SALAM BOGALAKON

salam bogalakon

Ketika Salam Menjadi Pengingat tentang Manusia, Keadilan, dan Nurani

Kita hidup di zaman yang aneh, di mana simbol semakin banyak digunakan, tetapi semakin sedikit dipahami. Orang mengenakan lambang tanpa mengetahui maknanya. Salam dipraktikkan hanya sebagai formalitas sosial, bukan sebagai kesadaran filosofis. Padahal dalam sejarah peradaban manusia, simbol selalu lahir dari pergulatan nilai. Ia bukan sekadar gerakan tubuh, melainkan bahasa kebudayaan yang menyimpan cara manusia memahami dirinya sendiri.

Di tengah masyarakat modern yang semakin gaduh oleh pencitraan, ada sesuatu yang menarik dari filosofi salam Bogalakon. Sebuah gerakan tangan menyerupai pistol yang ditempelkan di dada. Sekilas sederhana. Bahkan mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja. Namun justru dalam kesederhanaannya, tersimpan refleksi mendalam tentang manusia, hukum, dan keadilan.

Jempol yang mengarah kepada diri sendiri mengandung makna yang sangat penting, bahwa manusia harus terlebih dahulu sadar terhadap dirinya sendiri. Dalam tradisi filsafat Timur maupun Barat, kesadaran diri selalu menjadi fondasi moralitas. Socrates pernah mengatakan, “Know thyself, kenalilah dirimu sendiri. Dalam tradisi Sunda, kesadaran itu hidup dalam bentuk yang lebih membumi, di mana manusia harus memahami peran dan tanggung jawab hidupnya sebagai ciptaan Tuhan.

Ironisnya, masyarakat modern justru sibuk menunjuk kesalahan orang lain sebelum bercermin terhadap dirinya sendiri. Media sosial dipenuhi manusia yang gemar menghakimi, tetapi miskin refleksi diri. Orang begitu mudah menjadi hakim moral bagi kehidupan orang lain, seolah dirinya paling benar dan paling suci. Padahal kerusakan sosial sering lahir bukan karena kurangnya hukum, melainkan karena hilangnya kesadaran batin.

Di titik inilah jempol dalam salam Bogalakon menjadi kritik yang sangat elegan terhadap peradaban kita hari ini. Bahwa sebelum menilai dunia, manusia harus lebih dahulu menilai dirinya sendiri.

Sementara itu, jari telunjuk dan tengah, yang membentuk laras pistol mengandung simbol dualisme manusia. Dalam psikologi sosial, manusia memang tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih. Dalam dirinya selalu ada pertarungan antara ego dan nurani, antara amarah dan kasih sayang, antara kekuasaan dan kemanusiaan. Dua jari itu melambangkan keseimbangan. Sebab manusia yang kehilangan keseimbangan batin akan mudah berubah menjadi ancaman bagi sesamanya.

Kita bisa melihatnya dalam realitas hukum dan politik hari ini. Banyak orang memiliki kecerdasan, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan. Banyak aparat memahami aturan, tetapi kehilangan empati. Akibatnya hukum sering berubah menjadi alat kekuasaan, bukan instrumen keadilan. Padahal menurut prof. J.E. Sahetapy, hukum tanpa nurani hanyalah teks dingin yang kehilangan makna kemanusiaannya.

Salam Bogalakon justru mengajarkan hal sebaliknya. Laras itu bukan diarahkan untuk melukai manusia lain, melainkan untuk “menembakkan” peluru semangat dan peluru kasih. Sebuah metafora yang sangat kuat dalam konteks kehidupan sosial. Sebab sesungguhnya manusia hidup bukan hanya dari aturan, tetapi dari energi moral yang saling menghidupkan.

Hari ini masyarakat terlalu sering menembakkan peluru kebencian, fitnah, penghinaan, kebohongan, dan kekerasan verbal yang diproduksi setiap detik di ruang digital. Orang merasa bebas menyerang sesamanya tanpa memahami luka psikologis yang ditimbulkan. Peradaban tidak hanya menjadi bising, namun juga kehilangan kedalaman etika.

Di tengah kondisi seperti itu, filosofi Bogalakon menghadirkan kritik sosial yang halus namun tajam, bahwa manusia seharusnya menjadi sumber inspirasi, bukan sumber ketakutan.

Peluru semangat yang dimaksud bukanlah romantisme kosong. Itu merupakan kemampuan manusia untuk menghadirkan harapan di tengah kehidupan yang semakin keras dan individualistik. Sedangkan peluru kasih adalah kesadaran bahwa relasi sosial tidak bisa dibangun hanya dengan kompetisi dan ambisi, tetapi juga dengan empati.

Dalam perspektif hukum, hal ini sangat penting. Sebab keadilan sejati tidak lahir hanya dari prosedur, melainkan dari keseimbangan antara aturan dan rasa kemanusiaan. Hukum yang kehilangan kasih sayang akan berubah menjadi kekerasan yang dilegalkan. Sebaliknya, kasih yang tidak bijak juga bisa melahirkan ketidakadilan.

Maka salam Bogalakon sesungguhnya berbicara tentang titik temu antara manusia, moralitas, dan keadilan. Bahwa manusia adalah makhluk yang diberi peran untuk menjaga keseimbangan hidup. Ia memiliki pilihan, apakah akan menjadi sumber kerusakan atau sumber kesadaran bagi lingkungannya. Hal itulah yang hilang dari masyarakat modern hari ini.

Kita terlalu sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun karakter. Terlalu cepat bereaksi, tetapi lambat merenung. Terlalu keras menuntut keadilan bagi diri sendiri, tetapi sering abai terhadap keadilan bagi orang lain. Padahal dunia tidak selalu membutuhkan manusia yang paling kuat. Dunia hanya membutuhkan manusia yang masih memiliki nurani.

Dan salam Bogalakon, dalam kesederhanaan simbolnya, sedang mengingatkan hal itu kepada kita, bahwa tugas terbesar manusia bukan sekadar hidup, melainkan menjalankan perannya dengan kesadaran, keseimbangan, dan kasih yang tetap menyala di tengah dunia yang semakin kehilangan arah. (jbp 25/05/2026)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *