Sebagian Anggota Djayadiningrat usai acara syukuran
YOGYAKARTA | Jarum jam seperti berputar melambat di Ndalem Jayaningratan . Di sudut selasar bangunan tua yang bersanding mesra dengan SD Netral C Yogyakarta itu, aroma cat minyak, guratan batik, dan derap langkah kaki para penari seolah memanggil kembali memori yang sempat terkubur. Sinar matahari Sabtu pagi (30/5/2026) menerobos di antara sela-sela dinding yang sedang bersolek, membawa secercah harapan baru bagi jantung Kota Yogyakarta.
Di sinilah, di kawasan Jalan Dagen yang hanya sepelemparan batu dari riuh rendah Malioboro, sebuah denyut nadi kebudayaan kembali berdetak. Paguyuban Djayaningratan, yang sejak tahun 2020 silam terpaksa “tidur panjang” akibat hantaman badai waktu, kini resmi terjaga. Riuh tumpeng syukuran dan gema doa bersama menjadi penanda: mereka tidak hanya sekadar pulang, tapi siap melangkah lebih jauh.
Merajut Asa yang Sempat Patah
Langkah kaki Budi Prayitno, sang nakhoda baru, terasa mantap namun penuh takzim. Baginya, menghidupkan kembali paguyuban ini bukan sekadar urusan organisasi, melainkan sebuah panggilan jiwa. Ada gairah yang membuncah untuk mengembalikan citra Sosromenduran sebagai kampung wisata yang mandiri, di mana seni tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dengan periuk nasi warga lewat UMKM lokal.

“Kita ibarat bayi yang baru saja lahir kembali, namun kini kami melangkah dengan legalitas yang sah,” ujar Budi dengan binar mata optimis. Secarik kertas bernama Nomor Induk Kebudayaan (NIK) kini telah digenggam. Bagi mereka, NIK bukan sekadar administrasi kaku, melainkan ‘KTP penanda jati diri’ yang akan membawa para pelukis, penari, dan pengrajin lokal terbang melintasi batas kelurahan, menuju panggung kota, provinsi, hingga nasional.
Semangat itu menular bak api di musim kemarau. Di sudut lain, Raffi dan Bhimo, dua sosok pemuda yang mewakili dua sisi kampung, kini berdiri berdampingan. Mereka melebur sekat, sepakat untuk membangunkan kembali bakat-bakat terpendam yang lama bersembunyi di balik dinding-dinding gang Sosrodipuran. Kini, anak-anak akan kembali belajar menari, ibu-ibu kembali meliukkan jemari, dan para seniman tua tersenyum menyaksikan regenerasi yang tidak mati.
Menatap Masa Depan Lewat Kanvas Digital
Bayu Aji Raditya, sang penasihat kampung wisata, memandang ruang pameran Omah Seni Djayaningratan yang sedang direhabilitasi secara swadaya dengan tatapan penuh makna. Ia mengingatkan bahwa ruang fisik hanyalah sebuah wadah, namun ruh dari tempat ini adalah bagaimana dunia luar bisa menikmatinya.
Di era di mana dunia bergerak dalam genggaman, Radit menyelipkan pesan mendalam: “Dokumentasikan setiap keringat dan karya. Digitalisasikan keindahan ini”. Jalinan estetika tarian, keanggunan seni patri kaca, hingga goresan kanvas para maestro seperti Bang Rinaldy dan sentuhan kurator Kang Jajang Kawentar, kini harus abadi dalam portofolio digital. Melalui media sosial, dunia harus tahu bahwa di balik gang Malioboro, ada seni yang hidup dan menghidupi.
Menanti Ketukan Takdir Cagar Budaya
Dukungan pun mengalir bagai air. Fajar Kurniawan, legislator Kota Yogyakarta yang hadir di tengah kehangatan syukuran, membawa visi yang menyejukkan. Beliau membayangkan sebuah masa depan di mana wisatawan mancanegara tidak hanya datang untuk melihat, tetapi menaruh sepotong memori mereka di sini melalui kelas-kelas membatik dan melukis.
Lebih dari itu, ada mimpi besar yang sedang diperjuangkan untuk Ndalem Jayaningratan. Keroposnya dinding tua yang sedang direvitalisasi secara mandiri ini memicu asa untuk menjadikannya sebagai Cagar Budaya resmi. Jika takdir berpihak, pemerintah akan turun tangan memugar keanggunan arsitekturnya, memastikan bahwa tempat ini tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Hari mulai beranjak siang di Jalan Dagen, namun kehangatan di Ndalem Jayaningratan baru saja dimulai. Dari sebuah ruang swadaya yang dinamai Omah Seni Djayaningratan Yogyakarta kembali membuktikan dirinya: bahwa seni tidak akan pernah mati di tanah Mataram, ia hanya sedang bersiap untuk kembali bersinar lebih terang.*)









