TANGAN YANG BERDOA

tangan yang berdoa fiks

TANGAN YANG BERDOA
Drama Tragedi Psikologi
diangkat dan dialihwahanakan dari monolog “Atas Nama Doa atawa Senyum Lastri” yang saya tulis pada tahun 2008(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Drama: Lintang Ismaya(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CATATAN PENGARANG(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Tentang ingatan, dosa, dan Ruang Panggung(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Monolog Atas Nama Doa atawa Senyum Lastri berkisah tentang perjalanan batin Raka, seorang terpidana mati yang mencoba menulis ulang sejarah hidupnya sebagai kedok untuk menutupi luka. Baginya, sejarah bukan sekadar kronologi, melainkan cara membenarkan diri sekaligus menyembunyikan luka. Dalam alih wahana ini, ingatanya mewujud menjadi labirin pikiran yang mencekam. Raka ingin menjadi pelindung, sekaligus menegakkan keadilan, tetapi yang dilahirkannya justru kehancuran. Raka mengira pada segenap tindakannya adalah pengabdian, padahal tanpa disadari olehnya telah menjadi budak bagi lukanya sendiri. Tragedi Raka dalam drama ini bukan soal kebenaran, tapi nurani yang mati. Simpul-tegasnya, Raka membunuh atas nama doa, sampai tangannya sendiri lupa caranya jadi manusia.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ALUR PENGADEGAN(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Struktur alur pengadegan yang digunakan memakai alur cerita prismatik, yang memecah satu pristiwa sentral menjadi berbagai sudut pandang emosional tanpa urutan waktu kaku, layaknya prisma yang memantulkan satu cahaya menjadi spektrum warna. Pola ini sengaja membenturkan dua realitas yang bertolak belakang secara bersamaan untuk mengupas kontras psikologis tokohnya. Melalui teknik ini, tidak sekadar mengikuti kronologi kejadian, melainkan diajak menggali kedalaman makna dari satu momen tunggal secara utuh. Ada pun alasan penggunaaan struktur alur ini adalah untuk mengakomodasi sifat psikologi manusia. Saat mengingat dan menuliskan masa lalu, alur berpikir manusia secara natural cenderung melompat-lompat, bukan linear.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Catatan khusus:(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

  1. Layar Pannggung Putih.
  2. Dalam satu alur pengadegan, pengarang menyelipkan konsep metateater. Dengan tujuan sebagai relaksasi, baik untuk aktor sendiri pun penonton.
  3. Ada juga satu adegan menggunakan visual: Teater ditutup dengan bahasa cinema.

KONSEP ARTISTIK PANGGUNG(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Panggung dirancanng minimalis tanpa dekorasi realistis, hanya menghadirkan layar putih, meja tua, kursi, buku kosong, buku-buku, bolpoin, koran, tas usang, botol dan lampu gantung sebagai elemen kunci. Pencahayaan diatur dinamis untuk menciptakan efek jeruji yang mengekang, sekaligus bisa bertransisi mulus dalam mengubah ruang menjadi berbagai latar—dari “kamar masa kecil” hingga ruang pengadilan batin, objek-objek di panggung tidak memiliki fungsi tunggal; meja dan kursi terus bertansformasi menjadi simbol yang mengaburkan batas antara penjara dan memori keluarga. Konsep ini menegaskan bahwa masa lalu bukanlah entitas mati, melainkan “arsip ingatan” yang hidup dan kembali untuk mengadili Raka di atas panggung.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Tokoh-Tokoh(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

  1. Raka (±35 tahun): Seorang intelektual yang hancur; penyair yang memilih menjadi algojo. Ia terjebak dalam delusi bahwa tindakannya adalah misi suci. Cerdas, sarkas, sekaligus rapuh di balik topeng kegilaan yang Raka bangun sendiri sebagai bentuk pertahanan dari trauma masa lalu.
  2. Lastri Kinasih (25–30 tahun): Adik Raka. Bukan sekadar korban, ia adalah manifestasi dari doa dan dendam yang bercampur. Tumbuh dengan psikis yang terdistorsi oleh lingkungan, Lastri menjadi cermin bagi Raka—saksi bisu yang pada akhirnya menjadi pengkhianat atas cinta mereka sendiri.
  3. Ibu (50–55 tahun): Sosok sakral yang menjadi sumber kerinduan sekaligus beban bagi Raka. Kematiannya bukan sekadar kehilangan, melainkan pemicu runtuhnya fondasi moral dalam hidup anak-anaknya.
  4. Bapak (58–65 tahun): Laki-laki dengan moral yang keropos; sosok yang menggunakan kekuasaan patriarki untuk menutupi aib dan kegagalannya sendiri. Keputusannya menjadi pemicu utama yang meruntuhkan kemanusiaan dalam diri Raka.
  5. Ibu Tiri (45–50 tahun): Simbol dari “orang asing” yang datang di atas puing-puing keluarga yang sudah retak. Kehadirannya memicu ledakan konflik yang tak terelakkan, mengubah rumah menjadi ladang pembantaian nurani.
  6. Penjaga / Suara (40–50 tahun): Sosok mekanis yang mewakili tatanan dunia yang dingin. Penjaga bisa menjadi sipir yang tanpa emosi, suara-suara sumbang di kepala Raka, atau refleksi dari dogma yang menghakimi Raka tanpa pernah benar-benar mendengarkan alasan di balik perbuatannya.
  7. Polisi (30–40 tahun): Representasi dari realitas yang tak bisa lagi dibantah dengan narasi puitis apa pun. Kehadirannya adalah batas akhir di mana kegilaan Raka berbenturan dengan konsekuensi hukum dan akhir dari pelarian panjang sang jagal. Catatan: Jumlah personil Polisi bergantung pada tafsir sutradara dalam mengonstruksi tekanan suasana saat eksekusi.

BABAK I(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PROLOG | PANGGUNG GELAP. TERDENGAR SUARA TETESAN AIR. DENTING BESI DAN DETAK JAM. JEDA. CAHAYA TIPIS DENGAN KESAN DINGIN. RUANG PENJARA TERGAMBAR. RAKA MERINGKUK SEPERTI ANJING. BOLPOIN DAN BUKU JATUH DARI ATAS MENIMPA TUBUHNYA. RAKA TERSENTAK OLEH JATUHNYA BUKU DAN BOLPOIN. DUA TANGAN DAN DUA KAKINYA MENGGELIAT LURUS SEPERTI ANJING. SEBUAH SUARA MENYAPANYA DENGAN SUARA DATAR YANG KONSTAN.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Hari sudah siang. Waktunya bangun.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sudah dari tadi aku bangun. (Mengambil buku dan bolpoin) Hanya saja di tempat ini aku tidak pernah tahu kapan siang. Kapan malam.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Tulislah biografi hidupmu. Siapa tahu kau jadi figur fantastik.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Bagaimana mau nulis. Kata almarhumah ibuku, makan dulu… baru ibadah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Jatah makanmu sudah habis. Tulislah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Tertawa lepas, sinis) Apakah Tuhan semiskin itu hingga jatah makanku habis? (Jeda) Wahai dunia yang budiman, atas dasar apa kalian ingin tahu biografiku? (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Tulis. Sisa waktumu dua belas jam. Tulislah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Bukannya tidak mau nulis. Kenapa kalian itu begitu kukuh ingin tahu sejarah hidup si aku ini?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Pokonya tulis saja.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Oke lah kalau begitu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Tulis. Jangan gunakan bukunya untuk corat-coret yang tidak perlu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Siapa takut? Biar aku susun jadi dongeng pengantar tidur yang paling busuk.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: (Tenang) Fokus pada berkasmu. Biografi. Riwayat tindakan. Bukan ocehan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Menulis dengan cepat, bicara ke arah penonton) Nama: Raka. Pekerjaan: Algojo amatir yang salah alamat, itu kata orang. (Berhenti. Menatap ke arah sumber suara) Kau dengar itu? Aku sudah menuliskannya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Segala hal yang tidak perlu, jangan dituliskan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ya… itu bagimu. Bagi kalian, kejujuran itu tidak perlu. Iya, kan?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: (Dingin) Fokus pada format penulisan. Bukan terus mengoceh.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ocehan, katamu? Dengar, ya. Aku membunuh itu karena doa. Doa itu perbuatan! Aku mewujudkan keinginan untuk membersihkan sampah dari bumi. Apakah itu salah? Bukankah aku sangat sholihah? (mendengar diksi sholihah SUARA tertawa lepas) Ya… kau boleh tertawa sekeras itu. Karena hanya aku satu yang bisa membebaskan mereka dari dunia yang bising ini.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA: Jangan membuang waktu dengan argumen. Eksekusi tidak akan ditunda hanya karena kau merasa suci.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

TERDENGAR SUARA JENDELA BESI DITUTUP-KUNCIKAN. SUARA LANGKAH MENJAUH. KEMBALI TERDENGAR SUARA TETESAN AIR. DENTING BESI DAN DETAK JAM. JEDA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Menatap bolpoin. Tertawa lirih) Benar. Eksekusi. Prosedur. (Tertawa) Kalian hanya butuh statistiknya saja, iya kan? Bukan butuh jiwanya. Kalian hanya butuh memastikan tubuhku jadi lubang peluru, bukan memastikan kenapa aku jadi begini. Kenapa aku jadi iblis, seperti kalian bilang! (Bertingkah) Tapi, sebelum kalian menembakku—ingatlah, bahwa setiap bajingan dulunya adalah anak kecil yang dipaksa minum air tuba milik orang tuanya. (Hening) (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACOUT(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BABAK II(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 1 | CAHAYA TURUN MEMBENTUK JERUJI PENJARA. RAKA DI BELAKANGNYA SAMBIL MEMBACA BUKU CATATANNYA. BAYANGAN JERUJI NEMPEL DI PUNGGUNGNYA. CAHAYA MENGUAT. BAYANGAN JERUJI MEMUDAR BERSAMAAN DENGAN RAKA MEMUTARKAN TUBUHNYA. DI RUANG LAIN, CAHAYA BIRU PEKAT MENGUAT YANG PERLAHAN MEMUDAR DIGANTI CAHAYA LAIN SAMPAI TERLIHAT SOSOK IBU YANG SEDANG MEMBERESKAN BUKU DAN MELIPAT PAKAIAN DI ATAS MEJA. RAKA PERLAHAN MENOLEH KE ARAH IBU. SETERUSNYA KE ARAH PENONTON.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sungai surga itu Ibu. Bayangkan, berapa liter kehidupan yang telah dialirkan dari tubuhnya ke dalam tubuh kita? Dan cinta Ibu adalah sebuah ketulusan yang tak akan pernah bisa kita lunasi. Cintanya adalah cinta yang selalu menunda dirinya sendiri. (menatap sekitar) Dan bagiku, rumah itu tak ubahnya sebuah ladang… di mana semua musim bisa singgah di sana. Dan di sana pula tumbuhnya luka pertama.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Raka, kau sedang apa di sana?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku sedang mengingat, Bu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Raka, apa kau tak lelah terus-menerus membedah masa lalu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ibu sendiri saban hari masih dengan gerakan yang sama.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Apa yang kau lihat belum tentu benar.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ibu pernah berkata: benar kata siapa. Salah kata siapa.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Iya, kau benar, Nak. (Jeda) Pada saatnya nanti kau akan paham mana itu kewajiban dan mana itu hak. (Melanjutkan melipat) Satu hal yang harus kau ingat, Nak… jangan pernah melangkah di luar kasih.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA BERGESER. BAPAK MUNCUL DI SISI LAIN. BERDIRI TEGAK. MEMEGANG TAS KERJA. TIDAK BERGERAK. KAKU. SUARANYA BERAT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Kelemahan itu menular, Raka. Dan kau pembawa wabahnya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Menghampiri BAPAK) Hanya itu saja kah yang bisa Bapak wariskan… dogma basi. Seperti kutukan saja. Bapak tahu apa yang lucu? Bapak memaksaku jadi “kuat” supaya aku bisa melindungi Bapak dari aib Bapak sendiri… tapi nyatanya? Bapak hanya menciptakan bajingan yang bahkan aku sendiri tidak tahan melihat wajah Bapak di cermin.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK TETAP MEMATUNG. IBU MASIH MELIPAT BAJU. RAKA KEMBALI KE TENGAH. CAHAYA MULAI MELUKIS BAYANGAN, PENANDA WAKTU BERGESER.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Menghadap penonton) Setiap malam, mereka datang membawa daftar dosa yang tak pernah aku minta. Kenapa pula aku yang harus menanggungnya? (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA YANG MENERANGI IBU DAN BAPAK MEREDUP. DARI RUANG LAIN CAHAYA MUNCUL. LASTRI BERJALAN CEPAT MENGHAMPIRI RAKA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas… sudah… jangan dilanjutkan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ini soal kehormatan Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tapi, kita bisa terluka Mas.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Luka itu buah. Buah itu sari. Sari itu rasa. Rasa itu rasa yang harus dibalas dengan rasa. (Jeda) Kenapa kau selalu baik, seperti Ibu? (Melangkah) Andai saja di itu waktu kau tak memohonku untuk berhenti, tentu sudah mati. Kenapa pula Ibu tak boleh tahu atas perlakuan Bapak padamu? Kenapa? (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU BERJALAN DARI ARAH GELAP. MENGHAMIRI RAKA DAN LASTRI. SETERUSNYA LEBIH DEKAT PADA LASTRI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Nama itu doa. Ibu memberi namamu Lastri Kinasih, karena Ibu ingin kamu membawa sesuatu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Memotong) Membawa apa, Bu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Kasih.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kasih?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Iya, Nak. Kasih itu bukan sekadar sesuatu yang dirasakan. Kasih adalah sesuatu yang harus dijaga. (RAKA melangkah, menjauhi IBU dan LASTRI)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Meski orang itu sengaja tidak berehenti menyakiti kita, Bu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Tetap (Menatap tajam) jangan sampai kita kehilangan kasih.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

KEMBALI RAKA MENGAKAH MENDEKATI ARAH PENONTON. CAHAYA PANGGUNG YANG TERSISA HANYA PADA RAKA SEMATA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Menatap kosong) Kalimat itu… seharusnya aku ingat. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 2 | RUANG RUMAH. CAHAYA PERLAHAN MENERANGI PANGGUNG. BAPAK DUDUK SENDIRI. DI ATAS MEJA ADA SECANGKIR KOPI DAN KORAN. IBU TIRI BERDIRI DI SUDUT LAIN. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Aku merasa rumah ini kian asing(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Jangan mulai bikin drama. Rumah ya tetap rumah. (Minum kopi)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Siapa yang bikin drama? (Jeda) Rumah itu merekam semua kebusukan yang kita lakukan di dalamnya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: (Tampak BAPAK menahan amarahnya) Kamu menyesal?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Menyesal? Menyesal soal apa?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Masuk ke dalam kehidupan saya… tegasnya, menikah dengan saya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Aku… aku tidak tahu. Teradang kita masuk ke hidup orang lain, tanpa pernah tahu, kalau ruang hidupnya seberantakan ini. Isinya luka semata. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA PINTU TERBUKA. RAKA MASUK. BAPAK BERDIRI. IBU TIRI TAMPAK KAGET KETIKA MELIHAT RAKA MASUK TANPA PERMISI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Raka(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku datang sekadar untuk bertanya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Mau nuntut apa lagi kamu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sudah kukata, aku hanya ingin bertanya; pernahkah Bapak mencintai kami?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Pertanyaan macam apa itu, heh? Aku yang kasih kalian makan. Aku yang gedein kalian. Puas!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Itu transaki, Pak. Bukan jawaban. (Jeda) Pernahkah Bapak melihat kami, barang satu menit saja sebagai anak? Bukan sebagai beban, atau sekadar bukti, kalau Bapak pernah punya kuasa?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Raka…(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Duhai Ibu tiriku… janganlah kau panik begitu. Belanda masih jauh. (Jeda) Satu hal yang harus Bapak ingat, sebenarnya aku sudah tahu jawabannya sedari dulu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Kamu sudah berani melawan?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Melawan? Bapak masih ingat pada dogma basi Bapak: “Manusia menyakiti bukan karena mereka buta, tapi karena mereka dengan begitu sadarnya memilih memejamkan mata.” Dan malam ini, aku datang hanya untuk memastikan mata itu tidak akan pernah terbuka lagi. (Semua lampu langsung padam seketika) BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 3 | CATATAN: SUASANA YANG DIBANGUN TRANSISI DARI ADEGAN 2 KETIKA LAMPU PANGGUNG MATI TOTAL: TERDENGAR SUARA BENDA JATUH. TIDAK ADA VISUAL FISIK TINDAK KEKERASAN YANG DIPERLIHATKAN. HANYA SUARA YANG MENGGANTUNG CUKUP LAMA. SUARA JERITAN. MUSIK ILUSTRASI. BUNYI. JEDA. CAHAYA MUNCUL PERLAHAN. SEBUAH RUANG BARU YANG TIDAK ADA KESAN RUMAH MEREKA, TAPI ARTISTIKNYA BISA SAMA DENGAN CARA MEMBOLAK-BALIKKAN SUDUT PANDANG. HANYA PERMAINAN CAHAYA YANG MENGUBAH MAKNA BENDA-BENDA. RAKA DAN LASTRI MASUK DARI SISI PANNGGUNG, MEMBAWA TAS LUSUH. MEREKA BERJALAN BEBERAPA LANGKAH TANPA ARAH. BERHENTI DI TENGAH RUANG. RAKA DUDUK DI UJUNG MEJA. LASTRI BERDIRI BEBERAPA SAAT SEBELUM IKUT DUDUK. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas, kalau benar kita bukan anak Bapak. (Jeda) Lalu kita ini siapa? (Hening) Mas… adakah Ibu dibunuh Bapak? (RAKA menatap LASRI cukup lama)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku… tidak tahu. (Pandangan kosong) Yang kita tahu hanyalah pasca satu hari Ibu meninggal, Bapak menikah lagi… dan mengusir kita.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Iya, mas. Selama ini, Lastri pikir rumah itu tempat kita berasal. Sekarang rumah itu bahkan bukan milik kita lagi.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kau benar, Lasri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Hilang yang tak pernah hilang. (Memejamkan mata) Lastri masih nungguin suara Ibu klentengan dari dapur. Lastri masih ingat suara engsel pintu dapur, jika berbunyi dan terbuka… Ibu sudah siap dengan masakannya. Sampai detik ini, Lastri masih merasakan kehadiran Ibu, mas. (Jeda) Kenapa hilang itu ada? Ada itu hilang?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Hening) Ada kehilangan yang aneh. Rumah tidak menjadi lebih kecil. Benda-benda tidak berkurang, tapi ada satu suara yang tak pernah terdengar lagi: “Raka, sudah makan? Sudah belajar? Sudah berdoa” (RAKA tersenyum tipis) Lastri… kita ini aneh. Baru sibuk mencari seseorang setelah orangnya tiada. (Jeda) Adil, kan, kalau di ini malam kubalik logikanya? (Memandang kosong) Aku akan membuat kalian tiada, supaya kalian akhirnya mengerti, bagaimana rasanya benar-benar ada. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Itu bukan ajaran Ibu, mas.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Lastri… Kasih itu tindakan. (RAKA mengeluarkan botol dari tas lusuhnya)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Sejak kapan?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA? Apanya yang sejak kapan?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Sejak kapan mas mencari tenang di dalam botol?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sejak doa terasa tidak lagi menemukan alamatnya. (RAKA membuka tutup botol itu, hendak meminumnya. Tangan LASTRI keburu merebutnya)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Ini bukan Ibu yang ngajarin kita.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku tahu itu Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lalu kenapa mas…(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Memotong) Hanya sekadar untuk beberapa saat. Aku lelah… (RAKA keburu kaget ketika melihat LASTRI yang tengah meminumnya sedikit) Lastri!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri juga lelah, mas. (Jeda) Lamat-lamat Lastri mengerti… bahwa melupakan itu lebih mudah daripada menerima. (RAKA merebut botol itu, kembali menutupnya, menyimpannya ke dalam tas lusuhnya) Kenapa mas tak jadi?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kalau kita sama-sama tenggelam, siapa yang akan mengingatkan… bahwa kita pernah jadi manusia? (Suara kereta dari jauh. Lamat-lamat LASTRI tertidur. RAKA membuka jaketnya. Meyelimutkannya pada LASRI) Ini waktu yang tepat. Doamu malam ini dipastikan terkabul, Lastri. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BABAK III(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 1: CAHAYA PERLAHAN MENGUAT. RAKA DUDUK DI ATAS MEJA (DI ANTARA DUA RUANG). TAS LUSUH TERGELETAK DI SAMPINGNYA. RAKA MEMBUKA-BUKA HALAMAN BUKU DIARY IBU. MEMBACANYA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ibu. (Menunduk. Menutup buku. Gelisah) Kenapa baru sekarang? (Kembali membuka halaman yang sama. Membacanya lagi, seolah tak percaya) Tidak.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA HANGAT MUNCUL DARI RUANG LAIN. IBU HADIR DI SANA. BERJALAN SATU LANGKAH.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU:  Raka. (RAKA menoleh) Kamu marah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku hanya ingin mengerti. Kenapa selama ini Ibu diam? Kenapa?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Mengerti? Ya. Mengerti. (Jeda) Adakalanya kita harus mengerti, bahwa hidup punya aturan yang tak bisa dilanggar. (Menatap kosong) Karena, tidak semua kebenaran mampu meyelamatkan manusia.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Apakah itu termasuk ajaran kasih yang selalu Ibu warisan? Kalau benar itu kenyataanya, maka selama ini, aku hanya menjadi pion dalam narasi yang busuk. Aku hidup dengan nama yang palsu. Dibesarkan dalam keluarga yang hanya sandiwara… dan menjalani hidup yang ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milikku.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Tidak seperti itu, Nak. (Jeda) Bukan… Bukan hidupmu yang keliru. Kau harus tahu… bahwa yang sebenarnya cacat hanyalah cara manusia dalam hal memandang apa yang seharusnya mereka muliakan. (IBU berbalik, perlahan melangkah menjauh)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku sudah kehilangan semuanya, Bu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA IBU: Segenap kehilangan yang kau maksud itu hanyalah debu yang akan ditiup waktu… tak akan ada artinya sama sekali, selama kau masih mampu menjaga hatimu tetap utuh, Raka.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA KEMBALI DUDUK. KEMBALI MEMBUKA-BUKA BUKU DIARY IBU. SUARA LANGKAH KAKI DARI JAUH MENDEKAT. LASTRI MENGHAMPIRI RAKA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas… (RAKA menoleh) Mas sedang apa?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Membaca. (Meletakkan buku) Kau belum tidur?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri tak bisa tidur kalau tak diemenin mas. (Jeda) Itu diary Ibu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Iya. (LASTRI mengambil buku dan membuka-buka halamannya)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas sudah ketemu sesuatu yang dicari?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Entahlah. (Jeda) Terang dan jelasnya… ternyata hidup itu jauh lebih busuk dari yang kita bayangkan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tentang kita? (RAKA tidak menjawab. LASTRI membaca beberapa kata, selebihnya bisa disambung dengan suara IBU: voice over) “Anak-anakku, jika kalian membaca ini, mungkin ibu sudah tiada. Banyak hal yang tertahan di sebalik dada Ibu. (Jeda) orang tua dan orang-orang bilang… Ibu salah pilih jalan. Mereka memuja asal-usul, menutup mata pada hati. Mereka melihat dengan tegas perbedaan Ibu dengan Mas Darma. Ibu dituding sok pahlawan yang memungut sampah. Padahal kasih… tidak pernah bertanya dari rumah mana seorang lahir.” (LASTRI menutup buku) Mas, kita harus berhenti mencari jawaban dengan cara seperti ini… dengan cara kebencian.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kalau bukan dengan kebencian, pakai apa? Pakai belas kasih?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Menerima. Penerimaan, seperti yang Ibu ajarkan pada kita.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Menerima setelah semuanya hilang? Setelah Ibu pergi, rumah itu dirampas, dan kita tahu kalau hidup kita ini sekadar sandiwara di atas tumpukan kebohongan?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri juga hancur, mas. Lastri juga terluka. Tapi…(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Memotong) Tapi apa? Kau tidak akan pernah paham rasanya jadi kakak yang gagal menjaga satu-satunya warisan yang tersisa.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri tak pernah meminta mas memikul beban itu sendirian. (LASTRI menunduk, suaranya mengecil) Malam itu… saat kita berpelukan panjang… melambangsari… saat kita mencoba mencari ketenangan di tengah dunia yang mengucilkan kita… Lastri sadar. Itu bukan cinta. Kita hanya terlalu takut sendirian.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Tapi… Aku… Aku mencintaimu, Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tidak, mas. Itu bukan kasih. Itu hanya luka yang berusaha kita obati dengan luka yang lain. Kalau kita terus-terusan begini, kita enggak lagi menyelamatkan satu sama lain. Kita hanya sedang membunuh sisa-sisa manusia yang masih ada di dalam diri kita. Seperti yang mas pernah bilang pada Lastri, “Kalau kita sama-sama tenggelam, siapa yang akan mengingatkan bahwa kita pernah jadi manusia?” (Jeda) Mas, masih ingat dengan ucapan mas sendiri?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kita sudah terlambat untuk sadar, Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kita? Kenapa mas bawa-bawa Lastri?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Berpaling) Perempuan tak pernah salah. Capek deh! (Menghadap LASTRI) Maaf. Aku ralat. Aku sudah terlamat untuk sadar, Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Belum mas. Masih ada waktu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Tidak dengan cara apa pun.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri paham. Berulang kali mas bicara seperti itu. Berulang kali pula Lastri mengingatkan mas. Mas, Lastri tahu mas sakit. Lastri tahu kita hancur. Tapi tolong… jangan biarkan kegilaan ini mengambil diri mas yang sebenarnya. (Jeda) Kini Lastri sadar. Kita sudah… (Memejamkan mata) sudah terlalu jauh melangkah, mas. (Jeda) Lastri maafkan mas. Maafkan juga Lasri, ya, mas. (Jeda) Selama ini kita sudah melupakan ajaran Ibu, tentang doa, adab dan moral. (Hening) (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 2 | CAHAYA KEMBALI MELUKISKAN SILHUET RUANG PENJARA. RAKA DUDUK SAMBIL MEMBACA DAN MENULIS DI ATAS MEJA. SAMBIL MENULIS, RAKA BERTAKA-KATA. DI BELAKANG SAMPING KANAN RAKA ADA CAHAYA YANG TUMBUH YANG LAMAT-LAMAT SEMAKIN KUAT TERANGNYA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Doa… (RAKA menulis) Sejak kecil, aku diajari perihal doa. Doa itu harapan. Ya, harapan agar manusia tidak kehilangan jalan. Lamat-lamat aku meyakini bahwa doa adalah keinginan. Keinginan agar dunia menjadi lebih adil. Dan akhirnya aku mengira doa adalah tidnakan. Dengan demikian, segala apa pun yang kulakukan bukanlah dosa. Sebab doa adalah keinginan. Bukankah keinginan itu harsus diwujudkan? Pewujudan adalah tindakan. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA IBU: Raka. (Raka menoleh. Bangkit) Tidak semua keinginan adalah doa.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ibu selalu benar, tapi Bapak pernah bilang; tidak semua tindakan adalah dosa.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA IBU: Bapak benar, Nak… tapi sebelumnya kau harus bertanya satu hal, dari manakah datangnya tindakan itu… apakah terlahir dari kasih, atau dari duka?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku tidak tahu, Bu. Aku hanya tahu satu hal… Aku lelah, Bu. (Jeda) Aku lelah melihat orang yang menyakiti terus hidup seolah tidak pernah bersalah. Aku lelah melihat orang baik terus kalah. Aku lelah melihat napas-napas dunia yang tidak pernah berani melakukan sesuatu… maka biarkan aku…(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA IBU: (Memotong) Raka, jangan pernah gunakan nama Ibu untuk membenarkan sesuatu yang tidak pernah Ibu ajarkan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Maafkan Raka, Bu… Raka sudah memilih menjadi tangan yang melakukan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA KUAT PERLAHAN HILANG. RAKA KEMBALI DUDUK. TERDENGAR SUARA TETESAN AIR. DENTING BESI DAN DETAK JAM. HENING. RAKA KEMBALI MENULIS. PERLAHAN ADA CAHAYA LAIN DI BELAKANG RAKA YANG KEMBALI MENGUAT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sejak kecil aku hidup di antara dua suara. Suara Ibu tentang kasih. Suara Bapak tentang bertahan. Aku tidak tahu mana yang benar.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA BAPAK: Kebenaran tidak selalu berada di satu sisi. (RAKA menoleh)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ngapain ke sini? (CAHAYA perlahan meredup) Ups… sebentar. (Berpaling) Boleh juga jadi sumber jawaban. (Menatap CAHAYA) Lantas, di mana aku harus mencari kebenaran itu, Pak? (CAHAYA membesar)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA BAPAK: Kebenaran itu adanya di dalam hati yang mau bertanggung jawab.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Halah… jawaban nyontek saja bangga. Itu kata-kata Ibu. (Jeda) Sudah plagiat, tak bermutu. Dasar oportunis.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA PERLAHAN MENGHILANG. RUANG PENJARA KEMBALI HADIR. RAKA KEMBALI DUDUK. MELANJUTKAN MENULIS. TERDENGAR KEMBALI SUARA TETESAN AIR. DENTING BESI DAN DETAK JAM.  HENING. TERDENGAR SUARA LANGKAH KAKI DARI BALIK JERUJI LUAR, MENGHAMPIRI RAKA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Sudah selesai menulis?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Tinggal bab akhir.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Bab akhir?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ya, akhir!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Akhir? (Jeda) Besok kamu mati. Dua belas penembak sudah menanti.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku tak bisa mati. Besok itu hanya tubuhku yang selesai… tapi segenap pertanyaanya akan terus hidup di bumi.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Berdoalah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (RAKA bertepuk tangan) Ibuku memang keren, banyak followersnya. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA PERLAHAN BERUBAH. BAYANGAN RUANG PENJARA TETAP ADA. DARI SISI LAIN PANGGUNG MUNCUL CAHAYA YANG SAMAR. RAKA MEMALINGKAN WAJAH KE ARAH CAHAYA YANG SAMAR. CAHAYA ITU HANYA DILIHAT OLEH RAKA. PENJAGA MEMPERHATIKAN RAKA. PANDANGAN PENJAGA MENGIKUTINYA, TAPI TUBUHNYA TIDAK, HANYA KEPALANYA SAJA YANG MENGIKUTI KEMANA PUN RAKA BERGERAK.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA LASTRI: Iya mas(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kenapa waktu itu… kau tersenyum?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA LASTRI: Bahagia, karena Lasri kembali melihat kakakku kembali.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kembali kakaku kembali? Maksudmu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA LASTRI: Ya. Kembali. Kakaku kembali menjadi manusia.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Menurutmu selama ini aku bukan manusia?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA LASTRI: Terlewat manusia; seperti halnya iblis terlewat malaikat.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Oh… jadi itu maksudmu, kau memasukanku ke sini? (Senyum) Kau memang tak pernah salah, seperti Ibu. Ya, kau benar Lastri. Aku akan kembali menjadi manusia, pasca melangit. (Jeda) Padahal, aku pikir. Aku hanya sekadar menjalankan doamu saja.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA LASTRI: Mas, doa itu tidak pernah meminta manusia untuk kehilangan kemanusiaanya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Gembira) Yes! Followersnya Ibu bertambah lagi. (Menatap CAHAYA) Menurutmu, apa arti doa yang sebenarnya?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA LASTRI: Mungkin… atau bisa jadi, doa adalah keberanina untuk melihat diri sendiri, tanpa adanya alasan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Lama-lama kau persis Bapak… Plagiat sejati yang oportunis. Tapi tak apa. Toh, sejatinya kita hidup adalah sisa-sisa… Ya, sisa-sisa… Sebab setiap generasi mewarisi warisan dari generasi sebelumnya. Kau benar Lastri. Kita adalah produk dari sejarah panjang yang penuh dengan peristiwa, gagasan, dan pencapaian. Iya, toh? (Jeda) Lastri… woi… kau hendak ke mana? Tumben tak mau ditemani. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA YANG SAMAR PERLAHAN MEMUDAR. PENJAGA MASIH BERDIRI: MELIHAT RAKA, MENATAP KE ARAH TEMPAT RAKA DALAM MELONTARKAN KATA-KATA, SEOLAH PENJAGA MEMAHAMI APAKAH ADA SESEORANG DI SANA ATAU HANYA PERCAKAPAN RAKA DENGAN DIRINYA SENDIRI. PENJAGA TIDAK BERKATA APA-APA. PENJAGA TIDAK MEMBERIKAN SIMBOL APA-APA. PENJAGA BERBALIK DAN PERGI. TERDENGAR SUARA PINTU BESI JERUJI LAIN DITUTUP DAN DIKUNCI. CAHAYA LAIN MENGECIL PERLAHAN. HANYA TERSISA SATU TITIK DI ATAS UBUN-UBUN RAKA, SEBELUM GELAP TOTAL. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 3 | RUANG RUMAH. RAKA. LASRI. IBU. BAPAK. CAHAYA PERLAHAN MENERANGI “LATRI MUDA” DAN “IBU MUDA” YANG SEDANG MENGAJARKAN LASTRI. LASTRI MEMEGANG BOLPOIN DAN BUKU, SIAP MENULIS SAMBIL MENDENGARKAN IBU YANG SEDANG MEMBACA BUKU PELAJARAN.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Bikin puisi, tentang Ibu? (Jeda) Ibu baca dulu ya petunjuknya. (LASTRI mengangguk) Setelah Ibu baca, sebaiknya nunggu kakakmu pulang kuliah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kenapa harus menunggu kakak, Bu?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Puisi dan artikelnya kan banyak dimuat di koran.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kata Bapak, Ibu itu serba bisa.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Bisa itu bukan berarti ahli.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

TENGDENGAR SUARA PINTU TERBUKA. SUARA LANGKAH KAKI. “RAKA MUDA” MASUK MENGGENDONG TAS DAN SEBUAH KORAN DI TANGAN(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Bu, prosa Kita Adalah Sisa-Sisa dimuat. Ibu hebat. Ini berkat Ibu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Berkat Ibu? (RAKA memberikan koran pada Ibu)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Iya, Lastri… Ibu kita yang revisi tulisanku.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: (Menatap Ibu) Katanya Ibu tidak paham pelajaran sastra.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Bukan begitu… hanya kebetulan saja. Ibu sudah bilang, bisa itu belum tentu ahli. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Ibu pilih kasih. (LASTRI Pergi)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Bu… Lastri ngambek.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Sebenarnya… bukannya Ibu tidak mau mengerjakannya, Nak. Ibu ingin kalian itu bisa saling membantu sampai tua. Saling pengertian. Saling memahami. Ya, harus dibiasakan sejak dini. Tentang rasa. Rasa itu harus dipupuk sejak dini, jangan sampai peduli itu hanya datang ketika ada masalah saja. (Jeda) Ibu takut, tidak sempat mengajarkan kalian cukup banyak. (Menunduk) Umur itu tidak ada yang tahu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ibu jangan bicara seperti itu. Raka paham. Ibu sudah mengajarkan kita banyak.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Belum tentu kalian mengingatnya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku akan selalu ingat, Bu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Ya, Ibu percaya. Kalau begitu… jangan biarkan luka membuatmu lupa.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Oke Bossku. (Mencium kening IBU. Seterusnya RAKA membawa buku-buku Lastri beserta bolpoinnya) Lastri… Lastri… I’m coming, but not soon (IBU mencubit pinggang RAKA. RAKA menahan sakit, tanpa bersuara. RAKA berkata pelan) Ibu jelek! (RAKA berlari)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU HANYA TERSENYUM, MENGGELENGKAN KEPALANYA. DUDUK. “BAPAK MUDA” MASUK DENGAN LANGKAH TERGESA MENGHAMPIRI IBU.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Kenapa rokok dan kopiku belum ada?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Tadi warungnya tutup, Mas. Ibu lupa belum kasih kabar ke mas. Tadi, pas Ibu pulang dari warung, Lastri memanggil Ibu, soal PR-nya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Warung itu bukan satu. Kamu itu terlalu banyak alasan. Itulah. Inilah. Ini itu. Itu ini. Ini nih yang membuatku kian tak betah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Maafan Ibu, Mas. Ibu khilaf!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Cari warung lain. Cepat!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Baik, mas. (Bersiap pergi. Tanpa sengaja, IBU melihat RAKA dan LASTRI)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

TIBA-TIBA CAHAYA TERANG DI AREA KETIKA TADI LASTRI DAN RAKA KE LUAR PANGGUNG. RAKA DAN LASTRI MENATAP IBU DAN BAPAK. SETERUSNYA RAKA DAN LASTRI SALING BERTATAPAN. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 4 | RUANG YANG SAMA DENGAN ADEGAN 3. PERBEDAANYA ADA TRANSISI RUANG. SUARA AIR MENETES. SUARA DETAK JAM. TIANG LISTRIK DIPUKUL ORANG. CAHAYA MULAI MENERANGI AREA TERSEBUT. IBU DUDUK, TANGANNYA KE MEJA, SEPERTI MENAHAN BEBAN TUBUHNYA. LASTRI DI SAMPING IBU. RAKA MENATAP MEREKA DARI BALIK JERUJI. SUARA-SUARA PERLAHAN HILANG.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas… Ibu akan sembuh kan? (Hening) Mas! (Perlahan bayangan jeruji menghilang, seiring kaki RAKA melangkah) Jawab mas!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Iya. Ibu akan baik-baik saja, Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Raka. (RAKA melangkah mendekat)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Iya, Bu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Ibu titip… Jaga adikmu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ibu jangan khawatir… Raka akan tetap di samping Lastri. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU: Jangan membiarkan dunia, membuat kalian kehilangan kasih. (Jeda) Janji? (RAKA melangkah, menjauh dari IBU dan LASTRI)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Raka janji, Bu. (RAKA terus melangkah mendekat ke area penjara, perlahan lampu yang menerangi IBU dan LASTRI semakin turun)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CAHAYA YANG MENERANGI IBU DAN LASTRI PADAM. RUANG PENJARA KEMBALI HADIR. RAKA SUDAH ADA DI DALAMNYA. MENATAP KOSONG.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku menepati janji itu… tetapi aku salah memahami artinya. (Hening. Cahaya perlahan turun) (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 5 | CAHAYA PERLAHAN MENGUAT. RAKA MEMANDANGI KURSI ITU CUKUP LAMA. DARI ARAH LAIN. LASTRI YANG BERADA DI DEKAT MEJA MEMPERHATIKAN RAKA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kata Bapak, kita harus kuat, mas. (Jeda) Bapak bilang, luka itu tak ubahnya tamu yang pasti pulang.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kau tahu Lastri?Itu kata-kata Ibu yang diadaptasi Bapak… dasar oportunis. (Hening) Kau sendiri, percaya sama omongan Bapak?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: (Berlinang) Bagi Lastri, Ibu sedang pergi sebentar… bukan untuk selamannya. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kursi tua ini seolah menatapku kembali dengan kenangan tempat terakhir Ibu bersandar, sekaligus kenangan pangkuannya saat aku masih kecil dulu. (RAKA mengusap kursi) Lastri, kemarilah, (LASTRI menghampiri) Duduklah di sini.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri tak bisa, mas. (LASTRI memeluk RAKA. Menangis. Menjerit) Lastri ingin menyusul Ibu ke surga, secepatnya mas. Lastri ingin mati sekarang juga!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

HENING SAMPAI LASTRI MELEPAS PELUKANNYA. TERDENGAR SUARA PINTU DIBUKA. BAPAK DAN IBU TIRI MASUK. RAKA DAN LASTRI NAMPAK TERLIHAT SEDIKIT KAGET.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Raka… Lastri. (Menarik napas panjang) Ini… Ibu kalian yang baru.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tidak… Lama-lama Lastri bisa gila, mas. (RAKA mendekati LASTRI)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Baru saja kemarin Ibu meninggal, Bapak sudah kawin lagi? Oh… akal sehat. Di manakah Bapak simpan akal sehat itu, Pak. Di mana?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Hidup itu harus berlanjut. (Jeda) Kalian harus tahu, bahwa kesedihan itu hanyalah air mata yang memotong waktu hidup tanpa guna. Bapak sudah bilang pada kalian harus kuat. Hidup itu harus terus berjalan. (RAKA tersenyum tipis)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Berjalan kata Bapak? (Emosi) Aku hanya berusaha memahami bagaimana seseorang baru saja kehilangan… lalu menggantinya dalam waktu secepat itu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Nak… (Mendekati RAKA) Pendapatmu benar, tapi jangan pernah mengatur hidup orang lain. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku tidak sedang mengatur (LATRI mendekati Ibu Tiri)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: He… apa hak mu ngomong begitu pada mas-ku?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Kalian terlalu muda untuk memahami hidup.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Halah… so you know ya… tak pernah ada dalam teori, kalau memahami hidup harus tua dulu. (Sinis. Melirik pada IBU TIRI) Kalau memang harus tua dulu, kenapa mau jadi daun muda?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Aku tahu… kalian membenciku.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kami bahkan belum mengenalmu, bagaimana bisa itu terjadi?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

IBU TIRI: Kadang manusia tidak perlu saling mengenal untuk saling membenci(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kadang manusia juga tidak perlu membenci untuk terluka.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Cukup! (Jeda) Mulai hari ini juga, kalian harus pergi dari rumah ini.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Apa hak Bapak mengusir kami?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Kalian tak punya hak waris.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Pak… Kenapa kami tak punya hak waris?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Kalian bukan anakku!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Apa maksud Bapak?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Tanyakan ke kubur Ibu kalian.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Jangan bawa-bawa nama Ibu. (Meninggi) Pergi… sebelum aku lupa pernah memanggilmu Bapak.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BAPAK: Itulah masalahmu. Kamu selalu merasa bahwa semua luka harus kamu selesaikan. (Hening) Kalianlah yang harus pergi dari sini, bukan aku. (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BABAK IV(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 1 | SEBUAH RUANG YANG SAMA DENGAN BABAK II DI ADEGAN 3. CAHAYA PERLAHAN MENERANGI RAKA YANG DUDUK DI ATAS MEJA, SAMBIL MEMBACA KORAN. TERSENYUM. LALU MELIPAT KORAN. ROMAN RAKA NAMPAK BAHAGIA. MENGAMBIL SEKUNTUM MAWAR DARI SAKU BAJUNYA. MENCIUMNYA. MEMASUKANNYA LAGI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Selesai. (Jeda) Dalam makna, selesai itu bisa jadi mengandung kalimat yang paling kosong. (Menatap Koran sebentar) Aku pikir, setelah semuanya selesai, akan merasa menang. Kemenangan itu sunyi. Kemenangan itu hening. Kemenangan itu sepi. Seperti lubuk puisi. (Senyum. Mengambil mawar) Mawar ini untukmu / Langit dan matahari / Aku kembalikan / Pada catatan musim / Yang kau toreh dalam kalbuku// (Hening. LASTRI melangkah masuk dari arah yang lain)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas… kenapa sih, senyam-senyum terus dari tadi.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Doamu terkabul, Lastri. (Memberikan koran)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Doa yang mana? (Membuka halaman koran)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Buka saja di halaman tiga belas.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: (Membaca) “Telah ditemukan sepasang suami istri meninggal dunia, diduga korban pembunuhan dalam perampokan (Jeda) Korban ditemukan warga diduga satu minggu pasca kejadian dengan adanya bau busuk yang menyengat. Inisial mereka …” (Menutup Koran) Ya… Mas benar, Lastri ingin penderitaan berhenti… Tapi bukan manusia berhenti hidup. (Menyimpan Koran)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Tuhan telah mengabulkan doamu, Lastri. (Memberikan Mawar)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Mas, jangan pernah lagi membawa nama Tuhan… dan jangan lagi membawa nama Lastri ke dalam keputusanmu itu. (Mempreteli Mawar, satu demi satu)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku melindungimu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tidak, mas. Justru yang Lastri baca, mas sedang melindungi luka mas sendiri. (Hening) (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

ADEGAN 2 | RUANG YANG HAMPIR SAMA DENGAN ADEGAN 1. HANYA YANG TERSISA DUA KURSI DILETAKAN SALING BERJAUHAN. SATU KURSI DIDUDUKI RAKA. SATUNYA LAGI DIDUDUKI LASTRI. CAYAHA PERLAHAN MASUK DENGAN BEGITU AMAT LEMBUTNYA SEHINGGA HENING TERCIPTA PANJANG DAN JARAK DI ANTARA MEREKA TERASA BEGITU LENGANG DAN SEPI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kau berubah, Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Hidup itu mengenal titik balik, mas. (Jeda) Ada saatnya semua orang bakal berubah ketika mereka dipaksa nelan kenyataan yang busuk.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Mas akui itu. (Jeda) Dulu, kau tidak seperti ini. Kau adalah “Lastri Kinasih”. Sifat Sang Pencipta yang menebar kasih termasuk mengabulkan doa. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Dulu… Lastri memang naif. (Menatap kosong) Lastri begitu percaya sama Bapak, bahwa luka itu tak ubahnya tamu yang akan segera pamit… tapi sekarang? Kini Lastri sadar sepenuhnya… bahwa di dalam tubuh kita, ada luka yang diwariskan dalam darah. (Jeda) Luka yang membuat manusia terjebak dalam lingkaran setan, mengulang kekejaman yang sama sebagai bentuk pelarian.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku melakukan itu semua demi menjaga apa yang tersisa dari kehormatan kita. Aku melakukannya untukmu. (Jeda) Kau pikir… aku menikmati menumpahkan darah? (Merem) Itu semata misi suci.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kenapa merem mas?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku lelah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lelah? (Jeda) Bukankah selama ini… kita sering menyebutnya cinta, mas. Padahal, itu hanyalah nama lain dari ketakutan yang luar biasa akan takut kehilangan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sebelum tubuhku melayu… Aku hanya ingin melindungimu dari dunia yang ingin menelanmu bulat-bulat. (Ekspresif) Seperti kau menelan tahu bulat.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kita ini lagi ngomong serius mas. (Menahan tawa)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sedari tadi aku serius. Pikiranmu saja yang liar. Seperti para penonton itu. (Jeda) Mesem terus… tertawa saja sekalian! (LASTRI tertawa lepas. Cahaya netral)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kenapa tadi lo… bilang seperti kau menelan tahu bulat? Seingat gue, itu tak ada dalam naskah… dasar fandalis… lo itu harus paham… ketika pengarang itu nulis naskah bukan untuk lo tambah atau dipotong sembarang.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Masa? Coba baca naskahnya?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Bagaimana mau baca… kita itu lagi pentas. (Menunjuk para penonton)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ya, sudah mari kita ulang adegannya.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Jawab dulu, kenapa lo bilang seperti kau menelan tahu bulat?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Daku tadi itu ingat pada adegan ketika dikau belajar nulis puisi. Nah… kalimat seperti kau menelan tahu bulat itu dinamakan simile.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Kan lo tuh aslinya bukan penyair, dari mana lo tahu itu simile?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ya… pendalaman karakterlah. (Jeda) Pertanyaan dikau itu tuh gak bermutu, seperti peran Bapak saja… payah… dikau kayak bukan aktor saja… Ayo kita lanjutkan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Dari mana?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Dari tahu bulat saja. (Kepada penata lampu) Lighting siap?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: (Berbisik) Habis pentas ini… sutradara marah gak ya?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Arifin C. Noer bilang… Sutradara boleh mati, tapi tidak aktor. Sudah ah… ngomong melulu… itu lighting sudah siap. (Hening. Lanjut adegan. Cahaya kembali) Aku hanya ingin melindungimu dari dunia yang ingin menelanmu bulat-bulat.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tapi siapa yang akan melindungi kita, dari kegilaanmu sendiri, mas? Siapa?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku kakakmu. Akulah satu-satunya yang tersisa di duniamu!(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Iya. Dan kenyataan itulah yang membuat semuanya menjadi muak. Setelah apa yang terjadi di antara kita… orang yang paling Lastri percaya untuk membimbing jiwa Lastri, kini menjadi orang yang paling Lastri takuti untuk tetap hidup.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA MENUNDUK. MENUTUPI WAJAHNYA DENGAN KEDUA TANGANNYA. HENING. WAKTU BERLALU TANPA PERGANTIAN RUANG. CAHAYA MALAM PERLAHAN BERGESER, MENJADI PAGI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ada yang ingin aku katakan dengan terbuka.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri sudah tahu apa yang ingin mas ucapkan.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sejak kapan?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Sejak malam itu. Ketika Lastri memohon agar mas berhenti, tapi mas tetap berjalan menuju rumah masa kecil kita… Malam itu Lastri pura-pura tidur. Dan Lastri tahu dengan sangat jelas… siapa yang kembali pulang dengan tangan penuh darah.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Setelah kau mengetahui semuanya, kenapa kau diam? (Jeda) Kenapa diammu seperti Ibu? Kenapa? Kenapa Lastri?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Sebab Lastri belum cukup bukti… dan koran itulah buktinya. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Aku tidak yakin kau bilang belum cukup bukti. Aku tahu persis hatimu Lastri. Kau pun tahu peta tubuhku. Bicaralah seperti biasanya kau terbuka padaku. (Hening)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Sebenarnya… Lastri takut.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kau takut padaku? Kenapa? (LASTRI menggelengkan kepala)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Lastri takut pada kenyataan, mas.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Itu artinya kau membenciku?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tidak sedikit pun.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Tidak sedikit pun? (Jeda) Baiklah, tapi aku perlu alasan untuk percaya, Lastri. Katakanlah. (LASTRI diam) Membuat penasaran orang itu dosa, begitu Ibu bilang pada kita.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Ya… Dan mas juga harus ingat, Ibu pernah bilang pada kita, bahwa membenci itu tidak akan pernah mampu untuk mengembalikan utuh siapa pun. Dan tidak akan pernah bisa menghapus apa yang sudah pernah terjadi.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA TERDIAM. SUARA-SUARA PAGI BERANJAK SIANG MULAI SAMAR TERDENGAR. KETUKAN PINTU YANG KERAS DAN MENGHENTAK: MEMECAH SEPI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

SUARA POLISI: Buka pintu! (Jeda) Kami dari pihak berwajib. (Pintu terus digedor)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Lastri, kau yang memanggil mereka?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Iya mas… semuanya harus berhenti di sini.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Kau serius akan menghukumku? (Jeda) Bagaimana kalau kau (Menggerakan kedua tangannya: membuat gerakan setengah lingkaran dari perut atasnya sampai perut bawahnya) Jawab Lastri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Tidak. Lastri tidak sedang menghukummu, mas. (Jeda) Lasti hanya sedang mencoba menyelamatkan sesuatu yang tersisa dari kita.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Menyelamatkan apa Lastri?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

LASTRI: Manusia yang masih ada dalam diri kita.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PINTU BERHASIL DIDOBRAK. CAHAYA SEMAKIN KUAT. POLISI MASUK DENGAN SENJATA DI TANGAN. MENGEPUNG RAKA DAN LASTRI.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

POLISI: Anda yang bernama Raka?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Ya. Silahkan borgol (POLISI memasangkan borgol. Bunyi borgol terdengar tajam: KLAK) Atas nama doa Lastri, aku tak akan melarikan diri.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

POLISI: Sementara kami tahan anda… Dengan dugaan kasus pembunuhan berencana.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Melirik LASTRI sesaat. Memandang POLISI) Lastri benar. Tak perlu lagi pemeriksaan. (Melangkah. Memandang kosong) Aneh. Aku tidak takut ketika mengambil nyawa orang… Tapi aku takut… ketika harus melihat siapa diriku sebenarnya. Kau benar Ibu. Kau benar Lastri. (Lampu perlahan turun) (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BABAK V(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

EPILOG | PANGGUNG GELAP. TERDENGAR SUARA TETESAN AIR. DENTING BESI DAN DETAK JAM. JEDA. CAHAYA TIPIS DENGAN KESAN DINGIN. RUANG PENJARA TERGAMBAR. RAKA SIBUK MENULIS DAN MEMBACA.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: (Menatap buku sambil terus menulis. Berhenti. Membaca tulisannya) Jancouk itu kamu. Kamu itu aku. Aku dan kamu itu air tuba. Kita semua air tuba. Jancouk kau Lastri… ups kenapa pula banyak nulis diksi Jancouk? Dan kalau benar di satu detik ke depan… aku jadi figur fantastik? Masa sih tulisan diary-nya banyak repetitive? Ah, apa pedulinya mereka pada tulisanku ini, toh belum tentu dibaca juga. (Memandang penonton) Dulu, di balik ekspektasi Ibu dan Bapak, aku adalah sampah yang pandai menyamar. Aku pecandu. Pelarian dalam botol. Pengejar kesenangan oh… no… (Menatap tajam satu penonton. Buku diangkat ke atas) oh… yes… yang membuatku lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. (Membuka buku dan membacanya) Kenapa pula tulisanku jadi bertele-tele? (Jeda) Ada benarnya omongan Penjaga. Begini-begini juga aku itu pernah makan bangku sekolah. (Tertawa tipis) Ya, sebagaimana semua orang sepakat bahwa menjalankan hidup itu pilihan… tapi, saat Ibu dan Bapak memaksaku kuliah demi gelar… demi nama baik yang bahkan tak bisa dimakan… apakah itu pilihanku? (Hening) Ya… meamng sih… hidup bukan pilihan, tapi hidup menyuguhkan banyak pilihan. (Membolak-balik halaman buku. Berhenti. Terkekeh) Sejarah sudah tertulis. Dan ternyata, membunuh Bapak dan Ibu Tiri itu… jauh lebih gampang daripada menulis alasan kenapa aku melakukannya. (Menatap kosong) Tuhan… Kau tahu? Dulu aku pikir Kau itu kurang tangan. Padahal… (Tertawa pahit) aku sedang berhalusinasi jadi Malaikat kanan dengan posisi eksekutor. (Berteriak yang tertahan) Aaaagh… Engkau pun harus tahu, Tuhan: Aku menulis semuanya. Tentang amarahku, tentang Lastri, tentang buku harian Ibu, tentang jancuok-nya ini hidup. Aku merasa paling benar… suci, sholihah… ups… sholeh (Menutup buku. Mejamkan mata) Ternyata bukan dunia yang tuli. Aku sendiri yang budeg… ya… aku bersengaja mematikan telingaku sendiri… supaya suara nuraniku tidak terdengar. (Jeda) Kini aku sadar, kalau satu-satunya yang mati di tangan ini bukan Bapak atau Ibu Tiri… tapi suaraku sendiri yang tak pernah aku dengarkan. (Hening) Ibu, aku rindu padamu. Rindu semua pelajaranmu… kau yang selalu mengajarkan kasih, mengajarkan baca dan doa. Engkau benar: ternyata, yang paling sulit dari mati itu bukan napas yang berhenti, tapi mengakui kalau selama ini, akulah satu-satunya alasan kenapa aku jadi iblis. (Terdengar suara tetesan air. Denting Besi dan detak jam)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA MASUK MEMBAWA RANSUM. RAKA TERLIHAT SENANG.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Ini jatah makanmu.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Katanya jatah makanku sudah habis.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Adikmu bilang, opor ayam itu makanan kesukaanmu. Makanlah. Waktumu tinggal tiga jam lagi.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Lastri? Ini dari Lastri?(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

PENJAGA: Lastri? (Bingung) Iya. Eu… itu dari Lastri. Makanlah. (PENJAGA melangkah)(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

RAKA: Sebentar. (PENJAGA berbalik. Menatap RAKA) Bolehkah aku bercerita sedikit saja kepadamu? (PENJAGA mengangguk) Begini, tapi sebelum aku bercerita. Kau membawa gawai kan? (PENJAGA mengangguk) Bolehkah aku meminta kau merekamku? (PENJAGA mengangguk. menyalakan gawainya. Menunjukkan fitur) Video saja (PENJAGA mengangguk. Merekamnya. Hening. Live) Dalam hidupku, aku punya dua Lastri. Ya, dua Lastri. (Jeda) Nama Ibuku Lastri Arumi… perempuan harum yang membawa keberuntungan dan kedamaian. Sedangkan nama adikku… Ibukulah yang menamainya: Lastri Kinasih… Kata Ibuku Lastri diambil dari kata Lestari dan Kinasih diambil dari kata Kasih. Dimana penjabaran Ibuku selanjutnya adalah harapan… Lastri Kinasih adalah sifat Sang Pencipta yang menagbulkan doa-doa kita. (Hening) Inilah puisi terakhirku dengan judul Terminal Senja (Jeda. Membaca puisi liris dengan khidmat, tidak meledak-ledak, tapi santai sebagaimana pembacaan puisi kamar) Lastri / Jalan ini telah aku pahami / Sebagai muara paling sunyi dari hidup / Yang kutempuh; setelah jarak / Memisah kita // Sebuah percakapan / Hilang sudah ditelan gerimis / Yang berjatuhan dalam bayang-bayang / Rambutmu. Dan kau tak di sampingku // Lastri / Dalam bait-bait puisi / Aku istirahatkan ruhku / Setelah tidur dalam pangkuanmu / Semata sekar impian // (Hening) (Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

BLACKOUT.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

TAMAT(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CATATAN AKHIR PENNGARANG(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Senyum Lastri bukan jawaban. Ia adalah pertanyaan terakhir. Apakah senyum itu pengampunan? Apakah senyum itu kesedihan? Apakah senyum itu tanda bahwa seseorang akhirnya menerima kenyataan? Atau justru tanda bahwa ada luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan oleh kata-kata? Biarkan panggung menentukan maknanya. Sebab dalam tragedi manusia—tidak semua luka membutuhkan jawaban. Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk diakui.(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

CATATAN KHUSUS(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Teks dalam naskah drama ini bisa dirubah oleh penggarap, dengan tidak mengurangi benang merahnya. [](Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)

Lintang Ismaya

(Source: kosapoin.com/tangan-yang-berdoa)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *