Laborombonga: Koersi yang Sunyi, Batas yang Dipatahkan

Laborombonga Koersi yang Sunyi Batas yang Dipatahkan

Tidak semua hukum ditulis. Sebagian hidup dalam cerita. Tidak tercatat, tetapi ditaati.

Di Muna, hukum semacam itu pernah bekerja melalui sesuatu yang tak pernah benar-benar pasti bentuknya: Laborombonga. Ia tidak membutuhkan kepastian untuk efektif. Justru dalam ketidakjelasan itulah ia menemukan daya kerjanya sebagai tekanan yang tidak terlihat, tetapi cukup kuat untuk membuat manusia menahan diri.

Laborombonga dapat dipahami sebagai mitos yang memiliki daya koersif. Namun koersi di sini tidak hadir sebagai hukuman fisik atau aturan formal, melainkan sebagai tekanan simbolik: rasa takut, hormat, dan kewaspadaan yang bekerja dari dalam. Ia tidak memaksa secara langsung, tetapi menciptakan jarak. Jarak antara keinginan dan tindakan. Dalam ruang itulah batas terbentuk. Hutan tidak sekadar menjadi wilayah yang bisa dimasuki, melainkan wilayah yang harus dipertimbangkan.

Justru yang membuatnya bekerja bukanlah kejelasan, melainkan ketidakpastian. Sosoknya diperdebatkan, berubah-ubah, tidak pernah sepenuhnya disepakati. Namun alih-alih melemahkan, kondisi ini memperkuatnya. Sesuatu yang tidak bisa dipastikan menjadi lebih sulit untuk dibantah. Ia tidak hadir sebagai fakta, melainkan sebagai kemungkinan, dan kemungkinan itu cukup untuk menahan tindakan.

Dalam ingatan kolektif, Laborombonga terkait dengan hutan jati yang konon ditanam sejak masa Kapitalao Paelangkuta pada abad ke-14. Hutan itu bukan hanya sumber kayu, tetapi ruang hidup yang diikat oleh kesadaran akan batas. Laborombonga menjadi ekstensi dari kesadaran itu—sebuah cara untuk memastikan bahwa hutan tidak direduksi menjadi milik segelintir, tidak diperas hingga habis oleh kepentingan yang sempit.

Namun di sinilah persoalan mulai retak. Kita cenderung membaca Laborombonga sebagai penjaga yang hilang, seolah-olah ketika mitos itu memudar, eksploitasi pun datang menggantikannya. Namun, apakah sesederhana itu atau justru sebaliknya—ketika logika ekonomi mulai merasuk, ketika tanah mulai dihitung, dipetakan, dan diperdagangkan, maka mitos seperti Laborombonga perlahan dipinggirkan karena dianggap menghambat? Pertanyaan ini penting, karena ia menggeser posisi mitos dari korban menjadi sesuatu yang disingkirkan. Jika benar demikian, maka hilangnya Laborombonga bukan sekadar akibat dari lupa, melainkan hasil dari pilihan. Pilihan untuk mengganti rasa takut kolektif dengan kalkulasi keuntungan. Dalam situasi ini, mitos tidak kalah; ia dibuat tidak relevan.

Hari ini, hutan jati di Muna banyak yang telah bertransformasi menjadi lahan sawit. Perubahan ini sering dibungkus dalam narasi kemajuan: produktivitas meningkat, ekonomi bergerak, peluang terbuka. Namun narasi ini jarang mempertanyakan apa yang dikorbankan. Hutan yang dulu dijaga oleh batas kultural kini masuk ke dalam logika ekstraksi yang nyaris tanpa jeda. Tidak ada lagi bisikan yang menahan, tidak ada lagi rasa gentar yang membuat tangan berhenti.

Di titik ini, kehilangan Laborombonga tidak bisa lagi dibaca sebagai sekadar hilangnya cerita. Ia adalah hilangnya satu bentuk kontrol yang bekerja dari dalam. Kontrol yang tidak membutuhkan aparat, tidak memerlukan regulasi, tetapi efektif karena menyatu dengan kesadaran. Ironisnya, justru yang menggantikannya bukanlah etika baru yang setara, melainkan sistem yang lebih dingin: hukum yang bisa dinegosiasikan, pasar yang mendorong tanpa mengenal cukup.

Di sinilah gugatan itu menjadi tak terhindarkan. Kita terlalu cepat merayakan rasionalitas modern tanpa menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar menggantikan fungsi yang dulu dijalankan oleh mitos. Ia hanya menghapusnya. Kita mengira dengan menghilangkan rasa takut, kita menjadi lebih bebas. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: kita kehilangan mekanisme untuk mengatakan “cukup”. Simpulnya, Laborombonga dulu mungkin hanya cerita, akan tetapi ia adalah cerita yang mampu menahan tangan manusia di ambang tindakan. Ia menciptakan jeda. Sesuatu yang hari ini hampir tidak kita miliki. Dalam dunia yang terus mendorong untuk mengambil lebih cepat dan lebih banyak, jeda menjadi barang langka.

Maka persoalannya bukan lagi apakah Laborombonga perlu dihidupkan kembali dalam bentuk yang sama. Namun yang lebih mendesak adalah pertanyaan yang lebih tidak nyaman: mengapa kita gagal menciptakan pengganti yang memiliki daya tahan serupa? Mengapa setelah menyingkirkan mitos, kita tidak menghadirkan etika yang cukup kuat untuk menahan diri kita sendiri? Barangkali jawabannya sederhana sekaligus pahit—karena menahan diri tidak pernah seproduktif mengeksploitasi.

Dan jika itu benar, maka yang hilang bersama Laborombonga bukan sekadar satu mitos, melainkan satu-satunya alasan yang pernah membuat manusia takut pada batas. Tanpanya, hutan tidak lagi perlu dijaga. Ia hanya perlu dihitung. Dan ketika segala sesuatu telah selesai dihitung, barangkali yang tersisa hanyalah satu hal yang tidak pernah kita masukkan ke dalam perhitungan: kehilangan yang tidak bisa dipulihkan. []

Topan Megabayu


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *