Menjelang sore, turun dari kereta, laju berjalan menyisir perkampungan warga setempat. Cukup lumayan menguras keringat, maklum tak pernah olahraga, hanya gemar jalan-jalan saja. Singkatnya, sampailah di alun-alun Cibatu, bagi saya alun-alun itu seperti ruang-ruang imaji perpustakaan yang belum selesai dibaca. Bagaimana tidak: ruang publik itu tidak ramai, tetapi juga tidak benar-benar sepi. Beberapa motor lewat perlahan. Anak-anak berlari kecil sambil membawa jajanan dari warung dekat pertigaan. Di kejauhan, suara kereta sesekali melintas seperti mengingatkan bahwa dunia di luar sana bergerak jauh lebih cepat daripada atmosfer ruang hidup ini.
Tegasnya, tepat di depan alun-alun itulah Ratna Ayu Budhiarti tinggal. Rumahnya cukup besar dengan halaman belakang yang ada kolam ikan dan kebunnya. Akan tetapi tidak pula tampak mencolok seperti rumah seorang penulis yang telah berkeliling ke berbagai forum sastra internasional, menulis naskah musikal untuk panggung besar, atau menghadiri pertemuan sastra lintas negara. Bagaimana tidak, sore itu Ratna tengah bikin adonan donat labu kuning untuk beberapa pesanan. Dari luar, rumah itu tampak teduh dan biasa saja. Tetapi begitu masuk ke dalamnya, kita seperti memasuki ruang yang dipenuhi jejak panjang kata-kata: ID Card Holder, buku-buku, map naskah, kertas-kertas catatan, dan boleh jadi masih ada banyak ingatan yang belum selesai disimpan dalam anak batinnya.

Seperti biasanya, Ratna menyambut dengan notasi suara yang bisa dikata pelan. Ya, cara bicaranya tenang, seperti seseorang yang terlalu lama hidup bersama puisi hingga tahu bahwa tidak semua hal perlu diucapkan keras-keras. Di ruang tamunya, waktu terasa bergerak lambat sambil menunggu Ratna menyelesaikan pesanan. Ya, sambil menunggu, ditemani sebatang kretek dan kopi buatannya, terkenang akan dirinya yang begitu tegas kala bertindak sebagai juri penulisan. Tegas dan keras, seperti tendangan Taekwondo-nya, sesuai dengan sabuk hitam yang disandangnya.
Sebagaimana layaknya menunggu, pandangan mata tak betah diam begitu saja; Dari jendela rumah, alun-alun Cibatu terlihat jelas. Orang-orang berlalu tanpa tergesa. Sesekali terdengar suara pedagang atau anak-anak yang bermain. Cibatu memang bukan tempat yang sibuk mengejar dirinya sendiri. Mungkin justru karena itu Ratna memilih tetap tinggal di sana. Bisa jadi bahwa di kota kecil inilah yang memberi Ratna kesempatan dalam mendengar dirinya sendiri lebih utuh. Detik watu terus bergulir, layak Izrail yang merayap di rambut umur:
“Sorry, lama nunggu nih. Apa kabarnya?” setelah melewati rangkaian maksud dan tujuan berkunjung ke rumahnya, tak banyak kata, Ratna langsung memberikan keterangan yang bisa dikata sangat puitis dalam alur perjalanan hidupnya selama ini: “Saya mulai menulis puisi waktu kelas enam SD,” katanya. Tahun 1992. Puisi pertamanya berjudul Bulan Ramadhan. Tidak lama sesudahnya, puisi kedua berjudul Allah dimuat di koran Mingguan Pelajar. Ratna kecil rupanya sudah akrab dengan kata-kata sebelum benar-benar tahu sejauh apa kata-kata akan membawanya berjalan.
Sambil menikmati hidangan labu kuning yang dibuatnya dengan rasa yang pas di lidah, Ratna memperlihatkan sebuah buku tulis lama. Sampulnya mulai lapuk. Beberapa halaman tampak kusut karena pernah terkena air dalam sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan pada tahun 2009. Di buku itulah ia menyalin puisi-puisinya yang sempat tercecer di banyak kertas. Ada sesuatu yang mengharukan ketika melihat seorang penulis masih menyimpan buku masa kecilnya. “Kadang saya lihat lagi,” katanya sambil tersenyum kecil.
Ratna pun bercerita cukup tenang meski gairahnya nampak berapi-api kala menuturkan prihal sebuah puisi panjang yang berjudul Tahajud, yang dimuat ketika usianya lima belas tahun. Redaktur koran memotong sebagian puisi ke-121 miliknya itu tanpa banyak kompromi. Saat itu Ratna kesal. Namun belakangan, peristiwa itu justru mengajarinya tentang pentingnya siasat memilih diksi yang efektif: bagaimana puisi pendek yang padat tetap bisa sampai pesannya dan tinggal di kepala orang lain. Barangkali begitulah sastra bekerja kepada seseorang. Pelan-pelan. Kadang lewat luka kecil yang tampak sepele.
Dari arah pintu yang terbuka, angin bergerak memasuki area ruang tamu. Boleh jadi angin waktu itu sebelumnya sudah melewati pepohonan yang berjejer sembarang di area alun-alun. Percakapan bergeser ke beranda, agar saya bisa tetap menikmati kretek. Seorang anak kecil melintas sambil menggiring bola plastik yang nyaris kempis menuju area alun-alun. Pandangan Ratna mengamatinya, seperti tengah merekamnya dalam jejak empirik di sore itu, lalu kembali bercerita tentang masa lalu yang tampaknya masih ia simpan dengan baik.
Tak jauh dari praduga, anak kecil yang menggiring bola plastik itu menjadi titik montase yang menghantarkan akan kisah Ratna di masa kecilnya: Dulu ia pernah ingin menjadi dokter. Bahkan ia sempat menulis puisi tentang cita-cita itu ketika masih kecil, sebuah mimpi yang sangat lazim di masa itu, tapi garis hidup membawanya ke jalan lain. Ruang imaji dalam serakan kata-kata diam-diam memilihnya. Hasilnya? “Kau sendiri tahu saya jadi apa kini, Dom” selorohnya. Alur kenangan memang indah untuk dijabarkan, penanda jujur dalam perjalanan hidup. Tegasnya, Ratna banyak menyebut ayahnya dalam percakapan di itu sore. Tentang kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak kecil. Tentang bagaimana, di tengah keterbatasan masa lalu, sang Papa terus mendorong anak gadisnya agar banyak membaca dan akrab dengan buku. “Mungkin dari situ semuanya mulai,” katanya. Ya, sesuatu yang besar memang sering lahir dari hal-hal sederhana yang dipelihara sangat lama.

Lenggang angin-lenggang waktu: jalan-jalan kian lebar terbuka dalam jejak biru di alur kenangan yang terpatri. Bahan bakar kreatif itu membawanya memasuki usia 20 tahun dan mulai menempa diri di Sanggar Sastra Tasik (SST). Di sanalah antologi bersama pertamanya, Orasi Kue Serabi (2001), lahir ke dunia atas inisiatif SST. Setelah itu, hidup Ratna berjalan bersama banyak hal yang ganjil sekaligus mengagumkan. Sastra yang lembut, bertubrukan dengan ketegasan olah tubuh. Bayangkan saja. Di masa kuliahnya di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi—semasih aktif di Senat Mahasiswa, menjadi nominator Mahasiswa Berprestasi, dan menerima beasiswa PT Djarum. Bukan hanya itu, Ratna pun seorang atlet Taekwondo yang tangguh. Sebagaimana yang sudah dibahas di atas, bukan main-main, Ratna pemegang sabuk hitam (DAN I) dari Pengda Jabar tahun 2001, sempat menyabet Juara I PORKAB Prestasi Garut tahun 2000, hingga menembus arena Kejurnas.
Sebagaimana angin waktu yang menyimpan-kitabkan ribuan rahasia dalam alur perjalanan, kini, disiplin fisik itu melunak di atas matras yoga. Usai mengantongi sertifikasi Yoga Teacher Training 200 jam, sejak tahun 2023 Ratna dipercaya menakhodai Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia (PPYNI) di Kabupaten Garut. Menulis dan bergerak, bagi Ratna, adalah ritme yang sama: pencarian keseimbangan. Prinsip itu pulalah yang membuatnya konsisten melahirkan sembilan buku tunggal. Semuanya datang seperti musim yang berganti diam-diam. Ada Dusta Cinta (2008), Surat Menjelang Lepas Lajang (2011), The Untold Stories Cerita Kita (2012), Dada yang Terbelah (2013), Bintang di Alir Hujan (2014), Magma (2017), Sebelas Hari Istimewa (2019), hingga Mitos Secangkir Kopi (2023). Bahkan, kumpulan cerpennya yang bertajuk Perempuan yang Berhenti Membaca (2020) sukses dinobatkan sebagai Buku Prosa Terbaik Langgam Pustaka dua tahun setelah terbit.
Lamat-lamat, sayap kreatifnya terbang tinggi. Karyanya kini tidak lagi hanya dibaca di sudut Jawa Barat, melainkan telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Rusia, dan Korea, serta tersebar di hampir 80 antologi bersama lintas negara—termasuk proyek interaktif Kota Kita Nanti (2021) besutan Goethe Institut. Atas konsistensi inilah, majalah Good Housekeeping Indonesia menganugerahinya “Wanita dan Budaya Award” pada 2013. Saat penghargaan itu disebut, Ratna hanya tersenyum kecil. Baginya, itu cuma persinggahan singkat dalam perjalanan yang masih jauh. Belakangan, langkahnya merambah teater dan film. Seni pertunjukan memberinya ruang baru. Ia menulis naskah musikal Inggit Garnasih bertajuk “Tegak Setelah Ombak” (Titimangsa Foundation) yang dibawakan dengan magis oleh Happy Salma di Ciputra Artpreneur pada 2022. Sosok Inggit tampaknya lekat dalam batinnya, hingga ia kembali menulis bagian sang tokoh dalam Soekarno Series garapan Suarahgaloka (2021).
Sementara jejak naskah lainnya bertebaran di mana-mana: naskah anak “Mimpi Api-api” untuk Festival Gulali, naskah teater lingkungan Para Peri Penjaga di Bali Jani Festival (2022), hingga naskah monolog Cingcowong untuk FLS2N tingkat SMA. Bahkan, panggung internasional sempat menguji ketajamannya lewat naskah monolog “Our Last Dinner was Sayur Lodeh” yang bergema di La Mama Theatre, Australia (2023). Dari panggung, Ratna melompat lagi ke balik layar sinema; dimulai dari model video klip (2008), menulis naskah film pendek Mangsa Hujan Ngepris (2023) sekaligus duduk di kursi produser untuk film Rekuiem (2024). Singkatnya, selama bertahun-tahun, namanya kerap wira-wiri di berbagai festival besar—mulai dari Ubud Writers and Readers Festival (2012), Festival Penyair Internasional Indonesia, Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, hingga menjadi pemakalah di Pertemuan Penyair Nusantara XII di Kuala Lumpur. Namun, Cibatu tetap menjadi tempatnya untuk selalu pulang.
Di rumah depan alun-alun inilah Ratna mengelola kesibukannya yang berlapis-lapis sebagai penulis lepas, penyunting buku, kurator, dan pengajar kelas menulis kreatif luring maupun daring. Ruang gerak organisasinya pun meluas; setelah lama berkegiatan di SST Kota Tasikmalaya, MSB Bandung, dan Hisdraga, Ratna kini mendedikasikan energinya di Penyair Perempuan Indonesia (PPI), Asian Women Writers Association (AWWA), Komite Sastra Dewan Kesenian Garut, serta Forum Film Bandung (FFB). Kepekaan literasinya juga terus diuji di tingkat nasional, kala Ratna dipercaya menjadi juri cipta cerpen, naskah monolog, dan dongeng untuk ajang FLS2N serta FLS3N dari tingkat kabupaten hingga nasional.
Bahkan ketika kalender sudah bergulir di tahun 2026 ini, langkahnya tidak melambat. Di paruh awal tahun ini saja, Ratna baru mendarat dari Bali usai menjadi narasumber workshop literasi guru PAUD di Badung serta Komunitas Mahima di Singaraja. Di saat bersamaan, Ratna harus membagi waktu ke Jakarta untuk menuntaskan tanggung jawabnya sebagai dosen tamu mata kuliah Teater Boneka Anak di Universitas Trilogi. Namun, di tengah tumpukan pencapaian—termasuk predikat Penulis Nasional Wanita Inspiratif Kabupaten Garut yang diterimanya pada April 2025 lalu—Ratna tetap menjaga kepalanya tetap merunduk. Ada semacam kerendahan hati yang pekat saat ia berbicara tentang masa depannya. “Kadang saya merasa belum apa-apa,” katanya pelan. Barangkali memang begitulah nasib seorang penulis. Semakin jauh berjalan, semakin sadar bahwa dunia kata-kata tidak pernah benar-benar selesai dijelajahi. Cita-cita yang dulunya ingin jadi dokter, kini berbelok menjadi keinginan mendalam untuk menularkan kegemaran membaca dan menulis kepada mereka yang masih memandang sebelah mata betapa pentingnya melek literasi.

Menjelang ambang senja, cahaya mulai jatuh miring ke beranda rumahnya, seiring alun-alun Cibatu perlahan ramai oleh anak-anak dan pedagang kecil. Angin yang bertiup setengah hati, pandangan Ratna fokus ke cakrawala beberapa detik sebelum kembali menunduk pada tumpukan kertas di dekatnya. Sebelum langkah kaki ini menjauh dari rumahnya, Ratna menitipkan sebuah kalimat yang terdengar seperti sebuah permenungan yang dalam: “Hari ini, saya dikelilingi banyak orang baik dengan visi yang sama, bahkan lebih besar ambisiusnya. Semoga semua berbahagia. Apa pun keadaannya.”
Diam-diam, saya membayangkan seorang anak perempuan kecil pada tahun 1992, yang tengah duduk diam menulis puisi tentang Bulan Ramadan tanpa pernah tahu bahwa puluhan tahun kemudian, kata-kata akan membawanya berjalan begitu jauh. Dan barangkali, sampai hari ini, perjalanan itu masih terus berlangsung.
Puisi itu ditulisnya di kediamannya, persis di depan alun-alun Cibatu Garut—bukti konkret bahwa didikan sang ayah begitu berhasil untuk menyuruhnya membaca dan menulis sejak dini. Pelan-pelan, seperti rambat waktu di ini hari yang turun dengan banyak narasi, untuk dikitabkan dalam anak batinnya, sebagaimana puisi itu ditulis begitu renyah dan empuk, seperti donat labu kuning buatannya, jernih dan gurih rasanya. []










One thought on “Jalan Panjang Ratna Ayu Budhiarti dalam Menanam Benih Literasi”