TARIAN TERAKHIRKU
Aku pernah menari
Di tepi hutan dengan pohon-pohon
Menjulang tinggi
Di antara batuan karang
Yang manusia juluki surga bumi
Aku menari dengan sepenuh hati
Bukan karena ingin dipuji
Tetapi karena di hadapanku Tuhan membentangkan keindahan
Yang tak meminta apa-apa selain disyukuri
Aku menari
Diiringi riuh angin sebagai musikku
Hijau hutan sebagai punggungku
Dan manusia
Masih menjadi penonton
Yang berjarak
Tapi semua tak bertahan lama
Sampai suatu pagi manusia datang
Bukan lagi dengan kekaguman
Tapi jemari yang sibuk menghitung
Membawa peta dan rencana
Menadai pohon dengan warna merah
Pohon tempatku bernyanyi mereka tebang
Hutan pangungku menari mereka lubangi
Sungai tempatku minum perlahan keruh
Oleh jejak sepatu dan janji janji
Yang tak pernah kami mengerti
Satu persatu temanku menghilang
Entah sudah mati
Entah sudah pergi
Karna tempat ini sudah bukan rumah lagi
Melainkan halaman investasi
Sekali saja..
Aku ingin menari
Meski ini terakhir kali
Tapi langit tempat ku berkicau
Penuh asap dan debu tambang
Pohon tempatku menari Semuanya tumbang
Kini aku bukan lagi penari
Aku hanyalah seekor burung cenderawasih
Sisa-sisa dari panggung yang diratakan
Dari nyanyian yang dihentikan
Dari hidup yang kalian tebus dengan keserakahan
Maka jangan heran bila kelak
Keindahanku hanya bisa kau temui
Di halaman buku anak-anakmu,
Karena kalianlah
Yang menuliskannya
Dengan debu tambang
Dan batang pohon tumbang
Lalu menyebutnya: pembangunan
2025

PUISI Agung Maulana
PERSIMPANGAN PALMA
Disebuah rimbun pohonan
Mataku menengadah
Sedikit kesilauan
Membiarkan hangat itu
Masuk disela dingin-gigilku,
Sisa malam kemarin
Udara pagi yang memeluk embun
Basah jatuh di keningku
Aku menyukainya
Hingga ingin berdiri lebih lama
Sebelum sesuatu menggoyah
Tanah yang kupijak
Riuh angin menghantar suara
Jejak sepatu, ayunan cangkul
Dan bisik yang tak ku mengerti
Terhembus bersama asap rokok
Sesakkan napas.
Ah, kukira hijau akan semakin meluas
Akar-akar akan saling mencari
Tetapi, kulihat di peta mereka ingin mengganti
Zamrud katulistiwa dengan ketamakan
Yang berjajar rapih
Tak peduli tanah luruh
Tak peduli akar rapuh
Yang mereka dirikan tegak perkasa
Menyisir kabut dengan pelepah berduri
Di akarnya tanah merintih
Di buahnya manusia berebut emas cair
Tak sesempurna Kelambir
Dengan julukan pohon seribu guna
Yang memang paripurna bagi sesama
Sawit sekadar fatamorgana
Mengenyangkan nahkoda bangsa.
Aku lemah tak berdaya
Kulihat teman-teman hijauku dicabut paksa
Saat ini hanya Tuhan temanku berbicara
Tuhan selamatkan yang tak bersalah
Tuhan ampuni yang tak berdosa
Tuhan sadarkan si buta dunia.
Bilamana bumi murka
Tidak ada akar yang siap
Usap tangisan semesta
Wahai kau yang bertangan besi
Andai kata itu terjadi
Apa kalian akan memutar balikkan fakta
Atau cukup melabeli itu
Atas nama musibah dari tuhan?
Mungkin dingin-gigilku akan sedikit berbeda
Dari hujan yang menghidupkan
Hingga tenggelam yang menyakitkan
Demam-gigilku melarungmu.
2026

