Pendidikan Kita Jangan Sampai Jadi Pabrik Ijazah Tanpa Adab

pambrik izasah kosapoin

Kala kita bicara soal Hari Pendidikan Nasional, yang jatuh pada setiap tanggal 2 di bulan Mei dalam setiap tahunnya, rasanya batin ini sering terasa ganjil. Kenapa? Coba saja amati kondisi di sekitar kita. Gedung-gedung sekolah kian hari semakin wah, anak-anak sekolah bahkan di pelosok pun sudah pegang gadget, dan informasi apa saja tinggal cari di internet dalam hitungan detik. Namun pertanyaannya, kok rasanya karakter dan budi pekerti malah semakin anjlok, ya? Di sinilah kita mesti berani jujur: jangan-jangan adab memang sudah hilang dari bangunan pendidikan kita. Padahal, sekolah itu bukan sekadar tempat buat numpahin isi buku ke otak murid. Seharusnya, pendidikan itu jadi proses “alkimia” yang bisa mengubah kegelapan menjadi cahaya terang dalam hidup seseorang.

Jujur saja, saya sering miris kalau lihat fenomena sekarang. Banyak orang tua dan guru yang bangga setengah mati kalau anaknya dapat nilai di saban mata pelajarannya dengan poin 90 atau 100, tapi si anak malah nggak tahu cara bicara yang sopan sama orang yang lebih tua. Pendidikan tanpa adab itu ibarat kita menanam pohon yang kelihatannya rimbun banget, tapi buahnya beracun. Cantik kalau hanya dipajang buat foto-foto, tapi mematikan kalau sampai dimakan. Kita harus sadar kalau menaruh adab di atas ilmu itu harga mati, nggak bisa ditawar lagi. Adab itu soal posisi; bagaimana kita menaruh akal di bawah tuntunan hati, dan ngerem ego biar nggak jadi liar dan sombong.

Kita juga nggak bisa tutup mata kalau sistem pendidikan kita sekarang ini kadang hanya mirip “pabrik ijazah”. Murid seolah-olah dipaksa jadi kayak robot yang sudah disetel buat menuhi kebutuhan industri atau pasar kerja saja. Mereka hanya dianggap sebagai angka atau sekadar statistik angkatan kerja tiap tahunnya. Ini menyedihkan banget, sih. Manusia itu makhluk yang punya jiwa, punya rasa, bukan sekadar komponen mesin yang kalau rusak bisa langsung diganti. Ki Hadjar Dewantara dari dulu sudah kasih wejangan kalau sekolah itu harusnya jadi “Taman”. Namanya juga taman, ya harusnya bikin senang dan jadi tempat buat tumbuh sesuai kodrat masing-masing secara alami. Jangan pernah paksa bunga mawar jadi melati, karena mawar punya keunikannya sendiri yang nggak perlu dibanding-bandingkan.

Apalagi sekarang kita sudah masuk ke zaman AI dan algoritma yang serba otomatis begini. Ada sebuah ironi besar yang terjadi: kita bisa ngobrol sama orang di luar negeri dalam sedetik saja pakai internet, tapi malah sering banget kehilangan “kontak” sama hati nurani kita sendiri. Tanpa adab yang kuat, kita ini cuma bakal jadi “Manusia Sintetis”. Paham teknologi tingkat tinggi, tahu harga barang-barang branded yang mahal, tapi nggak ngerti apa itu nilai kehidupan yang sesungguhnya. Penting banget buat kita untuk tetap eling dan waspada. Jangan sampai kita jadi sombong hanya karena merasa sudah tahu segalanya handa dengan modal buka Google saja.

Sebenarnya, kalau kita mau buka mata buat belajar soal kehidupan, alam itu guru yang paling jujur buat kita. Coba saja perhatikan air. Dia itu selalu mengalir ke tempat yang rendah, nggak pernah cari-cari tempat tinggi buat pamer. Itu pelajaran kerendahhatian yang nyata banget buat kita, atau lihat pohon yang tetap kasih buahnya meskipun dia dilempari pakai batu berkali-kali. Itu lho yang namanya keluhuran budi pekerti. Harusnya pendidikan bikin kita kayak gitu; makin pintar ya harusnya makin merunduk, bukan malah makin merasa paling benar sendiri. Kalau ilmu hanya dipakai buat sombong-sombongan, ya berarti ada yang nggak beres sama proses belajarnya.

Salah satu tragedi paling besar di dunia pendidikan kita saat ini adalah hilangnya rasa hormat kepada ilmu itu sendiri. Gelar sarjana atau bahkan profesor kadang-kadang hanya dijadikan pajangan biar kelihatan hebat di media sosial atau buat cari jabatan. Kita kangen banget sama sosok pendidik yang bukan sekadar pintar ceramah pakai istilah-istilah langit yang sulit dipahami, tapi bisa jadi teladan atau uswatun hasanah yang nyata dalam keseharian. Ingat, ilmu tanpa adab itu bisa jadi alat penghancur yang ngeri, sedangkan adab tanpa ilmu bikin kita hanya diam di tempat. Kita butuh orang-orang pintar yang tetap “bersujud”—artinya, ilmunya dipakai buat bantu sesama, bukan buat menindas mereka yang kurang tahu.

Jangan lupa juga, pendidikan itu harusnya punya sisi puitis dan sisi kemanusiaan. Makanya sastra itu penting banget, jangan disepelekan. Seorang ahli teknik atau pakar ekonomi kalau hatinya nggak tersentuh sastra, biasanya bakal jadi kaku dan tumpul. Sastra itu melatih kita buat bisa ngerasain apa yang dirasain orang lain, alias empati. Tanpa itu, ya kita hanya jadi “hewan yang pandai”, kayak kata Pramoedya Ananta Toer dulu. Kita tentu nggak mau kan anak cucu kita jadi orang-orang ber-IQ tinggi tapi hatinya kering dan nggak punya rasa kasihan?

Ke depannya, kita harus berani rombak habis-habisan cara kita memandang dunia pendidikan ini. Jangan biarkan ruang kelas sekadar jadi tempat hafalan yang ngebosenin dan bikin stres. Kembalikan sekolah ke jalur yang benar, yaitu tempat buat nyemai adab sejak dini. Kita butuh generasi yang bukan hanya jago operasikan mesin canggih, tapi juga punya integritas yang nggak bisa dibeli pakai uang. Simpulnya, nilai kita sebagai manusia bukan diukur dari seberapa banyak tumpukan ijazah di dalam lemari, tapi dari seberapa banyak kebaikan dan manfaat yang bisa kita tebar buat orang lain. Dengan adab, ilmu jadi berkah. Akan tetapi tanpa adab, ilmu hanya bakal jadi sampah.

Sebagaimana sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Siapa yang menempatkan dirinya sebagai pemimpin bagi manusia, maka hendaklah ia memulai dengan mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain; dan hendaklah ia mendidik dengan perilakunya sebelum mendidik dengan lisannya.” []

Kota Hujan, 01 Mei 2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *