Dalam perjalanan sejarah kebudayaan Sunda Nusantara, alat musik tradisional tidak pernah benar-benar terpisah dari perubahan sosial, ekonomi, dan situasi zaman. Salah satu contoh yang begitu menarik terlihat pada penggunaan dawai alat musik gesek seperti tarawangsa atau ngek-ngek, serta alat petik dan seperti kacapi atau jentreng.
Pada masa tertentu, terutama sekitar situasi krisis ekonomi dan dampak Perang Dunia Kedua, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh bahan-bahan ideal untuk kebutuhan alat musik. Dan dalam situasi kondisi serba terbatas itu, maka para seniman dan pengrajin lokal menunjukkan “kabinangkitan atawa kamotekaran” atau aktivitas kreativitas serta daya adaptasi yang luar biasa.
Dawai alat musik yang sebelumnya menggunakan; serat alam, kawat logam tertentu, atau bahan tradisional lain, akhirnya banyak diganti menggunakan kawat kabel rem vespa dan kabel sejenis. Pilihan itu bukanlah hanya sekadar kebetulan. Kabel rem kendaraan memiliki karakter yang dianggap cocok: cukup kuat menahan tegangan, lentur, tahan lama, dan mampu menghasilkan getaran suara yang stabil.
Bagi para pemain tarawangsa maupun pemetik kacapi, yang terpenting bukanlah hanya semata kemewahan material, melainkan kemampuan dawai menghasilkan rasa bunyi (rasa sora) yang hidup dan mampu menyentuh batin. Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat Sunda memiliki tradisi teknologi rakyat yang adaptif. Karena mereka mampu; dalam membaca sifat material, juga mengolah benda industri menjadi alat budaya, serta mempertahankan tradisi musik di tengah keterbatasan zaman.
Hal tersebut juga membantah anggapan sederhana bahwa alat musik tradisional selalu statis dan “murni” tanpa perubahan. Faktanya, kebudayaan hidup justru bergerak mengikuti keadaan sosial masyarakatnya. Dalam konteks Ngek-ngek atau Tarawangsa, dan kacapi atau jentreng, pergantian dawai menjadi kawat kabel rem vespa menunjukkan bahwa; kecerdasan praktis masyarakat, kreativitas teknologis, serta kemampuan mempertahankan kesenian tradisi di tengah krisis material.
Tradisi Sunda lama memang sering bekerja dengan prinsip: “Yang utama itu bukan dari kemewahan bahan, melainkan apakah benda itu bisa menghadirkan jiwa bunyi.” Karena itu, kabel rem vespa yang lahir dari teknologi industri modern pun dapat berubah fungsi menjadi medium seni tradisional ketika berada di tangan masyarakat kreatif Nusantara.
Fenomena seperti ini memperlihatkan bahwa kebudayaan Sunda bukan sekedar kebudayaan yang beku, melainkan kebudayaan yang lentur, adaptif, dan mampu berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar rasa dan spiritualitasnya.
Sekian Terimakasih
Bandung, 27.Mei.2026









