TERIMA KASIH

TERIMA KASIH

Malam itu hujan turun perlahan di halaman kampus. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya yang redup ke genangan air. Di sudut pos keamanan, seorang laki-laki berusia lima puluh empat tahun duduk sambil menyeruput kopi hitam yang mulai dingin. Namanya Mada Prawira. Mahasiswa magister hukum tingkat akhir. Usianya paling tua di angkatannya. Karena itu semua orang memanggilnya, Om Mada.

Di kampus, ia bukan tipe mahasiswa yang senang berdebat panjang tentang teori hukum sambil memamerkan istilah asing. Ia juga bukan orang yang suka membangun citra intelektual di media sosial. Sebagian besar waktunya justru dihabiskan bersama orang-orang yang sering tidak dianggap penting. Seperti penjaga kampus, petugas kebersihan, tukang parkir, penjual gorengan, penjaga warung kopi. Orang-orang yang setiap hari hadir menjaga kehidupan tetap berjalan, tetapi jarang disebut dalam pidato-pidato tentang kemajuan bangsa.

“Om Mada, kok betah sih nongkrong sama kami?” tanya Jajang, petugas kebersihan kampus.

Mada tersenyum. “Karena kalian tidak sibuk berpura-pura.” Jajang tertawa kecil. “Emangnya orang kampus banyak yang pura-pura?”

Mada memandang hujan. “Tidak semua. Tapi banyak yang lebih sibuk terlihat baik daripada menjadi baik.”

Kalimat itu membuat suasana hening beberapa saat. Hujan semakin rapat. Di kejauhan terdengar suara klakson kendaraan yang terburu-buru pulang. Mada menyukai percakapan sederhana seperti itu.

Bertahun-tahun hidup mengajarinya satu hal. Semakin tinggi seseorang mengejar status sosial, sering kali semakin jauh ia dari kejujuran. Sebaliknya, orang-orang yang hidup pas-pasan justru sering memiliki kemewahan yang tidak dimiliki banyak pejabat….. kemewahan hati.

Mereka saling membantu meskipun sama-sama kekurangan. Saling menguatkan meskipun sama-sama lelah. Mereka tidak memiliki banyak uang, tetapi masih memiliki rasa malu ketika berbuat curang. Dan di zaman yang semakin kehilangan nurani, rasa malu adalah kemewahan yang mahal.

Tidak banyak yang mengetahui perjalanan hidup Mada. Teman-temannya hanya mengenalnya sebagai mahasiswa senior yang sederhana. Padahal jauh di balik wajah tenangnya, tersimpan pencarian panjang yang berlangsung hampir dua puluh tahun.

Semua bermula ketika ia berusia tiga puluh enam tahun. Saat itu hidupnya tidak baik-baik saja. Pekerjaannya saat itu hanya sebagai pemusik panggilan, kadang dipanggil kadang tidak. Namun penghasilannya bisa menghidupi keluarga. Tetapi setiap malam ada pertanyaan yang datang seperti tamu yang tidak diundang.

Apa arti hidup? Mengapa manusia lahir? Mengapa semakin banyak orang sukses tetapi semakin sedikit yang bahagia? Dan yang paling mengganggunya adalah, bagaimana cara benar-benar dekat dengan Tuhan? Pertanyaan itu tidak pernah pergi.

Ia membaca banyak buku seperti filsafat, tasawuf, psikologi, teologi, hukum, sosiologi. Namun semakin banyak membaca, semakin ia menyadari betapa sedikit yang sebenarnya ia pahami.

Suatu malam, saat duduk sendirian di tepi sungai kecil dekat rumahnya, ia mendengar suara air yang mengalir. Bukan suara fisiknya, melainkan sesuatu yang terasa berbicara dari dalam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan bahwa alam bukan benda mati. Alam hidup, bernafas, mendengar, menyimpan pesan. Dan manusia terlalu berisik untuk mendengarnya.

Sejak saat itu hidupnya berubah. Ia mulai sering berjalan kaki sendiri. Mengamati pohon, langit, burung-burung yang riuh berkicau, serta mengamati lalu-lalang manusia. Dan perlahan ia menemukan sesuatu yang selama ini terlewatkan. Bahwa seluruh alam bekerja berdasarkan prinsip memberi.

Matahari memberi cahaya, pohon memberi oksigen, sungai memberi kehidupan, tanah memberi kesuburan, awan memberi hujan. Tidak ada yang meminta imbalan. Hanya manusia yang terus meminta. Meminta rezeki, meminta kesehatan, meminta keberhasilan, meminta keselamatan, meminta surga, dan banyak lagi berbagai permintaan.

Tetapi jarang bertanya, apa yang sudah aku berikan?

Suatu sore di kampus, Mada duduk bersama Pak Rahmat, penjaga keamanan yang hampir pensiun.

“Apa yang paling Om pelajari selama hidup?” tanya Pak Rahmat. Mada tersenyum dan menjawab “Kalimat terindah di dunia.” “Apa itu?” Pak Rahmat penasaran. “Terima kasih” jawab Mada dengan senyum.

Pak Rahmat tertawa. “Sesederhana itu?” “Justru karena sederhana, banyak yang gagal memahaminya”

“Bagaimana maksudnya?” tanya Pak Rahmat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Mada menarik napas panjang dan menjelaskan,

“Begini Pak Rahmat, menurut pemahaman saya, terima itu, saat kita menarik napas.” “Kasih itu, saat kita menghembuskannya.” Pak Rahmat terdiam.

“Setiap hari kita menerima udara, air, makanan, pertolongan, cinta, bahkan kesempatan hidup. Tetapi kita lupa memberi kembali, yaitu kasih.”

Mata Pak Rahmat terlihat mulai berkaca-kaca.

Mada kemudian melanjutkan, “Luangkan sedikit waktu kita, saat akan beristirahat malam hari dengan membisikan kata terima kasih kepada diri kita sendiri”

“Manusia selalu datang kepada Tuhan membawa daftar permintaan. Panjang sekali. Tetapi sangat sedikit yang datang membawa daftar pemberian.”

“Pemberian?” Pak Rahman berkata penasaran.

“Iya. Apa yang sudah kita berikan kepada sesama? Kepada bumi? Kepada semesta, kepada kehidupan?”

Hening, hanya terdengar suara angin.

“Kalau seluruh hidup hanya berisi meminta, bukankah itu bentuk egoisme paling halus?”

Mada kemudian melanjutkan, “Saya sering berpikir bahwa krisis terbesar bangsa ini bukanlah kemiskinan, bukan pula kebodohan. Melainkan hilangnya kesadaran untuk memberi. Politik dipenuhi orang yang ingin mengambil. Ekonomi dipenuhi orang yang ingin menguasai. Hukum dipenuhi orang yang ingin menang. Pendidikan dipenuhi orang yang ingin mendapatkan gelar.”

Memang, semua berlomba menerima, dan sedikit yang ingin memberi. Akibatnya, masyarakat berubah menjadi arena kompetisi tanpa belas kasih. Orang miskin dianggap gagal. Orang tua dianggap beban. Alam dianggap komoditas. Dan manusia dinilai berdasarkan harga, bukan martabat.

Dalam ruang seperti itu, hukum sering kehilangan rohnya. Pasal-pasal tetap ada. Pengadilan tetap berjalan. Putusan tetap dibacakan. Tetapi, keadilan terasa semakin jauh. Karena keadilan tidak lahir dari teks semata. Keadilan lahir dari hati yang mampu merasakan penderitaan orang lain. Tanpa empati, hukum hanya menjadi mesin administratif yang dingin. Tanpa kasih, kekuasaan berubah menjadi predator. Tanpa nurani, kemajuan hanyalah bentuk baru dari kehancuran.

Malam semakin larut, hujan berhenti, langit mulai bersih.

Mada berdiri dari kursinya. Ia berpamitan kepada para penjaga kampus.

“Pulang, Om?, besok ketemu lagi?” tanya Jajang.

Mada tersenyum.

“Kalau Tuhan masih mengizinkan bernapas.”

Mereka tertawa bersama.

Lalu Mada berjalan perlahan menuju parkiran. Di atas langit, bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Ia memandangnya lama. Sangat lama, seperti seseorang yang sedang membaca surat tua dari sahabat yang telah lama dikenalnya.

Dalam keheningan itu ia kembali memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun dicarinya, cara benar-benar dekat dengan Tuhan. Ia memahami bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Bukan soal gelar, jabatan, maupun penghormatan.

Hidup adalah tentang bagaimana keberadaan kita membuat dunia sedikit lebih ringan bagi orang lain. Sedikit lebih teduh. Sedikit lebih manusiawi.

Dan mungkin, pada akhirnya, Tuhan tidak bertanya seberapa banyak yang kita miliki. Melainkan seberapa banyak kasih yang kita tinggalkan.

Mada tersenyum, lalu menarik napas perlahan sambil berbisik “Terima.” Menghembuskannya kembali “Kasih.”

Dan malam itu, di bawah langit yang sunyi, seorang mahasiswa magister hukum berusia lima puluh empat tahun, akhirnya lebih memahami makna terdalam dari dua kata yang selama ini begitu sering diucapkan manusia, tetapi begitu jarang dipahami.

Terima kasih.

PANGGUNG
Baca Tulisan Lain

PANGGUNG

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *