Suasana pagi di Kutawaringin terasa lambat pasca-lebaran. Jalan-jalan masih basah oleh sisa hujan semalam. Aroma tanah lembap bercampur sisa perayaan yang belum dibersihkan membawa suasana hangat sekaligus sunyi. Langkah kaki Dom terus berjalan sampai ia berdiri di persimpangan jalan Tenjowaringin, menatap orang-orang yang bergerak cepat seolah memiliki tujuan penting. Ia sendiri tidak tahu ke mana mereka semua akan pergi. Ia terpaku di sana cukup lama, menunggu sesuatu yang bahkan tidak ia pahami sendiri.
Rasa menunggu itu perlahan berubah menjadi lelah yang amat dalam. Tubuh Dom terasa berat. Lelah itu bukan hanya karena kaki yang melangkah jauh, tetapi juga penat batin yang menumpuk di dalam dirinya. Sebagai penulis dan sutradara teater, ia teringat masa mudanya di Kota Kembang, saat menggarap lakon Cyrano de Bergerac karya Edmond Rostand yang ditulis pada tahun 1897. Lakon klasik tentang cinta tulus yang tak pernah tersampaikan itu seolah menjadi kutukan hidupnya. Tepat ketika ia menyutradarai lakon itu, cinta pertamanya justru pergi meninggalkan dirinya.
Kenangan pahit itu membuka pintu ingatan lain tentang betapa sering niat tulus Dom dimanfaatkan orang banyak. Ia memberi, menolong, dan percaya kepada siapa saja yang datang. Namun, kebaikan itu tak pernah kembali utuh kepadanya. Setiap kali ia membuka diri, orang lain selalu mengambil keuntungan tanpa peduli perasaannya. Dom tahu luka itu nyata dan membekas. Namun, ia belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan membalas ketulusan dengan cara yang sama. Dunia memang terasa keras bagi orang yang tulus. Meski demikian, ia harus tetap berjalan dengan hati terbuka, meski sering terluka.
Kekerasan dunia itu meninggalkan ruang kosong di dadanya, ruang yang terasa asing. Dom mengetuk batinnya sendiri di tengah kesunyian sudut kota. Ia merasa seperti seseorang yang mencari pintu di kegelapan total, berharap ada jawaban atau sekadar suara kecil yang menyahut dari dalam sana. Namun, hasilnya nihil. Hanya gema dingin kembali sebentar lalu lenyap. Di antara sunyi itu, muncul serpihan ingatan tentang wajah-wajah masa lalu. Mereka datang membawa janji, lalu pergi membawa sesuatu yang tak pernah mereka kembalikan. Kini, kehilangan terasa lebih akrab bagi Dom daripada memiliki.
Perasaan kehilangan itu membuat batinnya seperti senja yang tak pernah selesai. Cahaya dalam dirinya meredup tanpa pamit. Bayangan kesedihan tumbuh lebih cepat daripada harapan. Nama-nama yang dulu ia sayang gugur satu per satu, seperti daun kering. Kenangan itu meninggalkan suara pecah yang terkunci rapat di dalam ingatan. Kesunyian sudut kota ini tidak lagi memeluknya. Sunyi justru terasa hendak menelannya bulat-bulat. Ia teringat masa ketika percaya sepenuhnya pada kata-kata manis. Namun, kepercayaan itu tak pernah kembali utuh—yang tersisa hanyalah rasa retak yang sulit pulih.
**
Demi mencari ketenangan, Dom terus melangkah menyusuri jalan sepi. Kakinya membawa ia menuju makam orang tuanya sebagai tempat peristirahatan pertama. Jalanan di sana teduh, dipenuhi pohon besar seperti Kihujan, Akasia, dan Mahoni. Dom berdiri di depan nisan sederhana itu dengan napas berat. Matanya berkaca-kaca menahan emosi, tapi ia tak membiarkan air mata jatuh. Ia hanya diam, mengenang suara ibu yang menyejukkan dan nasihat bapak yang selalu menjadi kompas langkahnya. Meski mereka telah tiada, kehadiran keduanya terasa nyata di hatinya.
Setelah mendapatkan sedikit kekuatan dari doa yang dipanjatkannya di makam, perjalanan Dom berlanjut ke Situ Gede. Angin sore membawa aroma air dan bambu rakit yang basah. Suasana di tepi danau terasa hidup dibandingkan kesunyian makam. Orang-orang tertawa riang di atas perahu sewaan masing-masing. Dom berjalan pelan di tepi danau, menyentuh permukaan air dengan ujung jari. Ia melihat anak-anak bersorak gembira dan pasangan tua tersenyum menatap langit sore. Kehidupan di sekitar danau berjalan warna-warni, tanpa tergesa mengejar waktu.
Keinginan untuk menyendiri lebih jauh membawa Dom menyewa rakit. Ia ingin menyeberang ke pulau kecil di tengah situ, tempat persemayaman Prabu Dilaya. Setiap dorongan bambu ke dasar danau menimbulkan riak air dingin yang membasahi tepian alas kakinya. Pulau itu tampak tenang, menyimpan banyak sejarah. Pohon tua seperti Pukih dan Buah Kepal tumbuh besar menaungi daratan kecil itu. Setibanya di sana, Dom berdiri di depan makam sang Prabu dengan khidmat. Hanya ada desiran angin dan suara air lembut. Ia duduk sejenak, memejamkan mata, merasakan ketenangan yang sangat dalam.
Namun, di tengah kesunyian pulau itu, batin Dom kembali bergolak. Ia mengenang cinta yang dulu ia yakini akan berakhir bahagia di pelaminan. Janji-janji itu pernah terasa kokoh, akan tetapi semuanya hancur ketika perempuan itu memilih menikah dengan pilihan hatinya sendiri. Pengkhianatan itu menembus seluruh batinnya dan meninggalkan luka dalam. Rasanya mirip sakit hati tokoh Cyrano de Bergerac yang pernah ia sutradarai. Perbedaannya, pengkhianatan Dom terasa nyata dan menghantam dirinya langsung. Namun, di tempat sepi ini, Dom justru merasakan lega aneh. Ia mulai menerima ketidakadilan nasib tanpa rasa benci. Ia tak lagi menunggu janji ditepati oleh siapa pun.
Sambil mengatur napas di bawah naungan pohon tua, Dom merenung tentang hakikat puasa. Ia menyadari betapa sering manusia memanfaatkan sesamanya. Puasa seharusnya mengajarkan kita kembali bersih dan jujur. Namun, banyak orang hanya memindahkan jam makan dari siang ke malam. Saat berbuka, mereka melampiaskan nafsu dengan makanan berlebihan yang akhirnya terbuang sia-sia. Padahal makna puasa sejati adalah menemukan diri sendiri di keheningan. Kita harus mengendalikan keinginan dan mencapai kejernihan hati. Kosong bukan berarti hampa; kosong berarti bersih dari sifat buruk agar hati bisa diisi kesadaran murni.
Perenungan itu membawa Dom pada kesadaran penting. Hidup bukan soal pergi sejauh mungkin untuk melupakan masalah. Hidup adalah keberanian kembali ke diri sendiri. Ia pulang dari rasa sakit akibat dimanfaatkan orang lain. Ia pulang dari rasa kecewa karena pengkhianatan masa lalu. Langkah kaki Dom kini menjadi jalan pulang yang jujur bagi dirinya. Cahaya senja yang redup cukup menunjukkan arah. Ia melepaskan semua beban nama-nama masa lalu. Tubuhnya bukan lagi beban, tapi kendaraan yang membawa hatinya pulang dengan tenang.
**
Langkah kaki Dom akhirnya terhenti di ujung sebuah jalan yang sunyi. Ia berhenti bukan karena sudah tiba di depan pintu rumah atau bangunan tertentu. Ia berhenti karena batinnya merasa tidak perlu lagi lari mengejar apa pun. Dom tidak lagi berniat mengambil kembali hal-hal yang sudah hilang dari hidupnya. Ia juga tidak lagi menunggu penjelasan dari orang-orang yang telah memilih pergi. Saat itu, Dom benar-benar melepaskan kepalan tangannya dari semua beban kenangan masa lalu.
Kini Dom memahami hakikat rumah yang sebenarnya. Rumah bukanlah sekadar bangunan beton atau alamat yang tercatat di dalam peta. Rumah adalah sebuah keadaan hati ketika semua pencarian kita telah berakhir. Kita memutuskan untuk berhenti bukan karena merasa lelah atau kalah oleh keadaan. Kita berhenti karena perjalanan pulang menuju diri sendiri telah terasa sempurna. Di titik yang tenang itu, Dom akhirnya merasa utuh sebagai manusia. Sunyi tidak lagi terasa seperti jarak yang memisahkan dirinya dengan dunia. Sunyi justru telah menjadi jawaban yang selama ini ia cari. Ia merasa murni, kuat, dan siap untuk terus melangkah dengan hati bening. []









