KURBAN ITU TENTANG DUA CINTA

KURBAN ITU TENTANG DUA CINTA

Sebenarnya, ibu tidak tahu harus ngomong dimulai dari mana, tapi singkat jelas dan terangnya begini, nak, Nabi Ibrahim as., tidak diperintahkan untuk membunuh Ismail as., beliau hanya diminta oleh Allah sekadar untuk membunuh rasa kepemilikan terhadapnya. Kini, makna Ismail as., bagi kita, bisa jadi sekadar harta dan jabatan. Ismail as., bisa jadi bermakna keluarga, termasuk kerabat, sahabat, teman dan mungkin juga pasangan kita. Jauhnya, boleh jadi diri kita sendiri. Tegasnya, Ismail as., bagi kita itu adalah sesuatu yang kita pertahankan di dunia ini, padahal segala apa yang ada di semesta ini, sejatinya itu hanyalah milik Allah semata.

Jauhnya, jika kita kembali menengok pada makna kata kurban secara etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Sedangkan, yang dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa sehari-hari, dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah” yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dari sini muncul istilah Idul Adha.  

Tegasnya itu begini, Nak: berkurban itu sebenarnya punya dua jalan cerita. Jalan yang pertama itu ke atas, langsung ke Allah. Itu cara kita mengetuk pintu langit, tanda kalau kita ini hamba yang ingin dekat dalam mencari rida-Nya. Kita melepaskan sesuatu yang kita punya demi bukti cinta pada-Nya. Akan tetapi, ceritanya tak sekadar berhenti di langit. Jalan yang kedua itu ke samping, ke sesama manusia. Bayangkan saja, ada banyak orang di sekitar kita yang mungkin sepanjang tahun jarang atau tak bisa makan daging. Di hari Idul Adha inilah kurban ini jadi cara kita merangkul mereka. Guna dapur mereka ikut ngepul, dan tak ada yang sedih atau kelaparan di hari raya.

Niatnmu untuk berkurban itu sangat baik, nak, tapi ingat satu hal—ambil daging secukupnya saja buat di rumah—sekadar buat nyicip bareng keluarga. Porsi gedenya kita sebar ke luar, kasih ke mereka yang bener-bener membutuhkan. Biar bahagianya muter, nggak berhenti di dalam kulkas. Ingatlah pada apa yang sudah kita bicarakan tadi, bahwa pengorbanan tertinggi manusia adalah mengikhlaskan sesuatu yang sangat dicintai semata-mata untuk dan karena Allah SWT, meskipun sesuatu itu telah lama dinantikan dan baru saja didapatkannya. Sekali lagi, ingatlah nak, jangan pernah menganggap sesuatu itu mahal untuk mempertahankan dan menyemarakan nilai-nilai Ilahi, dan di sisi lain jangan sekali-kali melecehkan manusia, megambil hak-hak manusia karena manusia itu makhluk agung yang dikasihi Allah. Musabab itulah kasihnya Allah kepada manusia, digantilah Ismail as., dengan seekor kibas.

Lantas, adakah hubungannya dengan membunuh rasa kebinatangan yang ada dalam diri kita, nak? []

Simulasi Mati
Baca Tulisan Lain

Simulasi Mati

Syifa Siti Sofia

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *