Maka ketika pandanganku jadi gelap, tiba-tiba aku terbanting di sudut ruang segi empat. Pikiran tak bergerak, perasaan ngambang, terbang bersama sebuah angan. lalu ketika itulah semua berjalan apa adanya, aku pun mengikuti dari tali pengikat di ujungnya. Berubahlah semuanya.
Dalam pandanganku yang masih agak samar, terdengar seorang manusia bertanya padaku, aku sendiri bertanya pada sang diri.
“Di manakah kejujuran?”
“Di hati,” jawab seseorang.
“Di mata,” jawabku.
“Di diri,” jawab diri.
Tiba-tiba ada yang berteriak entah siapa.
“Hei! Kejujuran itu ada pada keadaan!” Seseorang berhenti. Aku mematung. Diri menyelinap pada keheningan. “Tolol! Kalian ini para ahli hukum hanya ber-retorika saja. Coba lihat keadaan kalian apa sudah jujur? Kejujuran kalian tergantung pada keadaan seseorang, artinya jika seseorang itu berlimpah maka hukum dan keadilan bagi kalian adalah duit, tapi bila berlimpah kemiskinan, maka hukum dan keadilan mencibir lalu sembunyi pura-pura tidak tahu. Nah, itulah inti dari semuanya”.
“Jadi aku tergantung pada cermin kenyataanku?” Potongku. “Dan diri tergantung pada cerminku?” tanyaku lagi memberanikan diri untuk berdialog.
“Ternyata kamu mulai memahami.” Jawab Sang Suara.
“Kalau begitu di mana letak dari sebuah kejujuran?” tanyaku lagi penasaran.
“Bodoh! Kamu mulai lagi dengan pertanyaan tolol itu!”
“Lalu mesti bagaimana bentuk pertanyaan itu?”
“Rubah dengan pertanyaan halus.”
“Mulainya dari mana?”
“Mulailah dengan hatimu.”
“Baiklah.”
Aku mulai meraba rasa yang sedang berproses pada titik beku di bawah nol derajat, terasa ada kedinginan yang menyebar dalam ruang halus itu, aku sendiri terkejut dengan proses ini yang berjalan begitu cepat dan tak disadari.
“Di manakah cinta?” tanyaku tak sabar. Untuk beberapa menit keheningan menyita perhatian, aku mulai tak sabar menunggu jawaban.
“Hei, tak dengarkah kau?!”
Tiba-tiba terdengar suara bergumam menguasai ruang hingga kesunyian beralih jadi penuh dengan suara dengungan panjang yang membuat telingaku kesakitan. Dengungan ini kadang tinggi, kadang rendah iramanya, sekali waktu terdengar menyayat lalu berubah menjadi monoton. Mendadak aku diserang rasa ketakutan yang sangat tapi tanpa alasan jelas. Begitu mendengar dengungan, ada sesuatu yang mengiris rasaku dan secara tidak langsung telah mengajarkanku tentang irama kehidupan dari suara keseharian, namun aku belum begitu pandai untuk menangkapnya, ternyata aku mesti banyak lagi belajar tentang suara. Begitu banyak suara lewat dalam telinga tak satu pun yang dapat kumengerti, karena aku sudah terbiasa dengan suara-suara keseharian di telingaku dengan segala kepalsuannya.
Dengungan panjang ini semakin mengajarkanku makna irama kehidupan yang berhubungan dengan pertanyaan tentang cinta dan kejujuran, namun aku tidak memerlukan perlambang yang sulit dijabarkan oleh mata awam sepertiku, maka ketika dengungan ini mulai terasa akrab dengan diri, tiba-tiba seorang manusia bertanya padaku dan aku sendiri bertanya pada sang diri.
“Di manakah cinta?”
“Di hati” jawab seseorang.
“Di mata” jawabku.
“Di diri” jawab sang diri.
‘Bodoh! Kamu mulai lagi dengan pertanyaan tolol itu!” Tiba-tiba ada suara membentak memotong permainan ini.
“Kalau kamu sudah mendapatkan pertanyaan halus maka jawabannya pun mesti dengan lembut hingga tak terasa bahwa itu sebuah jawaban.”
“Kebijakan?”
“Ternyata kamu mulai paham.”
“Kalau begitu di manakah…”
“Stop! Kamu jangan memulai lagi dengan pertanyaan tolol itu!”, terdengar nada kemarahan dalam suaranya.
“Oh, maaf.”
“Buanglah perkataan maaf, itu hanya sekedar basa-basi dan buang-buang waktu.”
“Baik. Nah, sekarang mulainya dari mana?” Tanyaku.
“Suaramu.”
“Jadi aku harus memulai dari suaraku?” terdengar dengungan menguasai ruang lembut sekali, hingga aku jadi terbuai dan kembali diajar tentang arti irama dari suara keseharian, namun rasa kepuasaan menuntutku untuk bertanya terus karena pertanyaan itu masih saja menggelitikku; di manakah kejujuran? Di manakah cinta?
Pertanyaan itu baur dengan dengungan yang kian saat jadi satu dan membiaskan pertanyaanku dalam kelembutan iramanya, sehingga aku sendiri menjadi kebingungan tak bisa mendengarkan perbedaan antara suara dan irama. Lalu dengungan ini pun makin menguasai ruang sampai penuh hingga aku tersesat pada sebuah titik nol dalam ruang segi empat ini. Maka ketika dengungan panjang ini makin memenuhi ruang lalu terjadilah perubahan secara drastis, volume suara berubah menjadi keras melebihi 1000 Db, hingga ruangan menjadi padat, bergetar dan menyerang serta memenuhi gendang telingaku.
“Aaaaaaaaaaaaa……..”
Dengungan mulai menguasai dan menyiksaku dari arah yang sangat peka, menuntun dan mengikatku serta menyeret membawaku entah ke mana, semuanya jadi ringan dan berjalan apa adanya. Kemudian dengungan itu melemparkanku pada suatu kehidupan baru, lantas aku pun terbanting di tengah tumpukan sampah.
“Hei, apakah aku harus belajar di tempat ini?!” Dengungan panjang itu masih saja jadi jawabannya.
“Jadi kalau begitu ini ada hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaanku?”
Dengungan panjang itu pun masih jadi jawaban.
“Apakah kau menyuruhku untuk mencari kejujuran dan cinta di tempat sampah ini, atau kebajikan, atau kehidupan?”
Tiba-tiba dengungan ini menjadi merdu dan lembut irama maupun suaranya. Untuk beberapa saat aku terpukau oleh kemerduan yang sulit tergambarkan, namun belum habis rasa kenikmatan ini lambat laun dengungan menghilang secara lembut sekali.
“Fantastis!”
**
“Pak! Pak!” Terdengar suara khawatir seorang perempuan memanggil-manggil. “Pak! Pak! Apakah Bapak sudah sadar?!”
Perlahan mataku terbuka.
Kulihat seorang perempuan agak berumur melihatku dengan penuh kekhawatiran, di sebelahnya duduk merapat pada perempuan itu seorang anak perempuan sekira 8 tahunan sedang membantu memeras kain, kemudian ia berikan kain tersebut pada perempuan itu lalu melanjutkan menempelkannya ke keningku.
“Di mana aku ini?”
“Syukurlah Bapak telah sadar,” jawab perempuan itu dengan perasaan lega. “Bapak ada di rumah petak saya. Bapak hampir 3 jam tak sadarkan diri.”
“Kenapa?”
“Tadi malam kira-kira jam 12 kurang, entah bagaimana mobil Bapak menabrak pohon dan Bapak tak sadarkan diri, maka kami membawa Bapak kemari untuk dikompres, hanya itu yang bisa kami lakukan.”
“Oh, terimakasih. Ibu berdua saja ………”
“Anak pertama saya sedang menjaga mobil Bapak di jalan sana itu, kami bertiga.”
“Suami Ibu?”
“Sedang diperiksa polisi.”
“Kenapa?”
“Katanya sih menghambat pembangunan.”
“Maksudnya?”
“Saat ini Bapak sedang terbaring di tanah yang kami pertahankan dari penggusuran meski akhirnya rumah kami dibongkar secara paksa dan penggantianpun dengan harga paksa pula, tapi suami saya menolaknya.”
“Jadi….”
“Ya, meski rumah dihancurkan, kami bangun rumah petak ini sebagai tanda bahwa di sini hukum dan keadilan telah dirampas dengan dalih pembangunan, padahal kami tahu Mall akan dibangun di tanah ini.”
“Ibu sekeluarga sudah berapa lama di sini?”
“Kami sudah puluhan tahun di sini dan sekarang direruntuhan ini sudah 3 bulan jalan.”
“Apakah sudah dapat bantuan dari Pengacara?”
“Mungkin mereka alergi melihat kami.” Jawab si Ibu datar.
“Maksudnya?”
“Ah, Bapak ini pura-pura bodoh. Apa sih yang didapat dari kami?”
Mukaku rasanya ditampar berkali-kali mendengar pernyataan ibu itu. Dengan ketulusannya ia telah menolongku tanpa memilih, berbeda dengan teman-teman seprofesiku. Ah, dengungan itu sepertinya melintas lagi di samping telingaku.
“Bapak istirahatlah dulu, badan bapak masih lemah belum kuat rasanya untuk berdiri. Ya, sambil sekali-kali merasakan tanah yang kena gusur lho Pak!” gurau ibu itu sambil pergi meninggalkan aku sendirian.
Keheningan sekeliling di tengah reruntuhan yang menjadi sampah ini makin menambah keindahan dan kenyataan yang akan mengajarkanku tentang cinta dan kejujuran. Di sini aku mulai dengan hal baru dan suara baru, di sini keindahan nestapa tak akan membohongi semua pertanyaan serta penglihatanku, kembali pada keadaan semula; alami.
Hei, tanpa sadar aku bergumam lantas gumaman itu membentuk dengungan panjang dari sebuah irama keseharian; nyata tanya.
Tiba-tiba di tengah tumpukan reruntuhan ini terdengar seseorang bersedih, aku pun tersedu, diri menangis mendengarnya. Maka ketika aku menangis pada seseorang, seseorang tersedu pada diri dan sang diri pada kenyataan, ketika itulah seorang diri aku tertawa pada profesiku dan kawan-kawanku yang penuh ketidak jujuran. ***
Bandung, Caladi 2026 (Lab Teater Ketjil Jakarta 1991)


