PUISI Bening Kusumaningtiyas Az-Zahra

guru 1

Residu

Di papan tulis
Yang perlahan memucat menjadi kelabu
Kapur tak lagi menulis
Ia sedang mengikis dirinya sendiri
Setiap huruf yang membentuk nama kalian
Adalah bagian dari diriku yang menyusut
Menjadi serbuk yang jatuh ke lantai
Diam, nyaris tak berarti
Tanpa pengikisan itu
Ingatanmu takkan memiliki ruang
Untuk berdiam

Anak-anakku
Kalian adalah fajar yang kupinjam
Dari semesta dengan tangan yang bergetar
Aku pernah mencoba menahan terang
Agar kalian tak perlu mengenal gelap
Tetapi kalian adalah detak waktu
Yang tak dapat kutahan
Kini aku belajar menjadi bayang
Yang kalian tinggalkan
Sebab hanya dari gelapku
Cahaya kalian menemukan nyalanya

Jangan cari aku di dalam rumus
Atau angka yang membeku
Temukan aku di dalam ragu saat kau berdiri
Di persimpangan yang asing
Aku adalah gema parau yang pernah berbisik
“Tak apa tersesat,
selama kau tak berhenti mencintai pertanyaan.”
Perpisahan ini bukan pilihan, melainkan hukum musim
Yang tak bisa ditawar; seperti daun yang gugur
Bukan karena ia membenci dahannya,
Melainkan karena tanah
Telah lama menantikan pelukannya

Untuk pemimpin yang kini melangkah
Menuju ufuk yang tak terjangkau
Engkau adalah akar
Yang bekerja sunyi di bawah tanah
Engkau mengajarkan
Bahwa memimpin bukan soal berdiri di puncak
Melainkan menjadi dasar yang paling dalam
Untuk menahan beban
Agar yang lain dapat menatap langit tanpa goyah
Saat langkahmu menjauh,
Ruang ini terasa lebih luas sekaligus lebih dingin
Meninggalkan gema
Yang terus merambat di dinding yang bisu

Hari ini kita berpisah
Seperti kertas yang disobek tanpa rapi
Tak ada jeda manis
Hanya ruang kosong yang mendadak riuh oleh doa
Jangan katakan kita akan bertemu lagi
Di waktu yang lebih baik
Sebab waktu tak pernah berjanji untuk tetap sama
Kita hanya bisa berjanji untuk tetap saling mengenali

Jika suatu saat
Lorong waktu mempertemukan kita
Di satu titik silang
Semoga kau masih mengenali bau kapur
Dan sisa doa di telapak tanganku
Jejak dari usia yang kusematkan diam-diam
Demi melihatmu bertumbuh

Kelak
Guru, murid, dan pemimpin
Hanyalah tiga nama
Bagi satu napas
Yang ditiupkan pada tanah yang sama
Kita tak pernah benar-benar berpisah
Kita hanya berpindah tempat
Di dalam satu ingatan
Yang terus berusaha mekar
Meski di taman yang berbeda

2026

SAJAK-SAJAK Arif Fathur
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Arif Fathur


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *