Ketakutan manusia terhadap hal-hal mistik sudah lama menarik perhatian saya, terutama ketika ketakutan itu memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan orang lain. Ketertarikan tersebut bermula saat saya membaca buku Teori, Konsep dan Kasus Sihir Tenung di Indonesia karya Profesor Doktor Tubagus Ronny Rahman Nitibaskara, yang membahas persoalan sihir dan tenung melalui pendekatan kriminologi dan antropologi. Dari sana muncul pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya: mengapa manusia bisa begitu takut kepada sesuatu yang tidak terlihat, bahkan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi? Buku itu juga membawa saya pada persoalan lain: bagaimana sesuatu yang berbau mistik dapat menjadi alat manipulasi dalam relasi kekuasaan.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Mendengar cerita tentang hantu saja, seseorang bisa merasa merinding. Cerita tentang santet bahkan dapat membuat orang yang semula sehat mulai mencemaskan tubuhnya sendiri. Ketika seseorang mengatakan, “Kayaknya ada yang kirim sesuatu”, “Ini bukan sakit biasa”, atau “Rumahmu ada yang tidak beres”, perkataan itu bisa mengubah cara orang memahami apa yang sedang dialaminya. Apalagi jika disusul peringatan bahwa ada orang yang tidak menyukainya atau keadaan akan memburuk jika tidak segera ditangani. Ancaman tidak selalu datang sebagai serangan terang-terangan. Kadang-kadang, kalimat dari seseorang yang dianggap mengetahui sesuatu sudah cukup untuk membuat orang lain kehilangan ketenangan. Di titik inilah saya mencoba memahami apa yang saya sebut dark manipulation power: manipulasi yang memanfaatkan ketakutan dan kepercayaan manusia.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Istilah itu tidak saya gunakan untuk menyangkal keberadaan kekuatan gaib, apalagi untuk membuktikan bahwa santet, teluh, pelet, guna-guna, atau ilmu hitam bekerja secara supranatural. Persoalan tersebut berada dalam wilayah keyakinan, kebudayaan, agama, pengalaman personal, dan perdebatan yang panjang. Yang ingin saya periksa justru sesuatu yang dapat diamati dalam kehidupan sosial: bagaimana kepercayaan terhadap kekuatan gaib dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, bahkan keputusan seseorang. Dengan demikian, perhatian saya bukan semata-mata tertuju pada apa yang dipercayai manusia, melainkan juga pada apa yang dapat dilakukan orang lain dengan memanfaatkan kepercayaan itu.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Nusantara memiliki sejarah panjang dalam hubungan manusia dengan dunia yang tidak kasatmata. Mantra, ritual, benda pusaka, sesaji, ilmu pengasihan, penolak bala, serta berbagai praktik penyembuhan tradisional tumbuh dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda. Praktik-praktik tersebut tidak bisa begitu saja dilepaskan dari sejarah masyarakat yang menghidupkannya. Kajian mengenai masyarakat Using di Banyuwangi, misalnya, memperlihatkan bahwa mantra, magi, religiositas, moralitas, dan pranata sosial tradisional memiliki hubungan yang kompleks. Istilah santet sendiri pun mempunyai perjalanan makna yang tidak sesederhana pengertian populer yang berkembang sekarang.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Karena itu, tidak tepat jika setiap praktik tradisional langsung dianggap sebagai tanda kebodohan. Sebaliknya, memperlakukan setiap keyakinan sebagai fakta ilmiah juga bukan sikap yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebudayaan menyimpan pengalaman, ingatan kolektif, dan usaha manusia memahami alam serta menghadapi hal-hal yang belum mampu mereka jelaskan. Persoalan menjadi berbeda ketika suatu kepercayaan digunakan untuk menundukkan orang lain, terlebih ketika seseorang mengaku memiliki pengetahuan atau kemampuan khusus yang membuat orang lain merasa tidak berdaya. Kepercayaan yang semula menjadi bagian dari cara manusia memaknai kehidupan dapat berubah menjadi alat penguasaan ketika ketakutan dipakai untuk mengendalikan keputusan.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Manipulasi tidak selalu membutuhkan mantra atau ritual. Ia dapat berlangsung ketika seseorang memanfaatkan kerentanan orang lain demi kepentingannya sendiri. Orang yang sedang sakit mencemaskan keselamatannya; orang yang kehilangan seseorang mencari penjelasan atas penderitaannya; mereka yang terdesak secara ekonomi menggantungkan harapan pada siapa pun yang menjanjikan jalan keluar. Perselisihan keluarga pun dapat membuat seseorang menerima penjelasan yang memberikan kepastian, meskipun kebenarannya belum teruji. Ketika hidup terasa sulit dipahami, kehadiran orang yang seolah-olah mengetahui penyebab masalah sekaligus jalan keluarnya dapat terasa meyakinkan.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Seorang manipulator tidak harus menciptakan ketakutan dari awal. Ia cukup menemukan kecemasan yang sudah ada, lalu memberinya bentuk dan arah. Keluhan yang semula dianggap biasa mulai dicurigai sebagai pertanda; kejadian yang kebetulan berlangsung berdekatan dianggap saling berhubungan; perkataan orang lain menjadi alasan untuk menguatkan dugaan yang sebelumnya belum pernah terpikirkan. Dalam keadaan seperti itu, kepercayaan kepada orang yang berbicara dapat menggantikan kebutuhan akan bukti. Orang yang ketakutan tidak selalu sedang mencari penjelasan yang paling benar. Ia bisa jadi hanya ingin segera terbebas dari sesuatu yang dianggap mengancamnya.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Psikologi mengenal nocebo effect, yaitu keadaan ketika ekspektasi negatif dapat memunculkan atau memperburuk gejala yang dirasakan seseorang. Informasi yang menakutkan, pengalaman buruk, kecemasan, dan pengamatan terhadap orang lain dapat ikut membentuk harapan negatif. Seseorang yang terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya berada dalam bahaya, misalnya, dapat menjadi lebih peka terhadap sensasi tubuhnya. Pusing yang biasa dialami mulai dianggap sebagai pertanda, jantung berdebar diperlakukan sebagai bukti, sementara kesulitan tidur menambah kecemasan. Gejala yang dirasakan tidak harus dibuat-buat; pengalaman fisiknya dapat sungguh-sungguh terjadi, meskipun penjelasan mengenai penyebabnya belum tentu tepat. Efek ini tidak membuktikan keberadaan ataupun ketiadaan santet. Ia membantu menjelaskan bagaimana harapan dan ketakutan dapat memengaruhi pengalaman manusia.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Ketika ketakutan tumbuh, orang-orang di sekitar pun dapat ikut mencemaskan keadaan tersebut. Cerita yang semula hanya didengar satu orang berpindah kepada orang lain, lalu kembali kepada orang pertama dengan tambahan penafsiran dan keyakinan. Karena telah dibicarakan banyak orang, cerita itu terasa semakin meyakinkan. Ketakutan memperoleh saksi, dugaan mendapat penguatan, dan sesuatu yang semula belum memiliki dasar jelas perlahan membentuk kenyataan psikologis bagi orang-orang yang mempercayainya. Kenyataan psikologis tersebut dapat membawa akibat nyata: gangguan tidur, perubahan perilaku, pertengkaran, bahkan keputusan yang merugikan diri sendiri. Karena itu, perdebatan mengenai benar atau tidaknya santet tidak seharusnya membuat kita mengabaikan apa yang dialami seseorang yang merasa dirinya menjadi sasaran.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Pola serupa dapat berlangsung melalui cerita yang terus dipelihara. Seseorang dianggap memiliki musuh, sebuah tempat disebut menyimpan ancaman, suatu benda dipercaya membawa petaka, atau kejadian sehari-hari ditafsirkan sebagai akibat perbuatan orang yang tidak menyukai kita. Ketika narasi itu berulang di lingkungan sosial, orang-orang mulai menggunakannya untuk memahami berbagai kejadian. Hal-hal yang sebelumnya tidak memiliki hubungan tampak saling berkaitan. Pihak yang menguasai cerita pun memperoleh kesempatan menentukan siapa yang patut dicurigai, siapa yang dianggap mampu menolong, dan kepada siapa orang lain harus menyerahkan kepercayaannya. Di sini, kuasa tidak hanya bekerja melalui tindakan, tetapi juga melalui kemampuan membentuk makna.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Hubungan antara keyakinan dan kekuasaan tidak berhenti di lingkungan tradisional. Di kota-kota besar dan ruang digital, praktik spiritualitas hadir melalui konsultasi, ramalan, tarot, penyembuhan alternatif, hingga pencitraan personal di media sosial. Sebagian orang menjalankannya sebagai bagian dari keyakinan atau pencarian makna hidup; sebagian lainnya mungkin memanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan dengan memainkan kecemasan orang lain. Penelitian Andamar Pradipta dan Alexander Stark tentang praktik esoterik kontemporer di wilayah Jabodetabek menunjukkan bagaimana praktik seperti tarot tampil melalui pendekatan dan pencitraan yang berbeda dari gambaran tradisional tentang dukun. Penelitian itu tidak membuktikan bahwa praktik-praktik tersebut merupakan penipuan. Justru karena bentuknya beragam, kita perlu melihat tindakan dan relasi yang terbentuk, bukan menghakimi hanya berdasarkan labelnya.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Ketakutan yang dahulu dibicarakan dari rumah ke rumah kini dapat beredar melalui layar telepon genggam, disertai gambar, video, kesaksian, dan narasi yang dirancang untuk menarik perhatian. Figur yang dianggap memiliki kuasa tidak selalu tampil sebagai dukun di ruangan gelap dengan dupa mengepul. Ia dapat hadir sebagai pembuat konten, konsultan spiritual, atau figur publik yang pandai membangun kepercayaan pengikutnya. Mantra bisa digantikan kalimat persuasif, simbol menjadi bagian dari pencitraan, dan transaksi berlangsung secara digital. Mediumnya berubah, tetapi kemungkinan penyalahgunaan kepercayaan tetap ada. Persoalannya bukan apakah setiap pembuat konten atau praktisi spiritual patut dicurigai, melainkan apakah ketakutan sengaja dipelihara agar seseorang terus membeli layanan, mengikuti arahan, atau bergantung pada pihak yang mengaku mampu menyelamatkannya.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Masyarakat miskin atau kelompok yang berada dalam keadaan sosial-ekonomi rentan juga tidak boleh dianggap mudah dibodohi. Manipulasi dapat menimpa siapa pun, termasuk orang berpendidikan tinggi, orang kaya, dan mereka yang memiliki kedudukan. Kerentanan setiap orang berbeda-beda. Seseorang takut kehilangan pekerjaan, seorang ibu mencemaskan kesehatan anaknya, seorang pengusaha khawatir usahanya runtuh, sementara seorang pejabat merasa terancam kehilangan reputasi dan pengaruh. Tidak ada satu keadaan yang membuat seseorang kebal terhadap manipulasi. Yang dicari oleh manipulator bukan semata-mata kelemahan umum, melainkan persoalan yang paling sulit dihadapi seseorang pada saat tertentu.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Karena itu, persoalan ini jauh melampaui perdebatan tentang santet. Ia menyangkut relasi kuasa yang terbentuk ketika seseorang berhasil membuat orang lain menerima penjelasannya tanpa memeriksa dasar penjelasan tersebut. Kuasa itu tidak selalu berasal dari jabatan, kekayaan, atau kekuatan fisik. Ia dapat tumbuh dari kepercayaan, pengakuan atas pengetahuan khusus, atau keadaan ketika orang yang sedang takut merasa tidak mempunyai pilihan selain mengikuti arahan pihak yang dianggap mampu menolongnya. Siapa yang menentukan apa yang dianggap sebagai kenyataan? Siapa yang dipercaya ketika menyatakan seseorang sedang mendapat serangan? Siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang menanggung akibat, dan siapa yang kehilangan kebebasan untuk berpikir? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita dari urusan keyakinan menuju persoalan tentang kepentingan dan kekuasaan.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Istilah dark psychology kerap digunakan untuk membicarakan perilaku manipulatif, tetapi istilah tersebut bukan nama cabang psikologi formal yang berdiri sendiri. Perilaku tertentu perlu ditelaah dengan konsep yang lebih spesifik. Salah satunya Machiavellianisme, istilah dalam penelitian kepribadian yang berkaitan dengan kecenderungan memanipulasi atau mengeksploitasi hubungan sosial demi kepentingan pribadi. Namun, konsep itu tidak tepat digunakan sembarangan untuk memberi cap kepada orang yang memiliki keyakinan berbeda atau kepada siapa pun yang pandai membaca emosi orang lain. Memahami manipulasi menuntut pemeriksaan terhadap tindakan, konteks, dan pola perilaku, bukan dugaan berdasarkan penampilan atau kepercayaan seseorang.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Kehati-hatian yang sama diperlukan agar kita tidak mengganti satu prasangka dengan prasangka lainnya. Tidak semua orang yang menjalankan praktik mistik berniat menipu, tidak semua orang yang mempercayai hal gaib sedang menjadi korban, dan tidak setiap pengalaman yang belum dapat dijelaskan merupakan bukti kekuatan supranatural. Mengakui keterbatasan pengetahuan bukan berarti menerima setiap klaim begitu saja. Kita tetap dapat menghormati pengalaman personal tanpa menjadikannya bukti universal, sebagaimana kita dapat mempertanyakan suatu klaim tanpa merendahkan orang yang mempercayainya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan pengalaman, keyakinan, dugaan, sugesti, dan fakta.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet di Banyuwangi pada 1998–1999 memperlihatkan betapa mengerikannya akibat tuduhan yang berkembang menjadi kekerasan. Kajian Latif Kusairi, Dhanang Respati Puguh, dan Yety Rocwulaningsih menjelaskan bahwa peristiwa tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai luapan kepercayaan masyarakat. Krisis politik, ekonomi, dan sosial menjelang runtuhnya Orde Baru, stigma politik, rumor, serta kepentingan berbagai aktor ikut membentuk dan memperluas kekerasan itu. Tuduhan mengenai santet dapat digunakan untuk menggerakkan orang banyak, sementara mereka yang dituduh kehilangan perlindungan dan menjadi sasaran. Dengan demikian, tragedi tersebut bukan sekadar kisah tentang ketakutan terhadap hal gaib, melainkan juga tentang bagaimana tuduhan dan stigma dapat diproduksi, dimanfaatkan, lalu berujung pada kematian.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Ada paradoks yang sulit diabaikan: manusia bisa takut terhadap sesuatu yang tidak terlihat, tetapi ketakutan itu justru mendorong tindakan yang sangat nyata. Orang yang dicurigai kehilangan rasa aman; hubungan sosial rusak; kekerasan terjadi atas dasar tuduhan yang belum dibuktikan. Dalam keadaan semacam itu, pertanyaan tentang keberadaan kekuatan gaib saja tidak cukup. Kita juga harus melihat siapa yang menyebarkan tuduhan, bagaimana tuduhan memperoleh kepercayaan, mengapa orang-orang bersedia mengikutinya, dan siapa yang akhirnya dijadikan sasaran. Kekuatan gelap dalam relasi sosial menjadi nyata ketika kecurigaan diperlakukan sebagai kebenaran dan manusia merasa berhak bertindak atas dasar kecurigaan itu.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Kemampuan membedakan fakta, opini, sugesti, dan rumor penting karena kita hidup di tengah orang-orang dengan pengalaman serta keyakinan yang berbeda. Anak-anak perlu belajar bahwa sesuatu yang dikatakan dengan penuh keyakinan belum tentu benar, sebagaimana cerita yang diulang banyak orang tidak otomatis menjadi fakta. Orang dewasa pun membutuhkan kebiasaan yang sama, terutama ketika berhadapan dengan informasi yang membangkitkan kecemasan atau menjanjikan jawaban cepat atas persoalan rumit. Memahami cara ketakutan memengaruhi pikiran tidak berarti kita harus mencurigai semua orang. Kita hanya perlu membiasakan diri menunda keputusan, memeriksa informasi, dan tidak menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada seseorang hanya karena ia tampak lebih mengetahui keadaan.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Kita tidak harus kehilangan keyakinan atau menertawakan pengalaman orang lain untuk mempertahankan kebebasan berpikir. Yang perlu dijaga ialah jarak antara apa yang kita rasakan, apa yang kita percayai, dan apa yang dapat kita pastikan. Ketakutan merupakan bagian dari pengalaman manusia, tetapi tidak setiap ketakutan harus diikuti dengan penerimaan terhadap penjelasan pertama yang datang. Ketika seseorang masih mampu bertanya, mencari keterangan lain, dan mempertimbangkan kemungkinan berbeda, ia tetap memiliki ruang untuk menentukan sikap. Ruang itulah yang menyempit ketika ketakutan terus dipelihara agar seseorang bergantung kepada pihak yang mengaku memiliki jawaban.(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Kekuatan gelap yang tidak selalu gaib tidak hanya hadir dalam cerita tentang ilmu hitam atau santet. Ia juga dapat bekerja melalui propaganda, informasi palsu, clickbait, tekanan sosial, pencitraan figur publik, bahkan teknologi kecerdasan buatan ketika digunakan untuk membentuk atau menyebarkan informasi menyesatkan. Teknologi tidak dengan sendirinya membuat manusia kebal terhadap manipulasi; ia dapat memperluas jangkauan cerita dan mempercepat penyebarannya. Mantra, simbol, atau figur yang dahulu menjadi sumber otoritas kini dapat berganti rupa, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama: siapa yang sedang memengaruhi pikiran kita, untuk kepentingan siapa pengaruh itu digunakan, dan apa akibatnya bagi orang yang mempercayainya?(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)
Manipulasi mencapai bentuknya yang gelap ketika manusia tidak lagi diperlakukan sebagai subjek yang mampu berpikir dan menentukan sikap, melainkan sebagai objek yang ketakutannya dapat dibangkitkan, kepercayaannya diarahkan, dan kerentanannya dimanfaatkan. Ancaman yang belum pasti bisa dibuat terasa mendesak; kecemasan dapat diperbesar; lalu pihak yang memperbesar ketakutan itu menawarkan dirinya sebagai satu-satunya jalan keluar. Ketika orang yang ketakutan menyerahkan keputusan tanpa ruang untuk memeriksa atau mempertanyakan, ketakutan telah berubah menjadi alat kekuasaan. Mungkin yang perlu kita waspadai bukan hanya sesuatu yang dianggap berada di luar jangkauan penglihatan, melainkan juga manusia yang tahu cara membentuk apa yang kita lihat, yakini, dan takuti. (JBP, 8 September 2026)(Source: kosapoin.com/kekuatan-gelap-yang-tidak-selalu-gaib)

Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








