Memasuki pemahaman mengenai kosmologi Sunda mengharuskan kita untuk menembus “lapisan teknis” yang melampaui sekadar personifikasi. Kita tidak sedang membicarakan Sanghyang Maha Guru sebagai seorang tokoh historis atau figur fisik, melainkan sebagai sebuah struktur simbolik yang kokoh dalam arsitektur semesta. Dengan merujuk pada pola dunia dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian serta kedalaman tradisi lisan para karuhun, kita mendapati bahwa kosmos Sunda bukanlah ruang kosong, melainkan bangunan tiga lapisan ontologis yang saling mengikat.
Struktur dasar ini bermula dari Buana Nyungcung di lapisan atas, sebuah ranah ilahi berisi cahaya murni yang menjadi sumber hukum kosmis, dharma atau rta. Di tengahnya, terbentang Buana Panca Tengah, dunia manusia yang menjadi ruang dialektika sekaligus konflik antara harmoni dan kekacauan. Sementara di dasar, terdapat Buana Larang, sebuah ranah insting, bayangan, dan kekuatan liar. Penting untuk dicatat bahwa Buana Larang bukanlah representasi kejahatan, melainkan sebuah dimensi yang memang belum tersadarkan. Di manakah posisi Sanghyang Maha Guru dalam bangunan tiga lapis ini? Secara struktural, Ia tidak menetap di salah satu lapisan. Ia adalah titik sumbu—sebuah axis mundi—yang menembus ketiganya. Secara teknis, Ia bukan entitas horizontal yang terkurung di satu dunia, melainkan fungsi vertikal yang menghubungkan seluruh kosmos. Kita bisa membayangkannya seperti poros gunung yang menghujam bumi sekaligus menyundul langit, atau laksana batang pohon kosmik yang akarnya menghunjam dalam namun pucuknya menyentuh angkasa.
Simbol triadik ini—Kepala, Badan, dan Akar—adalah pola yang sering muncul dalam simbolisme Sunda. Bagian Kepala merujuk pada Buana Nyungcung sebagai kesadaran murni; Badan merujuk pada Buana Tengah sebagai ruang kehidupan manusia; dan Akar merujuk pada Buana Larang sebagai energi dasar. Dalam posisi ini, Sanghyang Maha Guru bertindak sebagai kesadaran yang mampu mengintegrasikan ketiganya. Artinya, ia tidak mengajarkan kita untuk menolak lapisan bawah, tidak pula hanya menyuruh kita mengejar lapisan atas secara membabi buta, melainkan untuk menyatukan seluruh spektrum eksistensi tersebut.
Tafsir ini membawa kita pada simbol Gunung sebagai mandala vertikal. Dalam pandangan ini, Sanghyang Maha Guru identik dengan gunung suci: puncaknya adalah ilahi, lerengnya adalah kehidupan manusia, dan kakinya adalah dunia bawah. Gunung di sini bukanlah sekadar koordinat geografis, melainkan sebuah diagram kesadaran. Sanghyang Maha Guru adalah representasi dari kesadaran puncak yang tetap memiliki keberanian dan kerendahan hati untuk tetap terhubung ke dasar. Jika kita bedah lebih teknis lagi, prinsip ini berfungsi sebagai kanal transformasi energi. Ada aliran dua arah yang terjadi secara konstan: dari bawah, energi naik sebagai daya hidup (prana atau tenaga), sementara dari atas, energi turun sebagai cahaya kesadaran. Sanghyang Maha Guru adalah kanal transformasi tersebut. Tanpa adanya fungsi penyelarasan ini, energi bawah akan meledak menjadi destruktif, sementara energi atas akan menguap menjadi konsep abstrak yang tidak membumi.
Hal ini membawa “Guru” masuk ke dalam prinsip epistemologis. Dalam kosmologi Sunda, pengetahuan tidaklah berhenti pada rasionalitas belaka. Ada tiga lapis cara mengetahui (knowing): Indera (lahiriah), Pikiran (nalar), dan Rasa (kesadaran halus). Sanghyang Maha Guru adalah prinsip yang menyelaraskan ketiga instrumen tersebut. Maka, sosok “Guru” bukanlah pemberi informasi, melainkan penyetel atau yang menyetem frekuensi kesadaran agar selaras dengan frekuensi alam semesta. Lantas, bagaimana relasinya dengan Sanghyang Tunggal? Di atas segala struktur dan fungsi tersebut, terdapat prinsip tertinggi yang disebut Hyang Tunggal. Relasinya bersifat hierarkis namun terhubung: Hyang Tunggal adalah yang Absolut, yang tak terjangkau secara langsung oleh keterbatasan manusia, sementara Sanghyang Maha Guru adalah jembatan yang bisa dialami. Secara teknis, Guru bertindak sebagai antarmuka (interface) antara Sang Absolut dan manusia.
Namun, ada bagian yang paling subtil dalam perjalanan ini, yaitu simbol disolusi atau menghilang. Dalam struktur kosmologi, Sanghyang Maha Guru memang krusial di awal sebagai penuntun. Namun, pada puncak kesadaran, fungsi “Guru” ini justru harus melarut. Mengapa demikian? Karena pada titik itu, subjek (murid), objek (guru), dan pengetahuan itu sendiri telah menyatu dalam satu tarikan napas. Konsep ini paralel dengan moksa, namun dalam rasa Sunda, ia lebih dikenal sebagai “mulih ka asal”—sebuah kepulangan yang paripurna ke titik mula.
Mengetahui kedalaman makna ini sangat penting untuk menghindari risiko salah tafsir secara teknis maupun praktis. Jika simbol ini dibaca secara literal, manusia hanya akan sibuk mencari figur fisik “Maha Guru”, yang kemudian hanya akan melahirkan hierarki kekuasaan spiritual yang semu. Secara kosmologis, mencari sosok fisik untuk simbol ini adalah sebuah kesalahan kategori. Sanghyang Maha Guru adalah sebuah struktur kesadaran, bukan sekadar individu historis yang lekang oleh waktu. Sebagai ringkasan teknis, Sanghyang Maha Guru adalah sebuah simpul ontologis yang menjadi poros penghubung tiga dunia, sebuah simbolik gunung atau pohon kosmik yang menjadi kanal naik-turunnya energi. Secara epistemologis, Ia adalah penyatu antara indera, nalar, dan rasa, sekaligus secara teologis menjadi jembatan menuju Hyang Tunggal hingga akhirnya fungsi tersebut larut dalam kesatuan yang utuh.
Sekian dan terima kasih,
Bandung, 24 April 2026









