Dialog Makhluk Pohon Beringin dengan Seorang Resi yang Penuh Cinta Tak Terbatas di Gunung Manglayang(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Di puncak Gunung Manglayang,
ketika embun masih bersujud
di ujung ilalang,
dan kabut memeluk hutan seperti doa yang tak bersuara,
seorang Resi duduk bersila.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Tak ada istana.
Tak ada singgasana.
Hanya batu, tanah, angin,
serta mata air yang mengalir jernih
membawa rahasia Sang Pencipta.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Di hadapannya berdiri
sebatang beringin tua.
Akarnya memeluk bumi,
rantingnya merangkul langit.
Lalu terdengar suara.
Bukan suara manusia.
Melainkan suara kehidupan.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Pohon Beringin:(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Wahai Resi…
Aku telah menyaksikan zaman berganti.
Kerajaan lahir lalu lenyap.
Penguasa datang membawa janji,
namun pulang meninggalkan luka.
Mengapa manusia begitu ingin menguasai dunia,
padahal tubuhnya sendiri hanyalah tamu di bumi?”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Resi tersenyum lembut.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Wahai Beringin…
Karena mereka mengenal harga,
tetapi lupa pada nilai.
Mereka menghitung emas,
tetapi tak lagi mampu menghitung air mata.
Mereka membangun istana,
namun merobohkan rumah bagi burung,
mengeringkan mata air,
dan melupakan doa anak-anak yang belum lahir.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Angin gunung berembus.
Daun-daun bergesekan.
Seperti para karuhun yang sedang berbisik.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Pohon Beringin:(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Aku tak pernah memilih.
Musafir, petani, pemburu, pendeta,
semuanya kuteduhi.
Mengapa manusia membelah sesamanya
dengan kekuasaan?”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Resi menjawab:(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Karena mereka lupa ajaran leluhur.
Silih Asih
mengajarkan mencintai tanpa menguasai.
Silih Asah
mengajarkan mencerahkan tanpa merendahkan.
Silih Asuh
mengajarkan membimbing tanpa menindas.
Di situlah letak kebesaran manusia.
Bukan pada banyaknya pengikut,
tetapi pada luasnya kasih.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Mata air di kaki gunung
terus mengalir.
Tak pernah meminum dirinya sendiri.
Ia selalu memberi.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Resi menunjuk aliran itu.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Lihatlah mata air.
Ia tidak berpidato tentang kebaikan.
Ia hanya mengalir.
Begitulah kebijaksanaan.
Ia lebih banyak memberi
daripada dipuji.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Tak jauh dari tempat itu,
sebilah kujang pusaka
tertanam di antara batu.
Berkarat oleh hujan,
namun tetap memancarkan wibawa.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Pohon Beringin bertanya:(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Mengapa kujang itu tak lagi diangkat?”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Resi menjawab;(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Karena kujang sejati
bukan untuk melukai tubuh.
Ia ditempa untuk menebas keserakahan,
kesombongan,
dan hawa nafsu yang bersemayam di dalam diri.
Musuh terbesar manusia
bukanlah sesamanya.
Melainkan dirinya sendiri
ketika kehilangan nurani.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Langit mulai memerah.
Gunung-gunung berdiri seperti para resi tua
yang tak pernah selesai berdoa.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Burung-burung kembali ke sarang.
Kabut pun turun perlahan.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Pohon Beringin berkata lirih:(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Apakah dunia masih memiliki harapan?”
Resi menengadah.
Matanya memantulkan cahaya senja.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Selama masih ada seorang ibu
yang mengajarkan kasih,
seorang ayah
yang menanamkan kejujuran,
seorang guru
yang mendidik dengan keteladanan,
seorang pemimpin
yang lebih senang mendengar daripada dipuji,
dan seorang anak
yang masih mau mencintai pohon, sungai, gunung, serta sesamanya,
maka harapan tak akan pernah mati.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Beringin menggugurkan sehelai daun.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Daun itu jatuh di telapak tangan Resi.
Resi menutup matanya.
Lalu berbisik,(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Wahai manusia…
Belajarlah kepada gunung.
Ia tinggi,
namun tidak menyombongkan dirinya.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Belajarlah kepada mata air.
Ia rendah,
namun menjadi sumber kehidupan.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Belajarlah kepada beringin.
Ia kokoh,
karena akarnya memeluk bumi.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Dan belajarlah kepada kujang.
Ketajamannya bukan untuk menyakiti,
melainkan untuk memotong segala keserakahan yang tumbuh di dalam hati.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Sebab peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang haus kuasa,
melainkan oleh mereka yang hidup dalam silih asih, silih asah, dan silih asuh.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Di sanalah kebijaksanaan tumbuh.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Di sanalah manusia menemukan jalan pulang kepada kemanusiaannya.(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Dan di sanalah kasih tak terbatas menjadi cahaya yang menjaga bumi, dari Gunung Manglayang hingga ke seluruh penjuru Nusantara.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Dalam bayang-bayang rasa jiwa yang terus membayang:(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
“Gunung Manglayang bukan sekadar latar, melainkan sebagai ruang spiritual tempat alam, manusia, dan kebijaksanaan berdialog.
Simbol beringin, mata air, kujang, serta falsafah silih asih, silih asah, silih asuh menjadi jalinan makna yang menegaskan bahwa kekuasaan tanpa kasih akan melahirkan kerusakan, sedangkan kebijaksanaan yang berakar pada cinta akan melahirkan peradaban.”(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)
Bandung, 01.Juli.2026(Source: kosapoin.com/tentang-kebijaksanaan-manusia-vs-keserakahan-penguasa-duniawi)









