KETIKA MANUSIA DIUKUR DARI APA YANG DIMILIKINYA

KETIKA MANUSIA DIUKUR DARI APA YANG DIMILIKINYA

Ada masa ketika manusia cukup mengenal dirinya melalui apa yang dijalani. Ia bekerja karena ada yang harus dikerjakan, mencintai karena ada yang dicintai, bertetangga karena kehidupan memang membuat manusia saling membutuhkan. Sekarang ukuran tentang kehidupan terasa semakin banyak. Rumah dibandingkan dengan rumah, kendaraan dengan kendaraan, jabatan dengan jabatan, penghasilan dengan penghasilan. Kehidupan yang semestinya berjalan menurut kebutuhannya sendiri pun mudah masuk ke dalam perlombaan yang tidak pernah benar-benar diumumkan. Orang dapat merasa berhasil karena tampak lebih tinggi dari orang lain, sementara kehidupan yang sederhana mulai terlihat seperti sesuatu yang perlu disembunyikan. Di tengah keadaan semacam itu, kemampuan melihat diri sendiri perlahan kalah oleh kebiasaan melihat apa yang dimiliki orang lain.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Keinginan mempunyai kehidupan yang lebih baik tentu bukan persoalan. Harta dibutuhkan untuk menjalani kehidupan, kedudukan membawa tanggung jawab tertentu, sementara cinta asmara merupakan bagian dari pengalaman manusia yang memiliki tempatnya sendiri. Ketiganya bahkan dapat mendorong seseorang bekerja lebih sungguh-sungguh, menjaga keluarga, membangun sesuatu, dan menjalani hidup dengan penuh kesungguhan. Persoalan mulai terasa ketika harta, tahta, dan cinta berubah menjadi ukuran tentang harga diri. Kepemilikan kemudian membutuhkan pengakuan, keberhasilan membutuhkan penonton, dan hubungan cinta kadang diperlakukan sebagai bukti bahwa seseorang lebih layak daripada orang lain. Yang semula berada di luar diri perlahan masuk ke dalam cara seseorang mengenali dirinya.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Dari sana persaingan memperoleh bentuk yang lebih dalam. Orang yang semula ingin memperbaiki kehidupannya dapat terseret pada kebutuhan untuk mengungguli kehidupan orang lain. Keberhasilan orang lain terasa mengusik, kegagalan orang lain memberi rasa lega yang sulit diakui, sementara perbedaan kecil dapat berkembang menjadi persoalan harga diri. Seseorang dapat menghabiskan banyak tenaga untuk mempertahankan kedudukan, citra, kepemilikan, dan pengakuan sampai lupa memeriksa alasan di balik semua itu. Ia bergerak terus, tetapi geraknya belum tentu membawa dirinya semakin dekat kepada dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Perubahan zaman mempunyai wajah yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan kepemilikan. Modernitas membawa pengetahuan, teknologi, komunikasi, kesempatan, dan banyak kemudahan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Kehidupan menjadi cepat karena manusia memang menemukan berbagai cara untuk membuatnya cepat. Persoalan muncul ketika kecepatan tersebut ikut membentuk ukuran tentang keberhasilan. Segala sesuatu terasa perlu segera tumbuh, segera menghasilkan, segera terlihat. Waktu dipandang sebagai sesuatu yang harus terus menghasilkan nilai. Hubungan antarmanusia pun dapat terseret ke dalam cara berpikir yang serupa: siapa yang berguna, siapa yang mempunyai jaringan, siapa yang dapat membuka jalan, dan siapa yang masih diperlukan.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Kapitalisme memiliki mekanisme ekonomi yang kompleks dan tidak cukup dipahami hanya melalui pertentangan sederhana antara baik dan buruk. Yang menarik untuk diperhatikan justru saat logika akumulasi, persaingan, kepemilikan, dan pencapaian bergerak dari wilayah ekonomi menuju wilayah batin. Seseorang bekerja lebih keras karena membutuhkan sesuatu, kemudian perlahan merasa perlu mengumpulkan lebih banyak agar dirinya tetap merasa berharga. Jabatan yang semula menjadi amanah berubah menjadi tanda kedudukan. Kekayaan menjadi pembanding. Bahkan cinta dapat digunakan sebagai tempat mencari pengakuan. Pada keadaan seperti itu, persoalan material telah menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam: cara manusia menentukan nilai dirinya.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Kesadaran diri membutuhkan ruang yang berbeda dari hiruk-pikuk tersebut. Ada saat ketika seseorang perlu berhenti sebelum marah, sebelum menilai, sebelum mengambil keputusan, atau sebelum mengikuti sesuatu hanya karena banyak orang sedang melakukannya. Ruang semacam itu bukan tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ia berada di dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang masih sanggup mendengarkan apa yang sedang bergerak di dalam dirinya. Keinginan dapat diperiksa, kemarahan dapat diberi jarak, ambisi dapat dilihat kembali. Dari sana manusia mempunyai kesempatan untuk mengetahui apakah yang sedang dikejarnya benar-benar berasal dari kebutuhan atau sekadar lahir dari keinginan untuk diakui.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Dalam kebudayaan Sunda, ruang batin semacam itu dapat dibaca melalui Paramalenyep. Istilah ini berkaitan dengan perenungan dan pengendalian diri, dengan memberi kesempatan kepada manusia untuk menimbang keadaan sebelum mengambil sikap. Pembacaan kontemporer terhadap Paramalenyep juga menempatkannya dalam hubungan dengan kebijaksanaan bertindak, komunikasi etis, tanggung jawab bersama, dan keseimbangan kehidupan. Di sini Paramalenyep menjadi menarik karena ia tidak mengajak manusia meninggalkan dunia. Ia mengembalikan manusia kepada jarak tertentu dari dorongan dirinya sendiri. Ada jeda sebelum tindakan, ada kesediaan melihat kembali apa yang sedang terjadi, dan ada kesadaran bahwa setiap keputusan mempunyai hubungan dengan kehidupan di sekitarnya.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Jeda itu semakin sulit diperoleh ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi suara dari luar. Layar membawa keberhasilan orang lain ke hadapan mata hampir setiap saat. Kemewahan dipamerkan, pendapat bergerak cepat, kemarahan berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain, sementara kehidupan pribadi berubah menjadi sesuatu yang mudah dibandingkan. Manusia menerima begitu banyak hal sebelum sempat mengolahnya. Sesuatu dilihat, ditanggapi, dibagikan, lalu segera digantikan oleh sesuatu yang baru. Dalam arus seperti itu, kesadaran dapat kehilangan tempatnya bukan karena manusia kekurangan informasi, tetapi karena ia jarang mempunyai waktu untuk tinggal cukup lama bersama apa yang telah dilihatnya.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Kebudayaan kemudian memperoleh arti yang lebih dalam daripada sekadar tanda asal-usul. Ia hidup melalui cara seseorang berbicara, bekerja, memperlakukan orang lain, menghadapi perbedaan, dan menimbang keinginannya sendiri. Istilah seperti Paramasastra, Paraguna, Parapatani, dan Parapamayang akan kehilangan daya apabila hanya menjadi pengetahuan yang disimpan dalam ingatan. Nilai budaya terasa ketika ia hadir dalam laku. Di situlah akar bekerja. Ia tidak sibuk menunjukkan keberadaannya kepada siapa pun, tetapi dari kedalaman tanah itulah pohon mendapatkan tempat untuk bertahan ketika tumbuh semakin tinggi.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Alam mempunyai caranya sendiri dalam memperlihatkan soal waktu. Petani menanam benih dan menunggu. Tanah menerima air, akar mencari ruang, batang bertambah besar, cabang tumbuh ke arah yang kadang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Tidak semua proses dapat dipercepat hanya karena manusia menginginkan hasil segera. Kehidupan mempunyai bagian-bagian yang memang harus dilalui. Dari sana manusia dapat melihat kembali kebiasaannya sendiri yang sering menginginkan hasil tanpa memberi ruang yang cukup bagi proses. Kemajuan membuat banyak hal lebih cepat, tetapi waktu tetap mempunyai pekerjaan yang tidak dapat seluruhnya digantikan oleh kecepatan.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Hubungan dengan sesama pun mempunyai persoalan yang serupa. Manusia mudah melihat orang lain berdasarkan manfaat yang dapat diperoleh darinya. Pertemanan dinilai dari jaringan, hubungan diukur dari keuntungan, perbedaan diperlakukan sebagai ancaman, sementara kekuatan dapat membuat seseorang merasa berhak menentukan tempat orang lain. Dalam kebudayaan Sunda terdapat gagasan silih asih, silih asah, dan silih asuh yang dapat dibaca sebagai cara menjaga kehidupan bersama melalui kasih, pembelajaran, dan pengasuhan. Nilainya terasa ketika hubungan tidak berhenti pada kepentingan diri. Seseorang tetap mempunyai ruang untuk mendengar, belajar, dan mempertimbangkan akibat tindakannya terhadap orang lain.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Yang membuat kehidupan material menjadi berat adalah saat kepemilikan mulai mengatur cara seseorang melihat dirinya. Harta dapat berkurang, jabatan dapat berganti, tubuh berubah, hubungan dapat berakhir, dan pengakuan dari luar mempunyai batas waktunya sendiri. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang bergerak. Kesulitan muncul ketika harga diri digantungkan seluruhnya pada sesuatu yang sifatnya berubah. Orang kemudian terus mengejar tambahan karena takut kehilangan posisi yang telah dicapainya. Kebutuhan bergeser menjadi kecemasan, sementara kecemasan melahirkan keinginan untuk memiliki lebih banyak lagi. Lingkaran itu dapat berlangsung lama tanpa pernah membuat seseorang merasa cukup.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Pertanyaan yang lebih dekat dengan persoalan tersebut akhirnya sederhana: apa yang sebenarnya sedang dicari manusia melalui semua yang dikejarnya? Dua orang dapat sama-sama bekerja keras, mempunyai penghasilan yang baik, mengejar jabatan, atau membangun usaha, tetapi alasan yang menggerakkan mereka belum tentu sama. Seseorang dapat bekerja demi keluarganya, sementara orang lain bekerja karena tidak ingin merasa kalah. Dari luar keduanya sulit dibedakan. Jaraknya hanya dapat ditemukan dalam diri masing-masing. Begitu pula dengan harta, tahta, dan cinta. Semua dapat menjadi bagian yang berarti dalam kehidupan selama manusia masih mampu melihat tempatnya dan tidak menyerahkan seluruh ukuran dirinya kepada apa yang berada di luar dirinya.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Manusia tetap perlu tumbuh. Dunia akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, kebutuhan akan terus bergerak, dan kehidupan akan membawa seseorang ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Akar tidak menghalangi pohon untuk tumbuh tinggi. Ia justru membuat pertumbuhan mempunyai tempat untuk berpijak. Begitu pula kebudayaan dan kesadaran diri. Keduanya tidak perlu membuat manusia kembali ke masa lalu agar tetap mempunyai hubungan dengan asalnya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membawa sesuatu dari kedalaman itu ke dalam kehidupan yang sedang dijalani sekarang.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Barangkali yang paling sulit dalam kehidupan modern bukan memperoleh lebih banyak, melainkan tetap mengenali diri ketika ukuran tentang keberhasilan datang dari begitu banyak arah. Rumah, uang, jabatan, penampilan, jaringan, pengakuan, bahkan cinta dapat berubah menjadi cermin yang terus-menerus digunakan untuk melihat diri. Padahal cermin hanya menunjukkan apa yang berada di permukaannya. Manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dalam agar dapat mengetahui siapa dirinya ketika semua pantulan itu menghilang. Paramalenyep dapat menjadi salah satu ruang untuk kembali ke sana: sebuah jeda untuk menimbang sebelum bergerak, untuk mendengar sebelum menjawab, dan untuk melihat diri sebelum kembali berhadapan dengan dunia.(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Bandung, 07 Oktober 2026(Source: kosapoin.com/ketika-manusia-diukur-dari-apa-yang-dimilikinya)

Dody Satya Ekagustdiman

Apakah artikel ini membantu?
IP: 18.97.9.96
Negara: United States (Virginia)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *