MADU HUTAN, DAN MARTABAT MANUSIA YANG TAK PERNAH MENYERAH

MADU HUTAN DAN MARTABAT MANUSIA YANG TAK PERNAH MENYERAH

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, ketika berbagai indikator ekonomi diperdebatkan di ruang-ruang seminar dan kantor pemerintahan, ada wajah-wajah Indonesia yang nyaris tidak pernah masuk statistik kebijakan. Mereka hidup jauh dari pusat kekuasaan, tidak memiliki jabatan, tidak pula memiliki akses terhadap berbagai fasilitas yang dianggap sebagai simbol kemajuan. Namun justru di tangan merekalah kehidupan berjalan dengan jujur dan apa adanya.

Salah satu di antaranya adalah Muhammad Irpan, seorang warga Desa Cidadap, Kabupaten Sukabumi. Saya berkesempatan berbincang dengannya dalam sebuah percakapan sederhana. Tidak ada bahasa akademik dalam dialog itu. Tidak ada teori ekonomi atau konsep pembangunan yang rumit. Hanya cerita tentang kehidupan yang dijalani dari hari ke hari, tentang bagaimana seorang suami dan ayah mempertahankan martabat keluarganya di tengah keadaan yang serba terbatas.

Irpan bekerja sebagai pengambil madu hutan. Sebuah pekerjaan yang terdengar romantis bagi sebagian orang kota yang terbiasa melihat madu tersusun rapi di etalase supermarket. Namun di balik sebotol madu yang terlihat sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang, risiko, dan ketidakpastian yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.

Setiap pagi, sekitar pukul tujuh hingga delapan, ia terlebih dahulu bekerja sebagai buruh penyadap karet. Dalam bahasa masyarakat setempat disebut “ngeret” pohon karet. Setelah itu, jika ada informasi atau perkiraan keberadaan sarang lebah, ia melanjutkan perjalanan ke kawasan hutan untuk mencari madu liar.

Namun hutan tidak pernah memberikan kepastian. Kadang ada madu, kadang tidak ada sama sekali. Ketika keberuntungan tidak berpihak, Irpan kembali ke kebun kecilnya yang sederhana, bekerja hingga sore hari. Tidak ada kemewahan dalam pilihan hidupnya. Yang ada hanyalah kesediaan untuk terus bergerak meskipun hasil yang diperoleh belum tentu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Dalam empat hari bekerja, ia bisa mengumpulkan sekitar 25 kilogram getah karet. Jika harga sedang baik, hasil tersebut dibeli sekitar Rp13.000 per kilogram. Menurut pengakuannya, selama enam belas hari bekerja ia memperoleh sekitar Rp1.100.000. Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin habis dalam satu kali makan malam di restoran, tetapi bagi Irpan menjadi penyangga kehidupan keluarganya.

Dari madu hutan yang berhasil diperoleh, ia menjualnya sekitar Rp150.000 per botol ukuran 500 gram. Namun sekali lagi, madu bukan komoditas yang selalu tersedia. Alam memiliki hukum dan ritmenya sendiri. Tidak setiap hari lebah menghasilkan madu. Tidak setiap musim memberikan hasil yang sama. Di sinilah kita sering lupa memahami arti sesungguhnya dari kerja.

Dalam masyarakat modern, nilai seseorang sering diukur dari besar kecilnya penghasilan. Mereka yang bekerja di kantor berpendingin ruangan dianggap lebih berhasil dibanding mereka yang bergelut dengan lumpur, pohon, dan hutan. Padahal jika ditinjau dari sudut pandang etika sosial, kerja bukan hanya soal pendapatan, melainkan soal keberanian memikul tanggung jawab terhadap kehidupan.

Irpan memiliki seorang istri dan dua orang anak. Anak pertamanya berusia lima tahun, sedangkan yang bungsu baru berusia dua bulan. Kehidupan mereka jauh dari kata berkecukupan. Bahkan menurut ukuran ekonomi modern, bisa dikatakan hidup mereka masih berada dalam kondisi serba pas-pasan, tanpa kemewahan, tanpa jaminan, kepastian, namun ia tetap melangkah.

Baginya, menabung adalah kemewahan yang sulit dijangkau. Ketika anak sakit, seluruh perencanaan keuangan bisa berubah dalam hitungan jam. Ketika harga getah karet turun, penghasilan ikut menyusut. Ketika musim madu tidak baik, pendapatan tambahan menghilang begitu saja.

Namun ada sesuatu yang menarik dari cara Irpan memandang kehidupannya. Ia tidak pernah mengeluh. Setidaknya bukan dalam pengertian menyerah pada keadaan. Ia memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tetapi ia juga memahami bahwa manusia tidak boleh berhenti berusaha.

Bukan karena hidupnya mudah. Bukan pula karena ia tidak memiliki kesedihan. Tetapi karena ia memahami bahwa mengeluh tidak akan membuat sarang lebah bertambah, tidak akan membuat harga karet naik, dan tidak akan langsung mengubah keadaan keluarganya. Ia memilih berusaha. Di sela-sela pekerjaannya, ia bahkan sedang belajar memasang kaca film mobil. Sebuah keterampilan baru yang menurutnya mungkin bisa menjadi sumber penghasilan tambahan di masa depan.

Sikap seperti ini sering luput dari perhatian kita. Kita hidup dalam budaya yang terlalu sering mengagungkan kesuksesan besar, tetapi kurang menghargai keteguhan-keteguhan kecil yang sesungguhnya menopang kehidupan bangsa. Padahal karakter seperti yang dimiliki Irpan merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Dalam perspektif psikologi sosial, manusia yang tangguh bukanlah manusia yang tidak pernah mengalami kesulitan. Manusia tangguh adalah mereka yang mampu menjaga harapan ketika keadaan tidak memberikan banyak alasan untuk berharap. Di sinilah saya teringat pada filosofi Sunda tentang Bogalakon. Bogalakon bukan sekadar pemeran utama dalam sebuah cerita. Bogalakon adalah seseorang yang bersedia menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, meskipun panggung kehidupannya kecil dan penontonnya nyaris tidak ada.

Muhammad Irpan adalah Bogalakon dalam kehidupannya sendiri. Ia tidak tampil di televisi. Tidak menerima penghargaan. Tidak memiliki jabatan. Namun setiap pagi ia bangun, bekerja, mencari madu, menyadap karet, belajar keterampilan baru, dan pulang membawa harapan bagi keluarganya.

Mungkin peradaban modern terlalu sibuk mencari tokoh-tokoh besar hingga lupa bahwa bangsa ini sebenarnya berdiri di atas bahu orang-orang seperti Irpan. Mereka yang bekerja tanpa sorotan, berjuang tanpa tepuk tangan, dan tetap menjaga tanggung jawab ketika hidup sedang tidak mudah. Dan boleh jadi, ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa tinggi ia berdiri di hadapan orang lain, melainkan pada seberapa teguh ia tetap berdiri ketika kehidupan berusaha menjatuhkannya (jbp 04/06/2026).

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *