Tiga Aktor NGAOSart Tasikmalaya Siap Unjuk Gigi di Festival Monolog Nasional Bali

Tiga Aktor Ngaos Art Tasikmalaya Siap Unjuk Gigi di Festival Monolog Nasional Bali

foto dari kiri ke kanan: Andini Fintan Maulani, Rika Rostika Johara dan Nita Mulyanti.

Tasikmalaya kembali menorehkan jejak di panggung seni nasional. Yayasan Ngaos Art mencatat prestasi membanggakan setelah tiga aktornya berhasil masuk dalam jajaran 10 finalis yang akan tampil langsung di Tegalmengkeb Art Space, Tabanan, Bali. Ajang bergengsi yang mereka ikuti ini merupakan Festival Monolog Nasional. Mereka adalah Andini Fintan Maulani, Nita Mulyanti, dan Rika Rostika Johara yang seluruhnya berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari puluhan peserta yang mengikuti proses seleksi, hanya sepuluh seniman terpilih dari berbagai daerah di Indonesia yang berhak tampil pada babak final di Bali. Lolosnya tiga aktor asal Tasikmalaya ke babak final menjadi bukti nyata bahwa ekosistem seni daerah mampu tumbuh dan melahirkan karya yang diperhitungkan di kancah nasional. Pencapaian ini tidak lepas dari peran aktif Ngaos Art yang konsisten menghidupkan seni pertunjukan, menggelar pelatihan keaktoran, serta memproduksi karya kreatif bersama generasi muda dan komunitas lokal.

ab
Ab. Asmarandana., pendiri NGAOSart. dok. foto NGAOSart.

Pendiri Ngaos Art Tasikmalaya, Ab Asmarandana, mengungkapkan rasa bangga sekaligus syukurnya atas pencapaian ini. “Lolosnya tiga aktor kami ke panggung nasional ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah dari proses latihan yang konsisten dan disiplin tinggi yang selama ini kami tanamkan di Ngaos Art,” ujarnya.

Adapun tujuh finalis lainnya yang akan tampil langsung di Tegalmengkeb Art Space adalah Antung Dena Norkhali (Banjarbaru, Kalimantan Selatan), Apriyanti Wello (Sumba, Nusa Tenggara Timur), Brilyana Lailin (Surakarta, Jawa Tengah), Dini Juniarti (Bengkulu), Kurnia S. Wulansari (Temanggung, Jawa Tengah), Muh. Syafa’at (Palu, Sulawesi Tengah), dan Ratih Ayu Puspitasari (Solo, Jawa Tengah). Kehadiran tiga wakil Tasikmalaya sekaligus menjadi pencapaian tersendiri bagi Ngaos Art, sekaligus menegaskan geliat kesenian daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Ajang yang akan berlangsung 24 Juni 2026 di Tegalmengkeb Art Space ini mempertemukan para finalis dari berbagai latar budaya dan wilayah, mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur. Pertemuan ini pun menjadi ruang yang kaya bagi pertukaran ekspresi budaya, gagasan, dan pengalaman artistik bagi para seniman. Di tengah keragaman tersebut, Tasikmalaya hadir membawa semangat seni yang tumbuh dari akar tradisi, pembacaan realitas sosial, dan kerja kreatif komunitas.

Bagi Ngaos Art, keberhasilan ini bukan sekadar soal lolos ke final. Ini adalah penanda bahwa kerja-kerja kesenian yang tumbuh dari daerah tetap memiliki ruang dan daya tawar di panggung nasional. Ab Asmarandana juga menambahkan bahwa momentum ini harus menjadi pemantik bagi ekosistem seni di Tasikmalaya agar terus bergerak. “Kami berharap pencapaian ini bisa memotivasi generasi muda dan komunitas lokal lainnya di Tasikmalaya untuk terus berkarya tanpa ragu. Seni daerah memiliki kekuatan dan daya tawar yang luar biasa di panggung nasional jika dikelola dengan komitmen yang berkelanjutan,” tegas Ab Asmarandana.

Pencapaian luar biasa ini juga merupakan buah manis dari komitmen Ngaos Art yang berkelanjutan dalam membina ekosistem seni daerah, mulai dari program pelatihan aktor hingga produksi karya. Dari Tasikmalaya menuju Bali, tiga aktor bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga harapan bahwa seni daerah terus hidup, bergerak, dan menemukan penontonnya yang lebih luas. Momentum di Bali ini menjadi kesempatan emas bagi ketiganya untuk memperluas jaringan sekaligus menunjukkan taji dan kualitas seni pertunjukan Tasikmalaya di mata para pegiat seni se-Indonesia. []

Dom Puntila


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *