Spiritual Defense – Menemukan Nilai Syukur dari Berbagai Penderitaan

Spiritual Defense Menemukan Nilai Syukur dari Berbagai Penderitaan

Setiap adanya proses upgrade – pembaharuan tentu perlu bersabar menunggu beberapa waktu untuk menuntaskannya. Misal pembaharuan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) atau sistem Android, ios, windows di handphone atau komputer anda, perlu menunggu beberapa waktu untuk menyelesaikan. Pembaharuan ini dibutuhkan untuk meningkatkan daya keamanan, memperbaiki keruksakan dan meningkatkan performa perangkat.

Demikian halnya yang terjadi dalam diri kita ataupun keadaan didalam kehidupan kita, takkan luput dari keadaan yang membuat kita tak enak, terasa berat dan atau pahit yang secara psikologis kita sebut penderitaan. Badan kita ketika sedang mengalami sakit yang disebabkan oleh misalnya perubahan cuaca yang tak menentu, pola makan, pengeluaran tenaga ataupun dari pola pikir yang over – berlebihan, sehingga tubuh mengalami ketidakstabilan yang pada akhirnya muncul gejolak dengan berbagai gejala di tubuh kita sehingga tubuh kita lemas dan sakit. Akhirnya tubuh kita membutuhkan proses pembaharuan, recovery, pemulihan kembali sehingga harus istirahat dan diobati.

Demikian pula dengan keadaan saat ini, saat kurs dollar sedang naik drastis terhadap rupiah, mencapai diangka 18.000, tentu memunculkan gejolak dengan gejala yang beragama diberbagai sektor sebagaimana ketika kondisi tubuh kita sendiri ketika sakit. Hal itu membutuhkan proses penyembuhan dan pemulihan. Bagaimanapun keadaan yang menimpa hidup ini, saat punya uang atau tidak, saat sehat atau tidak, saat senang atau sedih, saat harga harga stabil atau serba mahal, saat ramai atau sepi dan ketika semuanya terasa berat, apakah itu sesuatu hal yang baik ataupun hal yang buruk, tergantung bagaimana respon anda terhadap itu? Bagaimana anda memposisikan diri anda terhadap keadaan itu?

Saya juga sama dengan anda secara perasaaan tentu berat dan terkadang hampir frustasi. Namun mohon maaf Ini bukan soal dollar, karena saya bukan ahli ekonomi, ini juga bukan soal sakit karena saya bukan dokter atau ahli kesehatan. Ini hanya soal urusan remeh temeh bagi pengagum peradaban canggih era digital hari ini. Ya ini hanya soal picisan yang hanya muncul dari pikiran orang lemah tak berdaya seperti saya ini. Tak penting bagi para elit, para cendekiawan, para ahli apapun. Sebab ini soal respon pikiran dan sikap bathin terhadap keadaan yang di klaim cepat ‘tidak baik baik saja’ oleh kebanyakan orang.  

Semua keadaan apapun saja bagi saya bernilai baik untuk mendidik diri meriset ulang prilaku yang dulu sudah keliru, untuk menjaga jarak dari riuh gemuruh ruh yang keruh, untuk memperbaharui energi diri yang dulu keji dari konsumsi narasi narasi, tampilan tampilan, suara suara yang datang mengguyur hati dan pikiran kita dari derasnya arus informasi yang samar hulu hilirnya. Ini semacam proses pemulihan dan setiap proses pemulihan perlu kesabaran terhadap waktu dan ketahanan terhadap keadaan dalam menuntaskannya. Sakit itu baik bagi saya sebagai tamparan diri sehingga muncul kesadaran baru untuk konsistensi pada eling kepadaNya dan waspada kepada murkaNya. Sebagaimana saya selalu teringat wejangan Mbah Nun, “Setiap ketidakjujuran rohani, ketidakjujuran hati dan pikiran, akan mengubah manajemen ekosistemik di dalam hidup kita, sehingga potensial untuk menjadi destruksi, dismanageman, kekacauan, dekonstruksi, atau kerusakan susunan-susunan. Kerjasama di dalam roh dan jiwa kita, termasuk semua unsur jasad-jasad kita, sehingga produknya adalah sakit.”

Faktor utama yang menjadi bahan pendidikan dan perenungan diri saya dalam menghadapi segala keadaan yang menimpa diri saya itu bukan terletak dari naik turun nya kurs dolar, naik turunnya harga atau naik turunnya kesehatan badan kita. Melainkan bahan utamanya terletak dari cara pandang dan sikap bathin kita terhadap keadaan itu, tepat tidaknya pikiran dan tindakan kita. Apakah kita tetap bertahan menjaga kesadaran otentik, kesadaran terhadap nilai nilai Ruhani, sinyal ‘Eling’ kepadaNya ataukah kita kalah, putus asa dan berprasangka buruk kepadaNya? Apakah ketahanan mental prilaku kita tetap konsisten memegang erat nilai nilai Ruhani, sinyal ‘waspada’, menapaki prilaku buruk kita untuk diperbaiki, berusaha optimal dalam perbaikan perbaikan ataukah sikap kita mengikuti mainstream dan trend zaman melalui ‘iklan iklan yang terus di tampilkan’, cipta kondisi menebarkan cuaca keresahan, kekhawatiran bahkan ketakutan tentang nasib manusia yang seolah olah mewakili derita semuanya sehingga menghembuskan energi negatif secara kolektif, mengalirkan kesenangan dan kemewahan instan sehingga bergerombol gerombol orang ikut bereaksi yang sama dengan letupan semangat untuk meraihnya dengan instan sambil rebahan, seolah olah semua ‘iklan’ itu yang berposisi pasti benar, qoth’i, padahal itu jebakan untuk menjerat diri ketergantungan kepada nilai materialistik bukan nilai ruhani?

Simpelnya, apakah kita bersikap sabar dan syukur dalam menghadapi setiap keadaan ataukah barbar dan kufur? Saya selalu ingat yang dikatakan Mbah Nun, Bahwa “Apapun saja yang sedang kita alami didalam hidup ini, harus tetap tertaut kesadaran kita bersama Allah dan Rasulullah, selain Allah dan Rasulullah, nanti dulu!”. Sejalan dengan Firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga dirinya sendiri yang (ada tekad) merubah keadaan (hati pikiran dan prilakunya) sendiri (Ar Rad ; 11). Jadi apakah sakit itu baik atau buruk? penderitaan itu baik atau buruk? Tergantung respon dan sikap anda masing masing. Karena setiap tindakan akan ketemu jodohnya. Mohon maaf sekali lagi, ini hanya soal remeh temeh bagi peradaban canggih mutakhir ini.

Gudang Pasantren, 6 Juni 2026

Tidak Tahu Jalan
Baca Tulisan Lain

Tidak Tahu Jalan

Ihsan Farhanuddin

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *