Masyarakat Sunda Nusantara telah mengenal teknologi pengolahan logam sejak masa Perundagian atau Zaman Logam, sekitar awal abad Masehi. Pada masa ini, manusia Nusantara tidak lagi hanya mengandalkan batu dan kayu, melainkan mulai menguasai keterampilan melebur, menempa, dan membentuk logam menjadi berbagai kebutuhan kehidupan.
Kemampuan tersebut adalah menjadi tonggak atau monumen penting perkembangan peradaban Sunda Besar dan Sunda Kecil di Tatar Sunda Nusantara , karena teknologi logam bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga berkaitan dengan pertanian, kesenian, perdagangan, spiritualitas, dan pertahanan masyarakat.
Masyarakat pada masa itu telah mampu membuat; perkakas pertanian seperti cangkul, arit, mata bajak, dan pisau, alat rumah tangga, perhiasan, alat ritual, hingga senjata tajam seperti keris, pedang, kujang, dan tombak. Selain itu, mereka juga telah mengenal teknik membuat logam tipis dan kawat untuk kebutuhan; ornamen, perhiasan, pengikat, dawai alat musik, maupun perlengkapan ritual dan perdagangan.
Kemampuan membuat kawat menunjukkan bahwa teknologi metalurgi Nusantara pada masa itu telah berkembang cukup tinggi. Dan dibutuhkan pengetahuan mengenai; pemanasan logam, penempaan, penarikan logam, serta pengendalian ketebalan dan kelenturan material. Dalam perkembangan selanjutnya, keterampilan logam masyarakat Sunda itu semakin maju pada era: Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan Galuh. Pada masa kerajaan-kerajaan tersebut, lahirlah para akhli metalurgi, para empu dan undagi yang ahli dalam; menempa besi, mencetak perunggu, membuat senjata, serta menghasilkan alat musik logam seperti gamelan.
Seni tradisi gamelan sendiri menunjukkan memiliki tingkat kecanggihan akustik dan metalurgi yang tinggi. Untuk menghasilkan bunyi yang harmonis, pengrajin harus memahami; campuran logam, ketebalan material, resonansi bunyi, serta teknik pembakaran dan pendinginan logam. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Sunda Nusantara sejak dahulu bukan masyarakat yang tertinggal, melainkan telah memiliki; pengetahuan teknologi, sistem kerja kolektif, etika seni, estetika seni, teknik seni pertunjukan, dan juga memiliki kemampuan produksi yang maju.
Teknologi logam pada akhirnya menjadi bagian yang sangat penting dari kebudayaan Sunda yang berpadu dengan; kehidupan agraris, spiritualitas, kesenian, dan hubungan yang harmonis dengan alam. Warisan keterampilan itu masih dapat dilihat hingga kini melalui; tradisi pandai besi, pembuatan kujang, gamelan, kerajinan logam, serta berbagai artefak budaya Nusantara yang menunjukkan tingginya peradaban leluhur.
Sekian Terimakasih
Bandung, 27.Mei.2026









