MEMPRODUKSI INGATAN, MENUMBUHKAN KESADARAN, MERAWAT PERLAWANAN: CATATAN PROSES NATA SUKMA COMPLEX#  JELANG PERTUNJUKAN DI MALAYSIA

nata sukma kompleks

Hari itu, seminggu menjelang keberangkatan ke Malaysia, gedung Teater Arena di Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang masih dipenuhi suara-suara latihan. Tidak ada suasana tergesa-gesa, tetapi tidak juga benar-benar tenang. Setiap orang tampak sibuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Penata videografi masih menguji kemungkinan tata letak komposisi visualnya. Penata musik terus memeriksa setiap elemen auditif dari laptopnya. Penata kostum begitu khusuk memilih dan memasangkan perangkat kostum untuk kelompok aktor tertentu. Beberapa aktor yang sudah siap secara fisikal, tampak mengulang adegan yang sama berkali-kali, bukan lagi untuk menghafal dialog, melainkan untuk menemukan ketepatan ritme, intensitas tubuh dan kualitas kehadiran mereka di atas panggung.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Sementara itu dari sudut panggung, Tatang R. Macan sesekali menghentikan jalannya adegan. Tidak banyak instruksi panjang yang diberikan. Ia lebih sering mengajukan pertanyaan dari pada memberikan jawaban. Baginya, latihan bukan sekadar proses memperbaiki kesalahan teknis, melainkan ruang untuk menguji kembali hubungan antara tubuh, sejarah dan pengalaman manusia. Adegan tidak pernah selesai hanya karena berhasil dimainkan. Adegan baru dianggap hidup ketika para aktor mulai memahami mengapa tubuh mereka harus bergerak seperti itu.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Suasana seperti inilah yang jarang diketahui penonton. Mereka kelak hanya menyaksikan pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam lima belas menit itu. Mereka tidak melihat berbulan-bulan kerja kolektif yang mendahuluinya: membaca, berdiskusi, meneliti, berdebat, berlatih, mengulang, merevisi dan merangkai berbagai disiplin artistik menjadi satu kesatuan pertunjukan. Padahal justru di dalam proses itulah teater sesungguhnya sedang bekerja. Sesungguhnya, di titik inilah produksi teater memperlihatkan wajahnya yang paling mendasar. Pertunjukan bukanlah peristiwa yang dimulai ketika lampu panggung dinyalakan. Ia telah lahir jauh sebelumnya, melalui tubuh-tubuh yang berlatih, percakapan yang terus berulang, riset yang dijalankan dengan tekun, serta berbagai keputusan artistik yang perlahan menemukan bentuknya. Proses kreatif bukan sekadar tahapan menuju pementasan, melainkan ruang tempat gagasan diuji, pengetahuan dibangun, dan kerja kolektif menemukan maknanya.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

NATASUKMA COMPLEX# bukan hanya sedang dipersiapkan untuk dipentaskan di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, 23-24 Juli nanti. Lebih dari itu, produksi ini sedang membangun sebuah ruang tempat sejarah dipanggungkan kembali, ingatan diproduksi ulang dan kesadaran sosial dibentuk melalui praktik artistik kolektif. Pertunjukan hanyalah salah satu hasil akhirnya. Proses kreatiflah yang menjadi jantung seluruh perjalanan tersebut.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

I. Memproduksi Ingatan(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Setiap produksi teater selalu dimulai dari sebuah pilihan. Ada sutradara yang memilih memulai proses kreatif dari sebuah naskah. Ada yang berangkat dari tubuh aktor, ruang pertunjukan, atau pengalaman personal para pemainnya. Tatang R. Macan jelas memilih jalan yang berbeda. NATASUKMA COMPLEX# berangkat dari upaya membaca kembali Wawacan Nata Sukma, sebuah manuskrip Sunda yang ditulis sekitar tahun 1833. Pilihan ini menunjukkan bahwa proses kreatif tidak dimulai dari keinginan menghadirkan tontonan, melainkan dari kebutuhan untuk berdialog dengan sejarah. Pertunjukan menjadi medium untuk menghidupkan kembali ingatan yang selama ini tersimpan di dalam teks.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Namun, ingatan tidak pernah berpindah begitu saja dari halaman manuskrip ke atas panggung. Ia harus dibaca, dipertanyakan, ditafsirkan, lalu dinegosiasikan kembali melalui berbagai keputusan artistik. Pada titik inilah kerja produksi menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar menerjemahkan cerita ke dalam adegan. Setiap latihan merupakan proses memilih bagian-bagian sejarah yang dianggap masih relevan dengan kehidupan hari ini, sekaligus mencari bahasa artistik yang mampu menjembatani jarak antara masa lalu dan masa kini. Yang diproduksi sesungguhnya bukan hanya pertunjukan, melainkan sebuah dramaturgi ingatan, sebuah cara menghadirkan kembali sejarah sebagai pengalaman hidup yang dapat dirasakan, dipertanyakan dan dimaknai ulang oleh masyarakat masa kini.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Pilihan dramaturgis tersebut tampak melalui cara pertunjukan menghadirkan tokoh-tokohnya. Salah satu keputusan dramaturgis yang paling menarik muncul melalui pilihan tokoh. Misalnya tokoh Multatuli yang diperankan Husin yang tidak dihadirkan sekadar figur historis atau pengarang Max Havelaar. Kehadirannya membuka ruang dialog lintas zaman dan lintas bangsa mengenai kolonialisme, ketidakadilan dan berbagai bentuk penindasan yang jejaknya masih dapat ditemukan hingga hari ini. Sosok Multatuli yang dimainkan Husin, aktor kawakan Riau, alumni Prodi Seni Teater FSP ISI Padangpanjang itu, menjadi pengingat bahwa kritik terhadap kolonialisme tidak hanya lahir dari mereka yang dijajah, tetapi juga dari suara-suara kemanusiaan yang muncul dari dalam tubuh kekuasaan itu sendiri.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Lapisan makna yang berbeda hadir melalui tokoh perempuan (Ibu) yang diperankan Yuniarni. Dosen Pemeranan yang kerap muncul di layar lebar Film Indonesia ini, memainkan perannya tidak sekadar menjadi karakter dramatik, tetapi menjelma sebagai metafora Ibu Pertiwi yang menyaksikan tubuh anak-anaknya terus mengalami berbagai bentuk penindasan. Kehadirannya mewakili kesedihan, kecemasan, sekaligus harapan. Melalui sosok itu, sejarah tidak lagi berbicara sebagai deretan peristiwa yang telah lampau, melainkan sebagai luka yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Penonton tidak hanya diajak mengingat masa lalu, tetapi juga mempertanyakan sejauh mana luka-luka tersebut masih membentuk kehidupan kita hari ini.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Pemilihan tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif NATASUKMA COMPLEX# tidak bermaksud memindahkan isi Wawacan Nata Sukma ke atas panggung secara harfiah. Tatang R. Macan justru membangun sebuah dramaturgi yang mempertemukan tokoh-tokoh sejarah, simbol-simbol kebangsaan, serta pengalaman sosial kontemporer dalam satu ruang artistik. Ingatan diperlakukan bukan sebagai sesuatu yang harus direproduksi apa adanya, melainkan sebagai sesuatu yang terus ditafsirkan ulang agar tetap memiliki daya hidup bagi masyarakat masa kini.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Berdasarkan pengertian itulah, NATASUKMA COMPLEX# tidak sedang menghidupkan nostalgia terhadap masa kolonial. Pertunjukan ini justru mempertanyakan bagaimana jejak-jejak kolonialisme masih bekerja dalam kehidupan masyarakat Indonesia kontemporer. Tanah yang diperebutkan, tenaga yang dieksploitasi, serta relasi kuasa yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya tidak diperlakukan sebagai fakta sejarah yang telah selesai. Semua itu hadir sebagai pengalaman yang masih dapat dirasakan melalui tubuh para aktor di atas panggung.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Selama mengikuti proses latihan, saya melihat bagaimana para aktor tidak pernah diminta sekadar memahami alur cerita. Mereka justru didorong untuk memahami konteks sosial yang melatarbelakangi setiap adegan. Diskusi mengenai sejarah kolonial, sistem agraria, relasi kuasa, hingga kehidupan masyarakat pedesaan berlangsung berdampingan dengan eksplorasi tubuh di ruang latihan. Latihan menjadi ruang belajar, bukan sekadar ruang menghafal. Setiap adegan tidak hanya dibangun melalui ketepatan teknik, tetapi juga melalui pemahaman terhadap pengalaman manusia yang menjadi sumber penciptaannya.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Di titik inilah saya menyadari bahwa proses produksi NATASUKMA COMPLEX# sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada mempersiapkan sebuah pertunjukan. Ia sedang memproduksi ingatan. Bukan ingatan sebagai arsip masa lalu, melainkan sebagai kesadaran yang terus dinegosiasikan melalui praktik artistik. Ingatan menjadi hidup karena dialami kembali oleh tubuh-tubuh yang berlatih, dibagikan kepada penonton melalui pengalaman estetik, lalu diteruskan sebagai ruang refleksi yang melampaui batas panggung.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

II. Menumbuhkan Kesadaran(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Jika ingatan merupakan titik berangkat produksi NATASUKMA COMPLEX#, maka kesadaran merupakan hasil yang perlahan tumbuh selama proses kreatif berlangsung. Kesadaran tidak lahir melalui ceramah, apalagi melalui hafalan terhadap sejarah kolonialisme. Ia tumbuh melalui pengalaman tubuh yang terus berlatih, berdialog, mengalami kegagalan, kemudian menemukan kembali makna dari setiap tindakan yang dilakukan di atas panggung.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Proses latihan yang saya amati memperlihatkan bahwa Tatang R. Macan tidak menempatkan aktor sebagai pelaksana gagasan sutradara semata. Sebaliknya, para aktor didorong untuk menjadi subjek yang aktif membaca, mempertanyakan, dan mengalami sendiri persoalan yang sedang mereka perankan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selama latihan sering kali tidak berkaitan langsung dengan teknik bermain. Mengapa tokoh ini memilih diam? Mengapa tubuhnya menolak bergerak? Mengapa kemarahan harus ditunjukkan melalui gestur tertentu, bukan gestur yang lain? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang perlahan membentuk kesadaran bahwa tubuh tidak pernah bergerak tanpa alasan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Latihan kemudian berubah menjadi ruang dialog. Dialog antara sutradara dan aktor. Dialog antarpemain. Dialog antara teks dan tubuh. Bahkan dialog antara masa lalu dengan pengalaman hidup para pemain hari ini. Setiap latihan membuka kemungkinan tafsir baru. Tidak semua jawaban diterima begitu saja. Sebaliknya, berbagai kemungkinan dipertemukan, diperdebatkan, kemudian diuji kembali melalui praktik di ruang latihan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Tubuh para aktor dalam proses seperti ini, tidak hanya dilatih menjadi medium ekspresi artistik, tetapi juga menjadi medium berpikir. Setiap gerak mengandung keputusan. Setiap keputusan mengandung pembacaan terhadap situasi sosial yang sedang dipentaskan. Tubuh tidak lagi sekadar menghadirkan karakter, tetapi juga menghadirkan cara memandang dunia.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Bagi saya, di sinilah letak nilai pedagogis produksi NATASUKMA COMPLEX#. Latihan tidak hanya menghasilkan aktor yang lebih terampil, tetapi juga membentuk individu yang lebih peka terhadap sejarah, relasi kuasa dan pengalaman kemanusiaan. Pengetahuan tidak disampaikan sebagai informasi yang harus dihafal, melainkan dialami melalui proses kreatif yang melibatkan tubuh, emosi, dan refleksi bersama. Saya juga melihat proses seperti ini memiliki arti yang jauh melampaui kebutuhan sebuah produksi. Ruang latihan berubah menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Di sana aktor tidak hanya mempelajari teknik pemeranan atau penyutradaraan, tetapi juga belajar membaca masyarakat, memahami sejarah, menghargai perbedaan pandangan, serta membangun tanggung jawab terhadap kerja kolektif. Pengalaman semacam inilah yang sering kali tidak tercatat dalam kurikulum, tetapi justru menjadi inti dari pendidikan seni pertunjukan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

III. Merawat Perlawanan(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Perlawanan sering kali dibayangkan sebagai tindakan yang bersifat konfrontatif. Perlawanan dalam seni pertunjukan, tidak selalu hadir melalui slogan atau seruan yang lantang. Ia justru bekerja secara lebih halus, tetapi tidak kalah kuat: melalui upaya menjaga ingatan agar tidak dilupakan, membuka kembali ruang dialog yang telah lama tertutup, serta menghadirkan kembali pengalaman-pengalaman manusia yang pernah disingkirkan dari narasi sejarah.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

NATASUKMA COMPLEX# memperlihatkan bahwa panggung dapat menjadi ruang untuk melakukan kerja kebudayaan semacam itu. Kolonialisme tidak dihadirkan sebagai kisah tentang masa lalu yang telah selesai, melainkan sebagai cara membaca berbagai bentuk ketimpangan yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat hari ini. Pertunjukan tidak menawarkan jawaban yang sederhana. Sebaliknya, ia mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali hubungan antara tanah, kekuasaan, kerja, dan kemanusiaan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Di dalam proses latihan, kesadaran semacam ini juga tumbuh secara perlahan. Para aktor tidak hanya berusaha memainkan tokoh, tetapi belajar memahami kehidupan yang diwakili oleh tokoh tersebut. Mereka memasuki pengalaman orang-orang yang bekerja di tanah, menghadapi tekanan kekuasaan, kehilangan ruang hidup, atau dipaksa menerima keadaan sebagai sesuatu yang wajar. Tubuh para aktor menjadi tempat berbagai pengalaman itu bertemu. Pada saat yang sama, tubuh juga menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali apakah pengalaman-pengalaman tersebut benar-benar telah berakhir.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Perlawanan dalam konteks ini bukanlah tindakan untuk menghidupkan kembali kebencian terhadap masa lalu. Sebaliknya, ia merupakan upaya menjaga kemampuan masyarakat untuk mengingat, memahami, dan belajar dari sejarah. Sebuah masyarakat yang kehilangan ingatan akan lebih mudah mengulangi kesalahan yang sama. Sebuah kebudayaan yang berhenti bertanya akan kehilangan daya kritisnya. Karena itulah, merawat ingatan sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan terhadap pelupaan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Saya melihat bahwa nilai terpenting dari proses kreatif NATASUKMA COMPLEX# justru terletak pada kemampuannya membangun kesadaran kolektif melalui pengalaman artistik. Pertunjukan tidak menggurui penonton tentang apa yang harus dipikirkan. Ia menghadirkan pengalaman yang memungkinkan setiap orang menyusun kembali pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Di situlah seni pertunjukan menjalankan salah satu fungsi kebudayaannya yang paling penting: bukan memberikan jawaban, melainkan menjaga agar masyarakat tidak berhenti bertanya.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

IV. Membawa Ingatan ke Malaysia(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Perjalanan NATASUKMA COMPLEX# menuju Malaysia bukan sekadar perpindahan lokasi pementasan. Ia menandai perjumpaan antara dua ruang kebudayaan yang memiliki sejarah, pengalaman kolonial, dan akar tradisi yang saling berdekatan. Dalam konteks inilah pertunjukan memperoleh makna yang lebih luas. Ia tidak hanya berbicara kepada penonton Indonesia, tetapi juga membuka kemungkinan dialog dengan masyarakat serumpun yang memiliki pengalaman sejarah yang berbeda sekaligus bertaut.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Kolaborasi antara Program Studi Seni Teater FSP ISI Padangpanjang dan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) memperlihatkan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi medium pertukaran pengetahuan lintas negara. Pertukaran tersebut tidak berlangsung melalui ceramah atau seminar semata, tetapi melalui praktik artistik yang memungkinkan pengalaman budaya dibagikan secara langsung. Aktor, sutradara, mahasiswa, dosen dan penonton menjadi bagian dari percakapan yang melampaui batas geografis.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

NATASUKMA COMPLEX# dalam konteks seperti ini, tidak hanya mewakili sebuah produksi teater. Ia juga membawa cara pandang tentang bagaimana sejarah dapat dibaca kembali melalui seni, bagaimana tubuh menjadi medium pengetahuan dan bagaimana kerja kolektif mampu membangun ruang dialog yang setara. Pertunjukan menjadi bentuk diplomasi kebudayaan yang tidak bertumpu pada representasi formal, melainkan pada pengalaman estetik yang dialami bersama.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

IV. Merawat Kerja Kolektif(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Barangkali inilah pelajaran yang paling berharga dari mengikuti proses kreatif NATASUKMA COMPLEX#. Sebuah pertunjukan tidak pernah lahir dari gagasan seorang sutradara semata. Ia tumbuh melalui perjumpaan banyak pengetahuan, banyak keterampilan dan banyak pengalaman yang saling menopang satu sama lain. Di ruang latihan, setiap orang memegang tanggung jawab yang berbeda, tetapi seluruh pekerjaan itu bergerak menuju tujuan yang sama.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Penata musik tidak sekadar menyusun ilustrasi bunyi. Ia membangun lanskap emosional yang akan menghidupkan setiap adegan. Penata videografi tidak hanya memproyeksikan gambar ke atas panggung, tetapi ikut membentuk cara penonton membaca ruang dan waktu. Stage manager memastikan seluruh elemen produksi bergerak dalam ritme yang sama. Para aktor menghadirkan tubuh mereka sebagai medium pengalaman, sementara sutradara menjaga agar seluruh gagasan artistik tetap berada dalam satu arah penciptaan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Kerja kolektif seperti ini memperlihatkan bahwa produksi teater sesungguhnya merupakan latihan untuk membangun kepercayaan. Setiap individu belajar bahwa kualitas pertunjukan tidak ditentukan oleh keunggulan satu orang, melainkan oleh kemampuan seluruh tim untuk saling mendengarkan, saling menopang, dan saling mempercayai. Tidak ada satu elemen pun yang dapat berdiri sendiri. Kekuatan pertunjukan justru lahir dari hubungan antarelemen yang bekerja secara organik.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Dalam konteks pendidikan seni, pengalaman semacam ini memiliki arti yang sangat penting. Mahasiswa tidak hanya belajar menjadi aktor, penata artistik, atau sutradara yang baik. Mereka juga belajar bekerja di dalam sebuah ekosistem penciptaan. Mereka memahami bahwa seni pertunjukan bukanlah ruang untuk menonjolkan individualitas semata, melainkan ruang untuk membangun tanggung jawab bersama. Nilai-nilai seperti disiplin, komunikasi, empati, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara kolektif tumbuh melalui pengalaman yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kelas.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Bagi saya, kerja kolektif inilah yang menjadi fondasi seluruh proses kreatif NATASUKMA COMPLEX#. Ingatan tidak mungkin diproduksi sendirian. Kesadaran tidak tumbuh melalui kerja individual. Begitu pula perlawanan, tidak pernah lahir dari satu tubuh yang berdiri sendiri. Ketiganya hanya mungkin terwujud ketika proses kreatif mampu membangun komunitas penciptaan yang saling belajar, saling mempercayai, dan saling bertanggung jawab.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Pertunjukan selalu memiliki akhir. Tirai ditutup. Lampu dipadamkan. Tepuk tangan mereda. Penonton meninggalkan ruang pertunjukan sambil membawa tafsir dan kesan yang berbeda-beda. Namun bagi mereka yang terlibat di dalam proses kreatif, sesungguhnya tidak ada akhir yang benar-benar selesai. Yang tersisa bukan hanya dokumentasi atau kenangan tentang sebuah pementasan, melainkan perubahan cara memandang tubuh, sejarah, kerja kolektif, dan makna penciptaan itu sendiri.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

NATASUKMA COMPLEX# akan dipentaskan di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia. Namun makna terpenting dari produksi ini tidak semata-mata terletak pada keberhasilannya mencapai panggung internasional. Yang lebih penting adalah perjalanan yang memungkinkan setiap orang di dalamnya mengalami proses belajar bersama. Riset sejarah bertemu dengan eksplorasi artistik. Tubuh bertemu dengan ingatan. Pendidikan bertemu dengan penciptaan. Seluruhnya melebur menjadi pengalaman yang membentuk cara baru memahami teater.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Pada akhirnya, produksi teater bukan hanya menghasilkan pertunjukan. Ia menghasilkan manusia yang belajar melalui praktik. Ia membangun pengetahuan melalui tubuh. Ia mempertemukan sejarah dengan kehidupan masa kini. Ia mengajarkan bahwa ingatan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang harus terus diproduksi. Kesadaran bukan sesuatu yang diberikan, melainkan ditumbuhkan. Perlawanan bukan ledakan sesaat, melainkan sikap yang terus dirawat melalui kerja kebudayaan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Mungkin di situlah arti terdalam dari seluruh proses kreatif NATASUKMA COMPLEX#. Pertunjukan memang akan selesai ketika lampu panggung dipadamkan. Namun ingatan yang diproduksinya, kesadaran yang ditumbuhkannya, dan semangat perlawanan yang dirawatnya akan terus hidup di dalam tubuh para pelaku, di dalam percakapan para penonton, dan di dalam ruang-ruang kebudayaan yang senantiasa membutuhkan seni untuk mengingatkan kembali apa yang tidak boleh dilupakan.(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

NATASUKMA COMPLEX# yang diproduksi Studio Teater Prodi Seni Teater FSP ISI Padangpanjang 2026 dengan penulis naskah dan sutradara Tatang R Machan ini, didukung oleh Firdaus (Pimpinan Produksi), Andre (Penata Artistik), Desra Imelda (Penata Kostum), Ari Wirya Saputra (Penata Cahaya), Asrifal Fahmi (Penata Musik), Renal Fazri (Videografer), Wawan (Penata Grafis), serta Yuniarni, Husin, Dwi Setyawan, M. Andreanda Dwi Putra, Alya Raudatul ‘Aisy, Jersie Liyoni Putri Safitri, Ananda Rahmat dan Sharief J Alkindi (Aktor).(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

20/07/2026, Editor; Tatang R. Macan(Source: kosapoin.com/memproduksi-ingatan-menumbuhkan-kesadaran-merawat-perlawanan-catatan-proses-nata-sukma-complex-jelang-pertunjukan-di-malaysia)

Wendy HS

Apakah artikel ini membantu?
IP: 57.141.18.24
Negara: Unknown (Unknown)
Device: Desktop
OS: Linux, Browser: Chrome

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *