Hantu-Hantu Tuhan di Meja Percakapan

hantu hantu tuhan di meja percakapan

Berbicara diksi kudeta berbicara ragam kemungkinan. Salah satunya mendadak menjadi Tuhan. Kok bisa? Begini: dia itu hidupnya begini-begini mana mampu? Atau dia itu sodaranya begini-begini nanti kita kena getahnya. Bahkan tak tanggung-tanggung bisa jadi panitia ahli neraka: dijamin dia akan masuk neraka, percaya deh sebab begini-begini dan begini hingga begitu dan begitu menjadi begitu dan begini.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Kudeta biasanya terjadi ketika seseorang ingin merebut kekuasaan. Di meja percakapan, perebutan semacam itu berlangsung dengan cara yang lebih murah. Tak perlu pasukan, tak perlu senjata. Cukup kalimat, “Dia itu hidupnya begini-begini, mana mampu?” Orang yang dibicarakan belum tentu pernah mencoba, tetapi orang lain sudah tahu hasilnya. Hebat juga, bisa meramal masa depan tanpa perlu menunggu besok. Cerita semacam itu biasanya tidak datang dengan membawa bukti. Ia datang sebagai kabar dari seseorang yang katanya tahu. Lalu ada yang meneruskan, ada yang menambahkan, ada pula yang mengangguk karena pernah mendengar cerita serupa. Ketika ditanya sumbernya, jawabannya berputar: dari teman, dari kenalan, dari orang yang kebetulan tahu. Lama-lama, tak ada yang ingat siapa yang pertama bicara. Lama-lama, sesuatu dianggap benar hanya karena banyak orang sudah mendengarnya.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Setelah itu, kecurigaan bisa merembet ke keluarga. “Dia itu saudaranya begini-begini, nanti kita kena getahnya.” Dalam peribahasa Sunda ada ungkapan kaciwit kulit kabawa daging. Seseorang bisa ikut menanggung akibat dari perkara yang melibatkan kerabatnya, meski ia sendiri tidak berbuat salah. Namun, ikut terkena getah tidak otomatis berarti ikut menanam pohon, apalagi memetik buahnya. Ada juga buruk-buruk papan jati. Seburuk apa pun seorang kerabat, ikatan keluarga tidak serta-merta putus. Orang masih bisa menolong saudaranya yang bersalah; bukan berarti kesalahannya ikut dibenarkan. Di meja percakapan, perkara sederhana ini sering dibuat rumit. Kalau membela, dibilang membenarkan. Kalau mengakui kesalahannya, dibilang tak punya rasa keluarga. Kasih sayang rupanya harus siap diperiksa juga.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Lalu ada teng manuk teng, anak merak kukuncungan, yang menghubungkan tabiat anak dengan orang tuanya. Ada pula kiruh ti girang kiruh ka hilir, tentang kekacauan di hulu yang merembet ke hilir. Keluarga dan lingkungan memang meninggalkan pengaruh. Anak bisa meniru orang tua; orang bawahan bisa mengikuti kebiasaan atasannya. Tetapi manusia tidak selalu tumbuh menjadi salinan orang yang membesarkannya atau orang yang memberinya pekerjaan. Kalau asal-usul sudah cukup untuk menetapkan watak, buat apa repot-repot berkenalan? Peribahasa kotok bongkok kumorolong, kacingcalang kumarantang mengingatkan pada orang yang ikut-ikutan dalam suatu urusan karena terbawa orang lain. Pengaruh semacam itu bisa membawa seseorang ke perkara yang bahkan tidak sungguh-sungguh dipahaminya. Di meja percakapan, seseorang mengulang kabar, orang lain menambahkan tafsir, lalu semuanya merasa tahu. Belum tentu ada yang melihat sendiri kejadiannya. Namun, ketika cerita itu beredar cukup jauh, orang yang sekadar ikut bicara pun bisa merasa seperti saksi.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Begitulah, mula-mula yang dibicarakan perbuatannya. Lama-lama orangnya sekalian. “Perbuatannya keliru” berubah menjadi “orangnya memang begitu”. Satu kesalahan dibawa ke mana-mana, seakan-akan hidup seseorang tidak pernah punya halaman lain. Kalau kemudian ditemukan kesalahan baru, cerita lama ikut dibongkar lagi. Satu perkara bisa menyeret keburukan lain, termasuk yang belum tentu ada hubungannya.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Orang-orang yang melakukan penghakiman semacam itu seolah duduk di kursi yang lebih tinggi. Mereka tahu siapa yang pantas dipercaya, siapa yang patut dicurigai. Dari beberapa potong cerita, mereka merasa cukup mengenal seseorang sampai ke bagian-bagian hidup yang tak pernah disaksikannya sendiri. Kalau menyangkut diri mereka sendiri, tentu urusannya lain. Rapatnya belum dijadwalkan. Pengadilan semacam itu ada di mana-mana: di warung, di ruang keluarga, di grup percakapan. Orang yang dibicarakan sering kali tidak ada di sana, tetapi namanya hadir lebih lama daripada orang-orang yang menyebutnya. Seseorang mendadak menjaga jarak. Ada kesempatan yang tak jadi datang. Ada sapaan yang berubah dingin. Orang yang mengalaminya mungkin bertanya-tanya apa yang salah, sementara putusan tentang dirinya sudah berkeliling dari satu mulut ke mulut lain. Tak ada sidang yang sungguh-sungguh digelar, tetapi orang-orang sudah bertindak seolah-olah keputusan telah dibuat.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Rupanya, panitia ahli neraka dalam pembukaan tadi tak perlu menunggu terlalu lama untuk mulai bekerja. Bahan pertimbangannya sudah tersedia: cerita yang belum tentu benar, hubungan keluarga yang dianggap sebagai bukti, dan kesalahan seseorang yang diperluas menjadi wataknya. Terdakwa tak perlu hadir. Pemeriksaan bisa dilewati. Putusan telanjur beredar, sedangkan penjelasan bisa menyusul kalau masih ada yang mau mendengarkan.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

Di meja percakapan, manusia tak perlu menjadi Tuhan sungguhan. Cukup duduk bersama, mendengar cerita, lalu meneruskannya. Hantu itu tidak punya mulut sendiri. Selalu ada orang yang meminjamkan mulutnya.(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)

SEREN TAUN DI CIGUGUR
Baca Tulisan Lain

SEREN TAUN DI CIGUGUR

Rakean Wanen Ismaya

(Source: kosapoin.com/hantu-hantu-tuhan-di-meja-percakapan)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *