BAGAIMANA RADIKALITAS PERKEMBANGAN SENI KARAWITAN DI JAWA BARAT?

karawitan ayah dody

Di bawah ini adalah buah pertanyaan yang penting dari Seorang Dosen ISI Padang Panjang, yaitu: Tatang Macan RM, pernyataannya adalah: “Kalau tadi berdiskusi menyoal Teater yg Nota Bebe dibeberapa Kampus Seni kurang produktif dan bahkan tidak ada Mahasiswanya. Sekarang bagaimana Radikalitas Perkembangan Karawitan. Pedalangan setelah beberapa dari Tujuh Turunan Abah Sunarya yg produktif dan Memberi kontribusi besar dunia Pedalangan. Di tingkat Dunia. Justru kini Pedalangan Mati. Prodi Pedalangan di Lebur. Mana kehebatan Karawitan Sunda itu yang katanya Luhung… Ko hari ini justru kehilangan produktifitas…”

Pernyataan dari Tatang Macan RM ini menantang untuk berdialog. Dan di sini lah yang menarik untuk dijelaskan dibicarakan dalam bentuk tulisan. Dalam pernyataan berupa pertanyaan bentuk tulisan ini, adalah mengapa Dunia seni Karawitan dan seni Padalangan di saat sekarang semakin hilang…?

Tokoh Karawitan itu ada 2 Tokoh Kreator yang dalam dunia edukasi pendidikan seni bunyi yang menjadi sarana belajar mengajar dan praktik “Elmuning Seni Laras dalam Serat Kanayagan Seni Karawitan” yang Tokoh nya adalah: Pertama, R.Machjar Angga Koesoemadinata, dia lah yang menciptakan metoda notasi “serat kanayagan DaMiNaTiLa”… Ke-dua, Koko Koswara (Mang Koko) yang menciptakan gebrakan baru ansambel Kliningan Gamelan & Kawih Gaya Wanda Anyar yang direalisasikan pada Teater Pertunjukan Gending Karesmen Sikabayan jeung Raja Jimbul, G.K. Sikabayan Jadi Dukun, G.K. Nyai Dasimah, G.K. Pangeran Jayakarta, dsb. Kegiatan Karya2 ini berkolaborasi dengan Pengarang Naskahnya dari Para Tokoh Sastrawan Sunda, yaitu: Wahyu Wibisana, R.Ading Affandi (RAF), Epe Sapei Adisastra, Dedi Widiagiri, dsb.

Dengan adanya 2 Tokoh dan Siswa-siswinya, Dunia Seni Kreativitas lumayan semakin berkembang, bahkan dapat penghargaan dan undangan bergengsi dari Forum Seni Musik Internasional, yaitu: Di Donaueschinger Musik Tage Jerman (Armien Köchler, M.Spahlinger, Dieter Mack, dsb.) Ensambel Gending di Utrecht und Leden di Belanda, juga di London Inggris yaitu: Matt Anwort, Simon Cokk, dsb. Gamelan Gong Institut: Jodi Daimon, Larry Polansky, Andrew Weintraub, John Sidal, dsb.

Dalam Aktivitas Gending Gamelan ini, otomatis dunia Seni Padalangan juga terbawa aktiv ke Luar Negeri seperti; ke Amerika, Australia, Jepang, Newzealand, Eropa, dsb. Di Saat Sekarang Para Siswa Padalangan dari Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya Alm. , K.D. Cecep Supriadi, K.D. Dede Amung Sutarya, dsb itu yang aktiv ada menyebar Banten&Jabar. Mengapa Jurusan Padalangan Wayang Golek di Bandung itu di lebur dan di Tutup, sedangkan Jurusan Pakeliran/Padalangan Wayang Kulit di ISI Surakarta di JaTeng dan ISI Yogyakarta begitu aktiv dan tidak dilebur ditutup?

Masyarakat Seni Pertunjukan Jurusan Karawitan ISBI Bandung cenderung komunikasi/bergaul nya terlalu terbatas, yang dianggap mereka maju dan modern itu hanya Seni Musik untuk Weding di Hajatan Pernikahan, inilah prinsip Pasar Industri Pariwisata, Nu Penting mah Payu di Pasar dan inilah yang mereka Anggap Musisi Keren Modern saat ini… Batasan Istilah Modern itu dibatasi oleh Ideologi Pasar Industri Pariwisata Kapitalis Imperialis…

Dalam Dunia Kurikulum Edukasi Pendidikan Seni Karawitan terutama di Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, Yang di Utamakan adalah Hanya Metoda Pembelajaran hanya satu bentuk Seni Kiliningan, yang kemudian berkembang di masyarakat menjadi bentuk Kemasan Seni Kiliningan, seperti: Kiliningan Ketuk Tilu, Kiliningan Jaipongan, Kiliningan kawih Cianjuran, Kiliningan Kawih WandaAnyar Mang Koko, Kiliningan Pop Sunda, Dsb. Semua berakar dari satu sumber Bentuk Struktur Komposisi seni Kiliningan. Termasuk Seni Kiliningan Wayang Golek.

Padahal menurut Referensi dari Akhli teori Karawitan Atik Soepandi, B.A., S.Kar. Jawa Barat dan Banten itu memiliki 160 Macam Jenis Tradisi Kesenian, begitu katanya. Kalau memang ada 160 Jenis Kesenian; hal ini menjadi sebuah pertanyaan; terutama secara akademis yang menyangkut penyampaian Metoda Belajar Mengajar seni karawitan khususnya di ISBI Bandung, pertanyaannya adalah: MENGAPA HANYA SATU SUMBER SENI KILININGAN YANG DIBERIKAN PADA MAHASISWA KARAWITAN KHUSUSNYA??? Hal inilah yang harus di proses dan dimasukan ke dalam kurikulum Seni Karawitan, dalam kurikulum tersebut: Ada Mata Kuliah Pembelajaran Praktik Tarawangsa Cibalong, Tarawangsa Ranca Kalong, Karinding, Tanjidor, Gong Renteng, Gamelan Ajeng, Tarling, Carabalen, dsb. Terus, sebagai penutup… dan menjadi PR Pikiran bersama… Apakah Pengrajin Pembuat Gamelan di Pancasan bisa dibangun kembali oleh pemerintah setempat??? Mengapa di ISBI Bandung tidak ada Jurusan Organologi???

Sekian Terimakasih

Bandung, 28.April.2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *