Foto para peneliti, dari kiri ke kanan (Atas) Inko Sakto Dewanto, Luki Lukmanul Hakim, Azka Zahra Maziya, Adi Surahman, Asep Ramdhan. Dari kiri ke kanan (bawah) Mia Fitria Ramilah, Agustina Kusuma Dewi, Ganis Resmisari. Dok. Foto Istimewa..
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian warisan budaya Indonesia. Dalam konteks tersebut, penelitian “Alih Wahana “I La Galigo” Ke Dalam Format Multimedia Interaktif Berbasis Analisis PEST Sebagai Inovasi Media Edukasi Penguatan Karakter Bangsa” merupakan salah satu judul penelitian skema Penelitian Terapan—Luaran Model yang termasuk didanai Hibah Penelitian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi tahun pelaksanaan 2026. Berlandaskan roadmap penelitian periode 2020–2026 yang diusung oleh kelompok riset yang menamakan dirinya dengan Kelompok Riset Jelajah Alih Wahana (JAW), menghadirkan konsep alih wahana sebagai pendekatan strategis untuk menjembatani arsip budaya, narasi tradisional, dan pengalaman digital masyarakat masa kini.
Penelitian yang merupakan kolaborasi dari praktisi dan akademisi desain serta mitra industri kreatif, menempatkan alih wahana bukan sekadar proses perubahan medium, melainkan sebagai kerangka epistemologis yang memperluas pemahaman tentang bagaimana pengetahuan budaya diproduksi, dinegosiasikan, dan disebarluaskan dalam ekosistem digital global yang terus berkembang. Melalui pendekatan tersebut, warisan budaya lokal diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai dasarnya. Landasan penelitian merujuk pada hasil riset terapan tahun 2025 yang menghasilkan Model Glokalisasi Alih Wahana (GLAW). Model ini mengintegrasikan analisis PEST (politik, ekonomi, sosial-budaya, dan teknologi) dengan konsep lanskap global yang dikembangkan oleh pemikir budaya Arjun Appadurai. Pendekatan tersebut memungkinkan kajian budaya dilakukan secara lebih komprehensif dalam memahami pengaruh dinamika global terhadap transformasi budaya lokal.
Selain berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, model GLAW juga menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan strategis di bidang pertahanan nonmiliter Indonesia. Di tengah maraknya arus informasi digital, masyarakat menghadapi berbagai Halangan, Tantangan, Ancaman, dan Gangguan (HTAG) yang tidak lagi hanya bersifat fisik. Infiltrasi informasi, penyebaran ideologi digital, hingga disinformasi menjadi tantangan serius yang berpotensi melemahkan nilai kebangsaan serta kohesi sosial. Dalam konteks tersebut, penguatan literasi budaya melalui media digital dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan nasional. Budaya tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber nilai yang mampu membentuk karakter masyarakat di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat.
Sebagai studi kasus utama, penelitian ini mengangkat epik Bugis “I La Galigo”, salah satu karya sastra terbesar di dunia yang menyimpan kekayaan pengetahuan kosmologis, etis, dan estetis. Selama berabad-abad, “I La Galigo” hidup dalam tradisi lisan masyarakat Bugis dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Nusantara. Karya tersebut telah mengalami berbagai bentuk alih wahana, mulai dari manuskrip lontara, terjemahan filologis, pementasan teater epik berskala internasional, hingga dokumentasi audio-visual. Namun, sebagian besar bentuk transformasi tersebut masih bersifat satu arah, di mana audiens berperan sebagai penerima informasi yang pasif.
Para peneliti gabungan dari Universitas Aisyiyah Bandung, ITENAS Bandung, Forum Film Bandung, dan Larung Sound Design (The Larung Company) ini menawarkan pendekatan berbeda melalui pengembangan multimedia interaktif berbasis integrasi suara dan visual. Medium baru tersebut dirancang untuk menciptakan pengalaman yang lebih dialogis, afektif, dan embodied, sehingga pengguna tidak hanya menyaksikan cerita, tetapi juga berinteraksi secara aktif dengan narasi dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Alih wahana interaktif memungkinkan warisan budaya hadir lebih dekat dengan generasi digital. Pengguna tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mengalami dan membangun keterhubungan emosional dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan,” ungkap tim peneliti. Dinyatakan juga bahwa pada pelaksanaannya, direncanakan akan dilakukan observasi lapangan dan wawancara dengan para pakar dari berbagai bidang keilmuan terkait, mulai dari etnomusikologi, filologi, dan desain media digital.
Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-eksploratif yang mengintegrasikan perspektif etnomusikologi dan participatory interaction dalam kerangka konstruktif desain interaksi. Pendekatan ini memberikan ruang bagi keterlibatan pengguna sebagai bagian dari proses penciptaan makna, sehingga pengalaman budaya menjadi lebih personal dan relevan dengan konteks kehidupan masa kini. Penggabungan unsur suara, visual, dan interaktivitas juga membuka peluang baru dalam dunia pendidikan. Multimedia interaktif “I La Galigo” diproyeksikan menjadi media pembelajaran inovatif yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda dengan cara yang lebih menarik dan mudah diakses.
Di tengah dominasi budaya digital global, inovasi ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya Indonesia. Transformasi “I La Galigo” ke dalam format multimedia interaktif tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai sarana penguatan karakter bangsa melalui internalisasi nilai-nilai budaya lokal yang relevan dengan tantangan zaman. Melalui pendekatan glokalisasi dan pemanfaatan teknologi digital secara kreatif, penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat bersinergi untuk menciptakan ruang baru bagi pengembangan pengetahuan, pendidikan, serta penguatan identitas nasional di era digital yang semakin kompleks. []









