain. Hal tersebut adalah perjalanan panjang yang ditempuh bersama. Seperti halnya sebuah karya seni, perjalanan itu tidak pernah lahir dari paksaan, melainkan dari perjumpaan yang tulus antara satu jiwa dengan jiwa yang lain. (jbp 20/06/2026)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *