Warga Polandia Mengusir Turis Israel yang Datang ke Polandia

ilustrasi pengusiran

Berdasarkan laporan video yang beredar di media sosial pada awal Februari 2026, terjadi insiden di Bandara Krakow, Polandia, di mana seorang warga lokal atau karyawan bandara terlibat konfrontasi dengan sekelompok turis asal Israel. Insiden tersebut diwarnai adu mulut serta penolakan terbuka terhadap kehadiran rombongan turis tersebut di area publik. Video yang viral di Instagram memperlihatkan situasi yang memicu perhatian luas.

Peristiwa ini terjadi pada akhir Januari hingga awal Februari 2026. Dalam video tersebut terlihat seorang pria, yang dilaporkan sebagai warga lokal atau staf bandara, mengusir sekelompok turis Israel yang baru mendarat di Bandara Krakow. Kronologi kejadian bermula ketika sekelompok turis Yahudi ultra-ortodoks sedang melaksanakan ibadah di area bandara. Pria tersebut kemudian mendekati mereka secara agresif dan berteriak, “Kenapa kalian di Polandia? Balik ke Israel,” serta menyatakan, “Ini Polandia, bukan Israel.” Insiden ini berlangsung di ruang publik bandara dan memicu konfrontasi langsung serta adu mulut.

Secara kontekstual, penolakan terbuka tersebut diduga dipicu oleh ketegangan geopolitik terkini, sehingga insiden ini menyoroti adanya ketegangan sosial di ruang publik yang berkaitan dengan situasi internasional. Pihak kepolisian setempat akhirnya datang untuk mengamankan pria tersebut serta mengambil detail identitasnya, sementara kelompok turis Israel tersebut melanjutkan perjalanan mereka.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan politik di Polandia terkait situasi di Timur Tengah. Beberapa laporan menyebutkan bahwa aksi tersebut mencerminkan meningkatnya sentimen anti-Israel di berbagai negara sebagai reaksi atas konflik di Gaza. Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, berbagai aksi unjuk rasa besar juga terjadi di Warsawa yang menuntut pemerintah Polandia menghentikan kerja sama militer dengan Israel, menerapkan sanksi ekonomi, hingga mencabut fasilitas visa bagi warga Israel.

Dari sisi keamanan, hingga Maret 2026 situasi dilaporkan belum sepenuhnya stabil. Sekitar 870 pelajar dan staf pengajar asal Israel sempat tertahan di Polandia akibat penutupan ruang udara yang dipicu oleh serangan militer di Timur Tengah. Meskipun demikian, hubungan diplomatik dan operasional penerbangan antara Polandia dan Israel tetap berlangsung dengan pengamanan ketat.

Pemerintah Polandia juga telah mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) bagi warganya yang hendak menuju Israel dan beberapa negara Timur Tengah lainnya karena risiko eskalasi konflik. Maskapai seperti LOT Polish Airlines dan Wizz Air tetap mengoperasikan penerbangan antara Warsawa dan Tel Aviv, meskipun jadwal sering mengalami gangguan akibat situasi keamanan.

Secara politik, Polandia dan Israel sama-sama merupakan anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Uni untuk Mediterania, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tahun 2007, sekitar 1.200.000 warga Israel memenuhi syarat untuk menjadi warga negara Polandia, termasuk sekitar 202.300 orang yang lahir di Polandia atau memiliki ayah kelahiran Polandia. Polandia sendiri telah mengakui Palestina sejak 16 November 1988 dan menegaskan kembali dukungannya setelah bergabung dengan Uni Eropa. Dalam posisi resminya, Polandia mendukung hak rakyat Palestina untuk memerintah sendiri dan aspirasi pembentukan negara Palestina merdeka melalui proses perdamaian Timur Tengah, sembari tetap mempertahankan dialog politik tingkat tinggi dengan Israel.

Warga Israel tidak memerlukan visa untuk masuk ke Polandia jika memiliki paspor Israel dan dapat melakukan perjalanan untuk masa tinggal terbatas sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam periode 2010–2017, lebih dari 20.000 warga Israel memperoleh kewarganegaraan Polandia, meningkat lebih dari 250 persen dibandingkan tujuh tahun sebelumnya. Diperkirakan sekitar satu per tujuh populasi Israel, atau sekitar 650 ribu orang, memiliki nenek moyang Ashkenazi Polandia, sementara lebih dari dua juta lainnya berasal dari komunitas Ashkenazi di Rusia, Ukraina, Jerman, Prancis, Lithuania, dan wilayah lain.

Yahudi Polandia umumnya disebut sebagai Yahudi Ashkenazi, yakni salah satu dari dua kelompok leluhur utama Yahudi yang nenek moyangnya tinggal di Prancis serta Eropa Tengah dan Timur termasuk Jerman, Polandia, dan Rusia. Pemerintah Polandia juga mengizinkan keturunan warga negara Polandia, termasuk Yahudi Polandia, untuk mengajukan kewarganegaraan dalam kondisi tertentu, tergantung pada riwayat keluarga.

Secara historis, Polandia pernah menjadi tempat perlindungan bagi pengungsi Yahudi, terutama setelah pengusiran dari Spanyol pada 1492 serta dari Austria, Hongaria, dan Jerman. Polandia kemudian dikenal sebagai pusat budaya dan spiritual Yahudi di Eropa. Saat ini, komunitas Yahudi terbesar di Polandia berada di Warsawa, dengan komunitas yang lebih kecil di Kraków, Wrocław, Łódź, Katowice, Szczecin, dan Gdańsk. Banyaknya situs bersejarah Yahudi menjadikan Polandia destinasi wisata warisan Yahudi yang populer.

Terkait kebijakan perjalanan global, beberapa negara seperti Afghanistan, Iran, Kuwait, Lebanon, Libya, Suriah, dan Yaman tidak mengizinkan masuknya warga non-Israel yang memiliki bukti perjalanan ke Israel. Beberapa negara juga tidak menerima paspor Israel, termasuk Aljazair, Bangladesh, Brunei, Iran, Irak, Kuwait, Lebanon, Libya, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Suriah, dan Yaman. Maladewa juga melarang pemegang paspor Israel memasuki wilayahnya. Negara-negara seperti Iran dan Korea Utara secara terbuka menolak hubungan dengan Israel, sementara Indonesia secara resmi tidak mengakui kedaulatan Israel dan terus mendukung perjuangan Palestina. Beberapa negara lain seperti Irlandia dan Spanyol sering mengkritik kebijakan Israel meskipun tetap mengakui keberadaannya.

Di sisi lain, terdapat pula negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik atau menarik duta besar dari Israel, termasuk Yordania, Bahrain, Turki, Bolivia, Kolombia, Honduras, Chili, Belize, Brasil, Afrika Selatan, dan Chad. Sementara itu, beberapa pemegang paspor diplomatik dari negara tertentu dapat memasuki Israel tanpa visa sesuai ketentuan bilateral.

Dari segi ekonomi, Polandia dikenal memiliki biaya hidup yang relatif terjangkau dibandingkan banyak negara Uni Eropa lainnya. Estimasi biaya hidup bulanan berkisar antara 2.500–7.000 PLN (sekitar Rp 8,7–24,5 juta), tergantung kota dan gaya hidup. Kota besar seperti Warsawa, Krakow, dan Gdansk memiliki biaya hidup lebih tinggi dibandingkan kota pelajar yang lebih kecil. Biaya sewa apartemen di kota besar berkisar €400–€1000 per bulan, sedangkan asrama mahasiswa sekitar €70–€180 per bulan. Biaya makan relatif rendah jika memasak sendiri, dengan estimasi €200–€300 per bulan. Transportasi publik di kota besar juga dikenal terjangkau dan efisien. Meskipun lebih murah dibandingkan Jerman atau Eropa Barat lainnya, biaya hidup di Polandia tetap jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia sehingga memerlukan perencanaan anggaran yang baik.

Sekian, terima kasih.
Bandung, 02 Maret 2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *