Sempurna cahaya purnama di pelataran Paseban Tri Panca Tunggal terasa begitu dingin, seolah menusuk-tusuk ke sela-sela pori kulit. Malam itu, Ritual Ngabungbang laksana mengubah Cigugur menjadi kuali energi yang purba. Nisa Gendis, gadis belia yang lahir dan besar di Kota Metropolitan, nampak berdiri gelisah di tengah kepulan asap kemenyan. Di sekelilingnya, barisan manusia seolah keluar dari relief sejarah; ada ketegasan sunyi dari rombongan Suku Baduy Luar, warga Suku Dayak Losarang, hingga keanggunan kasepuhan dari Ciptagelar, Kampung Kuta, Kampung Naga, dan Urug.
Jari Gendis menari liar di atas layar gawainya, mencoba mengunggah video suasana malam itu. “Sinyal sampah!” gumam-gerutunya yang tertahan kala lingkaran loading di layar gawainya membeku, seolah waktu berhenti di dalam kotak kaca itu. Mak Isoh yang duduk èmok sembari memangku Aki Sri dan Nini Sri—sepasang wayang dari ikatan padi kering yang harumnya menyebabkan aroma sawah pasca panen. Tangan kanannya Mak Isoh menepuk betis kiri Gendis: “Duduk. Bulan sedang bicara, Nisa. Kenapa kau malah sibuk mencari sinyal? Masih haus dengan komentar yang disuarakan mesin?” Nisa menoleh. Laju duduk paska sepasang mata Mak Isoh sedikit terbuka lebar.
Di hadapan mereka, tujuh bumbung bambu berisi air berjajar rapi. “Ngabungbang itu ritual melek batin. Di tanah ini, Pangeran Madrais dulu mengajarkan kita untuk ngaji diri, mengenali jati diri melalui rasa syukur,” Ucap Mak Isoh sembari mengusap salah satu bumbung itu dengan penuh rasa hormat. “Air ini diambil dari tujuh mata air keramat di kaki Ciremai melalui prosesi Ngala Cai ka Tujuh Sumur. Ia adalah perantara suci untuk membersihkan karat di jiwamu. Kau sedang di jantung Tanah Pasundan, leluhurmu, berdiri di atas warisan ajaran yang agung, tapi jiwamu seperti yatim piatu meratap di depa berhala,” tandas Mak Isoh yang segaligus nenek bagi Gendis dari pihak Ibu.
“Berhala?” jawab Gendis. “Ya, gawaimu itu ibarat berhala yang kau puja!” hening. Lamat-lamat pandangan Gendis menatap wayang padi itu dengan kening berkerut. “Kenapa harus berpasangan begitu, Mak? Sampai airnya pun harus disatukan?” tatapan sepasang bola mata Mak isok kini terasa sejuk dalam pandangan gendis. “Sama seperti manusia, air pun mengenal Kawin Cai,” suara Mak Isoh memberat, puitis. “Seperti Aki Sri dan Nini Sri ini yang melambangkan kemakmuran, air dari Mata Air Cikembulan dan Balong Dalem pun harus ‘dikawinkan’ agar bumi tidak gersang. Mereka adalah jodoh semesta. Jika kau tak bisa menghargai pertemuan unsur alam ini, kau tak akan pernah bisa terkoneksi dengan frekuensi keberkahan, Gendis.”
“Katanya dari tujuh sumur!” heran Gendis yang merasa tak nyambung pasca mendengar jawaban dari Mak Isoh. “Kau benar, di tujuh bumbung itu bersumber dari tujuh sumur; Sumur Kejayaan, Sumur Pengabulan, Sumur Cirencana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Ciranji… yang Mak bicarakan itu ada dalam ritual Kawin Cai. Kalau kau mau lebih tahu, besok kita bisa kunjungi dua sumber mata air itu!” pungkasnya.
**
Hari-hari berikutnya bagi Gendis adalah pusaran warna dan bau. Ia terseret dalam arus Seren Taun, hingga gemuruh sorak saat Pesta Dadung memuncak pada tanggal 22 Rayagung. Gendis merekam semuanya, akan tetapi ia merasa batinnya tetap berada dalam zona hampa—sebuah kehampaan yang tak bisa diisi oleh ribuan like dan komentar di sosmed pribadinya. “Kau sudah siap kan, Gendis? Kalau sudah siap, besok kita napak tilas” bisik Mak Isoh di antara riuh arak-arakan gunungan hasil bumi. “Biar kau tahu di mana rahim dari segala air dan perjodohan doa ini.” lanjut-papar Mak Isoh.
**
Di pagi buta, mereka telah berada di Darmaloka. Udara lembap yang mampu menusuk-tusuk tulang hingga ke sumsum. Mak Isoh menyuruh Gendis membasuh muka di kolam air purba yang beningnya seolah menembus dasar bumi. Di bawah sana, ikan-ikan Kancra Bodas atau sering dijuluki Ikan Dewa oleh warga setempat, bergerak lincah seperti bayangan perak yang anggun, meliuk diantara akar-akar pohon raksasa yang menjuntai ke dasar kolam.
“Kata orang di internet, mereka ini Prajurit Siliwangi yang kena kutuk, Mak, dan kalau orang memakan dagingnya pasti akan mati seperti yang dialami tentara kolonial itu, di zaman penjajahan.” ujar Gendis, dengan tetap tarian jempolnya masih nampak gatal ingin mencari validasi digital. Sementara Mak Isoh mengusap permukaan air, membiarkan jemarinya bersentuhan dengan dingin yang purba. “Jangan percaya pada kabar burung tanpa akar. Kolam ini amanah dari Syech Manshur, putra Prabu Munding Sari, cucu langsung dari Prabu Siliwangi. Beliau diutus Sunan Gunung Jati untuk menjaga mata air ini. Ikan-ikan ini adalah simbol kesetiaan penjaga titipan kakek yang dirawat sang cucu. Mereka adalah sinyal kesetiaan yang melintasi zaman. Jika matamu hanya terpaku pada layar gawai, kau akan buta melihat sejarah yang sedang berenang di depanmu.”
“Katanya harus belajar tentang leluhur!” gerutu Gendis. Mak Isoh senyum kecil, tak tergesa dalam menjawab. “Mak, tidak menyalahkanmu yang cari referensi dari internet. Hanya saja data yang kau dapatkan itu perlu divalidasi. Ibumu menitipkanmu pada nenekmu ini, karena kau mengambil kuliah atropologi budaya. Dulu, sewaktu nenek masih jadi dosen, setiap dapat data baru diperlukan validasi yang otentik, biar tak asal bunyi di ruang publik.”
**
Perjalanan berlanjut dengan mobil kolenbak menuju Palutungan. Di atas kendaraan yang berguncang sejauh sembilan kilometer itu, Gendis masih mencoba melakukan siaran langsung. Namun, tepat saat roda mobil melindas batas ketinggian 1.100 mdpl, dunia digital Gendis runtuh. Layar gawainya mendadak beku, suaranya parau laju senyap. Mereka telah memasuki titik simpe—sebuah lembah sunyi yang membungkam frekuensi buatan manusia. “HP-ku mati, Mak!” Gendis panik, mengguncang gawainya, seolah tengah memberi napas buatan pada orang yang pingsan akibat tenggelam. Di sisi lain, Mak Isoh seolah tak peduli.
“Selamat datang di dunia yang nyata, Gendis” ucap Mak Isoh datar sembari melangkah masuk ke rimbun hutan menuju Batu Lingga. “Di sini, Satria kawirangan, kakek Sunan Gunung Jati, menuntun para Wali Songo. Nama Ciremai lahir dari kata Penceremai-an, ruang untuk bermusyawarah menyatukan langit dan bumi. Di atas sana, di Puncak Pangasinan, para Wali hanya bersantap nasi dan garam. Mereka mencari khalwat, mencari hening agar suara Tuhan terdengar jelas. Kau ketakutan karena duniamu mendadak diam, padahal di situlah kau baru bisa mulai mendengar suara hatimu sendiri, Gendis.”
Tiba-tiba, kabut merayap turun di Tanjakan Seruni. Suasana menjadi berat dengan aroma kemenyan yang menyesakkan. Gawai di saku celana Gendis mendadak terasa panas, layarnya berkedip-getar liar seolah sedang dirasuki sebelum akhirnya padam total. Reaksi Gendis langsung mengeluarkan gawainya. “HP-ku mati total, Mak. Ini gawat sekali, bisa-bisa kehilangan folowers. Haduh gimana ini? Padahal asyik ada suara gamelan, ini bisa viral, bisa dapat cuan banyak, Mak.” kepanikan Gendis kian menjadi. “Aaagh… dasar sampah! Padahal ini momen langka.” liar-ucap Gendis yang hilang kontrol.
“Tutup mulutmu, Nisa” bisik Mak Isoh tajam, imbas dari menangkap sorot ngeri di sepasang bola mata Gendis. “Di sini frekuensi hitam Nini Pelet masih bergetar. Dia mencuri kitab ‘Mantra Asmara’ milik Ki Buyut Mangun Tapa demi ajian ‘Jaran Goyang’. Gamelan sayup yang kau dengar itu adalah peringatan agar kau tidak lancang. Jangan berkata kotor. Harimau siluman penjaga makam Ki Buyut di Baregbeg Ciamis tidak pernah tidur mencium batin yang sombong. Bisa jadi ia sekarang sudah ada di sini, tengah mencari keberadaan Nini Pelet, sebab suara gamelan yang kita dengar itu penanda…” pungkas-buntu Mak Isoh yang tak mau merampungkan ucapannya sendiri.
Mendengar pemaparan yang panjang lebar dari mulutnya Mak Isoh. Gendis terpaku. Geming mereka di tengah kepungan kabut dan sunyi yang mencekam. Mereka mendengar desis angin yang tak biasa di sela-sela daun jati, suara napas angin itu seolah tengah memburu mangsa, dan detak bumi yang ritmis mengeluarkan getaran halus di bawah telapak kaki mereka yang gemetar.
**
Kembali ke Cigugur, Gendis berdiri di tengah ritual penutup: Babarit, Sedekah Bumi, dan Pareresan. Ia tidak lagi memegang gawai. Tangannya kini menggenggam alu, bahu membahu dalam penumbukan padi bersama di atas lesung panjang. Getaran lesung itu merambat dari telapak tangan langsung ke jantungnya, seirama dengan detak alam yang ia temukan di puncak Ceremai. Ritual Gondang pun selesai.
Detik yang tak pernah letih mematangkan usia. Pagi, siang, sampai kembali malam, gulir waktu tak terasa begitu cepatnya berlalu. Di bawah rembulan, ia terpana melihat Tari Buyung; kaki memijak kendi, kepala menjunjung kendi—keseimbangan yang sempurna antara bumi yang dipijak dan langit yang dijunjung. Mak Isoh yang melihat perubahan Gendis nampak sumringah. “Gendis, sudah ketemu sinyalnya?” Tanya Mak Isoh dengan senyum hangat yang kali ini terasa begitu bahagia.
Gendis tidak menjawab dengan kata. Saat itu, gawai yang tersimpan di tas mungilnya bergetar kuat, menandakan ia kembali ke wilayah beradab dengan sinyal penuh. Gendis merogoh tasnya, melihat layar yang bercahaya terang dengan ratusan notifikasi yang seakan berteriak meminta perhatiannya. Dengan gerakan perlahan dan mantap, ia menekan tombol daya hingga layar gawainya itu kembali gelap gulita. Ia memilih untuk tetap tinggal dalam frekuensi doa yang masih mengalun di udara Cigugur.
Nisa Gendis menyadari bahwa setiap sudut di Gunung Ciremai sarat makna yang mempunyai cerita dan kisah. Di tengah “titik mati” di punggung gunung, ia justru menemukan koneksi paling murni—dari Ngala Cai, Kawin Cai, hingga napas sejarah Syech Manshur. Kini, baginya, Ritual Seren Taun Cigugur dan kisah mistik Gunung Ceremai bukan lagi sekadar objek digital untuk dipamerkan, melainkan penyangga kehidupan di Tanah Tatar Pasundan yang kini berdenyut abadi dalam nadinya sendiri. []









