“Jual Susu! Daleman atas di tarik kencang supaya makin nyembul. Rok di atas lutut. Dan sedikit goyang erotis. Bikin orang- orang penasaran biar banyak saweran.”
Kesimpulan itu menari di benak. Sebuah tawaran yang disampaikan dengan vulgar. “Si Abang, pimpinan Orkes sepertinya memanfaatkan keterdesakan tepat ketika kebutuhan tak terelakan. Dan kesempatan di injury time itu tak memberi ruang untuk menimbang lebih jauh. Bercampur perasaan antara skeptis terhadap suami dan disaat yang sama, kondisi keuangan yang terjun bebas. Di iya kan bermasalah, tak di iya kan lebih bermasalah.
Mengabaikan logika suami yang tak menghidupkan wacana kritis dan hanya berpuas diri dalam sinisme sebagai jalan keluar. Menjual peluang dan harapan terbukti muluk ketika berada d ujung tanduk. Suaminya hanya bisa merutuk pasrah pada keadaan, tanpa becus memberi solusi nyata, selain membiarkan harga diri mereka perlahan digilas kebutuhan perut.
Tepuk jidat berkali-kali. Namun tetap tak mampu mengusir rasa kesal dan kecewa, “Aku tak bicara soal etika, dulu … ya, dulu sejak remaja aku tampil di panggung yang kujual itu suara. Bapakku memberi izin, walau dangdut identik dengan goyangan, tak boleh aku tampil seronok, pamer paha, dada apalagi goyang erotis. Sering teman sesama penyanyi mencibir dan bilang aku munafik, toh banyak juga fans yang suka tampilan dan lagu- laguku.”
“Seandainya ada banyak pilihan pekerjaan lain yang sesuai dengan kondisi saat ini, tentu saja kembali ke dunia panggung bukanlah pilihan. Namun karena suami tak kunjung jua dapat kerjaan lagi. Otomatis tak ada pemasukan, sementara Susu formula buat bayi semakin menipis hanya tersisa untuk satu kali.”
Ironis memang. Susu ini kembali menjadi tempat netek suami karena bayinya sudah berhenti menetek sejak usia dua tahun. Kini bayi hanya mau mimi susu formula dan makanan pelengkap. Sementara suami, dalam keputusasaan yang malas, hanya bisa mencari pelarian di dada istrinya, mengisap sisa-sisa kehangatan tanpa mampu memberikan nafkah.
Souza: Nama panggung. Sebetulnya tanpa make up pun Souza terlihat cantik. Bintang panggung itu kini hadir lagi, setelah nyaris tiga tahun menghilang. Dengan dirias make up agak menor. Terpaksa. Gincu merah menyala itu dipulas tebal, mencoba menutupi pucat di bibirnya akibat didera cemas berhari-hari. Souza penyanyi dangdut yang tak di pungkiri punya aura yang memesona: tanpa goyang seksi pun maaaf, alias sudah bikin merangsang.
Begitulah penilaian yang beredar pada masa itu di kalangan fans dari berbagai kalangan tua muda, baik itu pemuda sopan maupun jelalatan apalagi kaum bandot tua sekelas bandar dan saudagar bersaku tebal, terutama para ahli sawer dangdutan. Mereka hanya perlu menatap lekuk tubuh Souzu yang natural untuk membuat imajinasi liar mereka melesat ke langit ke tujuh.
Dan ini nyaris menimbulkan ketidaksenangan dari sesama penyanyi, di saat mereka jor-joran: make up mahal, dengan kostum super seksi plus tampil dengan heboh, Souza tampil nyaris seperti tanpa usaha. Hanya dengan modal kerlingan mata dan cengkok vocal yang mendayu, Souza sudah bisa melumpuhkan isi dompet para lelaki.
“Tak boleh ada persaingan dalam merebut simpati penonton dan terutama saweran!” Begitu kata si Abang menengahi. Namun di belakang itu tetap saja, kawan sesama penyanyi merasa seperti tersaingi. Bisik-bisik miring bernada iri langsung berdesir di belakang panggung setiap kali tumit sepatu Sauza mengetuk lantai.
Sebelum berangkat ke tempat hajatan, tempat dimana ia akan manggung, Souza pergi ke warung menuntaskan kepenasaran berharap bisa ngutang lagi susu bayi. Namun Kini Souza benar-benar mendapat penolakan—tak bisa lagi ngutang ke warung.
“Maaf mbak, ini sisa bon bulan lalu dan Minggu ini sudah hampir 500 ribu, tolong di lunasi dulu,” Kata dari pemilik warung itu masih terngiang.
Padahal rasa malu sudah jauh disingkirkan, tapi kali ini kalimat itu terasa seperti menembus dan menguliti setiap lapis kulit muka badak yang selama bulan-bulan ini menjadi perisai andalan. Tenggorokannya terasa tersumbat, dan matanya panas menahan rintihan yang nyaris jebol. Kini pemilik warung yang baik itu sudah menyerah: hutang harus segera di bayar.
Sang pemilik warung, awalnya merasa senang dengan kehadiran Souza, meski dengan cara ngutang. Dengan pertimbangan kemurahan hati. Rumput tetangga itu terlalu sayang untuk dilewatkan, meski sekadar hanya lewat tatapan depan belakang—bagi pemilik warung itu semacam obat perangsang gratisan. Ups! Mata keranjang si pemilik warung biasanya sibuk mengabsen lekuk pinggul Souza saat wanita itu berbalik arah membawa kantong belanjaan.
Sebetulnya sudah satu minggu lalu Souza merengek ke pimpinan orkes memohon untuk come back ke panggung, meski dengan status penyanyi tambahan. Dan Souza terpaksa membuka rahasia pada Si Abang, dengan sedikit kecurigaan dan praduga kemungkinan Si Abang samar-samar sudah mendengar Kabar: Nyaris tiga tahun menghilang pindah ke kota sebelah, Sauza sudah menikah diam-diam.
“Aku butuh uangnya, Bang. Tolonglah,” bisik Souza kala itu, merendahkan harga dirinya demi sekaleng susu. Si Abang hanya tersenyum penuh arti, tatapannya turun naik menelusuri tubuh Souza yang kini tampak lebih berisi semenjak melahirkan. Sebuah tatapan lapar yang memeberi isyarat jelas: mala mini, di bawah lampu sorot panggung hajatan yang pengap, Souza harus siap menyerahkan apa saja yang tersisa dari dirinya demi selembar—demi selembar rupiah saweran.
Rahasia itu akhirnya runtuh juga di hadapan Si Abang. Fakta bahwa Souza menikah diam-diam, dalam kondisi hamil, dan kini punya momongan. Tadinya ia berencana meninggalkan dunia panggung selamanya, mengubur gincu dan riuh lampu sorot demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun apa daya, kebutuhan tanpa supply dari suami yang hanya mengandalkan kerja serabutan bukan saja menguras tabungan, namun juga barang perhiasan kini sudah berpindah tangan ke tukang gadai untuk mencukupi biaya susu bayi, makan sehari-hari, dan juga kontrakan. Terlalu malu juga keseringan minta subsidi dari orang tua dan mertua!
Si Abang hanya memberi kalimat sederhana, jauh dari kata empati. “Oh, ya? Nanti saya pertimbangkan!” Kalimat tanpa kepastian.
Akhirnya… Nekat!
“Sudahlah, jangan billing lagi ini muka badak! Kata itu menyiksaku!” bentak Souza malam itu di kamar kontrakan mereka yang sempit dan pengap. “Yang kita butuhkan solusi, bukan komentar celaan!”
Souza habis kesabaran, ditunjuknya muka suami. “Si Abang pimpinan orkes mau ngasih kesempatan untuk menjadi penyanyi tambahan, tapi dengan syarat… harus tampil seksi! Ya mau gimana lagi?!”
Bukan tak menghargai suami, bukan tak punya harga diri! “Akang kurang keras mencari penghasilan! Akang terlalu banyak alasan! Perang Iran-Amerika dan Selat Hormuz itu gak bisa jadi alasan buat kita diam membeku! Susah cari pekerjaan? Ya! Semua orang juga di kampung kita sama alasannya, namun toh mereka masih bisa berpenghasilan!”
Kata-kata yang memukul telak suami. Yang terpaksa ‘no debat’ merestui sang istri—yang pasti selalu benar—jalan aman menghindari pertengkaran agar perahu tak semakin karam dihantam badai kehidupan. Ekonomilah, ya, kekurangan ekonomi dan kesempatan peluang kerja yang terbatas bagi suami yang tak memiliki keahlian dan kemampuan struggle itulah yang kemudian menjadi momok menakutkan bagi kehidupan rumah tangga suami-istri yang masih muda ini.
Di belakang panggung, Souza menunggu giliran tampil. Tanpa latihan. Tak dipungkiri, ada sedikit nervous dan perasaan rikuh dengan kostum barunya yang serbaterbuka, memamerkan lekuk yang selama ini ia sembunyikan.
Masa lalu, Souza adalah bintang utama. Dengan pilihan lagu khusus bertingkat kesulitan tinggi. Tak perlu dan tak penting pamer paha dan dada. Kenyataannya, toh banyak penggemar yang suka dan jatuh cinta pada penampilan Souza meskipun hanya berpakaian biasa. Aura wajah rupawan sekelas wajah penyanyi Malaysia, Siti Nurhaliza, namun body mirip Shakira, bahkan tanpa goyang pun sudah cukup bikin hati penonton terguncang. Bagian yang ditunggu—saweran—berhamburan dititip dengan sopan.
Namun kini status berubah… “Ah, tak usah dipikir!” Masa lalu biarlah masa lalu, sekarang aku butuh beli susu!
Tiba giliran.
Ironi. Lagu sedih mendayu ini dijogedi. Di balik liuk tubuh, hati Souza remuk redam. Dan ‘susu’ Souza terpaksa nekat ‘dijual’, berharap lembar saweran memenuhi kutang. Saweran yang tak sepenuhnya bakal dimiliki karena ia mesti berbagi dengan manajemen orkes. Di deretan penyanyi lain, sang bintang utama tersenyum lebar, diam-diam bereuforia dalam bisik tetangga, sindir-mencibir merasa telah menang menggeser klasemen peringkat utama.
Suami di pojok sana berpaling, berpura-pura tak melihat.
Uang seratus lima puluh ribu dalam amplop kecil—uang muka dari pimpinan orkes—ia genggam erat. Meremasnya dalam genggaman kecamuk perasaan terluka. Uang itu untuk membeli susu bayi, pampers, dan makanan pelengkap buat buah hati yang masih berusia dua tahun: bidadari kecil nan rupawan yang mampu meluluhkan hati orang tua untuk selalu berjuang mengutamakan semua kebutuhannya. Kehadirannya sekaligus mampu meredam ketidaknyamanan antara mertua dan besan yang dulu sama-sama tak merestui perkawinan.
Saweran itu berkali-kali diselipkan ke dada Souza. Tangan jahil itu, walau hanya sedikit menyentuh… kulit Souza yang berkeringat, membuat sang suami yang menonton dari kejauhan tak sanggup lagi menahan dada yang bergemuruh. Sebagai suami, pemandangan itu tentu saja melukai perasaan. Hampir saja menyulut emosi, ingin hati meninju penyawer kurang ajar itu, namun tentu saja ini bakal membuka rahasia bahwa Souza sudah bersuami. Dan kesepakatan dengan Si Abang—dari yang sedikit orang tahu—Souza masih single, belum bersuami. Maka dengan memendam geram, sang suami berupaya mengalihkan penglihatan, melenggang ke sudut lain yang sepi dari kerumunan.
Terbayang wajah orang tua yang dulu tak merestui pernikahan mereka. Namun demi cinta yang membara, perawan itu jebol sebelum sah menjadi pasangan. Gelagat hamil lewat test pack itu yang kemudian membuat pasangan ini terpaksa dinikahkan. Begitu pula calon mertua—pada saat itu—tak pernah merestui sebelum permintaannya dikabulkan: agar ia ketika menikah sudah mendapatkan pekerjaan.
Ah, cinta, cinta, dan birahi yang menggelora! Wajah tampan tapi gagal mapan. Souza si bintang panggung itu rela jatuh ke dalam pelukan.
Perlahan, sang suami pergi menyeruak kerumunan. Di lapangan terbuka itu, penonton berjoget mengikuti irama. Sebagian terbengong melongo melihat tontonan ke panggung, dan celetukan nakal menyiksa telinga.
“Njirrr, badag euy! Putih mulus!” siul seorang pemuda mabuk sambil menatap dada istri orang.
Uang 150 ribu itu masih dalam genggaman. Langkah kaki sang suami makin bergegas, entah karena takut bayi yang dititip ke mertuanya menangis minta susu, entah karena tak tahan melihat bini tercinta sedang berjualan… susu?
Lagu penuh ironi itu masih terdengar. Sebuah lagu dengan lirik sedih, namun lagu itu kini diaransemen ulang menjadi lagu remix yang bisa dijogedi. Sayup lagu perlahan hilang disapu bising knalpot motor dan deru angin pantai Utara, membawa bayang wajah Souza yang rela berjuang dengan segala cara terutama demi anak tercinta. Bayang berganti pada sang bayi. Tatapan mata berbinar sang bidadari kecil seolah menembus ulu hatinya, sebuah tatapan polos yang menghujam telak dan seakan bertanya, “Ayah, kenapa bukan Ayah yang berjuang cari uang?”
“Maafkan ayah nak … Ayah … gak punya .. susu!” []









