SIRAH CAI: TEATER LINGKUNGAN SEBAGAI RUANG PENYADARAN DAN PELESTARIAN BUDAYA BANTEN

sirah cai perform for kosapoin

SIRAH CAI(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Sirah Cai tidak sekadar menghadirkan cerita mengenai air, tetapi menjadikan mata air sebagai titik berangkat untuk membicarakan hubungan manusia dengan lingkungan, kebudayaan, dan masa depan. Pertunjukan ini juga menghadirkan kembali seni tutur Maca Syech, yang semakin jarang dipraktikkan, sehingga persoalan ekologis bertemu dengan upaya menghidupkan kembali pengetahuan dan ekspresi budaya lokal.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Pertemuan antara teater, lingkungan, dan tradisi tersebut menjadikan Sirah Cai dapat dibaca bukan hanya sebagai karya artistik, tetapi sebagai sebuah praktik kebudayaan yang mencoba menghadirkan kesadaran masyarakat melalui pengalaman pertunjukan. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari program DAK Danaindonesiana, LPDP, Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Mata Air sebagai Sumber Kehidupan(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia. Namun, dalam kehidupan masyarakat, mata air tidak hanya berfungsi sebagai sumber kebutuhan fisik. Mata air juga dapat menjadi ruang sosial tempat masyarakat berinteraksi, berbagi pengetahuan, dan membangun kebiasaan hidup. Dalam Sirah Cai, mata air diposisikan sebagai simbol sumber kehidupan. Istilah sirah cai sendiri dapat dimaknai sebagai kepala atau sumber air. Dari sumber tersebut kehidupan mengalir dan menopang berbagai aktivitas manusia.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Persoalan muncul ketika hubungan manusia dengan alam mengalami perubahan. Sampah, pencemaran, kerusakan vegetasi, eksploitasi sumber daya alam, dan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab dapat mengancam keberadaan sumber air. Pertunjukan Sirah Cai kemudian mengolah persoalan tersebut ke dalam bahasa teater. Dengan demikian, persoalan lingkungan tidak hadir sebagai ceramah ekologis, melainkan sebagai konflik dramatik yang dialami tokoh-tokoh di dalam pertunjukan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Teater Lingkungan Richard Schechner(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Pendekatan environmental theater Richard Schechner menjadi salah satu perspektif yang relevan untuk membaca pertunjukan Sirah Cai. Schechner memandang bahwa peristiwa teater tidak hanya terdiri atas aktor dan teks, tetapi merupakan hubungan berbagai unsur. Dalam artikelnya, “6 Axioms for Environmental Theater”, Schechner menjelaskan bahwa peristiwa teater mencakup penonton, pemain, teks, rangsangan sensoris, ruang atau bangunan, peralatan produksi, serta unsur-unsur lain yang terlibat dalam peristiwa pertunjukan. Pandangan tersebut memperluas pengertian panggung. Teater tidak harus selalu berlangsung dalam gedung dengan pembagian tegas antara panggung dan penonton. Ruang yang digunakan dapat menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan. Salah satu prinsip Schechner menyatakan:(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

“All the space is used for performance; all the space is used for audience.”(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Dengan prinsip tersebut, ruang tidak lagi hanya menjadi latar tempat berlangsungnya cerita. Ruang menjadi bagian dari peristiwa teatrikal itu sendiri. Schechner juga membedakan antara ruang yang sengaja ditransformasikan menjadi ruang pertunjukan dan found space, yaitu ruang yang sudah memiliki karakter serta fungsi sebelum digunakan sebagai tempat pertunjukan. Dalam konteks Sirah Cai, penggunaan Amben Mang Dani di Kampung Tapen, Lebak Cadasari menjadi menarik. Tempat tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai lokasi pertunjukan, tetapi menghadirkan konteks sosial dan kultural masyarakat di dalam pengalaman teatrikal.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Dengan kata lain, pertunjukan tidak membawa persoalan lingkungan ke ruang yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, persoalan tersebut dihadirkan di tengah ruang kehidupan masyarakat.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Dari Panggung ke Ruang Kehidupan(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Pemilihan lokasi pertunjukan memiliki konsekuensi artistik sekaligus sosial. Jika panggung konvensional cenderung menciptakan batas antara aktor dan penonton, pendekatan teater lingkungan berusaha membuat hubungan tersebut lebih dinamis. Schechner bahkan menjelaskan bahwa fokus dalam teater lingkungan dapat bersifat fleksibel dan berubah-ubah, sehingga pengalaman setiap penonton terhadap sebuah peristiwa dapat berbeda.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Konsep tersebut memberikan kemungkinan bagi Sirah Cai untuk tidak hanya “mempertontonkan” persoalan lingkungan, tetapi menciptakan pengalaman ruang yang lebih dekat dengan masyarakat. Penonton tidak hanya melihat cerita tentang mata air, tetapi berada dalam ruang kebudayaan tempat persoalan lingkungan itu dibicarakan. Di sinilah teater dapat berfungsi sebagai ruang penyadaran.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Kesadaran tidak selalu dibangun melalui ceramah. Kesadaran dapat tumbuh melalui pengalaman, emosi, konflik, humor, simbol, dan refleksi yang dialami penonton selama menyaksikan pertunjukan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Sirah Cai sebagai Otokritik Lingkungan(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Salah satu aspek penting dalam pertunjukan Sirah Cai adalah otokritik. Persoalan lingkungan sering kali dipahami sebagai kesalahan pihak lain. Masyarakat dapat menyalahkan pemerintah, industri, penambang, atau pihak tertentu ketika terjadi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Namun, Sirah Cai mengembalikan pertanyaan tersebut kepada manusia sendiri. Bagaimana masyarakat memperlakukan air? Bagaimana masyarakat membuang sampah? Bagaimana manusia menggunakan sumber daya alam? Dan yang paling penting, apakah manusia bersedia menjaga sesuatu yang sebenarnya menopang kehidupannya sendiri? Otokritik menjadi penting karena kerusakan lingkungan sering kali tidak terjadi melalui satu tindakan besar, melainkan melalui akumulasi tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

embuang sampah ke sungai atau sumber air mungkin tampak sebagai tindakan sederhana. Namun, ketika dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus, tindakan tersebut dapat menjadi persoalan ekologis. Melalui karakter dan konflik dramatiknya, Sirah Cai berusaha menjadikan persoalan tersebut sebagai cermin bagi penonton. Penonton tidak hanya diajak melihat “orang lain yang bersalah”, tetapi berhadapan dengan kemungkinan bahwa dirinya sendiri merupakan bagian dari persoalan. Dengan demikian, teater berfungsi sebagai ruang refleksi sosial.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Menjaga Sirah Cai sebagai Kebutuhan Berkelanjutan(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Persoalan mata air juga berkaitan dengan gagasan keberlanjutan. Air yang tersedia saat ini tidak hanya menjadi hak generasi sekarang. Ia juga berkaitan dengan kehidupan generasi mendatang. Karena itu, menjaga sumber air dapat dipahami sebagai bentuk tanggung jawab antargenerasi. Dalam konteks tersebut, Sirah Cai membawa pesan bahwa lingkungan bukan warisan yang dapat digunakan tanpa batas, melainkan ruang kehidupan yang harus dipelihara. Mata air menjadi metafora hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Apa yang diwariskan oleh alam dan generasi sebelumnya harus dirawat oleh generasi sekarang agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Pertunjukan akhirnya mengajak masyarakat memikirkan kembali hubungan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Seni sebagai Strategi Budaya(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Persoalan lingkungan pada dasarnya juga merupakan persoalan kebudayaan. Kebudayaan membentuk cara manusia berhubungan dengan alam. Dalam konteks ini, teater dapat menjadi strategi budaya karena mampu mempertemukan pengetahuan ekologis dengan pengalaman masyarakat. Sirah Cai tidak hanya menggunakan tema lingkungan sebagai isi cerita. Pertunjukan juga mempertemukan persoalan lingkungan dengan unsur kebudayaan lokal Banten. Salah satunya adalah Maca Syech. Kehadiran Maca Syech menjadi penting karena seni tradisi tidak hanya diperlakukan sebagai ornamen pertunjukan, tetapi ditempatkan dalam konteks upaya menghidupkan kembali ekspresi budaya yang semakin jarang muncul.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip UNESCO mengenai warisan budaya takbenda. UNESCO mendefinisikan warisan budaya takbenda sebagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan yang diakui oleh komunitas sebagai bagian dari warisan mereka. Warisan tersebut diwariskan antargenerasi dan terus diciptakan kembali oleh komunitas dalam hubungannya dengan lingkungan, sejarah, dan kehidupan sosialnya. Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan dokumentasi. Tradisi harus tetap memiliki ruang untuk dipraktikkan dan ditransmisikan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

UNESCO juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dalam pelestarian warisan budaya takbenda karena komunitaslah yang menciptakan, memelihara, dan meneruskan praktik budaya tersebut. Dalam konteks Sirah Cai, kehadiran Maca Syech di dalam pertunjukan dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan kembali tradisi ke dalam ruang sosial masyarakat.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Maca Syech di Tengah Persoalan Kontemporer(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Kehadiran Maca Syech memberikan dimensi lain bagi Sirah Cai. Seni tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dipertemukan dengan persoalan masa kini. Di sinilah terjadi dialog antara tradisi dan isu ekologis. Maca Syech membawa ingatan budaya, sementara Sirah Cai membawa persoalan lingkungan kontemporer. Keduanya bertemu di dalam ruang pertunjukan. Strategi semacam ini membuat pelestarian tradisi tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk, tetapi memberikan kesempatan kepada tradisi untuk kembali berfungsi sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Hal tersebut juga mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Kebudayaan Banten. “Kegiatan ini sangat baik, sebagai ruang kebudayaan yang berdampak bagi masyarakat serta memberikan kesempatan kepada seni Maca Syech yang hampir punah untuk kembali dimunculkan untuk dilestarikan.” Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya dua dimensi penting dalam kegiatan Sirah Cai: dampak kebudayaan bagi masyarakat dan upaya menghadirkan kembali seni tradisi.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya berbicara mengenai lingkungan alam, tetapi juga mengenai lingkungan budaya.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Lingkungan Alam dan Lingkungan Budaya
Menariknya, Sirah Cai mempertemukan dua persoalan yang sering kali dibicarakan secara terpisah: pelestarian lingkungan alam dan pelestarian kebudayaan. Padahal, keduanya memiliki hubungan yang erat. Kebudayaan tumbuh dari interaksi manusia dengan lingkungan. Pengetahuan mengenai air, tanah, pertanian, musim, hutan, sungai, dan sumber daya alam dapat berkembang menjadi kebiasaan, ritual, seni, cerita, dan praktik sosial. UNESCO juga menempatkan hubungan antara warisan budaya takbenda dan lingkungan sebagai bagian dari definisinya, yaitu bahwa warisan tersebut terus diciptakan kembali oleh komunitas sebagai respons terhadap lingkungan, interaksi dengan alam, dan sejarah mereka.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Oleh karena itu, ketika lingkungan mengalami kerusakan, sebagian pengetahuan dan praktik budaya yang berkaitan dengan lingkungan juga berpotensi kehilangan ruang hidupnya. Dalam perspektif tersebut, menjaga sirah cai berarti tidak hanya menjaga air, tetapi juga menjaga ruang tumbuh kebudayaan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Pertunjukan sebagai Ruang Pertemuan Masyarakat(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Sirah Cai pada akhirnya menghadirkan sebuah ruang pertemuan. Di satu sisi terdapat persoalan ekologis: air, sampah, pencemaran, dan perilaku manusia. Di sisi lain terdapat persoalan kebudayaan: tradisi, Maca Syech, identitas lokal, dan pewarisan pengetahuan. Teater menjadi medium yang mempertemukan keduanya.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Konsep Schechner mengenai teater lingkungan memperkuat posisi tersebut. Peristiwa teatrikal dipahami sebagai rangkaian hubungan atau transaksi antara berbagai unsur, bukan hanya hubungan aktor dengan teks. Dalam kerangka itu, masyarakat, ruang Kampung Tapen, aktor, penonton, benda pertunjukan, musik, tradisi Maca Syech, dan tema mata air dapat dipahami sebagai bagian dari satu peristiwa kebudayaan. Pertunjukan kemudian tidak berhenti pada panggung. Ia dapat menjadi pemantik percakapan setelah pertunjukan selesai.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Merawat Air, Merawat Kebudayaan(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Pertunjukan Sirah Cai karya/sutradara Giri Mustika Roekmana pada akhirnya memperlihatkan kemungkinan teater untuk bergerak melampaui fungsi hiburan. Teater dapat menjadi ruang refleksi ekologis. Teater juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan tradisinya sendiri. Dan teater dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan lingkungan.(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Melalui Sirah Cai, mata air ditempatkan sebagai simbol keberlanjutan kehidupan. Sementara Maca Syech ditempatkan sebagai bagian dari ingatan dan identitas budaya yang perlu memperoleh ruang hidup kembali. Keduanya bertemu dalam satu gagasan besar: merawat sumber kehidupan sekaligus merawat sumber kebudayaan. Pertunjukan yang berlangsung pada Sabtu, 12 September 2026 pukul 20.00 WIB di Amben Mang Dani, Kampung Tapen, Lebak Cadasari, Pandeglang, Banten, dengan demikian dapat dibaca sebagai sebuah praktik seni yang mempertemukan estetika, lingkungan, masyarakat, dan pelestarian budaya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan Sirah Cai bukan hanya tentang apakah air masih tersedia. Pertanyaannya juga: kebudayaan seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya? Sebab ketika manusia menjaga mata air, manusia sesungguhnya sedang menjaga kehidupan. Dan ketika masyarakat memberi ruang hidup kepada tradisinya, masyarakat sedang menjaga ingatan tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

Daftar Pustaka(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)

  1. Schechner, Richard. 1968. “6 Axioms for Environmental Theater.” The Drama Review, Vol. 12, No. 3, hlm. 41–64.
  2. Schechner, Richard. 1973. Environmental Theater. New York: Hawthorn Books.
  3. Schechner, Richard. 2002. Performance Studies: An Introduction. London: Routledge.
  4. UNESCO. 2003. Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO.
  5. UNESCO. 2014. Best Safeguarding Practices of Living Heritage. UNESCO.
  6. UNESCO. 2024. Involvement of Communities, Groups and Individuals in Safeguarding Intangible Cultural Heritage. UNESCO.
Giri Mustika Roekmana M.Sn.

(Source: kosapoin.com/sirah-cai-teater-lingkungan-sebagai-ruang-penyadaran-dan-pelestarian-budaya-banten)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *