PULANG

PULANG

Ada kata-kata yang begitu sering singgah di bibir kita hingga ia kehilangan bobotnya. Pulang adalah salah satunya. Kita mengucapkannya nyaris setiap hari—pulang sekolah, pulang kerja, pulang malam, pulang kampung—seolah ia hanyalah perpindahan sederhana dari satu titik koordinat ke titik koordinat yang lain.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Namun, semakin jauh seseorang berjalan, semakin ia tahu bahwa pulang tidak sesederhana itu. Ada yang kembali ke alamat yang sama, tetapi tidak lagi merasa berada di rumah. Ada yang bertahun-tahun merindukan sebuah tempat, lalu ketika akhirnya tiba, ia merasa seperti sedang berkunjung kepada masa lalunya sendiri. Ada pula yang terus berpindah dari satu kota ke kota lain, seolah-olah mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar mempunyai alamat. Di situlah makna pulang mulai bergeser; ia bukan lagi soal ke mana tubuh kembali, melainkan apa yang dicari manusia setelah terlalu lama berjalan.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Ketika kecil, pulang tidak membutuhkan penjelasan. Hari mulai gelap, suara ibu dari halaman sudah cukup menjadi penunjuk arah. Ada pintu, kamar, serta orang-orang yang mengenal kita bahkan sebelum kita mampu menjelaskan siapa diri kita. Rumah pada masa itu adalah sebuah kepastian—tempat kita bisa masuk dengan lutut kotor atau mata sembab tanpa perlu membawa prestasi atau menyembunyikan ketakutan.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Kemudian kita tumbuh. Sekolah dan pekerjaan mengharuskan kita pergi lebih jauh, dan perjalanan mempunyai harga: kita membawa rumah di dalam ingatan, sementara rumah itu sendiri perlahan berubah. Kita belajar hidup sendiri, menghadapi kegagalan tanpa orang tua yang langsung merengkuh, serta membuat keputusan-keputusan besar. Kita bertambah kuat, tetapi bersama kekuatan itu, kita melepaskan kepolosan.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Ketika suatu hari kita pulang, rumah mungkin masih berdiri di tempat yang sama, tetapi kita bukan lagi orang yang dulu pergi. Pohon bertambah tinggi, perabotan bergeser, dan beberapa wajah hilang dari ruang makan. Di sanalah kita memahami bahwa pulang tidak selalu mengembalikan kita kepada masa lalu; ia hanya mempertemukan kita dengan apa yang masih tersisa darinya. Pada titik tertentu, kita tahu bahwa kita tidak pernah merindukan bangunan fisik, melainkan seseorang, sebuah suara, atau cara cangkir tua di meja makan menyimpan kenangan yang tidak dapat disentuh lagi.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat pertama untuk merasa dicintai. Namun bagi yang lain, rumah adalah tempat pertama yang ingin ditinggalkan karena pertengkaran atau rasa asing. Karena itu, tidak semua manusia rindu pulang dengan cara yang sama; ada yang justru harus menciptakan rumahnya sendiri—menemukan tempat di mana mereka tidak lagi takut.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Seseorang kadang berkata, “Aku ingin pulang,” ketika yang sebenarnya ia maksudkan adalah keinginan untuk berhenti berpura-pura. Di luar sana, kita mengenakan banyak wajah: menjadi kuat ketika rapuh dan berhasil karena takut gagal. Kita memainkan peran sepanjang hari hingga malam tiba, pintu kamar ditutup, dan suara dunia mengecil. Di sanalah kita bertemu diri sendiri—sebuah pertemuan yang sering kali penuh dengan kelelahan yang disembunyikan. Pulang kepada diri sendiri berarti berani tinggal bersama kerapuhan itu tanpa terus berlari.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Di sinilah memaafkan menemukan jalannya. Seseorang yang terus menggenggam kemarahan sebenarnya sedang membawa masa lalu ke mana pun ia pergi. Memaafkan adalah melepaskan masa lalu dari haknya untuk mengatur seluruh sisa hidup. Pulang kepada diri sendiri kadang berarti mengatakan: cukup, aku tidak ingin membawa beban ini lebih jauh.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Semakin jauh kita memaknai pulang, kian jelas bahwa rumah bukan sekadar soal tempat yang menerima tubuh, melainkan kehadiran yang membuat keberadaan kita terasa sah. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seseorang yang bersedia mendengarkan, seorang teman yang tidak meminta kita menjadi siapa-siapa, atau doa yang hanya terdiri dari beberapa kata. Pada titik koordinat inilah, pulang meninggalkan bentuk geografisnya dan menjelma arah batin.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Kita menghabiskan hidup untuk pergi—dari rumah masa kanak-kanak, versi lama diri kita, hingga mencari makna. Tetapi manusia membutuhkan kemungkinan untuk kembali agar perjalanan tidak berubah menjadi pelarian tanpa ujung. Kita pergi agar dapat melihat dunia, dan kembali agar dapat memahami apa yang berarti. Kita pulang tidak selalu dengan kabar baik; kadang dengan kegagalan, tubuh yang lelah, dan hati yang patah. Dan mungkin kalimat paling menyelamatkan di dunia bukanlah “Sudah berhasil apa?” melainkan: “Pulanglah. Tidak perlu membawa apa-apa. Datang saja.”(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Kita juga harus menerima bahwa suatu hari tidak semua kepulangan akan dapat dilakukan; ada pintu yang tertutup oleh kematian, rumah yang tinggal alamat, dan orang yang hanya dapat ditemui melalui foto. Kepulangan manusia mempunyai batas, dan justru karena batas itulah setiap detik kepulangan menjadi sangat berharga.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Kita akan tetap pergi, sebab itulah bagian dari hidup. Tetapi selama hati masih mengenal arah, perjalanan tidak kehilangan makna. Kita tidak perlu membawa seluruh masa lalu. Kita hanya perlu tahu apa yang ingin dibawa pulang: kasih, pelajaran, atau satu kalimat yang pernah menyelamatkan kita. Sisanya boleh tinggal di jalan; biarkan waktu mengambilnya.(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Dan ketika suatu hari kita benar-benar sampai, mungkin tidak ada musik atau perayaan. Hanya ada sebuah pintu, keheningan, dan perasaan yang sangat sederhana: kita tidak perlu pergi ke mana-mana lagi. Hati tidak lagi merasa asing terhadap tempat ia berada. Sebab perjalanan yang paling jauh sering kali membawa manusia kepada satu kerinduan yang sejak awal telah tinggal di dalam dirinya—sebuah rumah yang tidak selalu berupa rumah, cahaya yang tidak selalu dapat dilihat, dan pintu yang tidak perlu diketuk berkali-kali. Kita hanya perlu mengenal jalannya. Lalu, ketika waktunya tiba—pulang. Ke mana? Barangkali kepada kenangan yang menolak mati, seperti sebuah sajak lama yang diam-diam masih menyimpan jalan pulang:(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Terminal Senja(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Fi
Jalan ini telah aku pahami
Sebagai muara paling sunyi dari hidup
Yang kutempuh; setelah jarak
Memisah kita
(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Sebuah percakapan
Hilang sudah ditelan gerimis
Yang berjatuhan dalam bayang-bayang
Rambutmu. Dan kau tak di sampingku
(Source: kosapoin.com/pulang-2)

Fi
Dalam bait-bait puisi
Aku istirahatkan ruhku
Setelah tidur dalam pangkuanmu
Semata sekar impian
(Source: kosapoin.com/pulang-2)

2002(Source: kosapoin.com/pulang-2)

DIALEKTIKA MEMBACA
Baca Tulisan Lain

DIALEKTIKA MEMBACA

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.46
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *