Arya Panjalu, di depan karyanya, “Menari di Bawah Sang Surya” Site-Specific 23.5 m x 10 m Sangking Art wall. dok. foto Jajang Kawentar
Perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia hari ini kerap kali dihadapkan pada arus globalisasi dan disrupsi teknologi yang bergerak begitu cepat. Di tengah situasi dunia yang serba acak, tak menentu, dan adiktif ini, seniman dituntut tidak hanya piawai mengolah estetika visual, tetapi juga jeli membaca arah zaman. Dalam konteks inilah, perupa Arya Panjalu Arya lahir di Bandung pada tanggal 26 Juli 1976, lulusan dari Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, hadir membawa tawaran reflektif yang segar melalui karya terbarunya bertajuk “Menari di bawah sang surya”.

Karya berskala besar (site-specific, 23,5 meter x 10 meter) yang merespons dinding luar Gedung Sangkring Art Project (Sangkring Art Wall) ini menjadi sebuah monumen visual yang menarik. Proyek ini lahir dari sebuah kelindan yang unik antara konsistensi kehadiran, profesionalisme kurasi, dan kepekaan menangkap peluang tak terduga. Keterlibatan Arya dalam pameran bergengsi Yogya Annual Art (YAA) ke-11 ini merupakan keberlanjutan dari edisi sebelumnya. Berawal dari kebiasaan Arya berkunjung ke Sangkring untuk menemani tamu dan mengapresiasi karya, intervensi kreatif ini bermula dari obrolan santai bersama Putu Sutawijaya (Liong) dan Ibu Jenni. Tawaran spontan dari Liong untuk merespons dinding galeri luar ruangan langsung disetujui oleh Arya, meski saat itu ia belum mengantongi ide teknis maupun tema spesifik. Di sinilah letak ujian profesionalisme; meskipun ekosistem seni rupa kita sangat kental dengan kultur pertemanan, Sangkring tetap mengedepankan riset mendalam terhadap track record, kualitas, serta pertanggungjawaban karya seniman sebelum ketukan palu kurasi diberikan.
Menghadapi ruang publik luar ruangan setinggi 10 meter membawa tantangan teknis tersendiri yang jauh lebih kompleks ketimbang galeri indoor, terutama menyangkut faktor cuaca ekstrem dan ketahanan material. Namun, kecerdasan Arya justru terlihat pada bagaimana ia memperlakukan mediumnya. Alih-alih melakukan vandalisme estetik dengan menggambar atau mewarnai langsung di tembok, Arya memilih melakukan intervensi visual yang menghormati orisinalitas media. Ia menempatkan objek-objek karyanya sedemikian rupa untuk memberi warna baru pada atmosfer galeri, sembari tetap membiarkan karakter asli material semen dan warna dasar tembok setinggi belasan meter itu berbicara.

Secara tematik, “Menari di bawah sang surya” menghadirkan figur-figur “manusia burung”. Subjek relasi antara manusia dan binatang memang merupakan tema klasik yang tak habis dieksplorasi dalam sejarah seni rupa dunia. Namun, di tangan Arya, figur manusia burung ini menjadi sebuah cara profan untuk mempresentasikan diri di hadapan sang liyan (the other). Karya ini menangkap sebuah jukstaposisi yang getir: potret manusia dan hewan yang ruang kebebasan hidupnya kian hari kian terenggut oleh ekspansi modernitas. Figur-figur bertopeng burung itu menirukan gestur unggas, menari-nari dengan ekspresi yang acak namun membentuk satu koreografi kolektif yang dinamis. Di balik kesan keriangan yang dihadirkan, ada ironi mendalam yang sedang digugat.
Di sinilah benang merah filosofis itu terentang kuat. Latar belakang kultural Arya menuntunnya kembali pada sebuah pepatah bijak dari tanah kelahirannya, Sunda: “Kudu bisa ngigelan jaman, ulah saukur diigelan kujaman, bisi kabawa edan” (Menarilah mengikuti zaman, jangan sekadar terbawa arus, jangan sampai terbawa kegilaan).
Filosofi ini sangat presisi dalam membedah situasi sosial kita hari ini dan dinamika seni kontemporer Indonesia. Menghadapi zaman modern bukan berarti kita harus larut dan kehilangan identitas diri (terbawa kegilaan), namun juga bukan berarti kita menutup diri secara kaku. “Ngigelan jaman” adalah sebuah kecerdasan adaptif. Menari mengikuti ketukan gendang zaman berarti seniman dituntut fleksibel, cair, dan mampu menggunakan teknologi serta media kontemporer, namun tubuh dan jiwanya tetap berpijak pada kesadaran kritis yang independen.
Gerak tari kolektif manusia burung yang dihadirkan Arya Panjalu di dinding Sangkring adalah metafora dari masyarakat kontemporer kita. Kita semua sedang dipaksa menari di bawah terik matahari perubahan dunia. Ada keriangan, ada absurditas, dan ada pula perjuangan mempertahankan ruang hidup yang makin sempit. Melalui karya ini, Arya Panjalu tidak hanya berhasil mewarnai lanskap fisik Sangkring Art Space, tetapi juga berhasil mengejawantahkan kearifan lokal Sunda ke dalam strategi estetik global. Sebuah pengingat visual yang kokoh: agar kita terus menari dengan sadar, menjaga warisan ingatan, dan menolak untuk menjadi gila di tengah pusaran zaman.*)
Kulonprogo, 19 Juni 2026









