MAU DIBAWA KE MANA SENIMAN KULON PROGO

pembicara

Dr. Suwarno Wisetrotomo, narasumber pada Workshop Seni Rupa dilaksanakan di Cagar Budaya Bulurejo, Pengasih, Kulon Progo, Kamis (23/4/2026). 

YOGYAKARTA | Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo menggelar Workshop Seni Rupa sebagai bagian dari program pembinaan lembaga penggiat seni guna memperkuat ekosistem seni rupa di wilayah setempat. Workshop tersebut dilaksanakan di Cagar Budaya Bulurejo, Pengasih, pada Kamis (23/4/2026) sebagai rangkaian menuju pameran seni rupa tahunan Kulonprogo Annual Art (KPAA).

Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Suwarno Wisetrotomo, Anang Saptoto, dan R. Suryo Hardihandoyo, dengan Drs. Samsuri Nugroho yang bertindak sebagai moderator.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, S.Sn., M.A., yang disampaikan melalui Kepala Bidang Kebudayaan, kegiatan workshop ini merupakan langkah nyata dukungan bagi perupa Kulon Progo. “Ini bentuk komitmen pemerintah, kami menghadirkan ruang ekspresi dan apresiasi bagi para perupa,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Suwarno Wisetrotomo menyikapi pentingnya seni rupa di Kulon Progo. Menurutnya, seni rupa bagi Kulon Progo menjadi ruang pertemuan untuk saling membangun pengertian, sekaligus sebagai alat komunikasi paling efektif antarwarga. Karena Kulon Progo merupakan kota yang sedang tumbuh berkembang, wilayah ini membutuhkan katalisator-katalisator seperti seni dan senimannya.

“Seni rupa itu bahasa simbolik, ruang pertemuan tanpa sekat yang dapat membangun pengertian. Seni dapat hadir di tengah kekacauan dan di tengah ketegangan apa pun, seperti di tengah ketegangan sosial politik. Seni harus turun ke gelanggang, itu salah satu fungsinya seni. Karena seni berbicara simbolik, jadi tidak ada makna yang absolut,” ungkap Suwarno.

Pembicaraan dalam workshop tersebut berlangsung cukup seru saat membahas bagaimana perkembangan selanjutnya seni rupa Kulon Progo. R. Suryo Hardihandoyo, yang lebih dikenal dengan nama Yoyock Suryo, menyoroti perlunya peran “generator”. Dalam hal ini, Dinas Kebudayaan dan Dewan Kebudayaan diharapkan mampu mengelola energi tersebut secara sistematis sehingga setiap kegiatan berjalan lancar, mendapatkan dukungan seniman, dan masyarakat dapat menerima manfaatnya.

workshop

“Kegiatan workshop ini merupakan salah satu manifestasi sinergi berbagai pihak dalam memajukan seni rupa di Kulon Progo. Pentingnya kolaborasi agar potensi besar tersebut bisa terus berkembang,” jelas Yoyock.

Salah satu seniman Kulon Progo, Triwinanto (Trimbil), berpendapat bahwa diadakannya kegiatan workshop seni rupa pra-KPAA ini adalah untuk menentukan tema. Namun, saat ini masih perlu penjaringan pendapat dari seniman Kulon Progo sehingga bisa disepakati bersama untuk tema KPAA tahun ini. “Kegiatan workshop ini penting, jadi dengan kegiatan seperti ini pembahasan akan lebih fokus dan tidak terjadi simpang siur,” ujar Tri.

Seniman Menoreh yang menjadi peserta workshop, Ariswan Adhitama, turut berbagi pengalaman. Biasanya, KPAA diikuti berbagai lapisan, mulai dari pemula, seniman hobi, seniman profesional muda, sampai yang tua. “Di antara mereka ada seniman akademik dan otodidak. Sehingga penyelenggara memerlukan pendekatan yang lebih kooperatif terhadap seniman. Selain itu, rangkaian kegiatan KPAA perlu diperbaiki. Prosedur-prosedur kedinasan harus dikomunikasikan secara lebih intens untuk menghindari miskomunikasi,” ungkap Ariswan.

Workshop ini masih menyimpan PR tentang bagaimana kelanjutan mengenai KPAA supaya dapat menampung aspirasi seniman Kulon Progo dan menciptakan suasana yang semakin kondusif. *)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *